"Aku lahir dari puncak sebuah ego yang membara, Tapi aku dikunci rapat oleh darah dan rahasia maut di malam badai.
Aku membuat dua orang yang saling mencintai menatap dengan tatapan es,
Dan aku terukir abadi sebagai garis pucat di perut sang wanita. Siapakah aku?"
Enam tahun lalu, ego memisahkan mereka.
Sebuah kecelakaan maut yang merenggut nyawa Amara, sahabat dari Vexana Valerio Dan Landon Dasmon—mengubah cinta membara menjadi kebencian pekat yang saling menyalahkan.
Kini, takdir memaksa Vexana dan Landon kembali berhadapan di koridor kampus yang sama.
Di antara dendam yang membakar dan penyesalan yang terlambat, mampukah mereka mengungkap kebenaran malam badai itu, atau justru hancur bersama puing-puing masa lalu?
~~~~~~
Happy reading 🦋🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#32
Landon menutup pintu kamar mandi dari luar, memberikan Vexana waktu dua puluh menit untuk membersihkan diri di bawah kucuran air hangat.
Pria itu sendiri berjalan ke arah dapur penthouse-nya, hanya mengenakan jubah mandi sutra hitam yang longgar.
Di atas konter dapur, ia menuangkan segelas air putih hangat dan menyiapkan sebutir obat pereda nyeri kepala. Otak geniusnya kini bekerja dua kali lebih cepat dari biasanya; bukan untuk memecahkan rumus algoritma robotika, melainkan menyusun strategi untuk menembus benteng kokoh keluarga Valerio.
Ketika mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, Landon melangkah kembali ke kamar tidur sambil membawa segelas air dan beberapa helai pakaian di tangan kirinya.
Vexana keluar dengan rambut yang basah kuyup, hanya terlilit handuk putih tipis milik Landon di tubuhnya. Wajahnya masih pucat, dan cara berjalan wanita itu terlihat sangat kaku.
Setiap kali melangkah, ia meringis tipis karena rasa yang menyengat di bagian intinya—akibat pergulatan intens semalam dan pengulangan paksa yang dilakukan Landon pagi tadi.
Landon tidak berkata apa-apa. Ia berjalan mendekati ranjang, lalu mengulurkan pakaian yang ia ambil dari lemarinya.
Itu adalah sebuah kemeja flanel hitam kotak-kotak berukuran XL miliknya yang sangat kebesaran, dipadukan dengan celana training abu-abu tebal berpinggang karet.
"Pakai ini," ujar Landon lempeng, menyodorkan tumpukan kain itu ke depan dada Vexana.
Vexana mengernyitkan dahi, menatap pakaian itu dengan pandangan menghina khas seorang Valerio yang terbiasa dengan gaun desainer pas badan.
"Kau bercanda? Kau ingin aku keluar dari gedung ini dengan pakaian gelandangan seperti ini? Di mana gaun sutra hitamku?"
"Gaun sutramu sudah robek di bagian resleting belakangnya karena kelakuanku semalam. Dan kainnya terlalu tipis untuk cuaca pagi yang berangin," jawab Landon tanpa dosa, wajahnya datar seolah sedang mempresentasikan jurnal ilmiah. "Lagipula, dengan kondisimu yang... remuk seperti itu, celana training longgar ini jauh lebih manusiawi untuk kulitmu."
Wajah Vexana mendadak memerah mendengar kejujuran pria itu. Ia menyambar pakaian tersebut dari tangan Landon dengan sentakan kasar. "Balikkan badanmu! Jangan berani-berani mengintip!"
Landon mendengus geli, namun ia menuruti perintah itu dengan membalikkan tubuhnya membelakangi Vexana. Sambil menunggu, ia meletakkan gelas air putih di atas nakas.
Terdengar suara gemeresik kain dan desahan napas berat dari arah belakang. Vexana bersusah payah memasukkan kakinya ke dalam celana training yang panjangnya menutupi hingga ke ujung jarinya, lalu mengancingkan kemeja hitam Landon yang tenggelam di tubuh rampingnya.
Panjang kemeja itu bahkan mencapai paha atas Vexana, membuatnya terlihat seperti tenggelam di dalam pakaian seorang raksasa.
"Sudah," gerutu Vexana kesal.
Landon membalikkan tubuhnya. Pemandangan di depannya membuat sudut bibir pria itu terangkat.
Vexana terlihat sangat menggemaskan dengan pakaian kebesaran itu, rambutnya yang basah berantakan, dan wajah cemberut yang ketara.
Landon melangkah maju, menunduk sedikit untuk menatap langsung ke dalam manik mata bulat milik wanita itu. "Kau bisa berjalan, Bee?" tanya Landon dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, namun terselip nada menggoda yang tipis.
Vexana langsung melotot galak, memundurkan kepalanya satu jengkal. "Berhenti memanggilku seperti itu, Don! Status kita adalah orang asing!"
