NovelToon NovelToon
Talak Tiga Di Malam Pertama

Talak Tiga Di Malam Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Salwa Azzahra, gadis berusia 22 tahun, menikah dengan orang yang sangat dia cintai , dan berharap Salwa bisa keluar dari rumah yang membuathya terluka . namun harapannya hancur seketika di malam pertama pernikahan .

Baru saja akad dilaksanakan, Yogie, suaminya, langsung menjatuhkan talak tiga tepat di malam itu juga, tanpa penjelasan yang masuk akal. Ia mengembalikan Salwa ke rumah orang tuanya seolah gadis itu barang yang tidak berguna. Salwa hancur, merasa harga dirinya diinjak-injak, dan kini harus menanggung malu serta fitnah masyarakat yang menuduhnya bersalah hingga diceraikan secepat itu.

Di balik sikap dingin Yogie, ternyata ada rahasia besar dan alasan tersembunyi yang membuatnya terpaksa melakukan hal menyakitkan itu, meski sebenarnya ia menyimpan rasa peduli. Takdir mempertemukan mereka kembali bertahun-tahun kemudian, saat luka keduanya belum sembuh , apakah Salwa akan kembali pada Yogie?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Siang itu, sinar matahari bersinar terang menyinari kediaman Pak Joko dan Bu Ratna yang tampak megah namun sebenarnya dibangun di atas kebohongan dan penderitaan orang lain. Di teras depan, seorang kurir terlihat baru saja menurunkan sebuah amplop besar berwarna emas yang sangat mewah dan berkilau. Amplop itu terlihat begitu istimewa, jauh berbeda dengan surat-surat atau dokumen biasa yang biasanya masuk ke rumah itu.

Setelah kurir itu pergi, Pak Joko dan Bu Ratna berdiri terpaku di ruang tamu, saling pandang dengan wajah penuh kebingungan. Di tangan Pak Joko, amplop mewah itu tergenggam erat. Ia berkali-kali membolak-baliknya, menatap logo emas yang tercetak indah bertuliskan Laksana Group.

"Kau lihat ini, Ratna?" tanya Pak Joko dengan suara rendah yang bercampur heran. Ia mengerutkan kening dalam-dalam, seolah tidak percaya apa yang dilihat matanya. "Ini... ini undangan resmi dari Perusahaan Laksana. Perusahaan raksasa yang kemarin kita bicarakan itu."

Bu Ratna mengangguk pelan, wajahnya tampak bingung dan sedikit cemas. Ia mendekat, menunjuk nama penerima yang tertulis jelas di sana: Keluarga Besar Bapak Joko.

"Iya, Yah... Aku lihat. Tapi aneh sekali," jawab Bu Ratna ragu. "Kita kan apa? Kita cuma punya satu pabrik kecil bahan bangunan, itu pun omsetnya tidak seberapa kalau dibandingkan perusahaan besar. Kita tidak punya perusahaan besar, kita tidak pernah berhubungan bisnis dengan mereka, dan kita tidak kenal siapa pemilik Laksana Group itu. Kenapa tiba-tiba kita dapat undangan seistimewa ini? Padahal rekan-rekan bisnis kita yang jauh lebih besar saja mungkin belum tentu dapat undangan begini."

Pak Joko mengangguk setuju, lalu membuka amplop itu dan membaca isinya sekali lagi untuk memastikan tidak ada kesalahan alamat. Isinya benar-benar undangan resmi yang mengundang mereka hadir di acara ulang tahun perusahaan ke-21, pelantikan pejabat baru, serta pengumuman penting lainnya.

"Aku juga heran, Ratna. Ini tidak masuk akal," gumam Pak Joko sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Perusahaan sebesar itu biasanya hanya mengundang pejabat tinggi, pengusaha konglomerat, atau orang-orang berpengaruh. Kita? Kita ini apa di mata mereka? Hanya pengusaha kelas menengah ke bawah yang nyaris tidak ada apa-apanya. Apa tujuan mereka mengundang kita? Apa jangan-jangan ada kesalahan? Atau... ada sesuatu yang mereka inginkan dari kita?"

