Sage Iskandar atau lebih sering dipanggil Ge, merupakan murid badung di sekolah. Sejak kecil dia memang dirawat oleh pasangan rentenir. Orang sering menganggapnya preman, karena memang kebanyakan orang terdekatnya adalah preman.
Sampai suatu hari, seorang pria asing mendatangi Ge dan mengatakan sesuatu yang selama ini dirahasiakan darinya. Apakah itu?
"Kamu tuh ya, Ge! Nggak capek kamu tiap hari kerjaannya keluar masuk ruang BK terus, hah?!" omel guru BK.
"Nggak capek lah, Bu. Kan guru BKnya cantik," sahut Ge gamblang. Dia langsung kena jewer.
"Ge! Kamu ya yang ambil duit Mamak? Dasar anak kurang ajar!" timpal ibunya Ge sambil berlari keluar.
"Makasih, Mak! Love yuhh!" Ge langsung pergi dengan motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19 - Memberitahu
Ge memacu motor tuanya pelan, sementara mobil Arif mengikuti dari belakang. Suara knalpot motor Ge yang berisik kontras dengan mesin halus mobil hitam itu.
Perjalanan menuju rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Ge tidak lagi bersiul. Tidak lagi bercanda. Kepalanya berkecamuk memikirkan hasil tes DNA, siapa dirinya sebenarnya, dan tentang apa yang akan dia katakan nanti.
Beberapa menit kemudian, Ge berhenti di depan rumahnya. Rumah sederhana dengan cat yang mulai pudar, halaman sempit, dan kursi plastik di teras. Semuanya terasa biasa. Berbanding jauh dengan rumah besar yang dia lihat kemarin.
Ge turun dari motor. Arif juga keluar dari mobilnya. Ge melirik sebentar ke arah rumah, lalu berkata pelan, “Di dalam.”
Arif mengangguk. Mereka berjalan masuk. Begitu pintu dibuka, suara Marni yang menggelegar menyambut.
“GE!” Perempuan itu keluar dari dapur dengan wajah kesal. “Lu dari mana aja sih?!” omelnya. “Udah sore gini! Lu makan siang nggak?!”
Ge menghela napas kecil. Nada itu sangat familiar. Dia dengar hampir setiap hari, terutama bila dirinya telat pulang dari sekolah.
“Udah, Mak. Santai aja,” jawab Ge seperti biasa.
Marni langsung mendekat, menepuk bahu Ge. “Santai apaan?! Ntar sakit perut baru tau rasa!” omelnya lagi. “Lu tuh ya, bikin orang khawatir terus!”
Ge menyeringai tipis. “Iya, iya…”
Namun kali ini dia tidak membalas panjang. Dia justru memegang pelan lengan Marni.
“Mak…” Nada suaranya berubah.
Marni langsung mengernyit. “Kenapa lu?”
Ge menarik napas. “Kita ngobrol bentar, ya.”
Marni terlihat heran. “Ngobrol apaan? Serius amat.”
Ge melirik ke dalam rumah. “Di ruang tamu.”
Marni semakin bingung, tapi dia tidak menolak. “Yaudah…”
Ge lalu menoleh ke dalam. “Pak!”
Suara Tarno terdengar dari dalam. “Apa?!”
“Ke depan bentar!”
Tak lama, Tarno keluar dengan kaos oblong dan celana pendek. “Apaan sih ribut-ribut—” ucapannya terhenti saat melihat Arif berdiri di dekat pintu.
Tarno langsung menyipitkan mata. “Ini siapa?”
Ge menatap mereka berdua. “Duduk dulu,” katanya pelan.
Nada itu membuat suasana berubah. Marni dan Tarno saling pandang. Akhirnya mereka bertiga duduk di ruang tamu.
Ge berdiri sebentar, lalu menoleh ke Arif. “Masuk aja, Om.”
Arif melangkah masuk dengan tenang. Tatapannya menyapu seluruh ruangan sederhana itu.
Ge berdiri di tengah-tengah mereka. Tangannya masuk ke dalam jaket. Dia mengeluarkan map yang tadi diberikan Arif.
