NovelToon NovelToon
Anomali Hati Di Suhu Minus

Anomali Hati Di Suhu Minus

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / CEO / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat
Popularitas:729
Nilai: 5
Nama Author: Ella

"Di Perusahaan ini, saya adalah hukum. Hukum tidak mengenal kata MAAF" Adrian Bramantyo.

Adrian adalah CEO dingin yang hidup seperti robot. Kesalahan sekecil apapun adalah tiket menuju pemecatan dan berakhir menjadi pengangguran di black list semua perusahaan. Namun saat sistem logistik bernilai miliaran rupiah lumpuh, seorang admin gudang yang berantakan justru muncul sebagai penyelamat dengan buku catatan kumal yang dimilikinya.

Gisel Amara, gadis pemberani yang hobi mendumel, mendadak ditarik paksa menuju lantai 40 menjadi sekertaris pribadi Adrian yang merupakan "Beruang Kutub".

Akankah Gisel bertahan di ruangan bersuhu minus tanpa beku?
Atau Gisel yang akan mencairkan hati sang CEO yang sudah lama membeku di titik Minus?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Pertama Gisel Jadi Sekertaris

Gisel melangkah mengikuti Adrian dari belakang, dengan sejuta kesal di dadanya, karena terpaksa Gisel sepakat untuk menjadi Sekertaris Adrian. Langkah Gisel terasa berat, seolah setiap senti lantai marmer lobi yang mengkilap itu adalah lem super yang menahan sepatunya. Di depannya, Adrian berjalan dengan punggung tegak, langkah yang presisi, dan aura penguasa yang membuat orang-orang di lobi menyingkir memberi jalan.

Pintu lift berdenting dan tertutup pelan. Hanya ada mereka berdua. Gisel menatap pantulan dirinya di dinding lift yang mirip cermin wajahnya kuyu, rambutnya diikat asal, dan jaket lapangan yang masih bau debu gudang. Sementara di sampingnya, Adrian tampak seperti baru keluar dari sampul majalah bisnis, membuat Gisel merasa dunianya berbanding terbalik dengan Adrian.

“Duh, Pak, Bapak beneran mau jadikan saya Sekertaris, bisa dipertimbangkan lagi gitu” bujuk Gisel namun tidak mendapat respon dari Adrian.

Gisel melepas nafas pelan “Bapak yakin nggak malu bawa saya ke atas? Liat nih, jaket aku ada bekas oli. Nanti karpet bulu domba di ruangan bapak bisa pingsan kena debu dari saya pak" ucap Gisel memecahkan kesunyian di dalam lift.

“Karpet itu bisa dicuci. Tapi insting tajam yang kamu punya soal kontainer 209 tadi tidak bisa dibeli di toko interior mana pun Gisel. Berhenti merasa rendah diri. Itu tidak cocok dengan mulut besarmu” ucap Adrian tanpa melirik Gisel.

"Bukannya rendah diri! Saya cuma merasa kayak... kayak alien yang nyasar ke planet berlian. Di bawah sana saya ratu, di sini saya bakal jadi apa? Tukang pencet dispenser?" Ucap Gisel sambil mendengus.

Adrian berbalik menghadap Gisel tepat saat lift mencapai lantai 40.

”Di sini, kamu adalah suaraku. Jika saya bilang 'A', dan kamu tahu di lapangan itu harusnya 'B', kamu adalah satu-satunya orang yang boleh meneriaki saya. Mengerti?" Ucap Adrian tegas.

TING pintu lif terbuka. Adrian keluar terlebih dahulu diikuti oleh Gisel dengan setengah mengejar, karena satu langkah Adrian dua kali lipat langkah Gisel.

Lantai 40 menyambut mereka dengan keheningan yang mewah, aroma pengharum ruangan ocean breeze, dan deretan kubikel yang sangat rapi. Para staf yang sudah datang langsung berdiri serempak.

"Selamat pagi, Pak”

Adrian hanya mengangguk singkat. Kehadiran Gisel di belakang Adrian menimbulkan tanda tanya tentang kebenaran gosip yang beredar Adrian merekrut Sekertaris berasal dari staf gudang.

Info itu cepat beredar ketika Gisel berdebat hebat berujung dengan perekrutan Gisel anak admin gudang berakhir di meja Sekertaris, dengan penampilan Gisel di luar ekspektasi semua staf yang ada di lantai 40.

