"Orang lama menang karena sejarah, tapi orang baru menang karena masa depan."
Azeant Apolo-valerio kehilangan cintanya, namun menemukan kembali harga dirinya. Kata "Putus" dari Claudia Astor seharusnya menjadi akhir, namun bagi pewaris tunggal keluarga Valerio ini, itu hanyalah sebuah awal dari pembebasan.
Apolo adalah pria yang hidup dalam presisi rumus teknik, namun ia gagal menghitung variabel ego seorang wanita yang hanya haus akan validasi.
Segalanya berubah saat sebuah notifikasi dari aplikasi kencan masuk, membawa nama Veronica Brooklyn.
Gadis itu adalah anomali; dia tidak memuja ketampanan Apolo, malah menantangnya dengan kejujuran yang Brutal.
Veronica hadir bukan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Claudia, melainkan untuk menciptakan standar baru yang tak pernah Azeant Apolo-valerio bayangkan sebelumnya.
Apolo belajar bahwa terkadang, orang yang datang paling akhir adalah satu-satunya yang layak menjadi yang pertama.
🦋
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#27
Pagi di Mansion Valerio selalu memiliki ritme yang sempurna. Cahaya keemasan menyapu lantai marmer, sementara di dapur utama, kehangatan yang sebenarnya sedang tercipta. Tidak ada lagi teriakan ketakutan atau penghinaan. Yang ada hanyalah aroma mentega yang meleleh dan taburan kayu manis yang memenuhi udara.
Veronica berdiri di balik meja dapur yang luas, mengenakan celemek linen berwarna abu-abu.
Di sampingnya, Florence Valerio—ibu mertua yang dulu hanya bisa ia bayangkan dalam mimpi buruknya—sedang tertawa kecil sambil mengajari Veronica cara menguleni adonan kue kering cokelat, camilan favorit Matthew.
"Kau harus menekannya dengan perasaan, Vea," ucap Florence lembut, tangannya yang halus membimbing tangan Veronica. "Kue ini akan terasa jauh lebih lezat jika dibuat dengan cinta yang tenang, bukan dengan ketergesaan."
Veronica tersenyum, meski ada sedikit rasa pening yang tiba-tiba berdenyut di pelipisnya. Ia mengabaikannya, menganggapnya hanya karena kurang tidur semalam akibat gairah Azeant yang tak kunjung padam.
"Mommy! Mommy! Lihat!"
Suara cempreng Matthew menggema. Balita itu berlari masuk ke dapur dengan kaki-kaki kecilnya yang belum sepenuhnya stabil, diikuti oleh Katie di belakangnya. Matthew membawa sebuah gambar coretan krayon yang tidak jelas bentuknya, namun wajahnya berbinar penuh kebanggaan.
Veronica berjongkok, menyambut pelukan putranya. "Apa ini, Matthew?"
"Ini Daddy, ini Mommy, ini Mattew!" seru Matthew sambil menunjuk coretan itu satu per satu.
"Oh, Sayang... bagus sekali," bisik Veronica sambil menciumi pipi gembul putranya.
"Mommy... Mattew mau kue," pinta Matthew sambil menarik-narik celemek Veronica.
"Sebentar lagi ya, Sayang. Mommy sedang menyiapkannya bersama Grandma," jawab Veronica.
Florence yang melihat momen itu hanya bisa tersenyum haru. Ia mendekat dan mengusap rambut Veronica. "Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah membawa kebahagiaan ini ke rumah kami."
Sementara itu, di distrik finansial Manhattan, Azeant Apolo-Valerio sedang berada di puncak kesibukannya. Namun, meski tumpukan dokumen ada di depannya, pikirannya tidak pernah lepas dari mansion. Ia berkali-kali melirik ponselnya, tersenyum sendiri melihat kiriman foto dari Katie yang memperlihatkan Veronica dan Matthew sedang belepotan tepung di dapur.
"Kau terlihat seperti orang gila yang sedang jatuh cinta, Pol," celetuk Ailen yang masuk ke ruang kerjanya tanpa mengetuk pintu.
"Aku memang gila, Ai," jawab Azeant tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. "Aku hanya tidak percaya bahwa setelah semua badai itu, aku bisa memiliki ini semua."
"Nikmatilah. Kau berhak mendapatkannya," ucap Ailen tulus.
Namun, di tengah kebahagiaan itu, Azeant merasakan sebuah kecemasan yang tak beralasan.
Sebuah firasat yang tajam dan dingin. Ia teringat bagaimana semalam tubuh Veronica terasa sedikit lebih panas dari biasanya, dan bagaimana wanita itu sempat terbatuk kecil yang terdengar sangat menyesakkan.
Kembali ke Mansion, sore itu Veronica merasa tubuhnya sangat lelah. Ia duduk di ayunan taman sambil mengawasi Matthew yang bermain bola dengan anjing peliharaan keluarga Valerio.
Tiba-tiba, rasa mual yang luar biasa menghantamnya. Bukan mual seperti orang hamil, tapi rasa mual yang disertai dengan rasa logam yang pahit di pangkal lidahnya.
Veronica menutup mulutnya dengan sapu tangan. Saat ia menarik sapu tangan itu, matanya membelalak. Ada bercak darah berwarna merah kehitaman yang kental.
Pikirannya melayang kembali ke Dua tahun yang lalu, di dapur Mansion Garfield. Ia teringat bagaimana Morana Garfield selalu bersikeras menyajikan teh herbal khusus untuknya setiap malam.
"Minumlah, Veronica. Ini bagus untuk staminamu sebagai menantu Garfield," ucap Morana yang dulu dianggap Veronica sebagai tanda perhatian.
...****************...
Malam harinya, Azeant pulang dengan membawa boneka besar untuk Matthew dan sebuket bunga lili untuk Veronica. Ia menemukan istrinya sedang duduk di meja rias, namun Veronica tampak sangat pucat.
"Sayang? Kau baik-baik saja?" tanya Azeant, meletakkan bunga itu dan menghampirinya.
Veronica mencoba tersenyum, namun tangannya bergetar hebat. "Aku hanya... hanya sedikit lelah, Azeant. Mungkin karena terlalu banyak bermain dengan Matthew tadi."
Azeant memegang dahi Veronica. "Kau panas sekali. Kita ke dokter sekarang."
"Tidak perlu, Azeant. Aku hanya butuh istirahat. Tidurlah bersamaku," pinta Veronica dengan suara yang sangat lemah, hampir seperti bisikan.
Azeant membimbingnya ke ranjang. Ia memeluk Veronica erat, namun ia merasakan tubuh istrinya seolah-olah sedang memudar.
jd teh celup ka dia disana.... 😂