Ia hanyalah seorang "murid sampah" di Sekte Pedang Giok, pemuda tanpa masa depan yang hidup dalam kehinaan dan penindasan. Hingga suatu hari ia mendapatkan kembali ingatan masa lalunya, ketika ia masih seorang Kaisar Agung di alam atas dan pernah memimpin jutaan pasukan di atas medan perang berdarah.
Namun, karena mendapatkan pengkhianatan yang kejam dari murid kepercayaannya sendiri, Ia kini harus memulai segalanya dari awal.
Sampah? Tidak! Ia menggunakan seluruh memori masa lalunya dan mengubah dirinya menjadi sosok tak tertandingi yang dapat menyapu bersih semua semut pengganggu dari jalannya.
"Aku adalah ... Qin Xiang."
Genre: Aksi, Kultivasi, Reinkarnasi, Balas Dendam, Harem.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devourer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#19: Berkah atau Kutukan?
Semburat jingga perlahan merajai cakrawala, membakar sisa-sisa awan kelabu yang menggantung di atas Desa Quang. Di tengah reruntuhan yang mulai tertata kembali, beberapa warga desa bersama sang kepala desa melangkah keluar dari lebatnya hutan di belakang mereka. Bahu mereka memanggul hasil bumi yang menjadi anugerah di tengah duka; ikan-ikan sungai yang berkilau perak, kelinci hutan, hingga beberapa ekor babi hutan bertubuh tambun. Mereka menggiring langkah menuju jantung desa, di mana sebuah api unggun raksasa telah dinyalakan—menjadi satu-satunya sumber kehangatan dari taring udara malam yang mulai menusuk tulang.
Kepulan asap yang membawa aroma gurih daging panggang perlahan menyamarkan bau sangit dari sisa kehancuran, sebuah usaha tulus untuk membasuh lara jiwa mereka dari kekejaman dunia yang baru saja mereka saksikan. Anak-anak kecil, yang sisa-sisa ketakutannya masih membayang di sudut mata, diajak oleh para orang tua untuk membantu membakar hasil buruan sebagai upaya untuk mengalihkan perasaan trauma mereka.
"Kakak, makanlah ini selagi hangat."
Sebuah suara lembut nan jernih memecah lamunan Qin Xiang. Seorang gadis kecil, Qu Xiao Lian, datang mendekat, jemari mungilnya membawa nampan berisi ikan bakar yang dibungkus daun talas dan seseduh teh herbal yang mengepulkan uap wangi. Saat melihat wajah polos gadis kecil itu, hati Qin Xiang dan Qu Long yang semula keras laksana batu karang, seketika melunak seperti salju yang tersiram air hangat.
Qin Xiang menerima hidangan itu dengan gerakan tenang yang elegan. Begitu ia mencicipi masakan tersebut, sepasang matanya sedikit berkilat penuh maksud. Di sampingnya, Qu Long melahap makanannya dengan penuh semangat, wajahnya memancarkan kebanggaan yang tak tertutupi atas kepedulian adiknya—sebuah sifat luhur yang sangat langka di dunia kultivasi yang egois.
"Terima kasih, Xiao Lian. Rasanya setiap sendi di tubuh Kakak yang pegal seolah kembali bugar hanya dengan menyantap masakanmu," puji Qu Long dengan nada yang sedikit berlebihan, namun tulus dari lubuk hatinya.
"Kau tidak salah, Qu Long." Qin Xiang meletakkan cangkir tehnya perlahan. Meski hanya sedikit, ia bisa merasakan aliran energi halus yang menenangkan menyebar ke seluruh meridiannya. "Sepertinya pengamatanku tidaklah salah. Adikmu ini bukanlah sekadar anak desa biasa; dia adalah intan yang belum terasah."
"Kakak Qin terlalu memujinya, hahaha..." Qu Long terkekeh, mengira Qin Xiang hanya sekadar berbasa-basi. Namun, kalimat berikutnya yang meluncur dari bibir Qin Xiang seketika membekukan tawa di udara, membuat suasana di sekitar mereka mendadak serius.
"Dengarkan aku, dia memiliki Tubuh Suci Alkimia, sebuah wadah spiritual yang sangat didambakan, bahkan oleh para dewa-dewa alkemis sekalipun," ungkap Qin Xiang setelah menyesap kembali teh buatan Qu Xiao Lian yang membawa aroma herbal wangi.
"Tubuh... Suci Alkimia?" Qu Long tertegun, matanya membelalak menatap Qin Xiang dengan ekspresi yang sulit dipercaya. "Apa Kakak benar-benar yakin? Bagaimana mungkin Xiao Lian memiliki sesuatu sebesar itu?"
