NovelToon NovelToon
Urus Saja Mantanmu Dan Anaknya Itu

Urus Saja Mantanmu Dan Anaknya Itu

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Anak Genius / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:192k
Nilai: 5
Nama Author: Byiaaps

“Iya, jadi aku dengar Karina baru saja bercerai belum lama ini. Dia sibuk jadi ibu dan pemilik toko roti Aura Bakery sekarang. Usia anaknya sepertinya hampir sama dengan usia anakku, kira-kira 1 tahunan lah,” ujar Benny, seorang lelaki berusia 33 tahun.
“Jujur saja, kamu masih ada rasa ‘kan dengan Karina? 9 tahun loh, tidak mungkin selesai begitu saja. Aku tahu, lelaki memang hanya jatuh cinta sekali saja, setelahnya hanya melanjutkan hidup,” lanjut Beni, teman baik Khale.
Diam-diam dari luar ruangan, Syafira yang tengah mengandung mendengar ucapan sang suami dengan temannya itu.
Bahkan, Syafira pun tahu suaminya langsung menuju ke toko kue milik Karina tak lama setelah itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Byiaaps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

“Ha? Kamu serius? Apa tidak terlalu cepat dan terkesan terburu-buru kamu mengambil keputusan ini?” Seorang wanita yang kini tengah duduk berhadapan dengan Syafira di sebuah kafe, tampak melotot setelah mendengar sebuah pernyataan dari teman baiknya itu.

Mengangguk, Syafira tampak yakin dengan keputusannya. “Keputusanku sudah bulat. Tolong bantu aku, Len.”

Wanita bernama Helena itu terlihat seperti masih ingin menyanggah dan menyangkal keputusan Syafira, tapi ia tak dapat berkata apapun saat ini.

“O-oke, akan aku kirimkan daftar berkas yang harus kamu siapkan nanti,” ujar Helena dengan terbata.

“Aku mau sekarang, Lena, bukan nanti. Tunjukkan saja padaku sekarang berkas apa saja yang harus aku berikan supaya kamu bisa segera memprosesnya hari ini juga. Apa yang aku bawa ini sudah lengkap?” tanya Syafira bernada tinggi, lalu menyodorkan sebuah map berwarna merah.

Menutup mulutnya, Helena kembali dibuat shock kala melihat Syafira seakan sudah menyiapkan semua berkas itu dengan matang. “Maksudku sembari kamu menyiapkan berkasnya, kamu bisa berpikir ulang. Membicarakan baik-baik misalnya, mencari jalan keluar.”

Tak menjawabnya, tatapan wajah Syafira begitu tajam hingga membuat Helena yang sehari-hari begitu tegas saat bekerja membela siapa pun kliennya dengan kasus sedemikian rupa, kini menjadi kicep dibuatnya. Sungguh, tak pernah ia sangka akan menjadi kuasa hukum temannya sendiri, apalagi dengan kasus menyesakkan seperti ini. Tak ada pilihan lain, ia terpaksa menyanggupi permintaan Syafira.

“Aku percayakan semuanya padamu dan suamimu. Advokat terbaik di kota ini, jam terbang tinggi, lulusan luar negeri, dan telah memiliki klien dari berbagai kalangan juga partner ternama. Aku percaya kalian berintegritas, tak akan tertarik dengan sebanyak apa pun uang yang mungkin saja akan Khale berikan nantinya.

Tenang saja, biarpun kita teman aku tetap akan membayar jasamu sesuai tarif yang kamu pasang. Kabari saja jika ada berkasku yang kurang. Aku tunggu progressnya hari ini juga,” ucap Syafira dengan mantap, sembari berdiri dari kursinya lalu pergi membawa tas miliknya.

***

Malam ini saat Khale tiba di rumah, tak ada sambutan apa pun dari istrinya. Biasanya sepulang kantor, Syafira selalu menyambutnya di ruang tamu. Tapi malam ini, tak juga ia temui sang istri di kamar sekalipun.

Semalam saat ia kembali ke rumah, dilihatnya istrinya itu sudah tertidur pulas. Begitu pun saat pagi tadi ketika akan berangkat ke kantor, sang istri tampak masih berbaring di kasur karena perutnya terasa mual. Alhasil, Khale belum banyak bicara dengan Syafira. Sekarang, ia justru tak melihat sang istri.

