NovelToon NovelToon
Bayu Dan Aplikasi Toko Ajaib

Bayu Dan Aplikasi Toko Ajaib

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:24.1k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Bayu Alexander adalah seorang karyawan rendahan yang sedang berada di titik terendah hidupnya setelah difitnah dan gajinya dipotong semena-mena oleh atasannya. Nasib miskinnya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika ia memindai sebuah barcode misterius di halte bus yang diam-diam menginstal Aplikasi Toko Ajaib di ponselnya.

Berbekal sisa saldo lima puluh ribu rupiah, Bayu memanfaatkan fitur diskon kilat aplikasi tersebut untuk membeli kacamata ajaib penilai barang antik, yang menjadi batu loncatan pertamanya meraup ratusan juta rupiah dari pasar loak.

Dari seorang budak korporat yang diinjak-injak, Bayu perlahan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, menggunakan item-item tak masuk akal dari sistem untuk menghancurkan karir musuh-musuhnya, mendominasi pasar saham, hingga menumpas mafia kejam yang mencoba mengusiknya, semuanya ia lakukan dalam diam sebagai miliarder baru Jakarta yang rahasianya tidak akan pernah terbongkar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Hari Senin pagi biasanya menjadi neraka bagi Bayu. Berdesakan di KRL, berlari mengejar mesin absensi, dan bersiap mendengarkan omelan Pak Handoko adalah rutinitas yang menyiksa jiwa. Namun pagi ini, Bayu memutuskan untuk memutus rantai tersebut. Ia menelepon bagian HRD di kantornya, berpura-pura keracunan makanan, dan mengambil cuti sakit satu hari.

Ia punya urusan yang triliunan kali lebih penting daripada merekap data keuangan divisi operasional.

Bayu berdiri di depan cermin lemari plastik di kamar kosnya. Ia mengenakan kemeja lengan panjang terbaik yang ia miliki. Kemeja putih polos yang kerahnya sudah sedikit menguning karena terlalu sering disikat, dipadukan dengan celana kain hitam yang warnanya mulai pudar di bagian lutut. Ia menata rambutnya serapi mungkin. Di tangannya, ia memegang sebuah kotak sepatu bekas yang ia lapisi dengan tumpukan koran dan sisa plastik gelembung. Di dalam kotak itulah, harta karun bernilai setengah miliar rupiahnya bersemayam.

"Gembel memang tidak bisa menyembunyikan bau kemiskinannya hanya dengan kemeja rapi," batin Bayu sambil tersenyum getir melihat pantulannya sendiri. "Tapi hari ini, isi kotaknya yang berbicara, bukan kemejanya."

Ia berangkat menggunakan bus TransJakarta menuju kawasan Sudirman Central Business District atau SCBD. Kawasan ini adalah jantung bisnis paling elit di Jakarta, tempat uang berputar seperti air bah setiap detiknya.

Tujuan Bayu adalah sebuah gedung pencakar langit berlapis kaca gelap. Di lobi utama gedung itu, terdapat sebuah nama besar yang diukir dengan emas: Balai Lelang Nusantara. Ini adalah balai lelang barang antik dan seni paling bergengsi di Asia Tenggara. Hanya kolektor kelas atas, konglomerat, dan pejabat yang biasa bertransaksi di sini.

Begitu melewati pintu putar otomatis, hawa dingin dari pendingin ruangan sentral langsung menyapa kulit Bayu. Lantai marmer Italia yang ia injak memantulkan cahaya dari lampu gantung kristal raksasa di langit-langit lobi. Orang-orang yang berlalu-lalang mengenakan setelan jas buatan penjahit ternama, menenteng tas kulit buatan tangan, dan menguarkan aroma parfum jutaan rupiah.

Kehadiran Bayu dengan kotak sepatu kusamnya jelas merusak pemandangan estetis lobi tersebut.

Bayu berjalan dengan langkah tenang, menekan rapat-rapat rasa gugup yang mulai merayap di dadanya. Ia mendekati meja resepsionis melingkar yang dijaga oleh dua wanita cantik berseragam abu-abu elegan.

"Selamat pagi. Ada yang bisa dibantu?" sapa salah satu resepsionis. Senyumnya dilatih secara profesional, namun matanya dengan cepat memindai penampilan Bayu dari ujung kepala sampai ujung sepatu bot usangnya, lalu berhenti sejenak pada kotak sepatu di tangannya. Senyum wanita itu sedikit kaku.

"Pagi. Saya ingin mendaftarkan sebuah barang antik untuk dinilai, dan kalau memungkinkan, dimasukkan ke dalam bursa lelang terdekat," jawab Bayu sopan.

Resepsionis itu saling berpandangan sekilas dengan rekannya. Tatapan mereka menyiratkan keraguan yang amat sangat.

"Baik, Pak. Apakah Bapak sudah membuat janji temu dengan tim apraiser atau penilai kami sebelumnya?"

"Belum. Apakah harus membuat janji jauh-jauh hari?"

"Untuk barang dengan nilai estimasi di atas seratus juta rupiah, biasanya diwajibkan untuk menjadwalkan pertemuan pribadi, Pak. Namun untuk barang umum, kami memiliki penilai junior yang bertugas hari ini. Silakan tunggu di ruang tunggu sebelah sana, saya akan menghubungi Pak Johan."

