NovelToon NovelToon
Gamer And Flower

Gamer And Flower

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:231
Nilai: 5
Nama Author: Ira Herawati

Jasmine, penembak jitu Tim Aether, terkunci dalam sangkar emas Axel, kapten posesif yang mengendalikan hidupnya demi obsesi kemenangan. Di tengah tekanan, hadir Liam, barista hangat di seberang jalan yang menawarkan kebebasan tanpa syarat. Pulang sebagai juara dunia, Jasmine kini harus memilih benteng kaku Axel atau kehangatan sejati Liam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ira Herawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Pagi berikutnya datang dengan langit mendung yang menggantung rendah di atas danau. Tidak ada waktu untuk bersantai menikmati udara pagi, karena sejak pukul delapan tepat, atmosfer di dalam rumah asri Jasmine sudah berubah menjadi medan perang digital yang sangat dingin. Keberangkatan tim ke turnamen internasional di London tinggal menghitung hari, dan Axel tampaknya memutuskan untuk menaikkan level latihan mereka ke tahap yang paling ekstrem. Ruang latihan yang biasanya sesekali diwarnai oleh celotehan absurd Bryan atau gurauan santai Kenzie, kini mendadak berubah menjadi ruang kedap suara yang mencekam. Suara denting tombol keyboard mekanik yang ditekan dengan kecepatan tinggi dan klik mouse yang konstan terdengar bersahut-sahutan seperti rentetan tembakan.

"Jasmine! Kamu telat nol koma lima detik melakukan frozen wall! Lawan dari sektor kiri bisa menembus pertahanan kita!" bentak Axel melalui saluran audio headphone. Suaranya yang berat tidak lagi sekadar tegas seperti biasanya, melainkan sudah mulai terdengar seperti sebuah obsesi yang mendesak.

Jasmine terkejut. Jemarinya yang ramping di atas tombol keyboard mendadak terasa kaku. Matanya yang kelelahan menatap lurus ke arah monitor PC yang menampilkan grafik permainan taktis yang rumit. "Maaf, Kak Axel. Tanganku agak kaku karena suhu AC terlalu dingin," jawab Jasmine lirih, mencoba membela diri dengan suara yang bergetar.

"Enggak ada alasan di panggung dunia, Jasmine! Tim Eropa tidak akan peduli apakah tanganmu kaku atau AC ruanganmu dingin. Kita ke London untuk menang, bukan untuk bertamasya. Fokus!" balas Axel tanpa kompromi sedikit pun. Nada suaranya yang ketat langsung mengunci ruang napas di dalam ruangan tersebut.

Ilias yang duduk di sebelah Jasmine sempat melirik adik bungsunya itu dengan pandangan khawatir. Dia tahu Jasmine sudah terjaga sejak subuh untuk mempelajari rekaman ulang pertandingan tim lawan, dan memaksanya berada dalam tekanan konstan selama dua belas jam sehari bisa membuat mental gadis itu runtuh sebelum sempat menginjakkan kaki di pesawat. Namun, melihat rahang Axel yang mengeras dengan mata yang memerah karena kurang tidur, Ilias memilih untuk menahan kalimat tegurannya demi menjaga profesionalisme latihan tim. Sesi simulasi pertandingan kedua kembali dimulai. Kali ini, tekanan terasa dua kali lipat lebih berat. Setiap kali Jasmine melakukan pergerakan, dia bisa merasakan tatapan mengawasi dari Axel dari sudut meja sebelah. Rasa takut akan melakukan kesalahan justru membuat akurasi tembakan penembak jitu andalan tim itu perlahan-lahan menurun. Jasmine bisa merasakan dadanya sesak, seolah-olah jeruji besi tak kasatmata sedang mengurungnya di depan layar monitor ini tanpa ada jalan keluar. Di tengah kepungan stres dan ambisi besar yang menyesakkan ruangan tersebut, sebuah getaran pendek terdengar dari ponsel Jasmine yang diletakkan di samping mousepadnya. Jasmine melirik sekilas ke arah layar ponsel yang menyala, menampilkan sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang belum dia simpan, namun dia tahu betul siapa pemiliknya dari foto profil seekor bebek putih yang sedang memakai topi jerami. Itu dari Liam. Dengan gerakan secepat kilat memanfaatkan jeda waktu respawn karakternya yang baru saja tereliminasi di dalam game, Jasmine membalikkan ponselnya.

Kak Liam : Aku gak sengaja lihat dari jendela lantai dua kafe kalau lampu ruang tengah rumah kamu belum mati sejak pagi. Donald aja sekarang udah tidur karena kekenyangan makan kangkung. Ini ada resep psikologi gratis dari tetangga kamu. Ambil napas dalam-dalam lewat hidung selama 5 detik, tahan di dada selama 3 detik, lalu buang perlahan lewat mulut dalam 5 detik. Bayangkan kamu sedang duduk santai di tepi danau yang sejuk, bukan di depan layar monitor yang panas. Semangat, Penembak Jitu kesayangan!

Membaca untaian kalimat kasual yang penuh dengan kehangatan itu, sebuah senyuman tipis yang sangat tulus tanpa sadar terukir di sudut bibir Jasmine. Rasa sesak yang sejak tadi bersarang didadanya perlahan-lahan terasa menguap begitu saja. Pesan sederhana dari pria itu terasa seperti pasokan oksigen segar yang sangat dia butuhkan di tengah ruangan yang kekurangan udara ini. Jasmine meletakkan kembali ponselnya, lalu diam-diam mengikuti instruksi pernapasan yang diberikan oleh Liam. Tarik... tahan... buang. Dalam tiga kali siklus, Jasmine bisa merasakan detak jantungnya yang tadinya berdegup liar karena panik kini mulai melambat dan stabil kembali. Fokusnya kembali jernih, dan ketegangan di pundaknya perlahan-lahan mengendur.

