Menjadi janda di usia belia bukanlah sebuah pilihan, melainkan suatu takdir yang harus di jalani oleh Aisyah Naira. Wanita berusia 18 tahun yang harus berpisah dengan suami yang di cintainya karena di fitnah selingkuh dan di tuduh hamil anak dari laki-laki lain.
Ingin tahu bagaimana kehidupan Aisyah setelah empat tahun kemudian?
Apakah Aisyah sanggup menerima kenyataan ketika putri kesayangannya harus meninggal dunia di umurnya yang belum genap 4 tahun?
Dan bagaimana ketika takdir kembali mempertemukan Aisyah dengan sang mantan suami yang menyesali perbuatannya di masa lalu dan memohon kepadanya untuk rujuk?
follow IG author : asyiahmuzakir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asyiah Muzakir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 21 | A feeling
Sesuai janji Aisyah menemani Avila jalan jalan sore di sekitar pantai Kuta. Meskipun sebenarnya Aisyah lebih ingin menjajahi kuliner khas Bali yang terletak tak jauh dari hotel tempat mereka menginap. Tapi bagaimana lagi, janjinya kepada Avila mesti harus di tepati.
"Syah, lihat deh, aku beli topi ini. Keren gak?"
Dengan wajah sumringah Avila memperlihatkan topi pantai yang baru saja di belinya di penjual kaki lima pinggir jalan.
"Bagus, tapi kenapa mesti warna hitam?" protes Aisyah yang membuat Avila mempout bibirnya lucu.
"Emang kenapa kalo warna item?"
"Kalo warna item itu kesannya kayak topi koboi gitu lho, Vi," terang Aisyah mengungkapkan pendapatnya.
"Ah kamu mah ngadi-ngadi, dari modelnya aja topi pantai sama topi koboi itu udah beda banget!" sangkal Avila sambil memakai topinya.
"Bercanda Avi, topi itu keren banget kok, tapi kalau yang makainya kamu," ucap Aisyah yang langsung membuat Avila tersenyum dan merangkul bahunya.
"Bisa aja kamu, Syah. Eh itu bukannya Robbie sama Oppa Lee ya?" Avila menunjuk dua orang yang tersangka sebagai Robbie dan Lee.
"Yang mana?" tanya Aisyah sambil mengikuti arah jari telunjuk Avila.
"Eh iya tuh, kira kira mereka lagi ngapain ya?"
"Lagi beli sesuatu kayaknya, yuk kita samperin," kata Avila yang kemudian menarik tangan Aisyah untuk ikut menghampiri Robbie dan juga Lee.
Datang datang Avila langsung menepuk pundak Lee dari belakang sampai membuat pria itu berjengit kaget. "Hei Oppa, lagi beli apa?" tanya Avila.
"Beli...beli surfing board, iyakan Rob?" Lee tampak mengkode Robbie.
"Eh, iya iya bener, beli surfing board," sahut Robbie dengan tergagap.
"Berarti kalian mau ke pantai dong?" tanya Aisyah yang kompak di angguki oleh Robbie dan juga Lee.
"Wah, kalo gitu bareng aja, yuk!" ajak Avila.
"Oke setuju," sahut Lee.
"Aku sih ngikut aja," timpal Robbie.
Dan akhirnya mereka berempat pun pergi ke pantai bersama-sama.
Sesampainya di pantai Kuta, Robbie dan Lee berlari ke arah ombak sambil membawa papan selancar mereka, kemudian tanpa ragu dua orang laki-laki itu menceburkan diri dan membasahi baju mereka dengan air laut.
"Gila sih mereka, surfing kok sore sore gini," gumam Avila sambil memperhatikan Robbie dan Lee yang mulai memainkan papan selancar mereka di atas air laut.
"Ya biarin ajalah Vi, mendingan sini duduk di samping aku," ujar Aisyah yang telah duduk di atas pasir putih, bersiap untuk menikmati suasana senja yang sebentar lagi tiba.
"Menurut kamu, salah gak sih kalau ada orang yang punya perasaan spesial ke kakak angkatnya?" tanya Avila secara tiba-tiba.
"Hmm, enggak sih, emangnya kamu..."
"Itu lho, dulu ada temen aku yang suka sama kakak angkatnya," potong Avila sebelum Aisyah berpikiran ke arah dirinya.
"Ooh, kirain kamu," ucap Aisyah seraya menatap wajah Avila dengan alis yang di naik turunkan.
"Apaan sih, Syah," sangkal Avila sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Ekhem, kamu suka sama Lee, ya?" goda Aisyah yang tanpa di duga membuat pipi Avila merona.
"Enggak lah, kamu jangan ngadi-ngadi deh," sela Avila tanpa memandang Aisyah.
"Iya juga gak papa kok, Vi," ujar Aisyah sambil tersenyum menatap wajah merona Avila.
"Aaahh! Kamu mah nyebelin, aku tanya kayak tadi itu karena dulu temen aku ada yang suka sama kakak angkatnya. Bukan berarti aku yang suka sama Oppa Lee!" tandas Avila yang langsung membuat Aisyah terkekeh geli.
"Siapa yang suka sama aku?" tanya Lee yang tiba tiba sudah berada di depan Avila dan juga Aisyah.
"Eh, itu...Oppa salah denger kali, iyakan Syah?" kata Avila sambil melirik Aisyah dan memberi kode mengangguk.
"he'eh, kamu salah denger Lee," timpal Aisyah yang membuat Lee mengangkat satu alisnya dengan curiga karena dia mendengar sendiri kalau namanya tadi di sebut oleh Avila.
"Syah, gue mau nyamperin Robbie dulu ya, bye." Rupanya Avila memilih untuk menghindar dari Lee.
