Larasati mengira pernikahan adalah pelabuhan aman dari badai hidupnya. Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pria yang ia panggil suami, Bagaskara, justru menjadi iblis yang menyeretnya ke neraka.
Terlilit hutang judi yang tak berujung, Bagas melakukan hal yang paling tak ter maafkan. menjadikan kesucian istrinya sebagai jaminan pelunasan.
Di balik jeruji kontrakan kumuh Jakarta. Larasati terjepit antara rintihan harga diri yang diinjak-injak dan ancaman fitnah yang menghancurkan nama baik orang tuanya.
Sementara itu, di sebuah rumah mewah, Rizki Pratama, sang pewaris takhta bisnis yang baru saja mengikat janji palsu demi bakti. Merasakan nyeri yang sama di dadanya. Ada jiwa yang menjerit meminta tolong, jiwa yang pernah ia temukan di tepi sungai namun ia lepaskan karena kata "bukan jodoh".
Saat kehormatan telah berpindah tangan dan pengkhianatan menjadi mata uang. Akankah doa di antara dua hati yang terpisah mampu menuntun mereka pada sebuah pertemuan berdarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persimpangan Gang Mawar
Siang itu, matahari Jakarta berada tepat di puncaknya, menyengat aspal Gang Mawar dengan panas yang seolah sanggup menguapkan sisa-sisa air mata yang tertinggal di sana. Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam legam merayap pelan, membelah kerumunan warga yang masih berkerumun di sekitar gapura masuk. Di balik kemudi, Yudha tampak berkonsentrasi penuh, matanya waspada memperhatikan setiap jengkal jalanan sempit yang tak ramah bagi kendaraan sekelas mereka.
Di kursi belakang, Rizki Pratama duduk dengan punggung tegak, namun tangannya mencengkeram erat sandaran lengan. Jantungnya berdegup dengan irama yang tak beraturan. Firasat yang menyiksanya sejak kemarin kini menuntunnya ke titik koordinat ini.
"Tuan Muda, di depan itu gapura Gang Mawar yang dimaksud," ucap Yudha pelan.
Tepat saat mobil Rizki hendak memasuki gapura, sebuah motor gede berderu dari arah berlawanan. Motor itu dikendarai oleh seorang pria gagah berseragam cokelat khaki—Camat Danang. Namun, bukan sosok pria itu yang membuat napas Rizki terhenti.
Di jok belakang motor itu, duduk seorang wanita yang terbungkus jas seragam camat yang kedodoran. Rambutnya yang panjang berantakan tertiup angin, wajahnya pucat pasi seperti porselen retak. Wanita itu memeluk pinggang Danang dengan gerakan mekanis, namun matanya... matanya menatap kosong ke arah depan.
Mobil Rizki dan motor Danang berpapasan tepat di mulut gapura. Ruang di antara mereka hanya terpaut beberapa puluh sentimeter.
Dalam sepersekian detik yang terasa seperti keabadian, Larasati menoleh. Matanya yang sembab dan kehilangan cahaya itu beradu pandang dengan mata tajam Rizki di balik kaca mobil yang gelap. Rizki terperangah. Pupil matanya melebar saat menyadari bahwa wajah di atas motor itu adalah wajah yang sama yang ia selamatkan di sungai dulu. Wajah yang ia cari di setiap sudut mimpinya.
Larasati pun sempat tertegun. Ada getaran aneh yang menyengat dadanya saat melihat pria di dalam mobil itu. Ingatannya yang trauma mencoba memutar kembali memori tentang sebuah ketapel dan air sungai yang dingin, namun rasa sakit fisik dan batinnya terlalu besar. Tatapan mereka hanya bersinggungan sekejap sebelum motor Danang melesat keluar menuju jalan raya, diikuti oleh mobil SUV yang dikendarai Bima dan Arya sebagai pengawal di belakangnya.
"Yudha! Berhenti!" teriak Rizki spontan.
Mobil mengerem mendadak. Rizki menoleh ke belakang, menatap debu yang ditinggalkan motor Danang. "Wanita itu... Yudha, wanita di atas motor tadi..."
"Itu Pak Camat Danang, Tuan. Sepertinya beliau baru saja melakukan evakuasi korban dari dalam gang," jawab Yudha dengan nada prihatin.
Rizki terdiam, dadanya sesak. Ia merasa seolah baru saja melepaskan sesuatu yang paling berharga untuk kedua kalinya. Takdir seolah sedang mempermainkannya; memberi kesempatan untuk melihat, namun mengharamkan untuk menyentuh.
Sisa Neraka di Kontrakan Biru
Rizki memerintahkan Yudha untuk terus masuk. Begitu sampai di depan kontrakan bercat biru yang dilaporkan Yudha, pemandangan yang menyambut mereka jauh lebih mengerikan dari bayangan mana pun.
Garis polisi berwarna kuning melintang di depan teras kecil yang berantakan. Pintu kayu yang sudah hancur berserakan di lantai semen. Beberapa petugas berpakaian sipil dan seragam polisi tampak keluar masuk membawa kantong-kantong plastik berisi barang bukti.