“Buk Mar, di mana Syafira? Aku cari di kamar tidak ada. Pak Aden juga sepertinya sedang ngopi di pos satpam, seharusnya tak sedang mengantar Syafira ke mana-mana. Aku telepon ponselnya tidak aktif,” tanya Khale panik saat berpapasan dengan kepala asisten rumah tangganya.

Terdiam sejenak, Buk Mar seakan merasa bersalah karena seharian tak memperhatikan keberadaan nyonyanya itu. “Maaf, Tuan. Seharian saya urus dapur bersama Lela karena Yani sedang izin pulang kampung per hari ini. Jadi, kami kerepotan sekali sampai-sampai tidak memperhatikan Nyonya. Tapi, tadi siang Lela masih melihat Nyonya di kamar. Dia yang antar makanan ke kamar.”

Tampak kecewa dengan jawaban Buk Mar, Khale memperingatkannya kembali bahwa selama ia tak ada di rumah, Syafira menjadi tanggung jawab seluruh pekerja di rumahnya terutama Buk Mar. Ia pun kembali mencari sang istri di setiap sudut rumah. Tak lupa, Khale pun memanggil Pak Aden untuk meminta keterangan.

“Terakhir saya antar Nyonya semalam ke rumah sakit dan tadi pagi ke kafe, Tuan,” lapor Pak Aden.

Terdiam, Khale seketika teringat akan jadwal kontrol sang istri yang ia lupakan begitu saja. “Ke kafe? Tadi pagi? Apa kamu melihat dia bertemu siapa di sana?”

Menunduk, Pak Aden terdiam karena ia memang tak tahu dengan siapa sang Nyonya bertemu.

“Jawab saya!” titah Khale.

“Nyonya hanya bilang ingin menikmati teh pagi hari dengan suasana kafe. Tuan. Tidak lama berada di sana, nyonya meminta diantar pulang. Tapi, setelahnya saya tidak tahu aktivitas nyonya,” jawab Pak Aden setengah menunduk karena takut salah menjawab.

Berganti memanggil satpam rumahnya, Khale memastikan Syafira memang tak keluar rumah lagi sepulang dari kafe.

“Sa-saya dan Aden tidak melihat Nyonya keluar, Pak,” jawab satpam pelan karena teringat ia sempat ketiduran selama beberapa jam di pos, sementara Aden juga sempat izin pergi ke luar mencari angin.

Dengan wajah muram, Khale kembali ke kamarnya. Entah mengapa firasatnya tak enak. Diperiksanya lemari dan seluruh barang-barang milik istrinya. Semuanya terlihat masih lengkap, tapi terasa ada yang berbeda.

Ya, Syafira meninggalkan gaun-gaun mewahnya di dalam lemari, sedangkan baju sehari-seharinya kini tak ada. Barang-barang pribadi milik Syafira juga masih terlihat ada di meja rias. Tapi, tas yang biasa ia pakai tak terlihat di sana. Perhiasan pemberian Khale pun masih ada di dalam kotak.

Hingga kedua bola mata CEO perusahaan keluarganya itu tertuju pada selembar amplop di atas meja kecil di samping tempat tidur. Penasaran, segera dibukanya amplop putih itu. Di dalamnya, terdapat beberapa lembar cetak foto dan selembar surat.

Khale, maafkan aku harus pergi. Aku kecewa padamu yang tak pernah jujur padaku soal masa lalumu. Seharusnya kamu tak akan mempermasalahkan kepergianku ‘kan? Bukan kah kamu tak pernah mencintaiku? Bukan kah selama ini kamu menjalani pernikahan ini tanpa rasa, dan yang kamu lakukan tak lebih dari sekedar bertanggung jawab sebagai seorang suami?

Kamu pun membenarkan ucapan temanmu bahwa cintamu telah habis padanya, denganku hanya lah melanjutkan sisa hidupmu. Bukankah itu artinya memang tak pernah ada cinta untukku?

Ibumu, orang yang kekeh menjodohkan kita kini sudah tiada. Artinya pula, tak ada lagi yang menentang hubunganmu dengan mantan kekasihmu itu yang kini sudah menjanda. Silakan kembali padanya dan lupakan kami, aku dan anak-anakmu.

