Dikhianati hingga mati, Kirana terbangun di masa lalu dengan satu tujuan: membalas dendam pada adik tiri dan mantan tunangannya. Demi merebut kembali warisannya, ia nekat mengikat pernikahan kontrak dengan Adyatma Surya—CEO kejam berdarah naga yang dikutuk. Menawarkan diri sebagai penawar nyawa pria itu, Kirana tak menyadari bahwa kontrak berdarah tersebut justru menjebaknya dalam obsesi gelap sang predator yang takkan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembalasan Sempurna Kirana Bab 5: Tanda Kepemilikan Sang Naga
Hujan badai di luar jendela penthouse Surya Manor seakan beresonansi dengan badai yang sedang bergejolak di dalam ruangan redup tersebut. Di bawah temaram cahaya kilat yang sesekali menyambar, Adyatma menekan tubuh Kirana ke dinding marmer yang dingin. Kontras antara marmer yang sedingin es di punggungnya dan tubuh Adyatma yang sepanas bara api di dadanya membuat napas Kirana tersengal.
Bibir Adyatma menyusuri leher jenjang Kirana, memberikan ciuman-ciuman panas yang menuntut, sebelum akhirnya gigi pria itu menggigit pelan perpotongan leher dan bahu istrinya.
Kirana mendesis tertahan, meremas bahu lebar Adyatma. Gigitan itu tidak sampai mengeluarkan darah, namun cukup kuat untuk meninggalkan tanda kemerahan yang sangat jelas. Melalui titik kontak itu, Kirana bisa merasakan seolah ada aliran listrik statis yang berpindah dari tubuh Adyatma ke dalam dirinya. Itu adalah energi buas Sang Naga yang sedang ditarik, dijinakkan, dan dinetralkan oleh benteng aura Sandalwood murni milik Kirana.
"Adyatma..." bisik Kirana, suaranya bergetar menahan sensasi magis dan fisik yang begitu intens melanda sarafnya. "Kau... kau menyerap terlalu banyak..."
Adyatma mengangkat wajahnya. Sepasang mata obsidian pria itu menatap bibir Kirana yang sedikit terbuka. Napas pria itu memburu, namun urat-urat kebiruan di leher dan dadanya kini telah sepenuhnya menghilang. Kutukan itu telah kembali tertidur.
"Kau adalah Anchor-ku sekarang," suara Adyatma sangat berat dan serak, ibu jarinya mengusap tanda merah yang baru saja ia buat di leher Kirana dengan kilatan posesif yang absolut. "Tubuhmu harus terbiasa dengan bebanku, Kirana. Naga ini sangat rakus, dan ia tidak suka berbagi."
Adyatma memundurkan tubuhnya selangkah, memberikan ruang bagi Kirana untuk bernapas lega. Pria itu menyisir rambut hitamnya yang sedikit berantakan ke belakang dengan jari, kembali menjadi sosok 'Dewa Kematian Bisnis' yang elegan dan tak tersentuh.
"Malam ini tidurlah di ranjangku. Kamar ini telah disesuaikan dengan suhu dan tingkat keamanan maksimal," perintah Adyatma, melangkah menuju kamar mandi berlapis kaca gelap. Sebelum menutup pintu, ia menoleh sekilas. "Dan jangan pernah berpikir untuk mengunci pintu, Nyonya Surya. Di rumah ini, tidak ada satu pun area yang tersembunyi dariku."
Kirana menelan ludah, menatap pintu kamar mandi yang tertutup. Jantungnya masih berdebar kencang. Ia mengusap lehernya yang berdenyut, menatap pantulan dirinya di cermin besar. Gadis lemah yang dulu selalu menangis di sudut kamar telah mati. Kini, ia berbagi ranjang dengan monster paling berbahaya di Asia demi sebuah mahkota pembalasan.
Kirana tersenyum tipis. Bagus. Semakin kuat monster ini, semakin hancur musuh-musuhku besok.
Keesokan paginya, Kirana terbangun oleh aroma kopi hitam yang pekat dan harumnya mentega. Ia membuka mata, mendapati dirinya terbungkus selimut sutra berwarna abu-abu gelap di atas ranjang berukuran masif yang beraroma khas
Adyatma—campuran musk, cedarwood, dan sesuatu yang terasa maskulin serta berbahaya.
