Berulang kali patah hati oleh pemuda yang sama, membuat Lova berusaha melepas mimpinya menjadi kekasih Afnan, dan pasrah menerima perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya.
Namun siapa sangka, nyatanya lelaki pilihan mama dan papa adalah Afif sang guru mengaji yang juga putra dari teman papa. Bukan karena jarak usia mereka yang terpaut cukup jauh, namun sosok Afif yang terkenal anti perempuan apalagi jika perempuan itu termasuk ke dalam golongan manusia minus akhlak dan ilmu agama sepertinya yang membuat Lova berpikir lebih baik ia diciptakan menjadi sebuah debu saja.
***
Disaat ia sudah bisa menerima semua yang terjadi, justru sosok pemuda impiannya itu hadir kembali di kehidupan Lova.
Akankah Afnan mampu menggoyahkan hati Lova, bagaimana pula Afif membimbing Lova demi membawa bahtera rumah tangga keduanya hingga mampu menepi di jannahnya Allah?
~~~
"Kenapa mesti surat Ar-Rahman dan surat An-Nisa yang jadi mahar?"
"Terus kamu maunya apa? Yassin? Al Jinn?"
.
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Try so hard
Lova melirik putaran jam di pergelangan tangan, langkahnya berburu dengan siswa lain, lalu..."dijemput ngga?" tanya Alika sudah merapikan tas, menggendongnya dan sekarang ia menenteng tumbler biru yang berukuran 1 liter, mulai menyamai langkah Lova.
Gadis itu menggeleng, "kayanya engga." ia mengeluarkan ponsel, dan benar saja...
"Masih harus ngisi satu kelas. Kelamaan kalo nunggu. Kecuali kalo aku ikutan ekskul..." Lova kini berjalan seraya mengetik sesuatu untuk ia kirimkan pada Afif.
Bersamaan dengan itu, langkah segerombol siswa turut mengisi riuhnya koridor sekolah. Tatapnya dan Alika kompak tertumbuk pada orang-orang yang sama, "Va---"
"Jangan pernah berpikir atau kasih kesempatan buat balik bareng Afnan ya, big no Va! Itu kesalahan fatal, inget....ipar adalah jurang kematian."
Lova menggeleng, dan langsung menepis ide yang sempat muncul, tentunya ide umi tadi pagi..."engga lah. Kapan gue lupanya kalo malah jadi nyaman."
Benar, tentu saja hal ini yang justru diidamkannya dulu. Lova akan rela mengorbankan apa saja demi bisa begitu dekat dengan Afnan, lantas kali ini---setelah kesempatan terbuka lebar, ia justru harus mengubur dalam-dalam cita-citanya dulu.
Tapi tentu saja pandangan gelagapan Lova tak dapat dibohongi, yeah! Melupakan memang tak mudah, dan Lova sedang berusaha dengan itu. Wajar saja, Afnan sudah tervalidasi sejak setahun yang lalu sebagai--crush until Jannah, olehnya.
"Minta pindah ngga sih, dari rumah mertua, Va? Kamu tuh lagi tinggal bareng racun kaliii..."
Lova menatap Alika dengan sorot sedikit terkejut tak percaya. "Ya maksudnya ngga sekarang-sekarang juga pindahnya, tapi mungkin bisa jadi masuk list rencana urgent dan paling penting, besok-besok mungkin harus ada rencana ambil KPR...karena mungkin ya, ini kalimat yang sering aku kutip dari obrolan ibu-ibu di arisan. Kalo katanya, lebih baik tinggal sendiri ketimbang tinggal di rumah mertua. Ngga ngerti juga, kenapa...padahal kan kalo ada ortu lebih enak, iya kan? Ada yang masakin...ada yang bantuin...tapi sekarang aku paham artinya apa."
Lova masih mengernyit, "begini nih kalo kebanyakan gaul sama ibu-ibu arisan. Udah ah, mau pesen ojol dulu!"
Sedikit butuh adaptasi, bukan berarti tak bisa. Rasanya baru kemarin alamat tujuan Lova itu rumah bunda dan ayah. Tapi kini, pagar besi yang mesti ia geser sendiri dengan effort yang well--- lumayan ia nyengir untuk mendorong pagar.
Sepi sudah bukan lagi keanehan, "assalamualaikum."
Wajah bi Astri kini berganti dengan wajah umi.
"Sudah pulang, Va?"
"Umi." Angguknya salim.
Lova yang terbiasa langsung melempar sepatunya begitu saja di rumah kini harus kembali dan sadar diri merapikan itu kala melihat deretan sepatu dan sendal yang sudah dirapikan di rumah umi, well! Adaptasi....
"Ada jadwal les sekarang?"
Lova menggeleng, "besok. Selasa, Rabu, kamis."
Senyuman merekah menjadi jawaban umi yang kini beranjak dari ruang tengah, menutup portal berita, entah artikel apa yang sedang ia baca.
"Habis Dzuhur makan siang bareng umi, yuk!" ajaknya.
Lova mengangguk dan melengos ke arah kamar Afif.