Landon tidak lagi peduli. Masa-masa di mana ia harus mengalah pada protokol kesopanan telah berakhir semenjak ia melihat bekas luka caesar di perut Vexana.
Hubungan mereka dulu hancur bukan karena mereka saling membenci, melainkan karena tuntutan waktu, dan kesalahpahaman yang memisahkan jarak fisik mereka. Di dalam hatinya, Landon tahu, api itu tidak pernah padam.
Sebelum Vexana sempat melayangkan protes lebih lanjut, Landon maju satu langkah besar, mengikis jarak di antara mereka.
Dengan gerakan yang sangat cepat dan dominan, ia menarik pinggang Vexana, membawa tubuh wanita itu masuk ke dalam dekapan dadanya yang bidang. Ia memeluk Vexana dengan erat, menenggelamkan wajahnya di antara rambut basah wanita itu yang beraroma mawar bercampur sampo mint miliknya.
"Lepaskan—"
"Nanti malam aku akan ke rumahmu," potong Landon cepat, suaranya berat dan bergema di dada Vexana, tidak memberikan celah bagi wanita itu untuk membantah.
Vexana mendongak dengan susah payah di dalam dekapan erat itu, matanya membelalak tidak percaya. "Mau apa?!"
"Tentu saja melamarmu!" Jawab Landon enteng, seolah mengajak pergi ke kedai kopi seberang jalan.
"Kau gila?!" Pekik Vexana, tangannya memukul bahu Landon frustrasi. Kegilaan pria ini sejak semalam benar-benar berada di luar kendali logikanya. "Aku bahkan membencimu, Landon! Aku membencimu dengan seluruh jiwaku!"
"Tidak apa-apa. Benci itu manusiawi," jawab Landon santai, mempererat pelukannya di pinggang Vexana hingga wanita itu tidak bisa mundur satu senti pun. "Kau boleh membenciku sampai memaki namaku setiap hari. Tapi anak kita... dia harus tahu aku ayahnya. Ada kata harus di sini, Vexana. Aku tidak menerima negosiasi dalam bentuk apa pun mengenai hak asuh dan statusku sebagai ayah kandungnya."
Mendengar kata 'harus' yang diucapkan dengan nada mutlak khas Desmon, Vexana terdiam. Amarahnya mendadak tertahan di tenggorokan, digantikan oleh rasa sesak yang kembali merayap naik dari dalam dadanya.
Landon menurunkan kepalanya, menyandarkan keningnya pada kening Vexana, memaksa sepasang mata bulat itu menatap lurus ke dalam netra legamnya yang kini dipenuhi oleh kelelahan emosional yang teramat sangat.
"Kenapa... kenapa sulit sekali untuk kita kembali bersama, Sayang?" bisik Landon perlahan, suaranya mendadak berubah menjadi rintihan parau yang menyayat hati.
"Untuk semua kesalahanku di masa lalu... untuk ketidakberdayaanku enam tahun lalu yang membuatmu menderita sendirian... kau boleh menghukumku, Vexa. Kau boleh menghukumku untuk menjadi budak cintamu seumur hidupmu. Aku akan melakukan apa saja. Aku akan merangkak di bawah kakimu jika itu yang kau inginkan."
Jemari tangan Landon naik, mengusap pipi pucat Vexana dengan ibu jarinya yang hangat, menyalurkan rasa keputusasaan yang mendalam.
"Kumohon... demi anak kita, Sayang. Apa kau tidak merasa kasihan pada kita? Pada anak kita yang selama enam tahun ini hidup tanpa kehadiran ayahnya?"
Mendengar kalimat terakhir Landon, pertahanan es yang Vexana bangun dengan susah payah sejak keluar dari kamar mandi akhirnya runtuh total.
Air mata yang sejak tadi ia bendung mengalir deras, membasahi pipinya, jatuh melewati jemari tangan Landon yang masih setia menangkup wajahnya. Di dalam pelukan hangat pria yang pernah dan masih menjadi pusat semestanya itu, seluruh kerapuhan seorang ibu muda yang terluka akhirnya memuncak.
Vexana mencengkeram kain kemeja flanel hitam yang ia kenakan, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Landon saat isakannya pecah.
"Dia..." Suara Vexana bergetar hebat, tercekat oleh rasa sakit yang selama enam tahun ini ia kunci rapat di dasar jiwanya. "Dia bahkan tidak memanggilku Mommy, Landon..."
Deg.
Tubuh Landon seketika menegang kaku. Jantungnya seolah berhenti berdetak mendengar pengakuan itu.
Angan-angannya tentang seorang anak laki-laki kecil yang tampan yang hidup bahagia bersama Vexana di bawah menara kemewahan Valerio mendadak hancur, digantikan oleh sebuah tanda tanya besar yang mengerikan.
Landon menjauhkan wajahnya sedikit, menatap Vexana dengan sepasang mata yang membelalak syok.
"Apa maksudmu, Bee? Kenapa dia tidak memanggilmu Mommy? Di mana anak kita sekarang?!"