NovelToon NovelToon
Siasat Manis Istri Kedua

Siasat Manis Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Konflik etika / Pelakor
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Update setiap hari

"Di rumah ini, aku adalah madu yang paling manis, namun di dalam nadiku mengalir racun yang paling mematikan."

Gendis hanyalah seorang wanita dengan tutur kata lembut dan senyum yang menenangkan. Tidak ada yang menyangka, di balik wajah polosnya, ia menyimpan dendam membara terhadap Maya—istri pertama dari pengusaha muda sukses, Baskara. Baginya, kebahagiaan yang Maya miliki saat ini dibangun di atas puing-puing kehancuran keluarga Gendis di masa lalu.

Demi menuntaskan dendamnya, Gendis rela menanggalkan harga diri. Ia masuk ke dalam rumah tangga itu sebagai istri kedua, menjadi bayang-bayang yang perlahan-lahan menggerogoti kebahagiaan Maya dari dalam. Dengan siasat yang begitu halus dan manis, Gendis merebut simpati ibu mertua yang kaku, perhatian para pelayan, hingga seluruh ruang di hati Baskara.

Setiap tetes air mata yang jatuh di rumah itu adalah bagian dari simfoni balasan Gendis. Namun, saat rencana besarnya hampir mencapai puncak dan Maya mul

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: RACUN DALAM CANGKIR TEH

Matahari tepat berada di atas kepala, memancarkan panas yang menyengat ke seluruh sudut Jakarta. Namun, di dalam ruang tengah rumah Baskara, hawa dingin terasa begitu menusuk. Bukan karena pendingin ruangan yang disetel maksimal, melainkan karena kehadiran sosok wanita tua yang duduk tegak di sofa beludru berwarna emas.

Ibu Rahayu. Wanita itu adalah lambang ketegasan dan harga diri keluarga besar Baskara. Rambutnya yang mulai memutih disanggul rapi tanpa sehelai pun yang berantakan. Tatapannya tajam, sedingin es, dan selalu mampu menguliti siapa pun yang berdiri di depannya.

Di sisi lain, Maya tampak gelisah. Ia duduk di hadapan mertuanya dengan gaya yang dipaksakan santai. "Ibu mau minum apa? Maya minta Bi Sumi buatkan jus jeruk segar?"

"Aku tidak butuh jus, Maya. Aku sedang tidak enak badan. Sendi-sendiku terasa kaku lagi," sahut Ibu Rahayu dengan nada datar yang penuh penekanan.

Maya meringis kecil. "Oh, itu... mungkin Ibu kurang istirahat. Nanti Maya pesankan suplemen dari luar negeri, ya?"

Ibu Rahayu hanya mendengus pelan, tidak terkesan. Baginya, Maya selalu mencoba menyelesaikan masalah dengan uang, bukan dengan perhatian yang tulus.

Saat itulah, Gendis muncul dari arah dapur. Ia tidak mengenakan pakaian mewah. Ia hanya memakai gamis berwarna pastel yang lembut dengan kerudung instan yang menutupi dadanya. Di tangannya, ia membawa nampan kayu kecil dengan satu cangkir porselen yang mengeluarkan aroma rempah yang sangat menenangkan—perpaduan antara jahe, kayu manis, dan sedikit madu hutan.

Langkah Gendis sangat pelan, hampir tak terdengar. Ia berlutut di dekat kaki Ibu Rahayu, meletakkan nampan itu di atas meja kopi dengan gerakan yang sangat sopan.

"Maaf mengganggu pembicaraan Ibu dan Mbak Maya," suara Gendis terdengar seperti aliran air yang tenang. "Saya mendengar Ibu sedang tidak enak badan. Saya membuatkan teh herbal warisan ibu saya. Ini sangat baik untuk meredakan nyeri sendi dan menghangatkan tubuh."

Ibu Rahayu menaikkan satu alisnya, menatap Gendis dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Kamu... istri kedua Baskara itu?"

Gendis menunduk dalam, menunjukkan rasa hormat yang luar biasa. "Nama saya Gendis, Bu. Mohon maaf jika kehadiran saya lancang."