Rizki turun dari mobil dengan langkah goyah. Ia melihat botol-botol minuman keras yang pecah, ikat pinggang yang tergeletak di tanah, dan bau apak yang menyengat keluar dari dalam rumah itu.
"Rizki? Rizki Pratama?"
Sebuah suara yang familiar memanggil namanya. Rizki menoleh dan melihat seorang pria muda berseragam polisi dengan pangkat di pundaknya yang menandakan ia adalah seorang perwira. Pria itu adalah Dion, sahabat lama Rizki saat SMA yang kini menjabat sebagai Kapolsek di wilayah tersebut.
"Dion?" Rizki menyambut jabatan tangan sahabatnya, meski wajahnya tetap pucat. "Apa yang terjadi di sini, Yon?"
Dion menghela napas panjang, wajahnya menunjukkan kemuakan yang mendalam terhadap kasus yang sedang ia tangani. "Ini neraka dunia, Ki. Kita baru saja membantu pihak kecamatan menggerebek lokasi penyekapan dan eksploitasi. Seorang suami... iblis berwujud manusia... menjual istrinya sendiri pada rentenir untuk bayar hutang judi."
Darah Rizki seolah membeku mendengarnya. "Dijual? Istrinya?"
"Iya. Namanya Larasati, kalau tidak salah. Tadi baru saja dibawa oleh Pak Camat Danang ke kediamannya untuk perlindungan sementara sebelum dibawa ke rumah sakit bayangkara. Kondisinya hancur, Ki. Mental dan fisiknya dirusak secara sistematis selama berhari-hari di dalam kamar sempit itu."
Rizki memejamkan mata. Rasa bersalah yang teramat sangat menghujam jantungnya. Gadis yang ia doa-doakan agar bahagia dengan pilihannya, ternyata sedang meregang nyawa di dalam rumah yang baru saja ia injak halamannya.
Penolakan di Garis Kuning
"Boleh aku masuk ke dalam? Aku ingin melihat tempat itu," pinta Rizki dengan suara serak.
Dion menggeleng tegas sembari merentangkan tangannya di depan garis polisi. "Maaf, Ki. Meskipun kita teman lama, aku tidak bisa mengizinkanmu masuk. Tim identifikasi dan olah TKP masih bekerja di dalam. Kita menemukan banyak jejak kekerasan, darah, dan alat-alat yang digunakan pelaku untuk menyiksa korban. Ini area steril."
"Hanya sebentar, Yon. Aku perlu memastikan sesuatu," desak Rizki.
"Tidak bisa, Rizki. Peraturan tetap peraturan," Dion menepuk bahu Rizki dengan simpati. "Kenapa kau begitu tertarik dengan kasus ini? Apa kau mengenal korbannya?"
Rizki terdiam. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan bahwa wanita itu adalah satu-satunya alasan mengapa ia masih merasa hidup di tengah pernikahan palsunya dengan Nana. Ia tidak tahu bagaimana menceritakan tentang kenangan di tepi sungai yang kini berujung pada bau darah dan sperma di Gang Mawar.
"Aku... aku hanya merasa bertanggung jawab karena ini terjadi di bawah pengawasanku sebagai orang yang mencari informasi tentangnya," jawab Rizki lirih.
Dion menatap Rizki dengan tajam, seolah bisa membaca ada sesuatu yang lebih dalam di balik mata sahabatnya itu. "Dengar, Ki. Kalau kau ingin membantu, bantu aku melacak keberadaan suaminya, Bagaskara. Dia kabur sebelum penggerebekan terjadi. Dia licin seperti belut. Sementara untuk Larasati... dia sudah berada di tangan yang aman. Pak Camat Danang orang yang sangat kompeten, meski sedikit ambisius."
Rizki menatap pintu kontrakan yang terbuka lebar itu sekali lagi. Di sana, ia melihat sebuah kain daster lusuh yang tergeletak di lantai, kain yang sama yang ia lihat dari kejauhan kemarin sore.
Rizki berbalik menuju mobilnya dengan langkah berat. Ia merasa seperti pecundang. Di saat Larasati membutuhkan pahlawan, bukan dia yang mendobrak pintu itu. Bukan dia yang menyelimuti tubuh hancur itu dengan jasnya.
"Yudha, kita pergi," ucap Rizki begitu masuk ke mobil.
"Ke mana, Tuan?"
"Cari tahu di mana kediaman Camat Danang. Dan pastikan Nana tidak tahu tentang pergerakan kita hari ini."
Mobil sedan hitam itu meninggalkan Gang Mawar, melewati garis polisi yang menjadi pembatas antara masa lalu Laras yang hancur dan masa depan yang penuh intrik. Rizki tahu, perang baru saja dimulai. Ia tidak akan membiarkan Danang atau siapa pun memiliki Larasati sepenuhnya sebelum ia sendiri menebus kegagalannya melindungi gadis itu. Di balik kemudi, Yudha melihat tuannya melalui spion tengah; ia melihat singa yang terluka, yang siap mengamuk untuk merebut kembali miliknya.