Terlahir kembali sebagai Lyra Clarissa Wijaya, cucu tunggal dari keluarga terkaya di dunia, Lyra tidak tumbuh sebagai gadis manja yang lemah. Di balik kecantikannya yang tenang dan elegan, tersimpan jiwa seorang putri bangsawan Vampir dan kekuatan insting Alpha Serigala yang ia bawa dari kehidupan sebelumnya.
Xavier adalah pria paling berbahaya yang ditakuti dunia. Dia dingin, kejam, dan dikenal tidak punya perasaan, tiba-tiba hidupnya yang gelap mendadak jungkir balik. Pria yang tak pernah tunduk pada siapa pun ini, justru rela menyerahkan segalanya untuk gadis kecil nya.
"Mintalah nyawaku, Lyra. Mintalah seluruh dunia ku, asal jangan pernah palingkan matamu dariku, karena tanpamu, duniaku kembali menjadi gelap," bisik Xavier, berlutut di hadapan gadis itu tanpa memedulikan tatapan ngeri para bodyguard nya.
Lyra hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang membawa sisa-sisa keagungan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMBALI KERUMAH
Selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, Lyra menuruni tangga mansion yang megah itu, desain interiornya sangat klasik, penuh dengan ukiran kayu gelap dan lukisan-lukisan tua yang tampak hidup.
Di ujung tangga, dia melihat Xavier sedang berdiri membelakanginya, menatap ke arah taman luas melalui jendela besar.
"Sudah siap?" tanya Xavier, membalikkan keadaan nya.
"Hem."
Jawab Lyra, mengangguk kan kepala nya.
Xavier mengulur kan tangan nya, dan dengan lembut menggenggam tangan Lyra.
"Ayo."
Ucap Xavier, membawa Lyra.
Lyra hanya diam, menurut, karena jujur dia masih bingung dan belum bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi pada diri nya.
"Silakan, Tuan Putri," ucap Xavier, membukakan pintu mobil untuk Lyra.
Hanya seorang Lyra Clarissa Wijaya yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari seorang Xavier Valerius, yang terkenal kejam dan tanpa perasaan itu.
Kalau saja para klien ataupun musuh Xavier melihat itu, mungkin mereka akan pingsan, melihat bagaimana Xavier begitu lembut dan perhatian pada Lyra.
Di dalam mobil, suasana terasa sangat sunyi, Simon yang duduk di kursi pengemudi hanya fokus pada jalanan.
Sementara Lyra melirik ke samping, melihat Xavier yang sibuk dengan ponselnya, wajahnya kembali dingin dan kaku seperti patung.
"Xavier," panggil Lyra pelan.
"Hm?"
"Tentang semalam, apa orang tuaku tahu?" tanya Lyra ragu.
Xavier meletakkan ponselnya, lalu menoleh ke arah Lyra.
"Mereka tahu kamu menghilang, tapi mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu, mereka hanya mengira kamu diculik," jawab Xavier, menatap dalam mata Lyra.
"Lalu kenapa kau bilang mereka tidak bisa menangani ku?" tanya Lyra, dingin.
Cup
"Suatu hari nanti kamu akan tahu, tapi untuk saat ini, jangan khawatir kan apapun, karena aku akan selalu melindungi mu," jawab Xavier, mencium lembut punggung tangan Lyra.
Lyra terdiam, menatap pria di depan nya itu, pria yang baru dia kenal, tapi entah kenapa mulai dari pertama melihat
Xavier mengulurkan tangannya, lalu menyelipkan helai rambut Lyra ke belakang telinganya, sentuhannya sangat dingin namun entah kenapa terasa menenangkan.
Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam, mobil mewah Xavier berhenti tepat di depan pintu utama mansion keluarga Wijaya.
Thomas Wijaya sudah berdiri di sana dengan wajah yang sangat gelap, matanya memancarkan kemarahan sekaligus ketakutan yang mendalam saat melihat siapa yang keluar dari mobil bersama putrinya.
Bukan hanya Thomas, tapi kedua Paman Lyra juga ada, Tuan Steven dan Tuan Jerome, dan juga para Kakak sepupu Lyra, berdiri dengan wajah datar dan dingin mereka.
Jangan lupakan sang Tuan besar Wijaya, Tuan Bastian, yang ikut menyambut kedatangan cucu kesayangannya.
"Lyra! Sayang!"
Teriak Nyonya Arin langsung memeluk putrinya sambil menangis tersedu-sedu.
Grep
"Kamu ke mana saja? Mama takut sekali!" tanya Nyonya Arin, memeluk Lyra erat.
"Aku tidak apa-apa Mom," ucap Lyra, menenangkan Putri nya.
Thomas menatap Xavier dengan tatapan tajam yang penuh kewaspadaan.
"Terima kasih sudah membawanya pulang, Valerius, sekarang, sebaiknya kau pergi sebelum aku kehilangan kesabaran," ucap Tuan Thomas, dingin.
