NovelToon NovelToon
Nayara'S Story

Nayara'S Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Action
Popularitas:512
Nilai: 5
Nama Author: Aini Nuraini

JUDUL: NAYARA'S STORY: TAWANAN DUA MORETTI

Hanya karena salah melihat eksekusi berdarah, hidup Nayara berubah menjadi neraka.

Dia diseret ke Mansion Moretti untuk dilenyapkan. Namun, saat pistol sang penguasa mafia, Lorenzo Moretti, menempel di dahinya, eksekusi itu batal. Wajah Nayara sangat mirip dengan wanita dari masa lalu Lorenzo.

Alih-alih bebas, Nayara justru terjebak menjadi tawanan sekaligus pemuas obsesi gila sang ayah, dan pelampiasan dendam sang anak—Dante Moretti—yang posesif. Diapit dua iblis mafia, Nayara dihancurkan hingga tak tersisa.

Namun mereka lupa, singa yang terluka akan menggigit lebih mematikan.

"Bagi mereka, tubuhku adalah candu yang memabukkan. Namun mereka lupa, candu ini pulalah yang akan menjadi racun paling mematikan bagi akhir hidup mereka."


Genre: Dark Romance, Mafia, Revenge, Toxic Triangle
⚠️ Peringatan: Mengandung konten dewasa dan konflik emosional yang intens.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aini Nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jiwa Yang Terguncang

Kau tidak boleh mati dengan cara seperti ini, Dante Moretti..." bisik Nayara, suaranya bergetar di dekat telinga Dante. "Jika kau mati karena menyelamatkanku, maka seumur hidupku aku akan berutang nyawa pada seorang iblis! Aku tidak mau! Jadi kau harus hidup, mengerti?!"

​Dari kejauhan, sayup-sayup suara raungan sirine ambulans dan deru mesin mobil-mobil jip yang melaju kencang mulai membelah keheningan jalanan hutan.

​"Nayara? Pasukanku sudah sampai di jalur utama. Mereka sedang masuk ke dalam hutan," suara Lorenzo terdengar lagi dari telepon.

​"Cepat! Mereka harus cepat! Detak jantungnya... detak jantungnya semakin melemah!" jerit Nayara, meraba dada Dante yang kini debarannya terasa sangat lambat dan terputus-putus di bawah telapak tangannya. "Dante, dengar itu? Bantuannya sudah datang! Kau mendengar suaraku, kan?! Dante?!"

​Beberapa detik kemudian, semak-semak di sekitar mereka tersibak kasar. Belasan pria berpakaian hitam lengkap dengan senjata laras panjang merangsek masuk, disusul oleh empat orang petugas medis yang berlari membawa tandu lipat.

​"Tuan Muda Dante!"

​Tim medis langsung berlutut di sekitar tubuh Dante. Mereka bergerak dengan kecepatan tinggi, memasang masker oksigen ke wajah Dante dan dengan cekatan memasang perban darurat untuk menahan pendarahan yang kian kritis.

​"Nona, menjauhlah sedikit. Kami harus memindahkan Tuan Dante ke tandu," ucap salah satu petugas medis, menarik lembut bahu Nayara yang masih mematung memegangi punggung Dante.

​Tangan Nayara terlepas dari tubuh Dante. Dia terduduk lemas di atas tanah, menatap kosong ke arah tangannya sendiri yang kini benar-benar merah sepenuhnya oleh darah pria itu. Matanya mengikuti pergerakan tim medis yang mengangkat tubuh kaku Dante ke atas tandu, sementara sebagian petugas lainnya mulai mengurus Lucas yang juga langsung dipasangi alat bantu pernapasan.

​"Tekanan darahnya menurun drastis! Detak jantungnya tidak stabil! Kita harus segera membawanya ke rumah sakit markas utama, sekarang!" seru petugas medis itu panik saat melihat monitor portabel yang mereka bawa menunjukkan grafik yang kian mendatar.