Beberapa detik dia hanya menatap map itu. Lalu dia menyerahkannya ke Tarno.
“Baca!” ujar Ge.
Tarno mengernyit. “Apa ini?”
“Baca aja.”
Tarno membuka map itu dengan ragu. Matanya mulai membaca isi dokumen. Beberapa detik kemudian, wajahnya berubah. Marni yang penasaran langsung mendekat.
“Apa sih?” tanyanya.
Tarno tidak langsung menjawab.
Ge menatap mereka berdua. Dadanya terasa berat. Akhirnya dia berkata pelan, “Aku udah tau...”
Marni menoleh cepat. “Tau apa?”
Ge menarik napas. "Aku bukan anak kandung kalian.”
Hening, benar-benar hening. Wajah Marni langsung kosong. Tarno juga terdiam. Beberapa detik tidak ada suara. Seolah waktu berhenti.
“Apa…?” suara Marni pelan.
Ge menatapnya. “Tes DNA,” katanya singkat.
Tarno masih memegang kertas itu dengan tangan sedikit gemetar.
Arif melangkah maju sedikit. “Saya yang mengurus tes tersebut,” katanya tenang.
Kedua orang itu langsung menoleh ke arah Arif. Tatapan mereka berubah curiga. Suasana tegang langsung menyelimuti.
“Siapa lu?” tanya Tarno tajam.
Arif menunduk sedikit dengan sopan. “Nama saya Arif.” Dia berhenti sejenak. “Saya sudah mencari anak ini cukup lama.”
Kalimat itu seperti petir. Marni langsung berdiri. Dia menarik Ge ke belakang tubuhnya. Seolah ingin melindungi.
“Jangan macem-macem ya lu!” bentaknya.
Ge sedikit kaget. Marni berdiri di depannya, menghadang Arif.
“Apapun yang lu bilang,” lanjut Marni dengan suara bergetar, “Ge itu anak gue!”
Air matanya mulai jatuh. Dia yang biasanya galak, sekarang menangis.
“Gue yang ngebesarin dia!” katanya. “Gue yang jagain dia dari kecil!”
Tarno juga berdiri. Wajahnya tegang. “Lu mau apa?” tanyanya ke Arif.
Arif tetap tenang. “Saya tidak berniat merebut,” jawabnya.
Tapi Marni menggeleng keras. “Bohong!” suaranya pecah. “Pasti Ge mau dibawa pergi, kan?!”
Dia menggenggam tangan Ge erat. Seolah takut kehilangan.
Ge terdiam. Melihat itu semua, dadanya terasa sesak. “Mak…” katanya pelan.
Marni tidak menoleh. “Dia anak gue!” ulangnya tegas. Air matanya semakin deras.
“Gue nggak peduli dia siapa! Dia tetap anak gue!”
Ge menatap punggung Marni. Perempuan yang selalu marah, kini menangis seperti itu.
Perlahan Ge melangkah maju. Dia memegang bahu Marni. “Mak…”
Kali ini Marni menoleh. Matanya merah. Ge tersenyum kecil. “Tenang aja.”
Marni menggeleng. “Nggak bisa! Ntar lu dibawa pergi—”
Ge langsung memotong. “Aku nggak akan ke mana-mana.”
Suasana langsung diam. Marni menatapnya. “Serius?”
Ge mengangguk pelan. “Iya.” Dia melirik ke Arif sebentar. Lalu kembali ke Marni.
“Mau gimana pun…” katanya pelan, “…buatku, Mak sama Bapak tetap orang tuaku.”
Air mata Marni kembali jatuh. Tangannya gemetar memegang lengan Ge. Tarno yang di samping hanya diam, tapi matanya terlihat berat.
Sementara Arif memperhatikan semuanya dengan tenang. Dia sadar satu hal. Perjalanan untuk membawa Ge masuk ke dunia keluarga Armansyah, tidak akan semudah yang dia kira. Belum lagi Arif harus membawa Ge berhadapan dengan ibu dan dua saudara tirinya.