NovelToon NovelToon
KEY

KEY

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:360
Nilai: 5
Nama Author: DAN DM

AKU ADALAH KEY.
AKU HIDUP BERSAMA TUKANG KAYU DARI PENJAG KUIL

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DAN DM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua pandangan, satu rumah

Sore itu, langit di atas kompleks kuil berubah warna menjadi gradasi oranye dan ungu yang memukau. Cahaya matahari yang mulai redup menyelinap di antara celah-celah dinding batu, menciptakan garis-garis cahaya yang seolah menari di atas tanah. Angin berhembus lebih kencang dari sebelumnya, membawa aroma tanah, kayu basah, dan dedaunan yang sangat khas. Suasana hening, namun terasa hidup.

 

Sudut Pandang Kakek Genpo

Aku duduk di atas balok kayu besar, memandangi sosok anak muda yang sedang sibuk membereskan sisa-sisa pekerjaan tadi. Deon...

Mataku yang sudah mulai rabun ini bisa melihat dengan jelas betapa istimewanya cucu ini. Bukan karena dia jenius, bukan karena dia bisa menghitung rumus rumit yang bahkan aku tidak mengerti huruf-hurufnya. Tapi karena caranya melihat dunia.

Aku melihat dia menatap tumpukan alat yang tumpul itu dengan ekspresi bersalah tapi lucu. Aku marah, aku memaki, aku teriak sampai suaraku serak... tapi di dalam hati, aku tertawa. Bagaimana tidak? Anak ini punya otak yang setara dengan perpustakaan nasional, tapi tangannya bisa seceroboh itu saat bekerja fisik.

"Ahli Merusak," gumamku dalam hati sambil menyeringai. "Tapi itulah dia."

Aku menatap gubuk kecil di samping reruntuhan itu. Ingatanku melayang kembali 15 tahun yang lalu. Saat aku menemukan bayi mungil itu di bawah pohon, kedinginan tapi tenang. Saat itu aku berjanji pada diri sendiri, aku akan membuatkan tempat yang layak untuknya.

Aku membangun gubuk ini bukan sekadar menyusun kayu jadi bangunan. Aku memilih setiap batang kayu dengan teliti, menyambungnya dengan teknik kuno yang kupelajari sejak muda, sampai angin pun sulit mencari celah untuk masuk. Aku ingin tempat ini menjadi benteng kecil baginya. Tempat di mana dia bisa belajar, bermimpi, dan merasa aman, jauh dari keramaian dunia yang mungkin tidak akan mengerti keberadaannya.

Dia mungkin tidak punya orang tua kandung, tidak punya akta kelahiran yang mewah, tidak punya gelar sarjana... tapi dia punya aku. Dan dia punya tempat ini.

"Makanlah yang banyak Nak," batinku sambil melihatnya kelaparan. "Tumbuhlah jadi orang yang tidak hanya pintar kepalanya, tapi juga kuat hatinya. Dunia luar itu keras Deon, sekeras kayu pohon ini. Kamu harus belajar bagaimana menghadapinya, bukan hanya menghancurkannya."

 

Sudut Pandang Deon Key

Hah... capek juga ya ternyata main fisik.

Aku duduk bersandar di tiang gubuk, napasku masih sedikit memburu. Mataku mengelilingi tempat ini, dari dinding batu kuno yang megah hingga gubuk kecil tempat kami tinggal.

Orang bilang ini tempat terbengkalai. Orang bilang ini reruntuhan, tempat mati, tempat seram. Tapi bagiku? Ini adalah istana.

Aku melihat Kakek Genpo yang sedang duduk santai sambil mengisap cerutu. Wajahnya yang keriput, rambutnya yang putih bersih, dan tangannya yang kasar tapi hangat. Aku tahu tadi dia marah besar. Teriak-teriak sampai burung pada terbang. Tapi aku tidak takut. Justru aku merasa sangat hidup. Itu cara dia menyayangiku.

Aku tersenyum mengingat omelannya tadi. "Ahli Merusak!" Hahaha, julukan yang pas sebenarnya. Aku memang paham segalanya tentang struktur, fisika, dan matematika. Aku tahu di mana titik lemah kayu itu, aku tahu sudut potong yang paling efisien. Tapi saat tanganku yang memegang alat... entah kenapa energiku sering kelebihan sampai alatnya yang jadi korban.

Tapi aku sadar satu hal. Kakekku ini luar biasa.

