NovelToon NovelToon
Cinderella, Glass Slipper Syndicate

Cinderella, Glass Slipper Syndicate

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mafia
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Setelah ayahnya hilang dalam kecelakaan mobil, Ella hidup dengan satu tujuan yaitu menemukan kebenaran tentang ayahnya.


Sementara Leo seorang jaksa muda hidup dengan satu prinsip yaitu menegakkan hukum tanpa pengecualian.


Ketika mereka bertemu di pesta dansa, keduanya tak sadar mereka berada di sisi yang berlawanan dari permainan yang sama.


Ketika perasaan mulai tumbuh, satu pertanyaan tak bisa dihindari, apa yang harus dimenangkan? Kebenaran atau cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CGS 23

Ia tidak mencari. Tapi ia juga tidak menghindar. Dan kali ini ia yang memilih. Leo sudah ada di sana. Seolah memang menunggu. Bersandar di dekat koridor fakultas, dengan sikap santai yang terlalu santai untuk seseorang dengan pikirannya.

Ella melihatnya.Berhenti sejenak. Satu detik. Dua detik. Cukup untuk mengambil keputusan. Lalu ia melangkah ke arahnya. Bukan karena kebetulan. Bukan karena terpaksa. Tapi karena ia memilih untuk mendekat.

Leo mengangkat pandangannya saat langkah itu berhenti di depannya. Tidak kaget. Seolah ia memang mengharapkan ini. “Kamu nggak lari hari ini,” katanya ringan.

Ella menatapnya lurus. “Kata Anda kemarin, kalau saya lari… Anda akan kejar,” jawabnya tenang. “Saya cuma menghemat tenaga.”

Leo tersenyum tipis. Percakapan itu terdengar sederhana. Tapi di baliknya dua keputusan besar sedang berjalan.

Ella berdiri di sana, menjaga jarak satu langkah. Cukup dekat untuk berbicara. Cukup jauh untuk tidak terlihat menyerah. “Apa yang Anda mau?” tanyanya.

Leo tidak langsung menjawab. Ia justru balik bertanya. “Kamu?”

Hening sejenak. Ella tidak tersenyum. “Tergantung,” katanya pelan.

“Pada?”

Ella menatapnya lebih dalam. “Seberapa jujur Anda mau bermain.”

Kalimat itu menggantung di antara mereka. Bukan lagi pertanyaan. Bukan juga tantangan biasa. Tapi undangan.

Leo memperhatikan Ella beberapa detik lebih lama dari sebelumnya. Menimbang. Membaca. Lalu ia mengangguk kecil. “Berarti kita mulai dari aturan yang sama,” katanya.

Ella mengernyit sedikit. “Apa itu?”

Leo mendekat setengah langkah. Cukup untuk membuat jarak itu terasa berbeda. “Kita sama-sama nggak jujur sepenuhnya,” katanya pelan.

Sunyi. Dan untuk pertama kalinya tidak ada yang menyangkal. Angin lewat di antara mereka, membawa suara kehidupan kampus yang kembali terasa jauh. Dua orang berdiri di tengah keramaian dengan permainan yang hanya mereka berdua pahami.

Ella menarik napas pelan. Ia tahu ini berbahaya. Ia tahu ini bisa berbalik kapan saja. Tapi ia juga tahu ini satu-satunya jalan. “Baik,” katanya akhirnya.

Satu kata. Tapi cukup untuk memulai sesuatu yang tidak bisa dihentikan begitu saja. Leo mengangguk. Dan tanpa perlu banyak kata lagi keduanya mengerti. Ini bukan lagi pertemuan biasa. Ini bukan lagi kebetulan. Ini permainan. Dan mereka berdua sudah memilih untuk masuk ke dalamnya.

***

Keputusan itu akhirnya mengendap dalam diri Ella bukan sebagai sesuatu yang ia banggakan, melainkan sebagai sesuatu yang harus ia jalani dengan penuh kesadaran, seperti berjalan di atas garis tipis yang setiap saat bisa terputus; ia tidak lagi melihat Leo hanya sebagai ancaman, tapi juga sebagai peluang yang terlalu berharga untuk diabaikan, meski di saat yang sama terlalu berbahaya untuk didekati tanpa kendali.

Sejak pertemuan mereka di kampus, ada perubahan halus dalam cara Ella bersikap, ia tidak lagi menghindar secara terang-terangan, namun juga tidak pernah benar-benar membuka diri, memilih kata dengan hati-hati, memberi jawaban yang cukup untuk menjaga percakapan tetap hidup tanpa benar-benar memberikan arah, sementara di dalam dirinya ia terus mengingat satu hal: jangan percaya, jangan lengah, jangan jatuh.