Adrian berhenti di depan meja tepat dengan pintu masuk ruang kerjanya. Meja itu kosong, tapi ada sebuah set komputer terbaru, telepon IP canggih, dan sebuah kotak beludru hitam.

“Itu mejamu. Rapikan dirimu dalam sepuluh menit. Saya tunggu kopi pertamamu di dalam” ucap Adrian lalu masuk ke ruangannya.

Gisel mendekati meja itu dengan ragu. Ia membuka kotak beludru hitam di atas meja. Isinya? Kartu nama premium berwarna hitam dengan tulisan emas:

GISEL AMARA

Executive Secretary

Gisel bergumam sendiri sambil mengusap kartu itu

"Gisel... Sekretaris Eksekutif... Gaya bener. Padahal semalem baru aja bersihin kotoran tikus di pojokan gudang."

Gisel kemudian melihat ke samping komputernya. Ada sebuah benda yang sangat ia kenal.

HT miliknya yang tadi disita Adrian. Di bawahnya ada secarik kertas kecil dengan tulisan tangan yang rapi dan tegas. Gisel mengambil dan membacanya.

HT ini hanya boleh menyala jika ada keadaan darurat di bawah. Mulai sekarang, suaramu harus lebih sering terdengar di ruangan saya daripada di frekuensi radio. - A.B.C.

Gisel menarik napas panjang, melepas jaket lapangannya, dan duduk di kursi ergonomis yang harganya mungkin setara dengan motor matic-nya. Ia memutar kursi itu satu putaran penuh.

"Oke, Robot Kulkas 1000 pintu. Kamu mau perang? Ayo kita mulai. Tapi jangan salahin aku kalau SOP kantor kamu ini aku acak-acak pake gaya gudang!" Ucap Gisel menyeringai.

Gisel menarik napas panjang, merapikan kuncir kudanya yang sedikit mencuat, lalu melangkah menuju dapur kecil (pantry) eksekutif yang lebih mirip laboratorium kimia daripada dapur. Semuanya serba otomatis, mengkilap, dan dingin.

“Kopi hitam, tanpa gula, sepahit hidup di bawah tekanan Bos Robot Kulkas. Oke, laksanakan," gumam Gisel sambil menekan tombol mesin kopi seharga motor itu.

Gisel masuk tanpa mengetuk, kebiasaan lapangan yang sulit hilang. Ia membawa mug keramik putih tipis (bukan mug kucing galaknya, karena masih tertinggal di gudang) dan meletakkannya dengan bunyi klak yang cukup keras di atas meja kerja Adrian yang bersih.

"Ini kopi Bapak. Tanpa racun, tapi jangan salahin saya kalau jantung Bapak deg-degan, kopinya kenceng banget nih." Ucap Gisel.

Adrian tidak mendongak. Di depannya berserakan lima map besar berwarna merah. Dahinya berkerut dalam, jemarinya memijat pelipis seolah sedang mencoba memecahkan kode nuklir.

"Duduk, Gisel. Saya tidak butuh kopi yang bikin deg-degan, saya butuh seseorang yang bisa menjelaskan kenapa laporan audit logistik dari konsultan ini bahasanya seperti bahasa langit." Ucapnya dengan suara serak.

Gisel menarik kursi kulit di depan Adrian, mengintip dokumen itu "Bahasa langit gimana? Sini saya liat”

Gisel membaca sekilas. Matanya menyipit melihat istilah-istilah seperti 'Optimization of Downstream Bottlenecking' dan 'Synergistic Fleet Deployment Efficiency'.

Gisel tertawa kencang sampai Adrian mendongak kaget "Hahahaha! Pak, ini mah gaya-gayaan doang! Konsultan bapak ini pinter jualan istilah biar keliatan mahal!" Ucap Gisel menyebabkan dahi Adrian berkerut.

"Maksud kamu? Mereka bilang kita butuh investasi sepuluh miliar untuk sistem radar baru di setiap truk agar tidak ada keterlambatan” ucap Adrian bingung.