Qu Xiao Lian sendiri hanya memandangi kedua pemuda itu dengan tatapan bingung, tidak mengerti mengapa nama tubuhnya terdengar begitu agung dan berat.
"Perhatikan baik-baik," Qin Xiang menunjuk dengan gerakan kepala. "Tubuh adikmu secara alami memancarkan aroma herbal yang khas dan jernih, bahkan di tengah bau amis darah desa ini. Bau itu bukan berasal dari luar, melainkan merembes dari pori-porinya." Qin Xiang kemudian menatap lekat mata polos gadis itu. "Xiao Lian, katakan padaku, apakah alasanmu sering mengajak teman-temanmu bermain ke dalam hutan adalah untuk mencari tanaman herbal tertentu?"
"Enn," Xiao Lian mengangguk polos. "Lian-er merasa tanaman-tanaman itu sangat cantik dan seolah-olah memanggil Lian-er untuk memetiknya."
"Ah, benar... Xiao Lian memang memiliki kegemaran aneh itu sejak kecil," gumam Qu Long sembari menggali kembali memori lamanya saat mereka masih sering bermain di pinggiran luar desa sebelum ia masuk ke sekte.
"Itu bukan kegemaran aneh, itu adalah resonansi jiwa." Qin Xiang berhenti sejenak, membiarkan makna kata-katanya meresap. "Pemilik tubuh ini selalu memiliki keterikatan batin yang mendalam dengan alam. Itulah sebabnya dia bisa menjalin pertemanan dengan Kuda Roh Herbal, makhluk suci yang biasanya sangat membenci aroma manusia. Tidak mengherankan jika makhluk itu segera menyembunyikan dia dan teman-temannya tepat sebelum gerombolan binatang buas itu merobek gerbang desa."
"Apa?! Kau berteman dengan Kuda Roh Herbal yang legendaris itu?" Jantung Qu Long serasa berhenti berdetak sesaat. Ia memandangi adiknya dengan perpaduan antara rasa bangga dan kengerian yang mendalam.
Dalam sekejap, Qu Long meraih pundak adiknya, wajahnya berubah menjadi sangat serius laksana seorang jenderal di medan perang. "Xiao Lian, dengarkan Kakak baik-baik. Rahasiakan semua ini. Jangan pernah beritahu siapa pun tentang pertemananmu dengan kuda itu, atau tentang kemampuanmu merasakan tanaman herbal. Jika dunia luar tahu, kau dan temanmu itu akan menjadi buruan bagi orang-orang serakah yang haus akan kekuatan."
"Baik, Kakak. Lian-er janji akan tutup mulut," jawab Xiao Lian patuh meski ia masih diliputi kebingungan. Ia hanya tahu bahwa kakaknya sedang sangat mengkhawatirkannya.
"Kakak, aku harus pergi membantu Bibi memasak bubur untuk para lansia di tenda sebelah. Kalian berdua istirahatlah yang cukup," ujar Xiao Lian sembari berpamitan dengan senyum manisnya yang sanggup meruntuhkan niat membunuh siapa pun.
"Enn, pergilah." Qu Long melepas kepergian adiknya dengan pandangan yang sangat rumit. Ada beban berat yang kini menindih pundaknya saat memikirkan masa depan adiknya yang tidak akan lagi sederhana.
"Tenanglah, Qu Long. Kegelisahanmu adalah hal yang wajar," ucap Qin Xiang dengan nada datar namun menenangkan. Ia teringat kembali pada masa ribuan tahun lalu, ketika ia memiliki kekhawatiran yang sama terhadap para pengikut setianya, terutama murid-murid yang ia sayangi. Di dunia di mana hukum rimba berlaku, memiliki bakat besar tanpa kekuatan untuk melindunginya adalah sebuah kutukan tersembunyi.
"Hah... Aku sebenarnya berharap dia hanya menjalani hidup yang biasa saja, tenang dan damai di desa ini. Namun, sepertinya langit sudah mengembankan tugas yang sangat berat di pundak kecilnya itu," ujar Qu Long dengan nada pasrah sembari menatap api unggun yang menari-nari di hadapan mereka.
Qin Xiang tidak menyahut, namun di dalam benaknya, ia mulai menyusun rencana. Jika Xiao Lian benar-benar memiliki Tubuh Suci Alkimia, maka ia tidak akan membiarkan mutiara ini terkubur di lumpur. Dengan bimbingannya, gadis kecil ini bisa menjadi Alkemis Agung yang sanggup memurnikan pil yang bahkan bisa menghidupkan orang mati.
"Dunia ini akan segera berubah, Qu Long. Dan kau... harus secepatnya menjadi cukup kuat untuk tetap berdiri di sampingnya saat badai itu datang," batin Qin Xiang sembari memejamkan mata, memulai meditasinya di tengah keramaian desa.
Bersambung!