Sisi ranjang di sebelahnya sudah kosong dan dingin, menandakan suaminya telah bangun sejak lama.
"Selamat pagi, Nyonya Surya."
Kirana menoleh dan melihat Reno, sang asisten pribadi yang serba bisa, berdiri dengan postur sempurna di dekat pintu. Di belakang Reno, dua pelayan wanita berseragam rapi mendorong kereta dorong berisi sarapan mewah khas benua Eropa.
"Tuan Surya telah berangkat ke markas militer pribadi di pesisir utara subuh tadi untuk urusan klan," lapor Reno seraya memberi isyarat kepada pelayan untuk menata sarapan di meja kecil dekat balkon.
"Beliau berpesan agar Anda beristirahat hari ini. Seluruh jadwal rapat Anda di Nusantara Group telah saya atur ulang menjadi rapat virtual dari rumah."
Kirana bangkit dan duduk bersandar di kepala ranjang, mengenakan jubah tidur sutra yang telah disiapkan di ujung kasur.
"Terima kasih, Reno. Bagaimana dengan 'tikus-tikus' di selokan kita? Apakah mereka tidur nyenyak tadi malam?" tanya Kirana santai, menyilangkan kakinya saat seorang pelayan menuangkan kopi ke cangkir porselennya.
Reno membetulkan letak kacamatanya, sebuah senyum tipis yang jarang terlihat muncul di wajahnya. "Tentu saja tidak, Nyonya."
Reno menyerahkan sebuah tablet ke tangan Kirana. Di layar tablet itu, terpampang laporan intelijen lengkap dengan foto-foto pengawasan.
"Sesuai instruksi khusus dari Tuan Surya tadi malam," Reno mulai menjelaskan, "kami telah mengatur 'penyambutan khusus' untuk Saudara Bagas Pramoedya di sel isolasinya. Ia ditempatkan bersama beberapa tahanan kelas kakap yang kebetulan memiliki hutang budi pada Surya Corp. Pagi ini, Saudara Bagas dilarikan ke klinik rutan dengan tiga tulang rusuk retak dan hidung patah karena 'terpeleset' di kamar mandi."
Kirana menatap foto wajah Bagas yang babak belur dan bengkak di layar tablet. Tidak ada setitik pun rasa kasihan di hatinya. Pria itu telah menusukkan pisau ke jantungnya di kehidupan sebelumnya. Patah tulang rusuk adalah harga diskon yang sangat murah.
"Bagus. Pastikan dia tidak mati. Aku ingin dia hidup cukup lama untuk merasakan pembusukan di balik jeruji besi," ucap Kirana dingin. "Bagaimana dengan Riana dan Herman?"
"Nona Riana mencoba menghubungi puluhan kenalan sosialita dan mantan kekasihnya yang kaya raya semalaman suntuk," lanjut Reno. "Namun, Tuan Surya telah merilis memo tidak resmi ke seluruh lingkaran elit Jakarta. Memo itu menyatakan bahwa siapa pun yang mengulurkan tangan pada keluarga Herman akan dianggap sebagai musuh Surya Corp. Pagi ini, seluruh kartu kredit Nona Riana ditolak karena kami telah membekukan aset yang terhubung dengan Nusantara Group. Ia bahkan diusir dari klub VIP tadi malam karena tidak bisa membayar tagihan sampanye."
Kirana tertawa pelan, tawa yang merdu namun sangat kejam. Riana, yang selalu membanggakan status sosialnya dan memandang rendah orang lain, kini merasakan pahitnya menjadi paria di masyarakat.
"Dan Tuan Herman..." Reno membalik halaman laporan di tablet Kirana. "Beliau baru saja menerima surat penyitaan. Tanpa sepengetahuan Anda dulu, beliau menjaminkan sertifikat rumah mewah keluarga untuk menutupi kerugian investasinya di luar negeri. Dan tebak siapa yang baru saja membeli hak utang tersebut dari bank pagi ini?"