Gisel mengambil pulpen Adrian, langsung mencoret-coret laporan itu tanpa ampun

"Radar pala mereka peyang! Pak denger ya. Truk kita telat itu bukan karena nggak ada radar. Truk kita telat karena pintu keluar tol Jakarta-Cikampek itu tiap jam 4 sore ada gerobak bakso yang mangkal di bahu jalan, bikin macet! Terus, sopir-sopir itu sering berhenti di SPBU kilometer 19 bukan buat isi bensin, tapi karena di sana kopinya enak dan ada tukang pijetnya!" Jelas Gisel yang sudah tahu keadaan di lapangan.

Adrian tertegun. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap coretan Gisel yang berantakan tapi masuk akal.

"Ngapain beli radar sepuluh miliar? Mending Bapak kasih bonus kehadiran buat sopir yang nyampe tepat waktu. Kasih mereka voucher makan di pelabuhan. Dijamin, nggak pake radar pun mereka bakal ngebut kayak pembalap F1 demi kejar setoran!" Ucap Gisel antusias.

Adrian menyesap kopinya perlahan, matanya menatap Gisel dengan binar yang sulit dijelaskan.

"Logika lapangan yang sangat... kasar, tapi efisien. Konsultan itu saya bayar ratusan juta untuk laporan ini, dan kamu menghancurkannya dalam tiga menit dengan teori 'gerobak bakso' " Ucap Adrian menarik senyum tipis nyaris tak terlihat.

Selama ini dia selalu berpikir dengan logika yang realistis dan konsep teori yang dia pahami, namun terpatahkan dengan pengalaman lapangan Gisel yang sederhana tapi masuk akal.

“Ya emang itu kenyataannya Pak! Cobalah bapak buka sesi tanya jawab dengan para sopir, dengarkan langsung dari mereka pak. Biar Bapak nggak cuma liat angka di atas kertas, tapi liat aspal yang sebenernya." Ucap Gisel seenaknya, menyebabkan Adrian mulai kagum dengan cara berpikir Gisel.

Adrian menutup map merah itu dengan mantap.

"Oke. Buat draf memo internal. Gunakan bahasamu, …yang sudah diperhalus sedikit, tolong masukkan juga soal insentif sopir itu. Kita batalkan kontrak radar itu siang ini” ucap Adrian tegas.

Gisel berdiri dengan semangat”

”Siap pak, Gitu dong! Nah, sekarang Bapak minum kopinya. Sebelum dingin, karena cukup bapak saja yang dingin jangan disebar ke kopinya” ucap Gisel asal membuat Adrian mengangkat kedua alisnya.

“Saya mau keluar dulu, mau cek HT. Bang Rendi dan bang Budi pasti lagi pusing sama kontainer Korea tadi." Ucap Gisel dengan gaya cerianya.

Saat Gisel berbalik menuju pintu, Adrian memanggilnya lagi.

“Gisel..”

"Apa lagi, Bos?" Gisel menoleh dengan senyum manisnya.

Adrian menatap dalam kepada Gisel “Terima kasih”

“Sama-sama pak” ucap Gisel tersenyum ramah lalu berlari menuju pintu kembali ke meja kerjanya.

Adrian tersenyum lebar, baru kali ini dia merasa tenang dalam menyelesaikan pekerjaannya.

“Gisel tetap di sini” ucap Adrian ambigu.

Adrian menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya dan memejamkan matanya.

***

Gisel mengambil HT-nya lalu menghidupkannya, Gisel ingin mengecek keadaan gudang.

“Bang Rendi.. Bang Budi monitor. Ganti!”

Gisel menunggu balasan dari kedua timnya.

Hadi mendekati meja Gisel, dan mengetuk pelan meja, karena Gisel posisi membelakangi Hadi. Gisel memutar kursinya, Gisel menelan salivanya dengan susah, mendapat tatapan dingin, lebih dingin dari Adrian.

Hadi yang biasanya hanya menjadi bayangan diam di belakang Adrian, kini berdiri di depan meja Gisel. Ia tidak membawa kopi atau dokumen audit, melainkan sebuah tablet yang layarnya menyala terang. Wajah Hadi datar, sedingin ubin gudang di musim hujan. Ia menatap Gisel dengan tatapan yang seolah bisa menembus tengkorak kepala.

Hadi meletakkan tablet di depan Gisel dengan dentuman pelan.

“Mbak Gisel. Hari pertama kerja biasanya diisi dengan orientasi alat kantor. Tapi sepertinya, Mbak sudah lebih dulu melakukan 'orientasi' publik terhadap privasi Pak Adrian." Ucapnya datar.

