Malam itu di hotel, Vandini melihat sosok suaminya bersama wanita lain.
Apa yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan?
Apa lagi kalau bukan kenyataan bahwa pria yang ia cintai selama bertahun-tahun sama sekali tidak merasa bersalah. Satura bahkan berani bilang itu hal biasa dan mencoba menutupi semua luka itu dengan uang.
"Ambil transferannya. Itu bukti kalau aku masih bertanggung jawab," begitu katanya santai.
Seakan cinta, kepercayaan, dan janji setia yang dulu dia ucapkan bisa dibeli dengan lembaran rupiah.
Kini, Vandini harus menanggung segalanya sendirian. Menghadapi tatapan iba dan bisikan jahat tetangga yang menggunjingnya habis-habisan, menahan air mata demi anak-anaknya, serta berjuang memulihkan harga diri yang terinjak-injak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemana Perginya Suamiku?
Vandini mengerjap tak percaya, rasa sakit bercampur amarah meledak.
"Habisin uang kamu?" ulangnya pelan, suaranya bergetar. "Memang itu yang kamu lihat aku lakuin di sini, Satura? Aku juga berjuang mati-matian buat jaga keluarga ini, semuanya. Termasuk seringkali harus ngorbanin keinginanku sendiri tanpa mikir dua kali. Aku nggak tahu, kenapa selama ini aku harus minta izin dan restu dulu sama kamu."
Satura terdiam, matanya terpaku pada ponsel di atas meja. Jari-jarinya mengetuk layar dengan gelisah. Rasa bersalah terlihat jelas di wajahnya, sesuatu yang selama ini ia sembunyikan.
"Ada apa?" tanya Vandini, suaranya kini lebih lembut bercampur rasa khawatir.
Untuk beberapa saat, Satura tak menjawab. Rahangnya mengeras, menahan beban yang sangat berat. Akhirnya, ia membuang muka.
"Aku cuma ... capek. Kerjaan lagi numpuk dan bikin stres banget. Aku nggak mau kamu kena imbasnya."
Hati Vandini luluh. Satura memang jarang mau bercerita soal masalah pekerjaannya. Ia mengulurkan tangan dan meletakkannya di lengan suaminya.
"Satura, kan kita satu tim. Kalau kamu stres atau ada masalah, cerita aja sama aku. Tapi aku juga butuh dukungan kamu, ya."
Satura mengangguk, tapi masih enggan menatap wajahnya lekat-lekat. "Aku bakal usahain kasih apa aja yang kamu butuhin," gumamnya. "Itu yang paling penting buat aku."
Malam-malam berikutnya, Satura pulang tepat waktu. Beban di pundak Vandini perlahan hilang, beban yang bahkan ia tak sadar selama ini ia pikul sendirian.
Suaminya ada di rumah saat makan malam, membantu menidurkan anak-anak, bahkan ikut bermain air saat mandi bersama Cia dan mendengarkan cerita Connan seharian.
Setelah anak-anak tidur dan rumah hening, Vandini menuang dua gelas anggur lalu duduk di samping Satura di sofa. Rasa lelah bercampur perasaan lega, sebuah harapan yang sudah lama tak ia rasakan.
Satura menerima gelas itu dengan senyum.
"Makasih," ucapnya sambil menyesap sedikit lalu bersandar santai. "Senang sekali hari ini kita bisa bikin mereka tidur lebih awal."
Vandini tertawa kecil.
"Yaa... dan Connan sekarang jadi terobsesi banget sama sikat gigi, itu berkah sekaligus ujian juga sih."
Satura terkekeh, menggelengkan kepala. "Nanti kalau gede, kayaknya dia jadi dokter gigi deh."
Vandini menatap suaminya, jarinya memainkan pinggiran gelas.
"Aku mau terima tawaran promosi itu," katanya pelan, matanya mengamati setiap perubahan ekspresi di wajah Satura. "Aku butuh ini, Satura."
Satura mengangguk perlahan, meski keningnya sedikit berkerut. Wajahnya sulit diterka.
"Jadi, dua minggu sekali pergi semalaman," gumamnya, lebih seperti bicara pada diri sendir. "Terus jam kerja juga bakal lebih panjang dong... ya udah." Ia menghela napas lalu mengusap dagunya. "Tapi kamu tahu kan, Van, tugas aku itu menafkahi kamu dan anak-anak. Selama ini aku pikir begitu."
Perut Vandini terasa sedikit melilit, tapi ia menarik napas panjang dan tetap menatap suaminya.
"Aku tahu. Dan kamu selalu jamin kita hidup aman dan nyaman. Tapi ini ... ini bukan soal uang. Ini soal aku merasa berguna, merasa berkembang. Aku harus lakukan ini buat diri aku sendiri."
Satura mengangguk lagi, kali ini lebih mantap, lalu menyesuaikan posisi duduknya.
"Oke," ucapnya dengan nada yang berusaha terdengar datar. "Berarti kita harus atur strategi kalau kamu lagi pergi. Aku coba atur jadwal jemput dan antar anak-anak di hari-hari itu. Pasti bakal lebih capek dikit, tapi ... kayaknya bisa kok dijalani."
Vandini merasa lega, meski nada bicara Satura masih terdengar kaku.