Surat singkat dari Syafira itu membuat Khale mematung. Tak hanya karena surat itu, tapi beberapa lembar foto di dalam amplop membuatnya ingin ambruk. Foto-foto yang Syafira cetak adalah foto saat dua kali mobil Khale tertangkap basah mampir ke toko kue milik Karina, juga saat ibu hamil itu melihat Khale tengah menggendong anak kecil yang diduga adalah anak Karina, keluar dari ruang praktik dokter anak.

Di belakang foto itu juga tertulis sebuah tulisan tangan Syafira yang membuat hatinya tersayat.

Aku mengambil gambar ini saat sedang kontrol kandungan.

Tak sengaja aku melihatmu yang lebih memilih peduli pada anak dari mantanmu, dari pada menengok perkembangan anak-anakmu sendiri dalam rahimku.

Gambar ini juga aku ambil tak lama setelah kamu tahu kabar mantanmu yang kini menjanda, mungkin kamu sudah memendam rindu mendalam padanya hingga langsung menemuinya.

“Anak-anak?” Belum sempat Khale mempertahankan keseimbangan tubuhnya, satu foto terakhir yang ia lihat membuatnya benar-benar ingin pingsan.

Foto USG anak kembar yang ternyata ada di dalam perut Syafira, yang tak pernah ia tahu sebelumnya, karena pada kontrol di waktu-waktu sebelumnya, tak terdeteksi sang istri tengah mengandung 2 janin.

Khale mencoba menyadarkan dirinya secara penuh di tengah serangan ombak dahsyat ini, untuk mencoba berpikir dari mana Syafira bisa mengetahui semua ini. Ia lalu bergegas melihat layar monitor di ruang CCTV, sebab beberapa praduga mulai muncul dalam benaknya. Benar saja, Khale terduduk shock saat melihat rekaman CCTV ketika Syafira menguping pembicaraan di ruang kerjanya bersama Beni, juga saat sang istri kembali pergi setelah dirinya berpamitan pergi ke kantor pagi itu, yang mungkin bisa saja Syafira mengikuti mobilnya menuju toko kue milik Karina.

“Jadi…” Sontak Khale berlari keluar kamar menuju garasi mobilnya untuk mencari keberadaan sang istri yang kini entah di mana.

...****************...

