"Baiklah, kalau kamu memang tetap ingin mempertahankan janin itu," ucap Bu Esta dengan tatapan tertuju pada perut Raline yang masih rata. Suaranya terdengar tegas dan tajam, membuat Raline menunduk takut.
"Kai akan menikahi kamu, tapi..." kalimatnya terjeda sejenak, sehingga Raline dan orang tuanya menatap wanita itu, menunggu kelanjutannya. "Setelah anak itu lahir, saya akan mengambilnya dan memberikannya pada orang lain. Kamu boleh terus melanjutkan hidupmu, dan Kai... dia akan melanjutkan studi ke Inggris tanpa harus mempertahankan pernikahannya denganmu."
*****
Cek visual karakternya di Ig @lisdaarustandy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ditinggal
Malamnya...
Raline berdiri di depan kompor dengan celemek warna pink terpasang di tubuhnya. Ia tengah sibuk memasak orak Arik tempe dan telur dengan sedikit minyak, berharap makanan itu tidak akan ditolak lagi oleh perutnya.
Tangannya bergerak cepat mengaduk-ngaduk masakan, takut akan gosong karena ia sendiri belum terlalu pandai memasak.
Di saat itulah Kaisar datang. Ia baru turun dari kamarnya di lantai dua. Mengenakan celana jeans hitam dan jaket kulit kesayangannya dengan dalaman kaos hitam polos. Wangi parfum maskulin langsung tercium oleh Raline ketika pemuda itu datang menghampirinya.
"Lin," panggil Kaisar sembari berdiri di sampingnya.
Raline menoleh sebentar dan kembali fokus masakannya. "Hm?"
"Gue mau keluar dulu. Mungkin gue pulang agak malam. Ada janji sama Nana. Lo gapapa kan kalo gue tinggal dan sendirian di rumah?" kata Kaisar. Secara tak langsung meminta izin untuk pergi keluar bersama Nana di malam Minggu.
"Pergi aja. Ngapain tanya gue?" ucap Raline datar. Tak peduli.
"Ini kan pertama kalinya gue mau ninggalin lo keluar malam-malam. Gue kan gak pernah ninggalin lo sendirian. Makanya gue tanya. Takutnya lo kagak mau ditinggal," jelas Kaisar.
"Pergi aja," jawab Raline, cuek. "Gue bukan anak kecil yang harus lo khawatirin waktu sendirian. Gue bisa jaga diri gue sendiri."
"Lagian, gue gak mau ngelarang-larang orang yang lagi bucin," tambahnya.
Kaisar terkekeh sinis mendengar kata "bucin" keluar dari mulut Raline. Ia menyandarkan bahunya di tepian meja pantry, memperhatikan punggung Raline yang masih sibuk dengan sodetnya.
"Bukan gitu, Lin. Gue cuma mau menepati janji, soalnya udah janjian tadi siang mau jalan malam ini. Kasihan Nana udah nungguin dari tadi kalo gue gak jadi pergi," bela Kaisar, meski nada bicaranya terdengar agak ragu.
"Iya, iya, gue paham. Tanpa lo jelasin juga gue ngerti," sahut Raline.
"Tapi gue janji bakal balik sekitar jam 9 malam," ucap Kaisar. "Gue gak bakal terlalu lama ninggalin lo kok."
Raline hanya mengedikkan bahu tanpa menoleh. "Terserah. Mau lo pulang subuh atau pagi pun bukan urusan gue. Pintu depan jangan lupa dikunci kalo mau pergi. Gue ogah pergi ke depan."
"Mau gue beliin sesuatu gak nanti pas gue balik?" tanya Kaisar.
"Gak usah," jawab Raline datar. "Gue juga bakal tidur habis ini. Gak bakal keburu gue makan kalo lo bawa sesuatu nanti."
Kaisar terdiam sejenak. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya melihat Raline yang begitu abai. Padahal tadi siang di sekolah, ia merasa hubungan mereka sedikit mencair setelah kejadian di toilet. Namun sekarang, tembok tinggi itu kembali tegak.
Sebenarnya ini bukan kali pertama Raline bersikap dingin padanya sejak mereka tinggal bersama. Sejak awal sikap Raline sudah seperti itu, dan Kaisar menganggap itu hal yang wajar karena Raline masih menyimpan rasa bencian padanya.
Tapi entah mengapa, akhir-akhir ini ia merasa tak nyaman dengan sikap dingin itu. Seakan sikap itu membuatnya kesulitan untuk menjangkau hati Raline, sekaligus memperbaiki hubungan. Mengingat kini ia mendapatkan tugas penuh untuk menjaganya.
"Lo beneran nggak mau gue beliin sesuatu pas balik nanti?" tawar Kaisar lagi, berusaha mencairkan suasana.
"Gue bilang gak perlu. Perut gue lagi nggak bisa diajak kompromi, makanan apapun bakal sia-sia. Mending lo buruan pergi gih, nanti Nana ngambek sama lo," usir Raline halus.
Kaisar menghela napas panjang. Ia merogoh saku jaketnya, mengambil ponsel dan kunci motor. "Yaudah, gue berangkat. Kalo ada apa-apa di rumah, langsung telepon gue aja."
Raline hanya berdehem singkat sebagai jawaban.
Kaisar akhirnya berbalik, melangkah pergi meninggalkan dapur. Meninggalkan Raline sendiri.
Tak lama, suara deru motor sport Kaisar terdengar. Perlahan-lahan menjauh dari halaman rumah. Tanda pemuda itu sudah benar-benar pergi.
Raline menghentikan gerakannya. Ia mematikan kompor, lalu terduduk lemas di kursi makan.
Hening.
Rumah itu mendadak terasa sangat luas dan sepi. Hanya ada suara detak jam dinding yang mengisi ruang. Raline menatap wajan berisi orak-arik tempe di depannya dengan pandangan kosong. Tiba-tiba saja, nafsu makannya hilang entah ke mana.
Ada rasa sesak yang aneh di dadanya saat membayangkan Kaisar sedang tertawa atau bermesraan dengan Nana di luar sana, sementara ia di sini berjuang melawan rasa mual dan kesepian akibat rahasia yang mereka tanggung bersama.
"Kenapa gue jadi melankolis gini sih? Efek hormon emang nyusahin," gumam Raline sambil mengusap perutnya yang masih rata.
"Gue gak mungkin cemburu, kan?" tanyanya pada diri sendiri.
Ia menggeleng-geleng kecil, berusaha menepis perasaan yang tiba-tiba muncul dan menjadi tanda tanya besar baginya.
Raline bangkit dari duduknya. Pergi meninggalkan dapur tanpa menoleh lagi pada masakan yang tadi dibuatnya.
Ia langsung masuk ke kamar dan merebahkan diri. Mencoba beristirahat tanpa memikirkan Kaisar yang jelas akan bersenang-senang dengan kekasihnya.
Bersambung...
bacanya Brebes mili
bagus ini cerita😍
next ya