Bayu mengangguk dan berjalan menuju area ruang tunggu. Ia duduk di salah satu sofa kulit tunggal yang terasa sangat empuk, memangku kotak sepatunya dengan hati-hati.

Sepuluh menit berlalu. Seorang pria muda berwajah licin dengan setelan jas biru dongker yang dipotong pas badan menghampirinya. Papan nama di dadanya bertuliskan Johan, Penilai Junior. Gaya berjalannya sedikit angkuh, dengan dagu yang agak terangkat.

Johan berdiri di depan Bayu tanpa menyodorkan tangan untuk bersalaman. Ia melirik jam tangan mewahnya sekilas, lalu menatap Bayu dengan tatapan malas.

"Anda yang mau mendaftarkan barang antik?" tanya Johan. Nada suaranya terdengar meremehkan. "Barang apa yang Anda bawa di dalam kotak sepatu itu? Kalau Anda membawa keramik palsu hasil cetakan pabrik dari Jatinegara atau keris suvenir dari Malioboro, saya sarankan Anda bawa pulang saja. Balai Lelang Nusantara memiliki standar minimum untuk barang yang bisa masuk ke meja penilaian."

Bayu tidak terpancing emosi. Ia sudah terbiasa menghadapi orang-orang arogan seperti Reza di kantornya. Ia tahu cara menghadapi mereka adalah dengan ketenangan yang mematikan.

"Saya membawa porselen era Kekaisaran Ming, Pak Johan. Saya rasa ini memenuhi standar balai lelang Anda," jawab Bayu datar.

Ia membuka tutup kotak sepatu itu, menyingkirkan tumpukan koran dan plastik gelembung, lalu memperlihatkan mangkuk porselen putih dengan motif naga biru kobalt tersebut. Mangkuk itu kini sudah bersih mengkilap, memancarkan aura keanggunan sejarah yang sangat kuat.

Mata Johan menyipit melihat benda itu. Namun, bukannya mengambil kaca pembesar atau sarung tangan putih seperti prosedur standar penilai profesional, Johan hanya mencondongkan tubuhnya sedikit, melihat mangkuk itu dari jarak setengah meter selama tiga detik, lalu mendengus sinis.

"Porselen Dinasti Ming? Dari Dinasti Ming yang mana? Pabrik keramik di Tangerang?" Johan tertawa mengejek. "Anak muda, dengar. Barang asli dari era Kekaisaran Ming tidak mungkin terlihat semulus dan sebersih ini kalau tidak dirawat di museum atau brankas kedap udara. Warnanya terlalu cerah. Glasirnya terlalu sempurna. Ini jelas barang replika modern yang dicetak massal."

Johan melambaikan tangannya mengusir.

"Bawa keluar barang itu. Kamu hanya membuang-buang waktuku dan mengotori lobi kami. Pihak keamanan!" Johan memanggil dua orang satpam bertubuh besar yang berdiri di dekat pintu masuk.

Kedua satpam itu segera berjalan mendekat.

"Anda mengusir pelanggan bahkan sebelum menyentuh barangnya dan melakukan pengecekan standar menggunakan alat? Begitukah cara kerja penilai di balai lelang kelas internasional sebesar ini?" suara Bayu meninggi satu oktaf, memastikan suaranya bergema cukup keras di area lobi yang lumayan sepi itu.

"Kamu bukan pelanggan. Kamu hanya pemimpi yang mencari uang cepat dengan membawa barang rongsokan," desis Johan tajam. "Seret dia keluar."

Satpam pertama baru saja akan memegang lengan Bayu, ketika sebuah suara bariton yang berat dan penuh wibawa menghentikan gerakan mereka.

"Ada keributan apa ini di pagi hari, Johan?"

Semua orang menoleh. Seorang pria paruh baya berusia enam puluhan berjalan dari arah lorong VIP. Pria itu mengenakan kemeja batik tulis sutra yang sangat elegan, dengan tongkat kayu berukir di tangan kanannya. Di belakangnya, mengekor seorang pria bule yang merupakan manajer umum balai lelang tersebut.

Wajah Johan seketika pucat pasi. Kesombongannya luntur seketika berganti dengan kepanikan. Ia segera menundukkan kepala dalam-dalam.

"Selamat pagi, Tuan Tirta. Maaf jika mengganggu kenyamanan Anda. Ini, ada seorang pemuda yang memaksa mendaftarkan keramik replika murahan dan menolak untuk diminta pergi."

Pria paruh baya itu adalah Tirta Wijaya, salah satu konglomerat properti terbesar di Jakarta dan anggota VIP tingkat Platinum di Balai Lelang Nusantara. Beliau adalah kolektor fanatik barang antik Asia Timur.

1
ラマSkuy
/Proud/
ラマSkuy
nah MC begini yang gua demen 👍
ラマSkuy
wah apakah bukan hanya Bayu yang punya sistem jadi selain MC ada lagi yang punya sistem. tapi unik juga ya biasanya sistemnya itu menyatu dengan jiwa MC tapi ini dihpnya MC
ラマSkuy
nice 👍
Ironside
Bagus Kak /Smile/, btw mana Insectnya /Curse//Curse//Curse/
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
👻🤣👻
Mamat Stone
🤣👻🤣
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
/Drool/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
ラマSkuy
waw/Sly/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
terserah anda Thor /Ok//Good/
Mamat Stone
pasti salah kaprah 🤣👻
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
🤩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!