Mata Kirana berbinar penuh kemenangan. "Surya Corp."
"Tepat sekali, Nyonya. Siang ini, petugas sita akan datang ke rumah itu. Herman, istrinya Sari, dan Riana harus angkat kaki dari sana sebelum matahari terbenam dengan hanya membawa pakaian yang melekat di badan mereka."
Kirana meletakkan tablet itu di atas nakas, menyesap kopi hitamnya dengan perasaan paling memuaskan yang pernah ia rasakan seumur hidupnya. Balas dendamnya berjalan sempurna bagaikan simfoni yang indah. Hanya dalam waktu empat puluh delapan jam, ia telah mencabut segala kemewahan, harga diri, dan kebebasan orang-orang yang dulu menyiksanya.
Namun, Kirana sangat sadar bahwa kekuatan dewa yang ia gunakan ini bukanlah miliknya sendiri. Ini adalah pedang pinjaman dari Adyatma Surya. Dan setiap pinjaman dari iblis, pasti menuntut bunga yang tinggi.
"Nyonya," panggil Reno, memecah lamunan Kirana. Asisten itu memberi isyarat kepada dua pelayan wanita yang sedari tadi menunggu di sudut ruangan. Mereka melangkah maju membawa beberapa kotak beludru hitam berukuran besar.
"Tuan Surya memerintahkan agar Anda bersiap. Nanti malam, tepat pukul delapan, Tuan akan menjemput Anda," ucap Reno dengan nada yang tiba-tiba menjadi sangat serius. "Malam ini adalah Bulan Purnama Merah. Tuan Surya akan membawa Anda menghadiri jamuan makan malam eksklusif The Abyss—perkumpulan rahasia para pemimpin klan dan penguasa dunia bawah (underworld) Asia yang berpusat di Jakarta."
Jantung Kirana berdegup sedikit lebih cepat. The Abyss. Ia pernah mendengar rumor mengerikan tentang perkumpulan itu dari para elit bisnis. Itu bukanlah acara amal sosialita biasa. Itu adalah tempat di mana nyawa manusia bisa diperjualbelikan seperti barang antik, dan di mana hukum negara sama sekali tidak berlaku.
"Tuan Surya berpesan," Reno melanjutkan, menatap Kirana dengan penuh rasa hormat, "malam ini, Anda tidak akan hadir sebagai Kirana Larasati, Direktur Nusantara Group. Malam ini, Anda akan diperkenalkan secara resmi sebagai Ratu dari Sang Naga. Tuan meminta Anda mengenakan ini."
Pelayan itu membuka kotak beludru tersebut. Di dalamnya, terlipat dengan sangat rapi sebuah gaun malam haute couture berwarna hitam pekat yang terbuat dari sutra terbaik, dengan sulaman benang emas murni yang membentuk motif sisik naga menyusuri bagian punggung dan pinggangnya. Di kotak lainnya, terdapat satu set perhiasan bertahtakan batu black onyx dan berlian darah yang harganya dipastikan bisa membeli sebuah pulau pribadi.
"Warna hitam dan emas," gumam Kirana, menyentuh kain sutra yang sangat lembut itu.
"Itu adalah warna kebesaran Klan Surya, Nyonya," jelas Reno. "Malam ini, seluruh dunia bawah tanah akan menguji Anda. Mereka ingin melihat apakah wanita yang dipilih oleh Sang Dewa Kematian adalah mangsa yang lemah, atau predator yang setara."
Kirana mengangkat dagunya, tatapan matanya mengeras oleh determinasi. Ia telah membantai keluarganya sendiri dari kursi kekuasaan, ia tidak akan gemetar hanya karena beberapa mafia elit.
"Katakan pada suamiku, Reno," ucap Kirana dingin. "Aku tidak akan mempermalukan lambang naga yang ia pasang di punggungku."
Pukul delapan malam tepat, sebuah Rolls-Royce Phantom berwarna hitam matte berhenti di basement sebuah gedung opera terbengkalai di pusat kota tua Jakarta—yang ternyata merupakan pintu masuk rahasia menuju markas The Abyss.