Rasa curiga mulai tumbuh di hati Pak Joko. Ia orang yang penuh perhitungan dan selalu berpikir ada udang di balik batu. Baginya, tidak ada kebaikan yang datang cuma-cuma, apalagi dari pihak yang jauh lebih kuat dan lebih kaya.

Belum sempat mereka berdiskusi lebih jauh, terdengar suara langkah kaki yang ringan dan percaya diri mendekat. Sania baru saja pulang dari berbelanja dan melihat kedua orang tuanya sedang berdiri berkerumun di meja tamu dengan wajah bingung. Ia pun berjalan menghampiri dengan penasaran.

"Ada apa sih, Yah, Bu? Kok wajah kalian serius sekali dari tadi? Ada masalah apa?" tanya Sania santai sambil meletakkan tas tangan mahalnya di kursi.

Pak Joko segera menoleh dan menyodorkan undangan emas itu ke arah putri kesayangannya.

"Lihatlah ini, Sania. Kita dapat kiriman ini barusan. Undangan dari Laksana Group. Kau kan tahu perusahaan sebesar apa itu. Ayah dan Ibu sedang bingung, kenapa kita yang diundang. Kita kan bukan siapa-siapa, cuma punya pabrik kecil. Kami takut ada kesalahan atau ada jebakan tertentu di sini."

Sania mengambil undangan itu dengan antusias. Begitu matanya menangkap nama perusahaan itu, matanya langsung berbinar terang. Senyum lebar mengembang di bibirnya. Bagi Sania, ini bukan masalah, ini justru peluang emas yang luar biasa.

Ia mengembalikan undangan itu ke tangan ayahnya, lalu berdiri tegak dengan dada membusung, wajahnya tampak penuh keyakinan dan ambisi.

"Yah... Bu... Kenapa kalian malah bingung dan berpikir yang tidak-tidak sih?" ucap Sania dengan nada sedikit takjub sekaligus menasihati. "Ini adalah keberuntungan besar yang dikirimkan Tuhan buat kita! Kalian pikir kenapa kita diundang? Jawabannya sederhana sekali: karena sekarang kita sudah dekat dengan keluarga Pratama!"

Pak Joko dan Bu Ratna saling pandang, seolah baru tersadar akan hal itu.

"Pasti itu alasannya," lanjut Sania dengan yakin. "Perusahaan Laksana tahu betul siapa keluarga Pratama. Mereka tahu hubungan bisnis dan kedekatan kita dengan Mas Yogie dan orang tuanya. Jadi, karena mereka menghormati keluarga Pratama, mereka juga menganggap kita orang penting. Begitu saja alasannya."

Sania lalu mendekat, menatap kedua orang tuanya bergantian dengan sorot mata yang penuh rencana licik.

"Yah, Bu... Dengarkan saran saya. Kalian harus datang. Jangan pernah berpikir untuk menolak atau curiga tanpa alasan. Ini kesempatan emas yang mungkin tidak akan datang dua kali seumur hidup kita."

"Untuk apa kita datang, Nak? Kita kan cuma punya pabrik kecil. Kita tidak kenal siapa-siapa di sana," potong Bu Ratna masih ragu.

Sania tertawa kecil, lalu menjelaskan dengan sabar namun nada bicaranya penuh perhitungan, persis seperti ayahnya.

"Justru itulah gunanya kita datang, Bu! Yah! Dengarkan baik-baik. Di acara nanti, akan hadir semua orang-orang sukses, orang kaya, pengusaha besar, dan orang-orang berkuasa. Mereka semua ada di satu tempat. Kalau kita datang, kita bisa berkenalan dengan mereka. Kita bisa bicara, kita bisa memperkenalkan diri, dan yang paling penting... kita bisa mempromosikan pabrik kita."

Sania berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap, lalu melanjutkan dengan semangat.

"Kalian mau tidak kalau pabrik kita makin besar? Mau tidak kalau pendapatan kita berlipat ganda? Mau tidak kalau nama kita makin dikenal dan dihormati? Kalau kita datang ke sana, kita bisa menawarkan kerja sama pada mereka. Kita bisa bilang kita punya pabrik bahan bangunan yang kualitasnya bagus. Kalau saja ada satu atau dua orang besar yang mau kerja sama atau jadi pelanggan tetap kita, percayalah... pabrik kita yang tadinya kecil bisa berkembang menjadi perusahaan besar sungguhan, sama seperti Laksana atau Pratama."