Afnan
Rasanya ia masih betah di sekolah. Sebab, ingat di rumah sudah ada Lova sekarang. Ia tak yakin hatinya akan baik-baik saja.
Tapi hidup memang harus terus berjalan, ia juga harus segera menepis, membuang perasaan yang ia simpan selama ini. Toh, selama ini saja ia bisa untuk menolak Lova, ia yakin jika kedepannya perasaannya akan mati rasa kembali.
Melajukan ban motor dengan sedikit santai. Ia perhatikan, jika di carport belum ada motor atau mobil lain yang terparkir, itu artinya baru ia yang kembali setelah Lova, mungkin....sebab tadi ia sempat melihat Lova pulang memesan ojol.
Deru mesin motor ia padamkan, ia melepas pelukan helm di kepalanya yang membuat lehernya cukup pegal. Terlalu sepi untuk ukuran rumah yang memiliki anggota keluarga baru, terlebih seorang Dealova yang ia kenal begitu berisik.
Ia ingat betul, seberisik dan semeriah apa suasana jika ada Lova. Sering Afnan temukan gadis itu sedang berlarian, berteriak, bernyanyi-nyanyi lagu tak jelas yang sedang hipe di salah satu aplikasi sejuta umat. Dengan gaya centil dan lebaynya Lova tak jarang mengajak teman-temannya membuat konten tak jelas dan mengunggahnya, menebar pesona di sana.
"Assalam--" ucapannya menggantung di udara bersama ayunan langkahnya kala bayangannya mendadak kacau, "mualaikum."
Ia temukan gadis itu.
Tengah duduk melantai di karpet depan televisi, dengan segambreng buku, rambut yang dikucir, dipasangi jepit-jepit pink ala-ala anak SD tampak menggemaskan demi menahan agar tak ada helaian yang mengganggu masker wajah namun fokusnya tetap pada apa yang sedang ia corat-coret, termasuk saat mulutnya menggumamkan rumus pelajaran diselingi Asmaul Husna dengan lirih.
Penilaiannya sedikit terkikis. Bahkan, Afnan menghela nafasnya menundukan pandangan, melanjutkan langkah langsung ke arah kamar tanpa mau menjeda.
Lova
Ia menoleh sejenak ke arah suara, dimana suara langkah orang cepat menuju tangga, "udah balik?" gumamnya bermonolog tapi kemudian menggidikan bahunya tak acuh melanjutkan tugasnya.
Umi terlihat melintas dengan pakaian rapi dengan menenteng tas memasukan beberapa barang termasuk kacamata bacanya, "Va, umi ada ngisi kajian di masjid komplek sebelah." Lalu umi celingukan, "Uqi udah pulang kayanya, ya?"
Lehernya tak bisa untuk tak mengikuti arah pandangan umi, "kayanya udah, mi. Umi dianter siapa? Pak Kuntoro?"
Namun umi menggeleng, "jalan. Bareng---"
"Bu ustadz!" bersamaan dengan suara panggilan dari luar yang membuat umi melebarkan senyumannya, "tuh udah dijemput ibu-ibu." kikiknya.
Tentu saja yang menjadi pikiran Lova sekarang adalah, ia dan Afnan akan dibiarkan berdua di rumah, ya ampun!
"Tapi umi..."
"Ya? Kalau ada apa-apa minta tolong Uqi. Uqi seharian memang biasa di atas..." Umi melirik jam dinding, "biasanya sebentar lagi masmu juga pulang. Abi juga..."
Justru karena itu... Lova mele nguh namun ia mengangguk juga pada akhirnya meskipun ragu, "hati-hati umi. Kalo di jalan ketemu polisi tidur, bangunin aja."
Umi tertawa menggeleng, "umi pergi ya."
Setelah berhasil mengucapkan salam dan semuanya terasa jadi semakin sepi, Lova bergegas merapikan buku-bukunya untuk pindah tempat ke dalam kamar.
Kebetulan memang tak pernah tercantum di kalender, ia yang tengah heboh merapikan setumpuk buku cukup dikejutkan dengan langkah sandal turun dari lantai atas berjalan menuju arah dapur.
Lova benar-benar ingin menghindari Afnan, saking tergesa dan paniknya, entah itu buku, atau tempat pensil yang jatuh, "uhh..jatoh lagi."
Lova menggeleng membawa terlebih dahulu barang lain ke kamar membiarkan barang yang jatuh tergeletak di lantai begitu saja.
Namun ketika ia hendak kembali, langkahnya langsung terhenti dan ter-rem sempurna.
"Nih." Pemuda dengan pakaian casual lebih santai itu, masih cukup membuat hatinya berdebar sampai saat ini.
Mungkin ini kali pertamanya, ia sangat mengharapkan pria matang yang juteknya masyaAllah dan telah menjadi suaminya itu untuk segera pulang.
.
.
.
.
jgn bikin ambyaaarrrr teh sin
pas Afif tau tentang Afnan
jujur kpn va tentang Afnan ny
Va bukan dibuang ajj sih kertas ny