Pintu mobil dibuka oleh pengawal, dan Adyatma melangkah keluar. Pria itu tampak mematikan malam ini. Ia mengenakan setelan jas bespoke serba hitam tanpa dasi, kerah kemejanya sedikit terbuka memperlihatkan kulit dadanya. Aura dominasinya begitu pekat hingga udara di sekitarnya terasa sulit dihirup oleh manusia biasa.
Adyatma berbalik dan mengulurkan tangannya yang besar ke dalam mobil.
Sebuah tangan ramping dengan kuku berpoles merah gelap menyambut uluran itu. Kirana melangkah keluar.
Penampilannya malam ini benar-benar mewujudkan esensi keindahan yang berbahaya. Gaun hitam sutranya memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna, sementara sulaman naga emas di punggungnya tampak hidup saat terpapar cahaya temaram basement. Rambut hitam legamnya disanggul elegan, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah cantiknya yang tegas dan dingin.
Adyatma menatap istrinya dari atas ke bawah. Kilatan kebanggaan dan sifat posesif yang liar melintas di mata gelap pria itu. Ia menarik pinggang Kirana dengan satu tangan, memosisikan tubuh wanita itu menempel rapat pada sisinya.
"Kau terlihat sangat berbahaya malam ini, Istriku," bisik Adyatma di telinga Kirana, napasnya yang hangat membuat Kirana merinding. "Naga ini sangat menyukainya."
"Aku hanya menyesuaikan diri dengan monster yang menggandengku," balas Kirana tenang, melingkarkan lengannya di lengan kokoh suaminya.
Mereka berdua berjalan menyusuri lorong gelap yang dijaga oleh puluhan penjaga bersenjata laras panjang. Begitu pintu perunggu raksasa di ujung lorong dibuka, dentuman musik klasik yang elegan bercampur dengan dengungan percakapan para elit langsung menyambut mereka.
Ruangan itu sangat masif, didekorasi dengan gaya gothic mewah layaknya istana Dracula. Ratusan pria dan wanita dengan gaun dan jas terbaik berkumpul memegang gelas kristal berisi anggur merah. Mereka adalah para taipan kasino, bos kartel, pedagang senjata, dan penguasa bayangan yang mengendalikan negara dari balik layar.
Namun, begitu Adyatma Surya melangkah masuk dengan Kirana di sisinya, seluruh aktivitas di ruangan itu berhenti total. Musik seolah meredup. Ribuan mata menoleh serentak ke arah mereka, diwarnai oleh campuran rasa takut, segan, dan rasa penasaran yang mematikan.
"Tuan Surya telah tiba!" seru pembawa acara dengan suara lantang yang menggema ke seluruh ruangan.
Adyatma tidak mempedulikan tatapan mereka. Ia terus melangkah membelah kerumunan layaknya seorang kaisar yang sedang menginspeksi rakyatnya.
Orang-orang otomatis mundur, memberikan jalan yang sangat lebar, tak ada yang berani berdiri dalam radius satu meter darinya.
Mereka menuju meja VVIP yang berada di balkon lantai dua, tempat para tetua klan duduk.
Namun, saat mereka menaiki tangga pualam, seorang wanita cantik dengan gaun perak yang sangat terbuka melangkah menghalangi jalan. Wanita itu adalah Sonia, putri dari pemimpin kartel berlian terbesar di Asia, yang selama bertahun-tahun selalu berusaha merayu Adyatma demi aliansi bisnis.
"Adyatma, Sayang..." sapa Sonia dengan suara mendesah buatan, mengabaikan eksistensi Kirana sepenuhnya. Ia mengangkat gelas sampanyenya.
"Kudengar rumor konyol bahwa kau baru saja menikahi seorang gadis kecil dari perusahaan kecil yang nyaris bangkrut. Kau tidak benar-benar menjadikan boneka porselen ini sebagai istri sahmu, kan? Dia bahkan tidak memiliki aura dunia bawah."
Sonia menatap Kirana dengan senyum mengejek, matanya memindai Kirana dengan merendahkan. "Hai, gadis kecil. Kau pasti sangat ketakutan berada di sini. Jangan khawatir, Adyatma biasanya cepat bosan dengan mainan barunya."
