Nata Prawira mati dalam kehancuran mental dan kemiskinan, meninggalkan kedua adiknya dalam penderitaan. Namun, takdir membawanya kembali ke tahun 2014, tepat di masa SMA-nya.
Berbekal memori masa depan dan kepribadiannya yang dingin serta kalkulatif, Nata bertekad menulis ulang nasib. Dari gang sempit yang kumuh, ia mulai merancang strategi investasi di dunia BitCore dan industri teknologi yang baru tumbuh. Bukan sekadar mencari kekayaan, Nata adalah seorang arsitek yang sedang membangun kekaisaran bisnis untuk melindungi Kirana yang lembut dan Arya yang penuh semangat. Di dunia yang kejam, ia akan membuktikan bahwa kecerdasan strategis adalah senjata paling mematikan untuk menjungkirbalikkan kasta sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: CAKRAWALA TANPA BATAS
Dinginnya ruangan server di Prawira Fortress tidak mampu mendinginkan ambisi yang membara di kepala Nata Prawira. Serangan Blackstone memang telah dipatahkan, namun Nata tahu bahwa selama data Aquatic Nexus dan Dinar Digital masih menumpang di satelit milik negara lain, ia tetaplah seorang penyewa yang bisa diusir kapan saja.
"Ketergantungan adalah kelemahan," gumam Nata sambil menatap layar holografik yang menampilkan orbit satelit di atas Asia Tenggara.
Elena masuk membawa secangkir kopi hitam tanpa gula—satu-satunya hal yang menjaga saraf mereka tetap stabil setelah bekerja 48 jam tanpa henti. "Bos, aku sudah melakukan riset. Mengakuisisi satelit komersial yang sudah mengorbit itu sulit karena regulasi internasional yang ketat. Tapi, ada satu celah."
Nata menoleh, matanya berkilat penuh minat. "Katakan."
"Sebuah perusahaan dirgantara di Kazakhstan, Alatau Aerospace, sedang berada di ambang kebangkrutan. Mereka memiliki satu slot peluncuran yang sudah dijadwalkan bulan depan di Baikonur Cosmodrome. Yang lebih penting, mereka punya purwarupa satelit mikro-komunikasi yang menggunakan transmisi laser—teknologi yang sangat sulit disadap oleh NSA atau unit siber mana pun," Elena menjelaskan dengan antusiasme teknis.
"Beli perusahaannya. Hari ini juga," perintah Nata tanpa ragu.
"Tapi Bos, biaya akuisisi dan peluncurannya akan memakan dana hampir tujuh ratus juta dolar. Belum lagi tekanan diplomatik dari Rusia dan Amerika jika mereka tahu kita memiliki satelit privat dengan enkripsi tingkat militer."
Nata tersenyum tipis. "Gunakan keuntungan dari short-selling saham Blackstone kemarin. Kita akan menggunakan uang Jonathan Vance untuk membeli 'mata' kita di langit. Untuk masalah diplomatik, biarkan Pangeran Khalid yang bicara. Arab Saudi adalah investor terbesar di konsorsium peluncuran itu."
Operasi ini diberi nama kode "Project Icarus", namun berbeda dengan mitosnya, Nata tidak berniat terbang terlalu dekat dengan matahari—ia berniat menguasainya.
Selama dua minggu berikutnya, Nata membagi waktunya antara memantau perkembangan di Kazakhstan dan mendidik Kirana serta Arya di dalam bunker. Ia ingin adiknya tidak hanya sekadar hidup mewah, tapi juga mengerti dunia yang sedang ia bangun.
"Arya, lihat ini," Nata menunjukkan sebuah model mesin ion kecil di laboratorium bunkernya. "Ini yang akan menggerakkan masa depan kita. Bukan lagi minyak, tapi energi yang kita kendalikan sendiri."
Arya, yang kini berusia sepuluh tahun, menatap kakaknya dengan kagum. "Apa Kakak akan pergi ke luar angkasa juga?"
"Tidak, Arya. Kakak akan tetap di sini, menjaga kalian. Tapi Kakak ingin memastikan bahwa di mana pun kalian berada nanti, kalian akan selalu terhubung dan aman."
Namun, ketenangan itu terusik saat Yuda masuk dengan wajah tegang. "Bos, kita punya masalah. Bukan dari Amerika, tapi dari dalam negeri."
Jenderal Surya datang membawa kabar buruk. Pemerintah Indonesia mulai ditekan oleh organisasi bayangan yang disebut 'The Council'. Organisasi ini terdiri dari para elit global yang tidak berafiliasi dengan satu negara, melainkan mengendalikan banyak bank sentral dan perusahaan multinasional.
"Mereka mengirimkan perwakilan ke Jakarta," ucap Surya dengan nada serius. "Namanya Madame Vivienne. Dia ingin bertemu denganmu, Nata. Dia bilang, jika kamu menolak, mereka akan membekukan seluruh ekspor komoditas Indonesia yang menggunakan sistem Aquatic Nexus melalui tekanan di WTO (World Trade Organization)."
Nata mengepalkan tangan di balik sakunya. Musuh tingkat akhir mulai menampakkan diri. Mereka tidak menyerang dengan tentara bayaran, tapi dengan kebijakan yang bisa mencekik sebuah negara.
Pertemuan dengan Madame Vivienne diadakan di sebuah restoran mewah yang dikosongkan di puncak sebuah gedung di Sudirman. Wanita itu tampak berusia enam puluh tahun, dengan keanggunan yang memancarkan kekuasaan absolut.
