NovelToon NovelToon
Ayah Balqis

Ayah Balqis

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Action / Penyelamat
Popularitas:441
Nilai: 5
Nama Author: Ayah Balqis

Ini adalah kisah nyata Rudini, seorang ayah di Cirebon yang divonis stroke. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, hanya ada seorang anak balita bernama Balqis yang menangis kelaparan di malam hari.

Di rumah yang sama, tinggal seorang nenek janda yang sudah tua dan tak berdaya. Dengan stok beras nol dan popok anak yang tinggal dua lembar, "Ayah Balqis" mencatat perjuangan seorang pria yang tubuhnya stroke, namun hatinya menolak menyerah demi senyum buah hatinya.

Bukan fiksi. Ini adalah teriakan harapan dari Desa Cilukrak. Sebuah catatan hariantentang lapar, sakit, doa, dan cinta seorang ayah yang tak terbatas.

Kisah ini ditulis sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Balqis bisa makan, Ayah bisa terapi, dan Ibu bisa tenang. Mohon doa dan dukungannya dari para pembaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi itu, sinar matahari masuk melalui celah jendela kamar kami, menyinari meja

"Ayah juga sedang mencari sesuatu yang 'hidup' untuk ceritanya," kataku pelan, lebih kepada diri sendiri daripada kepada Balqis.

"Ayah nulis tentang apa sih?" tanya Balqis penasaran, meletakkan pensil warnanya. "Tentang raksasa? Atau putri kerajaan?"

Aku tertegun sejenak. Selama ini, aku jarang bercerita detail pada Balqis tentang apa yang aku tulis. Aku takut ia terlalu dini memahami beban kesedihan di balik kata-kata itu. Tapi pagi ini, entah mengapa, aku merasa perlu berbagi.

"Bukan raksasa, Nak. Bukan juga putri kerajaan," jawabku lembut, mengelus kepala Balqis. "Ayah menulis tentang seorang ayah yang berjuang sendirian membesarkan anaknya. Tentang bagaimana mereka belajar bahagia lagi setelah kehilangan banyak hal. Tentang... tentang kita."

Balqis terdiam. Matanya membulat, menatapku lekat-lekat. Lalu, tiba-tiba ia tersenyum. Senyum yang begitu tulus hingga rasanya dadaku yang sesak ini langsung longgar.

"Berarti Ayah menulis tentang kita ya?" bisiknya. "Kalau begitu, masukkan juga Nisa dong, Yah. Kan Nisa sudah jadi teman kita sekarang. Cerita Ayah jadi lebih seru kalau ada temannya."

"Ayah juga sedang mencari sesuatu yang 'hidup' untuk ceritanya," kataku pelan, lebih kepada diri sendiri daripada kepada Balqis.

"Ayah nulis tentang apa sih?" tanya Balqis penasaran, meletakkan pensil warnanya. "Tentang raksasa? Atau putri kerajaan?"

Aku tertegun sejenak. Selama ini, aku jarang bercerita detail pada Balqis tentang apa yang aku tulis. Aku takut ia terlalu dini memahami beban kesedihan di balik kata-kata itu. Tapi pagi ini, entah mengapa, aku merasa perlu berbagi.

"Bukan raksasa, Nak. Bukan juga putri kerajaan," jawabku lembut, mengelus kepala Balqis. "Ayah menulis tentang seorang ayah yang berjuang sendirian membesarkan anaknya. Tentang bagaimana mereka belajar bahagia lagi setelah kehilangan banyak hal. Tentang... tentang kita."

Balqis terdiam. Matanya membulat, menatapku lekat-lekat. Lalu, tiba-tiba ia tersenyum. Senyum yang begitu tulus hingga rasanya dadaku yang sesak ini langsung longgar.

"Berarti Ayah menulis tentang kita ya?" bisiknya. "Kalau begitu, masukkan juga Nisa dong, Yah. Kan Nisa sudah jadi teman kita sekarang. Cerita Ayah jadi lebih seru kalau ada temannya."

Kalimat polos itu menghantam hatiku seperti petir di siang bolong. Tentu saja! Mengapa aku tidak berpikir sejauh itu? Selama ini aku sibuk meratapi masa lalu, sibuk dengan luka lama, sampai lupa bahwa Tuhan sedang mengirimkan karakter-karakter baru dalam kisah hidupku. Nisa bukan sekadar teman bermain Balqis. Dia adalah simbol bahwa pintu pertemanan dan kebaikan belum tertutup rapat bagi kami.