"Jangan berterima kasih sekarang, Thomas. Kita masih punya janji bicara, bukan? Mengenai masa depan, dan pernikahan ini," ucap Xavier, tersenyum dingin.
"Tidak akan ada pernikahan! Dan sebaiknya Anda segera pergi Xavier Valerius!" ucap Tuan Bastian, angkat bicara.
"Benar, sebaiknya Anda segera angkat kaki dari sini, dan jangan pernah tunjukan wajah mu di depan adik ku lagi," ucap Eros, menatap Xavier dingin.
"Saya tidak butuh izin dari kalian semua, karena Lyra adalah milik ku," ucap Xavier, dengan mata berkilat tajam.
"KAU!"
Teriak Eros, marah, hendak memukul Xavier.
"Bang Er jangan!" cegah Lyra, menggeleng kan kepala nya.
"Tidak princess, Pria bajingan ini harus diberi pelajaran, dia sudah berani menculik mu!" ucap Eros, mengepalkan tangannya kuat.
"Xavier tidak menculik ku," ucap Lyra, meluruskan kesalahpahaman mereka.
"Kamu tidak perlu takut Princess, aku benar-benar akan membunuh bajingan ini," ucap Eros, sudah tidak bisa menahan emosi nya.
Hah....
Lyra menghela nafasnya panjang, dia tahu sekeras apa sifat Abang sepupunya itu, dia antara sepupunya yang lain, Eros yang paling keras.
"Sudah, sudah, sebaiknya kita bicara di dalam," ucap Tuan Steven, menengahi.
"Papa!"
Protes Kenzo dan Kenzie tidak setuju.
"Diam kalian!" ucap Tuan Steven, dingin.
"Masuk!"
Ucap Tuan Bastian, berjalan lebih dulu.
Mereka semua berjalan masuk, dan duduk diruang tamu.
Tuan Bastian duduk di kursi kebesarannya dengan tongkat yang ia genggam erat, sementara Xavier duduk dengan tenang di sofa seberangnya, seolah tekanan dari para pria Wijaya di ruangan itu hanyalah angin lalu baginya.
Lyra duduk di samping ibunya, matanya yang tajam mengawasi setiap gerak-gerik di ruangan itu, dia benci menjadi pusat perhatian seperti ini.
"Bisa jelaskan, Valerius kenapa cucuku bisa bersamamu?" tanya Tuan Bastian, suaranya berat dan penuh wibawa.
Xavier menyilangkan kakinya, menatap sang tetua Wijaya tanpa rasa takut sedikit pun, dia sudah menyiapkan jawaban dan skenario yang rapi.
"Lyra sedang bersama saya sejak subuh tadi," jawab Xavier tenang.
"Kami memiliki janji untuk mendiskusikan detail kerja sama bisnis yang juga melibatkan masa depan pernikahan kami," ucap Xavier, membuat para sepupu Lyra melotot geram.
"Saya menjemputnya lebih awal agar tidak terganggu oleh kebisingan di rumah ini," lanjut Xavier tenang, tanpa terimindasi sedikit pun.
"BOHONG!"
Bentak Eros sinis.
Eros berdiri bersandar di pilar ruangan dengan tangan bersedekap.
"Lyra tidak pernah keluar rumah tanpa sepengetahuan penjaga gerbang. Bagaimana bisa kau membawanya pergi tanpa ada satu pun CCTV yang merekamnya?" tanya Eros, dingin.
Xavier tersenyum tipis, sebuah senyum meremehkan yang membuat Eros naik pitam.
"Sistem keamanan kalian memiliki celah, Eros Wijaya. Sebaiknya kau perbaiki itu daripada menyalahkan ku," jawab Xavier datar.
"Eros, cukup!" tegur Tuan Jerome.
"Lyra, apa benar yang dikatakan pria ini? Kamu pergi atas kemauanmu sendiri?" tanya Tuan Jerome, menoleh ke arah Lyra.
Lyra terdiam sejenak, dia melirik Thomas dan Arin yang tampak pucat, mereka tahu kebenarannya tapi tidak bisa bicara, jika Lyra membantah Xavier, kakeknya akan curiga kenapa dia bisa hilang, dan jika dia mengaku jujur, rahasia darahnya terancam.
"Iya," jawab Lyra dengan nada datar namun tegas.
"Xavier menjemput ku, aku ingin bicara berdua dengannya tanpa gangguan dari siapa pun, jadi, aku keluar melalui pintu samping," lanjut Lyra.
Semua orang terdiam, pernyataan Lyra adalah tamparan bagi harga diri para pria Wijaya yang merasa sudah menjaga rumah itu dengan ketat.
"Tapi Ly, kamu tidak biasanya seperti ini. Kenapa harus sembunyi-sembunyi?" tanya Arkan, dengan nada kecewa.
"Karena aku tahu kalian akan bereaksi berlebihan seperti sekarang," jawab Lyra telak.
apa muncul di cerita yg lain kak ,,
dtggu yx kak😁😁😁😁