Gisel melihat layar tablet itu. Postingan blognya yang berjudul "Diktator Dingin dan Parfum Sandalwood: Kisah Terperangkap di Lantai Es" terpampang nyata.

"Lho, Pak Hadi... itu... itu kan cuma fiksi penggemar! Eh, maksud saya, itu tulisan kreatif buat ngasah otak!"

Suara Hadi rendah dan tajam “Kreativitas yang berisiko tinggi, Mbak. Di poin ketiga, Mbak menyebutkan Pak Adrian punya kebiasaan aneh, marah-marah tidak jelas. Di poin kelima, Mbak membahas pemecatan orang yang tidak bersalah. Itu bukan fiksi. Itu data internal."

"Ya ampun, Pak! Netizen nggak bakal tau kalau itu Pak Adrian! Mereka mikirnya itu tokoh komik!"

Hadi mendekat, suaranya makin dingin "Tim legal kami tidak peduli soal netizen. Mereka peduli soal Non-Disclosure Agreement (NDA) yang Mbak tanda tangani di mobil tadi pagi. Pasal pencemaran nama baik dan pembocoran kebiasaan pimpinan. Pak Adrian mungkin membiarkannya sekarang karena Mbak 'berguna' di lapangan. Tapi saya?"

Hadi menjeda kalimatnya, menatap Gisel tanpa kedip.

"Tugas saya adalah memastikan tidak ada kerikil yang merusak sepatu mahal Pak Adrian. Dan Mbak Gisel... Mbak bukan cuma kerikil, Mbak itu batu kali yang masuk ke dalam mesin."

Gisel mulai emosi "Terus Bapak mau apa? Pecat saya? Silakan! Saya juga lebih betah di gudang!"

"Tidak sesederhana itu. Jika Mbak berhenti sekarang karena kasus ini, reputasi Mbak di dunia logistik akan tamat. Tidak akan ada gudang mana pun yang mau menerima 'mata-mata' blogger. Pak Adrian sudah tahu, dan beliau memutuskan untuk 'bermain'. Tapi saran saya satu..."

Hadi membungkuk sedikit, berbisik tepat di samping telinga Gisel.

"Berhentilah menulis tentang apa yang Pak Adrian lakukan di dalam ruangan ini. Karena jika sampai ada rahasia strategi perusahaan yang bocor lewat tulisan lucu Mbak itu... saya sendiri yang akan memastikan Mbak tidak akan pernah melihat pintu gudang lagi."

Hadi kembali berdiri tegak, merapikan jasnya yang tak berkerut, lalu berbalik pergi tanpa menunggu jawaban.

“Oo MY GOD benar-benar lantai 40 ini dipenuhi marmud dingin, belum juga sehari di sini sudah menghadapi dua manusia kulkas, yang satu Robot Kulkas satunya lagi bayangan kulkas isinya melebihi kapasitas gunung es. Benar-benar merusak mood” ucap Gisel menatap punggung Hadi yang semakin menghilang.

“Emang apa salahnya saya menulis blog, mencurahkan semua isi hati saya yang sebenarnya, lagian di situ tidak dituliskan nama si beruang kutub. Benar-benar deh Hadi sama atasannya sama-sama kanebo salju” tukas Gisel merengut

Tiba-tiba HT Gisel berbunyi

HT: Krrrr, Gisel sayangkuh, monitor sayang, kau masih hidup kan, eyke menghubungi ponsel dan HT kamu mati. Ganti!

“Hadir Bang Budi, aman masih idup kok” ucap Gisel

HT: Kkkrrr.. aduh syukur deh Yey masih idup Jeng. Sel, cepatan ke sini ada masalah di gudang. GAK PAKE LAMA. GANTI!

“Haaah?! Masalah apa bang?”

HT: Kkrrr.. urgent, segera ke sini cepatan! Ganti.

“Ok, otewe bang”

Tanpa berpikir panjang Gisel langsung berlari meninggalkan lantai 40.

To be continue

1
TriAileen
mami Budi ampun dah🤣
TriAileen
gitu kan mantap. ada yang berani ma Bos ny
Mom's VB: Terima kasih masih setia dengan author 🙏
total 1 replies
TriAileen
q mampir kak. cinta karena cinta gimana KK. lnjut gak
Mom's VB: Siap akan diusahakan untuk tetap update cerita Dito-Nayla
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!