NovelToon NovelToon
Pendekar Mulut Sampah

Pendekar Mulut Sampah

Status: sedang berlangsung
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Li Zhen terbangun di ranjang jerami yang gatal, menggaruk kepalanya dengan wajah bingung. Dia menyadari dirinya terlempar ke Benua Awan Surgawi, masuk ke tubuh pemuda lemah dengan nama yang sama.

Alih-alih berlatih ilmu kanuragan seperti kultivator lain, Li Zhen hanya menguap lebar sambil menatap langit-langit yang bocor. Dia memilih menggunakan lidahnya yang setajam pisau untuk bertahan hidup di dunia persilatan yang kejam ini.

Dia tidak pernah sekalipun memukul lawan, namun musuhnya sering menangis tersedu-sedu sambil memeluk lutut. Ini adalah kisah berputar-putar tentang seorang pemuda yang mengacaukan dunia kultivasi hanya dengan ocehan tanpa henti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26

Kepala Sekte Zhao Wuji memegangi perutnya yang meronta, rasa lapar yang hebat mulai mengalahkan rasa sakit dari korset bajanya yang menyiksa. Dia menatap bubur di tangan Tetua Yao dengan pandangan rakus, menelan air liurnya berkali-kali layaknya pengemis yang tidak makan seminggu.

Melihat reaksi memalukan dari para petinggi sekte itu, senyum iblis Li Zhen kembali mengembang sempurna di wajah tirusnya yang pucat. Matanya berkilat memancarkan niat pemerasan mental yang baru, sebuah ide brilian baru saja melintas di dalam otak liciknya yang tidak pernah beristirahat.

"Sepertinya Kepala Sekte kita yang terhormat sedang merasa sangat kelaparan pagi ini," goda Li Zhen dengan nada suara yang sangat dipanjangkan. Dia berjalan mendekati Zhao Wuji, menatap lurus ke dalam mata emas sang penguasa yang kini terlihat redup dan kehilangan seluruh wibawanya.

Zhao Wuji tersentak mundur satu langkah, kedua tangannya secara refleks disilangkan di depan dada untuk melindungi diri dari serangan verbal. "T-tidak, Senior Agung, junior ini sudah mencapai tahap inedia dan tidak lagi membutuhkan makanan duniawi untuk bertahan hidup," sangkalnya dengan suara serak.

Li Zhen tertawa terbahak-bahak, tawanya terdengar sangat nyaring hingga memancing burung-burung di hutan bambu untuk kembali beterbangan panik. Dia menunjuk tepat ke arah perut buncit Zhao Wuji yang tersembunyi di balik jubah emasnya dengan jari telunjuk yang penuh noda debu.

"Tahap inedia katamu? Lalu mengapa kau masih melahap tiga piring kue manis setiap tengah malam seperti babi kelaparan di musim dingin?" serang Li Zhen telak. Rahasia memalukan itu kembali diungkit di hadapan puluhan tetua, menghantam telak Dao Heart Zhao Wuji untuk kesekian kalinya.

Pria perkasa itu langsung terbatuk keras, memuntahkan sedikit darah kotor yang membasahi rumput hijau di bawah sepatu emasnya. Dia jatuh berlutut dengan suara debuk yang keras, kedua tangannya meremas tanah merah sambil menutupi wajahnya yang memerah karena rasa malu tak tertahankan.

[Ding! Target Kepala Sekte Zhao Wuji mengalami kerusakan harga diri kronis. Mendapatkan +6.000 Poin Sampah.]

Li Zhen mengangguk puas mendengar notifikasi poin tersebut, lalu mengambil kembali mangkuk buburnya dari tangan Tetua Yao yang masih gemetar. Dia menyendok bubur panas itu, meniupnya pelan, lalu mengunyahnya dengan ekspresi wajah yang sangat menikmati setiap detik proses makan tersebut.