"Jasmine, ronde ketiga dimulai. Kali ini ambil posisi di menara belakang," perintah Axel lagi, suaranya masih terdengar kaku.

"Ok Kak, aku siap," jawab Jasmine dengan nada suara yang jauh lebih tenang dan percaya diri dari sebelumnya.

Di seberang meja, Bryan yang menyadari perubahan ekspresi Jasmine sempat mengernyitkan dahinya bingung. "Woi, Kenzie, lo ngerasa gak sih? Adek bungsu kita tadi mukanya udah kayak mau nangis ditindas kulkas tiga pintu, tapi pas ngelihat Hp sebentar langsung senyum-senyum sendiri. Jangan-jangan dia punya simpanan rahasia?" bisik Bryan super pelan ke arah Kenzie yang duduk di sebelahnya.

"Bryan, jaga fokus lo sama map belakang. Jangan sampai kapten dengar atau jersi lo beneran disita," sahut Kenzie lewat bisikan tertahan, membuat Bryan langsung buru-buru memfokuskan kembali matanya ke layar permainan.

Sementara itu, Axel yang sempat menangkap sekilas perubahan aura di sekitar Jasmine hanya bisa memicingkan matanya tajam. Dia tahu ada sesuatu yang terlewat dari pengawasannya, dan instingnya mengatakan bahwa gangguan itu lagi-lagi berasal dari bangunan kaca di seberang jalan. Namun, demi target besar di London, Axel memilih untuk menekan rasa penasarannya dalam-dalam, membiarkan permainan berlanjut meskipun api persaingan di dalam dirinya terasa semakin membara di balik dadanya.

---

Latihan berlanjut hingga larut malam. Ketika akhirnya Axel memberikan tanda untuk mengakhiri sesi, ruangan yang penuh dengan perangkat keras canggih itu mendadak terasa hampa dari suara. Bryan adalah yang pertama kali merebahkan diri di lantai karpet, bernapas terengah seolah baru saja menyelesaikan maraton fisik sesungguhnya. Kenzie dan Ilias mulai membereskan kabel-kabel yang berantakan dengan gerakan pelan, menunjukkan bahwa kelelahan fisik telah mencapai batas maksimal mereka.

"Istirahat semuanya," ucap Axel dingin sambil berdiri dari kursinya. Ia menatap Jasmine yang masih terdiam menatap layar kosong. "Besok kita akan melakukan simulasi grand final dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Pastikan kamu tidak membawa beban emosional apa pun ke dalam arena latihan."

Jasmine hanya mengangguk pelan, tidak sanggup untuk mendongak menatap mata kaptennya. Begitu Axel keluar dari ruangan, Jasmine perlahan menyentuh ponselnya lagi. Ia membaca ulang pesan dari Liam, meresapi setiap kata yang terasa begitu ringan namun sangat menyentuh di hatinya. Di tengah obsesi London yang menyesakkan, Liam adalah satu-satunya orang yang tidak menuntutnya untuk menjadi pahlawan. Tanpa sadar, Jasmine berjalan menuju balkon kamarnya yang menghadap langsung ke danau. Di seberang jalan, Floraison Cafe sudah gelap gulita, namun lampu taman kecil di depannya masih menyala temaram. Jasmine menarik napas panjang, menghirup aroma tanah basah dan sisa wangi bunga yang terbawa angin malam. Ia tahu perjalanan ke London akan menjadi ujian terberat bagi timnya, bukan hanya karena kemampuan lawan, tapi karena dinding-dinding yang selama ini dibangun Axel di sekelilingnya mulai terasa terlalu sempit untuk ia tinggali. Dulu, Jasmine merasa aman di dalam dinding itu. Namun sekarang, setiap kali ia melihat ke arah kafe bunga tersebut, ia merasa ada sebuah dunia luas yang sedang menunggunya untuk ia jelajahi tanpa harus memegang senjata virtual di tangannya. Ia memejamkan mata, membiarkan angin dingin menyapu pipinya, sambil bertanya-tanya di dalam hati, apakah setelah turnamen di London nanti, ia masih akan tetap menjadi Jasmine yang lama, atau ia akan berani melangkah keluar dari dinding protektif Axel menuju kehangatan yang ditawarkan oleh tetangga di seberang jalannya tersebut?

1
Dhatu Lukita
semangat up teruss yaaa, niihhh ku kasih ⭐5, biar tambah semangat 😍
Dhatu Lukita
halo kak berkarya terus yaa semangaatt💪💪💪,
mampir juga d karyaku ya 🤭😍 "dukunganmu semangatku"
Fadillah Ahmad: Kalau ingin membacs Karya ini, baca sampai Bab 20 Kak! atau sampai Bab akhir! kalau hanya sampai Bab 5 terus berhenti, sama saja kakak, merusak retensi novel ini! Baca sampai Bab 20 Kak! jangan berhenti di tengah jalan!
total 1 replies
Dhatu Lukita
keinget mobil lejen🤭😄
Fadillah Ahmad
Mohon maaf sebelumnya, ya! Sinopsisnya kurang Menarik! Mohon di Ubah dulu.

Maaf, jangan tersinggung ya! 🙏🙏🙏 Karena... Novel Kakak Maauk ke Beranda-ku! Di Promosikan Oleh Pihak NovelToon. Jadi, mohon untuk di ubah dulu Kak! 'Kalau Bisa' Karena, aku melihat, Sinopsisnya Kurang mengigit! alias Kurang memunculkan Rasa Penasaran Pembaca! 🙏🙏🙏

Maaf ya Kak! Jangan Tersinggung. 🙏🙏🙏😁

Terima Kasih 🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!