Pak Joko mulai terlihat tertarik. Kilatan serakah kembali muncul di matanya. Ambisi untuk menjadi kaya raya dan dihormati mengalahkan rasa curiganya tadi. Ia mulai melihat keuntungan besar di balik undangan itu.

"Kau benar juga, Sania..." gumam Pak Joko perlahan. "Kalau kita bisa masuk ke lingkaran itu, pintu rezeki kita bisa terbuka lebar. Kita bisa manfaatkan momen itu sebaik-baiknya."

"Betul sekali, Ayah!" seru Sania antusias. "Dan ingat juga... nanti kan saya juga akan ada di sana bersama Mas Yogie. Saat saya diperkenalkan sebagai calon istri Mas Yogie, otomatis Ayah dan Ibu akan diperkenalkan juga sebagai orang tua saya. Semua mata akan tertuju pada kita. Kita akan terlihat sebagai keluarga terpandang, keluarga yang berhubungan erat dengan keluarga Pratama dan sekarang juga dikenal oleh Laksana Group. Siapa yang berani meremehkan kita lagi nanti?"

Sania mendekatkan wajahnya, suaranya menjadi lebih rendah dan penuh makna.

"Jadi, jangan sia-siakan kesempatan ini, Yah. Datanglah dengan pakaian terbaik, bersikaplah sopan, berwibawa, dan berkelas. Anggap saja kita sudah menjadi orang besar. Di sana nanti, kita akan cari peluang sebanyak-banyaknya. Kita akan naik kelas, Yah. Dari sekadar pemilik pabrik kecil, kita akan menjadi pengusaha besar yang disegani."

Pak Joko tersenyum lebar, rasa heran dan curiganya sudah hilang sepenuhnya digantikan oleh rasa senang dan ambisi yang membara. Ia menepuk-nepuk undangan itu di telapak tangannya.

"Kau benar, Sania. Kau memang cerdas melebihi Ayah. Ayah salah karena sempat ragu. Ini memang peluang emas. Kenapa kita harus menolak keberuntungan? Kita akan datang. Kita akan bersiap sebaik mungkin. Kita akan tunjukkan pada mereka bahwa kita bukan keluarga sembarangan."

Bu Ratna pun akhirnya mengangguk setuju, meski di sudut hatinya masih ada rasa gusar yang samar. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres, sesuatu yang tersembunyi di balik undangan itu, namun karena suami dan putrinya sudah bersemangat begitu, ia pun ikut larut dalam rencana mereka.

"Baiklah kalau begitu. Kita akan datang," kata Bu Ratna pelan.

Sania tersenyum kemenangan. Rencananya berjalan mulus. Ia tahu kehadiran orang tuanya di sana hanya akan semakin menambah gengsinya. Ia tidak menyadari sama sekali bahwa alasan sesungguhnya mereka diundang bukan karena kedekatan mereka dengan Pratama, dan bukan karena keberuntungan.

Mereka diundang karena ada seseorang yang ingin mereka lihat, ada seseorang yang ingin mempermalukan mereka, dan ada seseorang yang ingin menuntut segala hutang nyawa dan rasa sakit yang pernah mereka berikan.

Undangan itu bukan tiket menuju kesuksesan, melainkan tiket masuk ke dalam jebakan maut yang sudah disiapkan dengan sangat indah. Namun, dengan keserakahan dan kesombongan yang menutupi mata hati mereka, mereka justru berlari masuk ke dalam perangkap itu dengan sukarela, membayangkan mereka akan pulang dengan membawa emas, padahal sesungguhnya mereka akan pulang dengan membawa kehancuran total.

Bersambung,,

1
Alit Liet
ceritanya bagus tidak berbelit2
Alit Liet
bab 23 nya mana
Jetva
Yogie..kamu sayang tp kamu talak 3...jelas kamu tak bisa lagi kembali padanya...lelaki koq otaknya kecil..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!