Rasa gurih garam dan pedasnya lada hitam berpadu sempurna di dalam mulutnya, memanjakan lidahnya yang sedari tadi menuntut asupan rasa yang normal. Dia sengaja mengecap bibirnya dengan suara yang sangat berisik, memamerkan kenikmatan makanan fana itu di depan puluhan dewa persilatan yang kelaparan.

"Namun, bubur ini masih terlalu panas untuk ditelan secara langsung, aku butuh seseorang untuk mendinginkannya," ucap Li Zhen tiba-tiba. Dia menoleh ke arah Kepala Sekte Zhao Wuji yang masih menangis di tanah, matanya menyipit memancarkan perintah mutlak yang tidak bisa dibantah.

"Zhao Wuji, kemarilah dan gunakan energi anginmu untuk mengipasi mangkuk buburku ini sampai suhunya sempurna," titah pemuda bermulut racun itu. Permintaan absurd itu langsung membuat seluruh kultivator di halaman tersebut menahan napas karena syok berat yang meremukkan sisa-sisa akal sehat mereka.

Menggunakan energi spiritual tingkat tinggi dari seorang Kepala Sekte hanya untuk mendinginkan semangkuk bubur adalah sebuah penghinaan terhadap hukum alam semesta. Namun, Zhao Wuji yang sudah kehilangan seluruh harga dirinya tidak berani menolak sedikit pun perintah dari pemuda iblis yang mengetahui aibnya tersebut.

Pria paruh baya itu merangkak maju dengan sangat menyedihkan, air mata dan tanah merah bercampur menodai wajahnya yang dulu selalu terlihat agung. Dia mengangkat tangan kanannya perlahan, mengumpulkan energi angin berwarna hijau pucat yang berputar lembut di atas telapak tangannya yang kapalan.

Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Zhao Wuji mengarahkan aliran angin hijau itu ke permukaan mangkuk bubur di tangan Li Zhen. Uap panas dari bubur itu tertiup pelan, menciptakan pusaran kabut kecil yang menari-nari di udara pagi yang semakin menghangat.

Sang Kepala Sekte Teratai Angin, penguasa jutaan jiwa di benua ini, kini resmi berubah fungsi menjadi sebuah kipas angin manusia. Rahangnya mengeras menahan isak tangis keputusasaan, matanya menatap kosong ke arah butiran beras fana yang berputar di dalam mangkuk tersebut.

Li Zhen tersenyum sangat lebar, menyendok bubur yang sudah hangat kuku itu dan memasukkannya ke dalam mulut dengan penuh kemenangan mutlak. Dia mengunyah makanannya perlahan, menatap puluhan tetua lain yang masih berdiri mematung layaknya pajangan taman yang sangat mahal.

"Ini baru yang dinamakan pelayanan bintang lima, restoran terbaik di duniaku dulu bahkan tidak memiliki kipas angin bertenaga spiritual seperti ini," puji Li Zhen menyindir. Kata-katanya mengiris hati setiap kultivator yang mendengarnya, menanamkan rasa takut dan tunduk yang tidak akan pernah bisa dihapuskan seumur hidup.

Setelah menghabiskan setengah mangkuk buburnya, pandangan Li Zhen beralih ke sudut beranda tempat Penatua Mo Jian berada. Pria tua berbaju zirah perak itu masih berdiri menyandarkan tubuhnya ke pilar emas, jari-jarinya yang berdarah terkulai lemas di sisi tubuhnya.

Ukiran naga di pilar emas itu kini terlihat seperti benang kusut yang dicakar oleh kucing gila, sama sekali tidak berbentuk layaknya makhluk mitologi. Mo Jian menatap hasil kerjanya dengan pandangan kosong, jiwanya seakan sudah terbang meninggalkan raga kasarnya sejak ancaman boneka kelinci itu diucapkan.

Li Zhen meletakkan mangkuk buburnya di atas nampan kayu, melangkah santai menghampiri Penatua Penegak Hukum yang terlihat sangat menyedihkan tersebut. Suara langkah sepatunya langsung membuat Mo Jian tersentak kaget, pria tua itu buru-buru menutupi jari-jarinya yang berdarah di balik punggungnya.