"Makasih," bisiknya. "Aku tahu semuanya bakal berubah, tapi aku yakin ini bakal jadi hal baik buat kita semua."
Satura mengangguk pelan.
"Kalau itu yang kamu butuhin, Vandini... aku dukung kamu."
...***...
Keesokan harinya di kantor.
Vandini menatap kalender, merasa lega sekaligus terkejut. Sisa harinya sama sekali tidak ada jadwal rapat. Rasanya seperti kemewahan, apalagi mengingat posisi barunya pasti akan membuat waktu luang seperti ini semakin langka.
Tanpa pikir panjang, ia mengambil ponsel dan mengirim pesan kepada Satura.
"Hai! Masih sempat makan siang nggak? Aku bisa mampir ke kantor dan jemput kamu :)"
Ia menunggu beberapa menit, berharap balasan cepat muncul. Namun, layar ponsel tetap sunyi. Vandini mengangkat bahu, memutuskan untuk tetap pergi saja.
Sesampainya di sana, ia disambut oleh beberapa rekan kerja Satura. Orang-orang yang pernah ia temui satu atau dua kali di acara perusahaan.
Vandini tersenyum dan mengangguk sopan sambil berjalan menuju ruangan Satura, tapi ada sesuatu yang terasa aneh. Ia sadar beberapa orang saling bertukar pandang, seolah kehadirannya tak terduga atau bahkan tidak diinginkan.
"Ah, Vandini!" sapa salah satu wanita yang bekerja bersama Satura, sepertinya namanya Arumi, dengan nada yang terdengar terlalu bersemangat. "Gak nyangka kamu bakal ke sini!"
Vandini pun tersenyum. "Iya, tiba-tiba ada waktu luang. Jadi aku pikir mau nyamperin Satura terus ajak makan siang bareng."
Mata Arumi membelalak sedikit, senyumnya sempat ragu sebelum kembali dipaksakan. "Oh! Hm... kayaknya dia lagi... keluar ya?"
"Keluar?" Vandini mengerutkan kening, melirik lagi layar ponselnya yang masih kosong.
Tepat saat itu, Virgo, rekan kerja lainnya, lewat. Ia melirik sekilas ke arah Arumi sebelum ikut bersuara. "Iya, kayaknya dia tadi bilang ada rapat makan siang sama klien. Kamu tahu sendiri kan gimana, bisa lama banget baliknya," tambah Virgo disertai tawa yang terdengar gugup.
Perasaan tidak enak pun mulai menjalar di dada Vandini, meski wajahnya berusaha tetap tenang.
"Oh begitu ya? Dia gak bilang apa-apa soal makan sama klien. Ya sudah, mungkin lain kali saja aku ketemunya."
Saat berjalan keluar, Tirta, orang yang juga ia kenal, menyapanya dengan senyum yang terlihat canggung.
"Hai, Vandini. Kamu cari Satura?" tanyanya sambil celingukan, seakan memastikan tak ada orang lain yang mendengar.
"Iya," jawab Vandini, senyumnya terasa kaku. "Mau ajak makan siang, tapi katanya dia lagi sibuk ya?"
"Sibuk? Ah ... iya, mungkin dia lagi ke lokasi proyek," jawab Tirta terbata-bata sambil memainkan ponselnya. "Soalnya kan lagi banyak proyek baru yang dia kerjain..."
Pikiran Vandini berkecamuk.
Ke lokasi?
Makan dengan klien?
Ia mengedarkan pandangan, menyadari tatapan gelisah dari orang-orang di sekitar sana. Seolah-olah mereka semua bingung harus berkata apa, atau lebih buruk lagi, seolah-olah mereka sedang menutupi sesuatu.
Vandini menarik napas panjang untuk menenangkan diri, jari-jarinya mengepal kuat memegang ponsel.
"Oke. Makasih ya, Tirta. Aku pamit dulu."
Tirta tersenyum seolah mengerti, tapi ada sorot kasihan di matanya sebelum pria itu berbalik pergi. Vandini berjalan menuju mobilnya dengan jantung berdegup kencang. Rasa curiga bercampur ketakutan mulai mengikat kuat di dadanya.
Ia kembali menatap layar ponsel, berharap ada notifikasi masuk. Namun layar tetap gelap dan sunyi, keheningan itu terasa jauh lebih berat dari apa yang pernah ia bayangkan.
Rasa bersalah mulai menghantuinya. Ia menatap layar kunci ponselnya, foto keluarga mereka di pantai saat cuaca cerah. Satura memeluk bahunya, Connan tersenyum memegang kerang, dan Cia tertawa sambil memeluk lehernya.
Dengan napas yang bergetar, Vandini membuka kunci layar dan membuka aplikasi pelacak. Ibu jarinya tertahan sejenak di udara sebelum akhirnya menekan tombol untuk melihat lokasi suaminya.
Satura selama ini selalu begitu ... baik. Dia adalah tipe orang yang rela membantu tetangga, ayah yang rela begadang merakit mainan anak-anak. Dia adalah dunianya.
"Dia pria yang baik, ayah yang hebat, gak mungkin..." batin Vandini.
Namun saat matanya kembali tertuju pada peta, titik kecil yang berkedip itu tidak menunjuk ke restoran atau lokasi proyek. Titik itu menunjuk ke sebuah hotel. Kekhawatirannya seketika berubah menjadi overthink.