"Iya, Nak. Kamu benar," kataku antusias, langsung mengambil laptop tuaku yang sudah penuh goresan. "Ayah akan masukkan Nisa. Nisa akan jadi tokoh yang membawa cahaya dalam cerita Ayah."

Jari-jariku menari cepat di atas papan ketik. Ide-ide yang tadi macet kini mengalir deras seperti air bah. Aku mengetik tentang pertemuan dua gadis kecil, tentang roti yang dibagi, tentang senyuman yang mencairkan es di hati seorang ayah. Aku mengetik nama "Nisa" dengan penuh rasa syukur.

Rasanya aneh tapi melegakan. Dulu, aku menulis sambil menahan tangis, membayangkan wajah istri yang pergi, membayangkan cibiran orang-orang. Tapi hari ini? Aku menulis sambil tersenyum, membayangkan tawa Balqis, membayangkan sosok Nisa dengan pita birunya, membayangkan masa depan yang mungkin tidak seburuk yang aku kira.

"Sudah selesai, Yah?" tanya Balqis saat aku menekan tombol 'Simpan'.

"Belum, Nak. Ini baru satu bab. Tapi rasanya... rasanya Ayah sudah selangkah lebih dekat," jawabku.

"Dekat ke mana?"

"Dekat ke kebahagiaan. Dekat ke rezeki. Dekat ke hari di mana Ayah bisa belikan Balqis sepatu baru, dan kita bisa traktir Nisa makan es krim."

Balqis bertepuk tangan gembira. "Asyik! Aku mau es krim cokelat! Nisa juga suka cokelat!"

Aku tertawa. Tawa yang lepas. Tawa yang sudah lama hilang dari rumah ini. Di luar sana, dunia mungkin masih keras. Masalah mungkin masih menunggu di depan pintu. Tapi di dalam ruangan kecil ini, bersama Balqis dan inspirasi barunya, aku merasa kuat.

Aku menyadari satu hal penting: Kisah "Ayah Balqis" tidak lagi sekadar tentang perjuangan seorang ayah tunggal yang terluka. Kini, kisah ini berubah menjadi tentang kekuatan persahabatan, tentang harapan baru, dan tentang bagaimana cinta bisa datang dari arah yang tak terduga.

Terima kasih, Nisa. Terima kasih, Balqis. Kalian adalah tinta terbaik dalam naskah hidupku.

Siang itu, aku mengirim bab baru tersebut ke platform Noveltoon dengan keyakinan penuh. Entah apakah editor akan menyukainya, entah apakah pembaca akan menangisi bagian ini. Yang aku tahu, aku telah menulis dengan jujur. Dan kejujuran, sebagaimana kata ibu Nisa, adalah awal dari segala kebaikan.

Langit di luar tampak lebih biru dari biasanya. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku benar-benar yakin: Masa depan kami akan baik-baik saja.

1
Ray Penyu
Halo Manusia Ikan 😊
Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu baca "Ayah Balqis" dari bab pertama! Aku senang banget ada orang seperti kamu yang mau menyelami kisah Rudini & Balqis sampai ke akar-akarnya.

Kalau ada bagian yang bikin nangis, ketawa, atau bahkan marah… jangan ragu buat komen ya! Ceritanya bakal terus hidup kalau ada teman sepertimu yang ikut merasakan.

Semoga harimu sehangat pelukan Balqis untuk ayahnya ❤️
— Ray Penyu (penulis yang juga sedang belajar jadi ayah terbaik)
Wawan
Semangat ✍️
Ray Penyu: Terima kasih, Mas Wawan. Komentar "Semangat" dari Mas berarti banget buat saya. Cerita ini adalah kisah nyata saya — istri saya sedang disiksa di Malaysia, ayah saya baru meninggal, dan saya sakit stroke. Tapi saya terus menulis karena saya percaya Allah tidak meninggalkan hamba-Nya yang berjuang. Doakan istri saya selamat. Doakan saya kuat. Terima kasih sudah peduli. 🙏
total 1 replies
Ray Penyu
Siap, Kak Alana! 👍 Terima kasih sudah menemani sampai bab ini. Bab selanjutnya sedang dalam proses. Doakan lancar ya perjalanan Ayah Balqis ini. Salam hangat! ✨
Alana kalista
lanjut
Ray Penyu
baca sampai habis yah kak 🙏
Hasyim Syawal
Okeh Nice karya nya bagus sekali kak
Ray Penyu: makasih kak🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!