"Tuan Prawira," Vivienne memulai, suaranya lembut namun setajam sembilu. "Anda telah melakukan hal-hal luar biasa. Mengguncang Blackstone adalah prestasi yang menarik. Tapi Anda mulai mengganggu 'keseimbangan'. Kami telah mengatur dunia ini selama berabad-abad. Kami tidak suka ada variabel acak yang tidak bisa kami kendalikan."
Nata duduk dengan tenang, menatap wanita di hadapannya. "Dunia yang Anda atur dibangun di atas hutang dan manipulasi. Saya hanya menawarkan sistem yang jujur."
Vivienne tertawa kecil, suara yang terdengar hampa. "Kejujuran adalah konsep untuk mereka yang tidak punya kekuasaan. Kami menawarkan Anda sebuah kursi di 'The Council'. Serahkan kode sumber Aquatic Nexus dan kontrol atas Dinar Digital kepada kami. Sebagai gantinya, Anda akan menjadi orang terkaya di Asia, dilindungi, dan adik-adik Anda akan mendapatkan gelar bangsawan di Eropa."
"Dan jika saya menolak?"
Vivienne berhenti tertawa. Matanya mendingin. "Maka Anda akan melihat bagaimana Indonesia kembali ke zaman batu. Kami akan menarik semua investasi asing, memutus jalur komunikasi, dan memastikan nama Prawira menjadi kutukan bagi bangsa ini."
Nata berdiri, merapikan jasnya. "Anda bicara tentang masa lalu, Madame. Anda bicara tentang dunia di mana informasi mengalir melalui kabel yang Anda miliki. Tapi mulai bulan depan, kabel-kabel itu tidak akan lagi relevan."
Nata meninggalkan restoran itu tanpa menoleh kembali. Ia baru saja menyatakan perang terhadap penguasa dunia yang sesungguhnya.
"Elena, percepat peluncuran Icarus!" perintah Nata begitu masuk ke mobil. "Kita tidak punya waktu lagi. Madame Vivienne akan mulai mengunci sistem perbankan tradisional Indonesia dalam 48 jam ke depan."
"Tapi Bos, pengujian perangkat lunaknya belum selesai sepenuhnya!" Elena panik.
"Gunakan versi beta! Kita harus memiliki jalur komunikasi satelit sendiri sebelum mereka memutus kabel bawah laut kita!"
Malam itu, Nata bekerja di samping Elena. Mereka memasukkan kode-kode terakhir ke dalam modul satelit yang berada di Kazakhstan melalui koneksi aman. Nata sedang memindahkan seluruh ekosistem Dinar Digital ke dalam jaringan satelit yang akan ia luncurkan. Jika Vivienne memutus internet Indonesia, Nata akan menyediakan internet satelit gratis untuk seluruh nasabahnya melalui terminal kecil yang sudah ia produksi secara massal di pabrik Tangerang.
"Ini adalah pertaruhan segalanya, Bos," bisik Elena saat ia menekan tombol 'Final Upload'.
"Ini bukan pertaruhan, Elena. Ini adalah evolusi. Mereka pikir mereka bisa mengurung singa di dalam kandang besi, mereka lupa bahwa singa ini tahu cara merobohkan kandangnya dari dalam," jawab Nata.
Hari peluncuran tiba. Di dalam bunker Tangerang, Nata, Elena, Yuda, dan bahkan Kirana serta Arya berkumpul di depan layar raksasa yang menyiarkan langsung dari Baikonur.
"Sepuluh... sembilan... delapan..." suara hitung mundur bergema.
Nata menahan napas. Ia tahu bahwa di Washington dan London, Madame Vivienne dan rekan-rekannya sedang menonton dengan amarah yang tertahan. Jika roket ini berhasil mencapai orbit, monopoli informasi mereka akan berakhir.
"Tiga... dua... satu... Lift off!"
Roket Soyuz membawa satelit Icarus-1 membubung tinggi menembus awan. Menit demi menit berlalu dengan ketegangan yang menyiksa. Saat roket tahap kedua terpisah, Elena berteriak kegirangan.
"Sinyal diterima! Icarus-1 sudah berada di orbit stabil!"
Layar di bunker berubah menampilkan peta dunia yang mulai tertutup oleh jaring-jaring sinyal baru. Sinyal yang tidak melewati gerbang keamanan Amerika atau Eropa. Sinyal yang murni milik Nata Prawira.
Nata segera mengaktifkan terminalnya. "Yuda, hubungi Jenderal Surya. Katakan padanya, Indonesia tidak perlu takut lagi pada ancaman WTO. Mulai detik ini, kita memiliki jalur komunikasi dan transaksi sendiri yang tidak bisa mereka sentuh."
Tiba-tiba, sebuah pesan masuk ke layar pribadi Nata. Bukan dari Elena, bukan dari Khalid. Itu adalah pesan terenkripsi dari alamat yang tidak dikenal.
"Selamat atas mainan barumu, Tuan Prawira. Tapi ingat, apa yang naik bisa dijatuhkan. Pertunjukan yang sesungguhnya baru saja dimulai. - The Council"
Nata menatap pesan itu dengan senyum sinis. Ia tahu ini baru awal dari konflik yang akan membakar seluruh dunia finansial. Namun, ia tidak lagi takut. Ia memiliki mata di langit, benteng di bawah tanah, dan kebenaran di tangannya.
"Elena," panggil Nata. "Siapkan peluncuran satelit kedua dan ketiga. Kita tidak hanya akan memiliki satu mata. Kita akan membangun konstelasi yang akan menerangi kegelapan yang mereka ciptakan."
Di luar sana, dunia mungkin sedang menuju krisis ekonomi besar, namun di dalam Prawira Fortress, sang arsitek baru saja menyelesaikan pondasi bagi sebuah tatanan dunia baru yang tidak akan pernah bisa mereka kendalikan.
Bersambung.....