"Tumben, tapi ya udah sana," sahut Aisyah.
Kemudian Avila bergegas menghampiri Robbie dan seperti biasa, mereka mulai ribut dan kejar kejaran seperti Tom and Jerry.
"Mereka itu gak ada akur akurnya yah," ucap Aisyah sambil melihat ke arah Robbie dan Avila.
"Ya, dari dulu mereka memang seperti itu. Malah aneh rasanya kalau mereka terlihat akur," timpal Lee yang membuat Aisyah terkekeh.
"Boleh gak aku duduk di sini?" tanya Lee seraya menunjuk pasir di sebelah Aisyah.
"Silahkan," jawab Aisyah dengan singkat.
Lalu Lee duduk di sebelah Aisyah dengan jarak yang cukup jauh, pria tampan asal negeri ginseng itu sangat menghargai wanita, terutama wanita berjilbab seperti Aisyah.
"Aku...aku punya sesuatu untuk kamu," ungkap Lee seraya mengeluarkan sesuatu dari kantong kemejanya yang basah.
"Apa itu?" tanya Aisyah.
Lee menyodorkan sebuah gelang cantik terbuat dari kerang kepada Aisyah.
"Wah, cantik dan unik banget...ini pasti hasil kerajinan tangan," ujar Aisyah seraya menerima gelang kerang cantik tersebut.
"Makasih ya, Lee," ucap Aisyah yang di senyumi oleh Lee.
"Kamu suka?" tanya Lee yang langsung di angguki cepat oleh Aisyah.
"Suka banget malah, emh...tapi ini dalam rangka apa yah?" Aisyah balik menanyai Lee karena gadis itu mulai merasa heran.
"Sebenernya bukan dalam rangka apapun sih, aku cuma mau kasih gelang cantik itu ke kamu, soalnya pas aku lihat gelang itu di pasar tadi, entah kenapa aku langsung inget sama kamu," jawab Lee seraya tersenyum manis kepada Aisyah. Mungkin kalau wanita lain yang mendapat senyuman itu, pasti mereka langsung terpesona dan jatuh cinta, tidak seperti Aisyah yang cenderung biasa-biasa saja.
"Sekali lagi makasih ya," ucap Aisyah yang sekali lagi berterima kasih kepada Lee atas pemberian manis pria itu.
"Hm, oh iya, besok jadi kan mau prepare studio untuk fashion show nanti lusa?" tanya Aisyah yang mulai membahas soal pekerjaan, pedahal dalam hati Lee dia ingin sekali membahas soal pribadinya dengan Aisyah. Tapi apa daya, Aisyah sudah lebih dulu membuka obrolan seputar studio dan fashion show.
"Jadi Syah, rencananya Robbie sama aku mau ganti nuansa studio jadi lebih ke klasik," sahut Lee.
"Waw, keren dong, berarti menyesuaikan sama tema fashion show DSL Beauty style kali ini," ucap Aisyah sambil memasang gelang pemberian Lee di tangan kirinya.
Setelahnya untuk beberapa saat baik Aisyah maupun Lee tidak ada yang berbicara, mereka berdua sama-sama canggung untuk memulai obrolan lagi.
Sampai ketika Lee memberanikan diri untuk membuka suaranya. "Aisyah, boleh aku meminta saran kamu?" tanyanya yang membuat Aisyah menoleh.
"Saran soal apa ya?"
"Ini soal bagaimana caranya memberitahu eomma kalau aku sudah memutuskan untuk menjadi seorang muslim," jelas Lee sambil menundukkan kepalanya, memandangi pasir putih yang ia duduki.
"Kamu bisa memberitahunya secara baik-baik dan berterus terang. Mungkin awalnya ibu kamu akan marah, kecewa, dan tidak bisa menerima kalau kamu menjadi seorang muslim. Akan tetapi lama kelamaan jika kamu terus berbakti dan menyayanginya, dia pasti akan luluh dan menerima kamu serta keyakinan yang kamu anut sekarang," saran Aisyah dengan sikap bijaknya yang membuat Lee menatapnya penuh kekaguman.
"Terimakasih Aisyah, saran kamu itu akan aku praktikkan secara perlahan lahan," ungkap Lee yang di balas senyuman kecil oleh Aisyah.
"Semoga ibu kamu bisa cepat menerima apa yang udah menjadi keputusan kamu sekarang ya," ujar Aisyah.
"Aamiin, sekali lagi makasih ya, Syah. Selama ini kamu selalu menjadi penasehat yang baik untuk aku dan kamu juga selalu menjadi pendengar yang tanpa menyela saat aku bercerita...alangkah beruntungnya lelaki yang nantinya akan menjadi suami kamu, Aisyah. Karena dia akan selalu mendapat solusi yang bijak dari kamu di setiap permasalahannya," ungkap Lee dengan kejujuran dan binar mata yang penuh dengan kekaguman.
"Dan andai saja yang menjadi suami kamu kelak adalah aku, Aisyah...," lanjut Lee di dalam hati.
Bersambung....
Gimana perasaan kalian setelah baca part ini?
Seneng? penasaran? atau biasa aja?
Pliss apapun yang kalian rasain, tolong tinggalkan di kolom komentar ya....😊📝😊👍👍👍👍
Jangan lupa untuk selalu support aku dengan cara :
-LIKE 👍
-KOMENTAR 📝
-TEKAN BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐
-VOTE CERITA INI ❤️
-DAN FOLLOW PROFILKU 🙏😊
Makasih banyak yang udah bertahan menunggu dan membaca cerita ini....😻😻😻
Aku sayang kalian.❤️❤️❤️
Bye, Assalamu'alaikum.💙💙💙