Adyatma berhenti melangkah. Wajahnya menggelap, rahangnya mengeras. Hawa dingin yang mematikan mulai menyebar dari tubuhnya, membuat suhu di sekitar tangga itu turun drastis. Ia baru saja akan membuka mulut untuk menjatuhkan vonis mati pada wanita bodoh di depannya ini.
Namun, Kirana lebih cepat.
Kirana melepaskan gandengannya dari lengan Adyatma. Ia melangkah satu anak tangga lebih tinggi, mensejajarkan posisinya dengan Sonia. Senyum dingin yang selama ini menjadi mimpi buruk bagi keluarganya kini mekar di wajah Kirana.
Tanpa basa-basi, Kirana mengangkat tangannya, merebut gelas sampanye kristal dari tangan Sonia dengan gerakan yang sangat elegan namun penuh tenaga, lalu memiringkan gelas itu.
Byur.
Seluruh isi sampanye dingin itu tumpah, mengguyur wajah, rambut, dan belahan dada gaun perak Sonia di hadapan ratusan pasang mata yang menonton dari lantai bawah.
"Aaakh!" Sonia menjerit histeris, melangkah mundur dengan terkejut, wajahnya memerah padam karena amarah dan rasa malu. "Apa yang kau lakukan, pelacur sialan?! Kau tahu siapa aku?!"
Sonia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, berniat menampar wajah Kirana.
Namun sebelum tangan Sonia turun, Kirana menangkap pergelangan tangan wanita itu di udara dengan cengkeraman yang sangat kuat, hingga kuku merah Kirana menancap di kulit Sonia.
"Aku tidak peduli siapa ayahmu, atau dari lubang mana kau merangkak keluar," desis Kirana, suaranya sangat pelan namun bergema mematikan di kesunyian ruangan itu. Matanya menatap Sonia layaknya predator menatap bangkai. "Tapi sebelum kau memanggil nama suamiku dengan mulut kotormu itu, pastikan kau berlutut terlebih dahulu."
Kirana melepaskan cengkeramannya dengan kasar, mendorong Sonia hingga wanita itu jatuh terduduk di atas anak tangga pualam.
"Dan sebagai informasi," Kirana menatap rendah pada Sonia yang gemetar, "aku bukanlah mainan. Aku adalah penjangkar nyawanya. Jika kau berani menghinaku lagi, aku tidak akan membuang sampanye ke wajahmu. Aku akan menyuruh suamiku untuk menghancurkan seluruh tambang berlian keluargamu menjadi abu."
Ratusan mafia dan bos kartel di ruangan itu menahan napas. Mereka menatap Kirana dengan pandangan yang berubah seratus delapan puluh derajat. Keberanian, kekejaman, dan dominasi yang ditunjukkan Kirana barusan bukanlah milik gadis biasa. Itu adalah aura seorang ratu yang sesungguhnya.
Kirana berbalik dengan anggun, kembali meraih lengan suaminya. "Mari, Suamiku. Udara di bawah sini terlalu kotor untuk kita hirup."
Adyatma menatap Kirana dengan kilatan kekaguman dan gairah gelap yang meledak-ledak di matanya. Seringai kejam terbentuk di bibir pria itu. Ia tidak peduli pada Sonia yang menangis di lantai.
"Sesuai perintahmu, Istriku," ucap Adyatma dengan suara berat yang sengaja dikeraskan agar seluruh ruangan mendengarnya.
Adyatma menoleh ke arah pengawal pribadinya. "Reno. Besok pagi, putus semua kontrak logistik dengan kartel berlian milik keluarga wanita ini. Hancurkan rute distribusi mereka."
"Baik, Tuan," jawab Reno datar.
Jeritan histeris Sonia bergema memohon ampun, menyadari kebodohannya baru saja menghancurkan kekaisaran keluarganya dalam satu malam. Namun Adyatma dan Kirana tidak menoleh sedikit pun. Mereka berjalan beriringan menaiki tangga menuju takhta di lantai atas, membuktikan kepada seluruh dunia bawah tanah bahwa Sang Naga telah menemukan Ratu yang sama kejamnya dengan dirinya.