Dia bilang dulu dia adalah Tukang Kayu Emas. Dan aku percaya 100%. Lihat saja gubuk ini. Sederhana, tapi kokoh luar biasa. Sambungan kayu-kayunya presisi, atapnya rapi, lantainya nyaman. Ini bukan bangunan sembarangan. Ini bangunan yang dibuat dengan jiwa.

"Kakek bangun gubuk ini buat kamu..."

Kalimat itu terngiang lagi di telingaku. Rasanya hangat sekali di dada. Aku mungkin tidak tahu siapa ayah ibuku, aku mungkin tidak punya teman di universitas, mereka menganggapku kutu buku aneh... tapi di sini, di antara puing-puing sejarah ini, aku punya segalanya.

Perutku berbunyi lagi. Krucuk... krucuk...

"Lapar Kek! Cepetan makanannya! Aku mau ambil setengah ember air juga!" teriakku memecah lamunan.

 

Kembali ke Percakapan

Genpo terkekeh mendengar teriakan Deon. Ia membuang puntung cerutunya, lalu menginjaknya pelan dengan kaki telanjang.

"Dasar rakus tak berakhlak! Baru saja habis tenaga langsung minta jatah besar!" seru Genpo sambil berdiri dan berjalan masuk ke gubuk.

"Kan otakku butuh bahan bakar Kek! Kalau aku kelaparan, nanti siapa yang memecahkan misteri kuil ini? Siapa yang nemuin buku hilang itu?" Deon membalas dengan nada membanggakan diri.

"Halah! Alasan terus mulutmu!" Genpo keluar membawa nampan kayu berisi beberapa buah ubi rebus yang masih mengepulkan uap hangat, dan dua gelas besar berisi teh manis dingin yang baru diambil dari sumur.

Mereka duduk bersebelahan di teras gubuk, menghadap ke halaman luas kuil yang kini mulai diselimuti bayangan senja. Angin berhembus lembut, membelai wajah mereka yang lelah setelah seharian bekerja.

Slruuppp...

Deon meneguk air teh itu sampai tandas dalam sekali teguk. Matanya terbelalak segar.

"Ahhh... nikmatnya Tuhan! Hidup kembali!" seru Deon dramatis.

"Pelan-pelan dong minumnya! Nanti nyasar ke paru-paru lho!" celetuk Genpo sambil mengupas kulit ubi dengan cekatan. Tangannya yang terlatih itu mengupas ubi dengan sangat rapi dan cepat, menunjukkan betapa mahirnya dia dalam segala hal yang berhubungan dengan tangan.

"Kek," panggil Deon sambil menggigit ubi yang manis dan legit.

"Hmm?"

"Gubuk ini beneran enak lho. Lebih nyaman daripada asrama mahasiswa yang pernah aku lihat waktu lewat kota. Anginnya pas, suasananya tenang."

Genpo berhenti mengunyah sebentar, lalu tersenyum bangga. Sudut matanya berkerut.

"Tentu saja dong. Ini karya 'Tukang Kayu Emas' lho. Kakek bangun ini pakai perasaan. Kayu keras bisa jadi lembut kalau disentuh dengan hati yang sabar." Genpo menepuk lengan Deon. "Sama kayak kamu Deon. Otakmu tajam kayak pisau, tapi harus tetap dijaga supaya tidak melukai diri sendiri."

Deon mengangguk paham. Ia menatap wajah kakeknya yang diterangi cahaya api unggun kecil yang mulai dinyalakan Genpo untuk mengusir nyamuk.

"Kek, besok kita cari buku itu lagi yuk?" tanya Deon penuh harap.

Genpo menghela napas panjang, memandang ke arah reruntuhan kuil yang kini terlihat misterius di bawah langit malam yang mulai bertabur bintang.

"Boleh... kalau kaki kakek masih kuat diajak jalan. Tapi ingat, jangan bawa kapak atau gergaji ke sana! Nanti reruntuhannya kamu hancurin semua jadi tumpukan batu!"

"Hahahahaha! Janji deh! Kali ini aku pakai otak doang! Nggak pakai otot!" Deon tertawa lepas, suaranya bergema di antara dinding-dinding batu tua.

Dan di bawah langit malam itu, di tengah halaman luas yang dikelilingi pohon-pohon raksasa, kakek dan cucu itu menikmati malam mereka. Dua dunia yang berbeda bertemu di satu tempat: satu yang melihat dengan mata hati dan pengalaman, satu yang melihat dengan logika dan keingintahuan. Namun keduanya menyatu dalam ikatan yang tak terputus.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!