​"Dante..." gumam Nayara lirih, mencoba bangkit berdiri namun kakinya yang lemas dan penuh luka goresan langsung ambruk kembali ke tanah.

" Nayara, Kau tidak apa-apa?"

Sebuah suara bariton yang tak kalah berat dari Dante mendadak terdengar dari arah belakang. Langkah kaki yang tegap dan berwibawa mendekat, memecah kesunyian setelah rombongan tim medis membawa Dante dan Lucas pergi.

Lorenzo Moretti baru saja tiba. Di sampingnya, Marco—tangan kanan kepercayaan keluarga Moretti—berdiri dengan wajah tegang dan waspada, mengedarkan pandangan ke sekeliling area pertempuran yang masih berbau anyir darah.

Lorenzo langsung berlutut di depan Nayara. Begitu melihat kondisi gadis itu—wajah pucat pasi bak mayat, tatapan mata yang kosong menatap lurus ke depan, serta sekujur tubuh yang gemetar hebat dipenuhi noda darah—rahang Lorenzo mengeras. Ini adalah pertama kalinya bagi gadis biasa seperti Nayara menghadapi situasi hidup dan mati yang begitu brutal dan sadis. Jiwanya jelas terguncang hebat.

"Marco, amankan area ini dan urus semua sisa mayat keparat ini. Jangan tinggalkan jejak satu pun," perintah Lorenzo dingin tanpa memalingkan wajahnya dari Nayara.

"Baik, Tuan Lorenzo," sahut Marco patuh, segera bergerak menjauh bersama sisa pasukan yang ada.

Lorenzo beralih menatap Nayara lagi. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk meminta izin, dia langsung menyelipkan satu lengannya di bawah tengkuk Nayara dan lengan lainnya di bawah lipatan lutut gadis itu. Dengan satu gerakan kuat dan mantap, Lorenzo mengangkat tubuh lemas Nayara ke dalam dekapannya secara bridal style

Nayara sama sekali tidak memberontak. Tidak ada sisa energi untuk berteriak atau menolak sentuhan pria Moretti yang satu ini. Tubuhnya benar-benar pasrah, terasa seringan kapas di pelukan Lorenzo. Kepalanya terkulai lemas di dada Lorenzo, namun matanya tetap terbuka lebar dengan tatapan kosong, mengawang memikirkan punggung Dante yang bolong akibat peluru.

"Semua sudah berakhir, Nayara. Kau aman sekarang," ucap Lorenzo dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, sangat kontras dengan pembawaannya yang biasanya kaku dan dingin. Dia mulai melangkah lebar membawa Nayara keluar dari area hutan menuju mobil jip mewahnya yang terparkir di pinggir jalan utama.

"D-Darah..." gumam Nayara sangat lirih, suaranya nyaris seperti bisikan angin. Jemarinya yang gemetar bergerak menyentuh kemeja Lorenzo, meninggalkan bekas noda merah di sana. "Banyak sekali darah... Dante... dia..."

"Dante pria yang kuat. Dia tidak akan mati semudah itu, percayalah padaku," potong Lorenzo menenangkan, mempererat dekapannya saat merasakan tubuh Nayara mendadak tersentak kaku, seolah gadis itu kembali teringat suara guntur senapan yang memekakkan telinga tadi.

Lorenzo menunduk sejenak, menatap lekat wajah Nayara yang dipenuhi keringat dingin. "Kau sudah melakukan yang terbaik dengan bertahan sejauh ini. Sekarang, tutup matamu dan istirahatlah. Aku yang akan mengurus sisanya."

Namun, Nayara tetap tidak bisa memejamkan mata. Rasa syok yang teramat sangat mengunci seluruh sarafnya. Di dalam pelukan Lorenzo, dia hanya bisa terus mematung dengan air mata yang kembali mengalir tanpa suara, membasahi dadanya yang bergemuruh hebat oleh rasa takut, bersalah, dan ketidakpastian yang mencekam tentang nasib Dante selanjutnya.

1
𝘚𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯_𝘧𝘪𝘬𝘴𝘪 🥀
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!