"Apakah matamu sudah rabun parah, Penatua Mo? Karya abstrak ini bahkan tidak layak untuk dijadikan tiang gantungan di pasar hewan," kritik Li Zhen tajam. Dia menepuk pilar emas itu dengan keras, sengaja mengotori ukiran tersebut dengan sisa bubur yang menempel di ujung jarinya.

Wajah Mo Jian memucat pasi, bibirnya bergetar hebat tak mampu mengeluarkan satu kata pembelaan pun atas kegagalannya menyelesaikan tugas tersebut. Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya yang keriput, dia sudah siap menerima siksaan verbal berikutnya dari pemuda fana yang kejam ini.

"B-bahkan dengan seluruh kekuatan petir hamba, emas spiritual ini terlalu keras untuk diukir menggunakan kuku tangan," bisik Mo Jian dengan suara parau. Dia menjatuhkan dirinya ke lantai giok yang dingin, bersujud di depan kaki Li Zhen sambil meremas lututnya sendiri dengan putus asa.

Li Zhen mendecakkan lidahnya, menatap pria tua yang menangis itu dengan raut wajah penuh kejijikan dan sama sekali tidak memiliki empati. Kemampuan 'Mata Penilai Kelemahan' kembali menyorot kelemahan mental Mo Jian, menampilkan teks merah yang menggoda Li Zhen untuk memberikan serangan pamungkas.

"Alasan yang sangat murahan, pantas saja kau selalu bersembunyi di balik wibawa palsumu sambil menangis memeluk boneka kelinci," ejek Li Zhen sangat spesifik. Rahasia memalukan itu kembali digemakan, menghancurkan sisa-sisa kewarasan Mo Jian layaknya palu godam yang menghantam kaca tipis berulang kali.

Pria tua berbaju zirah itu menjerit histeris, menutupi kedua telinganya dengan telapak tangannya yang berdarah sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan panik. Dao Heart-nya hancur berkeping-keping untuk kesekian kalinya, aliran energi petir di dalam meridiannya langsung memberontak liar menyiksa organ dalamnya.

Mo Jian memuntahkan darah segar yang menodai lantai giok putih, lalu jatuh pingsan tak sadarkan diri dengan posisi tubuh melingkar layaknya janin. Penegak hukum paling ditakuti di benua ini akhirnya menyerah pada tekanan psikologis brutal, tumbang di bawah telapak kaki pemuda tanpa sihir.

[Ding! Target Penatua Mo Jian mengalami kelumpuhan mental absolut. Mendapatkan +15.000 Poin Sampah.]

Li Zhen tertawa terbahak-bahak mendengar notifikasi kemenangan tersebut, tawanya menggema memenuhi paviliun megah yang dibangun di atas air mata para dewa. Dia memutar tubuhnya, berjalan kembali menuju kasur bulu angsanya untuk melanjutkan tidur siangnya yang sangat tertunda.

Di luar sana, para tetua elit Sekte Teratai Angin masih berdiri mematung di bawah terik matahari kembar yang semakin menyengat kulit mereka. Mereka menatap pintu paviliun yang tertutup itu dengan pandangan penuh teror, menyadari bahwa hidup mereka kini telah dikutuk selamanya menjadi budak sang pembicara sampah.

Kepala Sekte Zhao Wuji menatap mangkuk bubur yang masih mengepulkan asap tipis di atas nampan kayu dengan tatapan yang sangat kosong. Dia telah menjadi kipas manusia untuk seorang pemuda fana, dan dia tahu bahwa ini barulah permulaan dari penyiksaan tiada akhir yang akan mereka hadapi.

1
Bambang Slamet
m
T28J
mantap kakak 👍 like dan hadiah💪
Kalong Super
💪💪💪💪👍👍 mantul
Aisyah Suyuti
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!