1
Lisna Wati
lanjut
Feri Setyawati
khale termasuk laki laki bodoh. jadi klop lah dengan Safira. yang laki di cundangi karina. yang perempuan di cundangi putra.
Feri Setyawati
shafira jadi perempuan tidak punya prinsip. gampang di rayu. kelewat tolol sih.
Feri Setyawati
syafirah bodoh. plin plan.
Niza Neza
terlalu muter2 kayak gasingan
Niza Neza
katanya waktu sklh berprestasi dpt biasiswa tp otak di taro lutut. udah tau putra sprt apa tetap di ladenin. disuruh buka hijab di ladenin. itu di ngangkang jg oke x. dasar goblog kelewat
Niza Neza
gampang banget si fira ini di ombang ambingkn hanya dngn sebuah ucapan. katanya anak berprestasi waktu sklh. ...
tp ko.....kenyata'an tak sesuai
Kembarr Kembaarr
ternyata karina ini sosok wanita kranjingan yaaa... dn si khale pria bodoh yg dngn mudah di bohongi oleh si kranjingan
Memyr 67
kalau suami saya modelan khale, saya juga langsung kabur menghilang. nggak mau muncul sekalipun di depannya. apaan? yg jadi istrinya siapa yg jadi prioritas mantan pacar. istri disuruh mengalah ke mantan pacar? lupakan
ayu cantik
suka
Memyr 67
𝗆𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗆𝖺𝗅𝖺𝗆 𝖽𝗂 𝗋𝖾𝗌𝗍𝗈𝗋𝖺𝗇 𝗁𝗈𝗍𝖾𝗅. 𝗌𝗅𝖾𝗌𝖺𝗂 𝗆𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗆𝖺𝗅𝖺𝗆 𝗌𝗒𝖺𝖿𝗂𝗋𝖺 𝖽𝗂𝗉𝖺𝗉𝖺𝗁 𝗄𝖾 𝗄𝖺𝗆𝖺𝗋 𝗁𝗈𝗍𝖾𝗅 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖽𝗂𝗉𝗋𝖾𝗍𝖾𝗅𝗂
Memyr 67
𝗂𝗇𝗂 𝗇𝗈𝗏𝖾𝗅 𝖻𝖺𝗇𝗒𝖺𝗄 𝗍𝗈𝗄𝗈𝗁 𝗒𝗀 𝖻𝖾𝗀𝗈 𝗒𝖺? 𝗌𝗒𝖺𝖿𝗂𝗋𝖺 𝗆𝖾𝗋𝖺𝗌𝖺 𝖽𝗂𝖺 𝗆𝖺𝗆𝗉𝗎 𝖻𝖾𝗋𝗄𝗈𝗋𝖻𝖺𝗇 𝗌𝖺𝗄𝗂𝗍 𝗁𝖺𝗍𝗂 𝖺𝗀𝖺𝗋 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖺𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝖻𝖾𝗋𝗌𝖺𝗆𝖺 𝖺𝗒𝖺𝗁𝗇𝗒𝖺. 𝗆𝖾𝗆𝖺𝗇𝗀𝗇𝗒𝖺 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖺𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖺𝗄𝗂𝗍 𝗁𝖺𝗍𝗂 𝗄𝖾𝗍𝗂𝗄𝖺 𝖺𝗒𝖺𝗁𝗇𝗒𝖺 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁 𝗆𝖾𝗆𝗂𝗅𝗂𝗁 𝗆𝖾𝗇𝗂𝗇𝗀𝗀𝖺𝗅𝗄𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗋𝖾𝗄𝖺 𝖽𝖾𝗆𝗂 𝗆𝖾𝗆𝖻𝖺𝗁𝖺𝗀𝗂𝖺𝗄𝖺𝗇 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗅𝖺𝗂𝗇? 𝗄𝗁𝖺𝗅𝖾 𝗌𝖾𝗇𝖽𝗂𝗋𝗂 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝗉𝖾𝗋𝗇𝖺𝗁 𝗍𝖾𝗀𝖺𝗌 𝗄𝖾 𝗆𝖺𝗇𝗍𝖺𝗇 𝗉𝖺𝖼𝖺𝗋𝗇𝗒𝖺. 𝗍𝗂𝖺𝗉 𝗄𝖺𝗅𝗂 𝖽𝗂𝗍𝖾𝗅𝖾𝗉𝗈𝗇, 𝗅𝖺𝗇𝗀𝗌𝗎𝗇𝗀 𝗆𝗅𝗎𝗇𝖼𝗎𝗋. 𝗌𝖾𝗈𝗅𝖺𝗁 𝗉𝗋𝗂𝗈𝗋𝗂𝗍𝖺𝗌 𝗁𝗂𝖿𝗎𝗉𝗇𝗒𝖺 𝗆𝖺𝗇𝗍𝖺𝗇 𝗉𝖺𝖼𝖺𝗋 𝖽𝖺𝗇 𝖺𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺.
Memyr 67
𝗆𝖺𝗎 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖾𝗅𝖺𝗌𝗄𝖺𝗇 𝗄𝖾 𝗆𝖺𝗇𝗍𝖺𝗇 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗆𝖾𝗉𝖾𝗍 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌 𝗄𝖾 𝗆𝖺𝗇𝗍𝖺𝗇 𝗉𝖺𝖼𝖺𝗋 𝖽𝖺𝗇 𝖺𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺. 𝖽𝖺𝗌𝖺𝗋 𝗉𝗎𝗍𝗋𝖺 𝗅𝗈𝗀𝗂𝗄𝖺𝗇𝗒𝖺 𝖾𝗋𝗋𝗈𝗋
Memyr 67
𝗄𝗁𝖺𝗒𝗋𝖺 𝖽𝖺𝗇 𝗄𝗁𝖺𝗅𝖾? 𝗆𝗎𝗅𝖺𝗂 𝗍𝗒𝗉𝗈
Dede Bleher
Thor hebaat.
bikin peran utama tangguh
Dede Bleher
pergilah sebelum tambah sakit!
Rosita Tumbelaka
Aq juga akan lakukan hal spt Syafira...
Dara Sari
maaf yaa Thor sedikit koreksi....cerita nya berbelit-belit dan muter muter...kurang penegasan dlm cerita nya Syafira juga lembek...ga ada sifat tegas nya...mohon maaf ya Thor kl dikritik 🙏🙏
Rezi Linda
putra nggak tulus. ..jgn. sampe nikah sm syafira...balikan aja sm khale...khale nggak nikah jg sm karina...jgn di buat berteletele lah critanya 😄
Nina Rochaeny
ehhh..endingnya gmn ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!