Di sisi lain, Leo pun mulai bermain dengan cara yang tidak biasa bagi seorang jaksa; ia tidak menekan, tidak memaksa, tidak pula menggunakan otoritasnya untuk memojokkan Ella, melainkan mendekat perlahan, seolah ingin memahami lebih dulu sebelum memutuskan langkah berikutnya, dan justru itu yang membuat posisinya semakin sulit dibaca, apakah ia sedang menyelidiki, melindungi, atau tanpa sadar sudah terlibat lebih jauh dari yang seharusnya.

Setiap pertemuan mereka kini terasa seperti percakapan berlapis, di mana kalimat yang terdengar sederhana menyimpan maksud lain di baliknya, di mana tatapan menjadi alat ukur kejujuran, dan di mana diam justru berbicara lebih banyak daripada kata-kata.

Ella tahu ia sedang memanfaatkan Leo, menggunakan ketertarikan dan rasa ingin tahunya sebagai pintu untuk masuk lebih dalam ke jaringan yang selama ini tertutup rapat, namun semakin lama ia berada di dekatnya, semakin sulit pula ia memastikan batas antara strategi dan perasaan, antara kontrol dan ketergelinciran, karena Leo bukan lawan yang mudah ditebak, ia cerdas, itu tentu saja sebab dibuktikan dengan prestasinya sebagai jaksa terbaik lima tahun berturut-turut, tenang, dan yang paling berbahaya, ia mulai memahami cara berpikir Ella.

Di titik itu, permainan mereka tidak lagi sederhana; ini bukan lagi soal siapa yang lebih dulu menemukan kebenaran, melainkan siapa yang lebih dulu kehilangan kendali, dan Ella sadar sepenuhnya bahwa jika ia tidak berhati-hati, maka bukan Leo yang akan membongkarnya terlebih dahulu melainkan dirinya sendiri yang perlahan membuka semua yang seharusnya ia jaga rapat-rapat.

***

Perburuan itu tidak lagi terasa seperti kejar-kejaran yang jelas arahnya, melainkan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih halus dan berbahaya, sebuah obsesi dua arah yang tumbuh perlahan tanpa pernah benar-benar diakui oleh keduanya.

Leo tidak lagi bergerak seperti jaksa pada umumnya; ia tidak mengirim panggilan resmi, tidak membawa tim, tidak menekan Ella dengan prosedur hukum yang seharusnya bisa ia gunakan kapan saja, melainkan memilih mendekat dengan cara yang lebih tenang, lebih personal, seolah ia sedang mempelajari sesuatu yang tidak bisa ia temukan di dalam berkas atau laporan. Ia mulai muncul di tempat-tempat yang “kebetulan” sama, membuka percakapan yang terdengar ringan tapi selalu mengarah pada satu hal, menguji batas, melihat sejauh mana Ella akan bertahan tanpa membuka diri, dan setiap kali Ella berhasil menjaga rahasianya, justru di situlah rasa ingin tahu Leo semakin dalam, semakin tidak bisa ia abaikan.

Di sisi lain, Ella pun tidak lagi melihat Leo hanya sebagai ancaman yang harus dihindari, melainkan sebagai bagian dari permainan yang harus ia kuasai; ia mulai mengatur ritme pertemuan, memilih kapan harus mendekat, kapan harus menarik diri, kapan harus jujur sedikit, dan kapan harus berbohong sepenuhnya, membangun ilusi bahwa ia masih bisa mengendalikan semuanya, padahal tanpa ia sadari, ia juga mulai masuk ke dalam permainan Leo.

Mereka berdua berjalan di garis yang sama, hanya dari arah yang berlawanan, Leo yang seharusnya menegakkan hukum mulai melonggarkan batas, mengizinkan dirinya untuk tidak bertindak saat seharusnya ia bisa, bahkan mulai menahan informasi yang ia miliki hanya untuk melihat bagaimana Ella bergerak, sementara Ella yang mencari kebenaran justru semakin dalam terjerat dalam kebohongan yang ia ciptakan sendiri, menyusup ke dunia yang tidak seharusnya ia masuki, memanfaatkan kepercayaan yang belum sepenuhnya diberikan.

Di titik itu, tanpa mereka sadari sepenuhnya, mereka bukan lagi sekadar pemburu dan buruan, mereka menjadi cermin satu sama lain, dua orang yang sama-sama berjalan menjauh dari prinsip awal mereka, saling mendekat bukan karena percaya, tapi karena tidak bisa lagi berhenti, seolah kebenaran yang mereka kejar kini tidak hanya tentang kasus itu, melainkan tentang satu sama lain.

***

1
Fitria
Jangan lupa tinggalkan Like dan komen. terimakasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!