Maya mendengus sinis, wajahnya memerah karena merasa dilangkahi. "Gendis! Siapa yang menyuruhmu keluar? Dan apa-apaan itu? Teh kampung? Ibu Rahayu hanya minum minuman berkualitas, jangan sembarangan!"

Namun, Ibu Rahayu justru mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Maya diam. Ia mencium aroma yang keluar dari cangkir itu. Aroma yang mengingatkannya pada masa kecilnya di desa, jauh sebelum ia menjadi nyonya besar yang kaku di kota ini.

"Biarkan saja, Maya. Baunya lumayan enak," ucap Ibu Rahayu. Ia menyesap teh itu perlahan.

Gendis tetap berlutut, matanya menatap lantai, namun sudut bibirnya hampir saja tertarik membentuk seringai kemenangan. Ia tahu, Ibu Rahayu adalah orang yang merindukan tradisi, sesuatu yang tidak pernah bisa diberikan oleh Maya yang terlalu modern dan angkuh.

"Hmm... hangat sekali di tenggorokan," gumam Ibu Rahayu, ekspresi wajahnya yang semula kaku mulai sedikit melunak. "Bagaimana kamu tahu rahasia campuran ini?"

Gendis mendongak perlahan, membiarkan matanya terlihat berkaca-kaca seolah mengenang sesuatu yang menyedihkan. "Dulu, ibu saya selalu membuatkan ini untuk ayah saya setiap pagi sebelum beliau berangkat bekerja. Ayah saya juga sering mengeluh nyeri sendi karena bekerja keras. Sekarang mereka sudah tidak ada, jadi saya hanya bisa menyimpan resep ini sebagai kenangan."

Ibu Rahayu terdiam. Ada rasa iba yang mulai merayap di hatinya. "Jadi kamu yatim piatu?"

Gendis mengangguk pelan. "Iya, Bu. Saya hanya sendirian di dunia ini sampai akhirnya Mas Baskara menolong saya. Saya sangat berutang budi padanya, dan juga pada keluarga ini. Karena itu, saya hanya ingin mengabdi dan memastikan semua orang di rumah ini sehat."

Maya yang merasa posisinya terancam, langsung menyela dengan nada ketus. "Cih! Drama yang bagus, Gendis. Ibu, jangan percaya padanya. Dia hanya ingin menarik simpati Ibu agar posisinya aman."

Ibu Rahayu meletakkan cangkirnya dengan bunyi denting yang keras. Ia menatap Maya dengan tajam. "Maya, setidaknya dia tahu cara melayani orang tua. Kamu? Dari tadi kamu hanya menawarkan suplemen kimia yang bahkan belum tentu cocok untukku. Belajarlah sedikit sopan santun dari Gendis."

Wajah Maya memucat. Ia merasa seperti ditampar di depan musuhnya sendiri. Ia mengepalkan tangannya di bawah meja, kukunya menusuk telapak tangannya sendiri. Rasa benci terhadap Gendis kini sudah mencapai puncaknya.

"Gendis, duduklah di sini. Di sampingku," perintah Ibu Rahayu, menepuk tempat kosong di sofa di sebelahnya.

Gendis tampak ragu, ia melirik Maya dengan wajah takut-takut. "Tapi, Bu... saya tidak pantas duduk sejajar dengan Ibu dan Mbak Maya. Saya cukup di sini saja."

"Aku yang menyuruhmu. Duduk," tegas Ibu Rahayu.

Dengan gerakan yang sangat santun, Gendis akhirnya duduk di tepi sofa. Ia terlihat seperti seorang gadis desa yang polos dan terintimidasi. Selama satu jam berikutnya, Ibu Rahayu justru lebih banyak bertanya kepada Gendis tentang masa lalunya, cara memasaknya, hingga pendapatnya tentang pengelolaan rumah tangga.

Setiap jawaban Gendis selalu rendah hati. Ia memuji Maya di depan Ibu Rahayu, yang sebenarnya adalah siasat agar Maya terlihat semakin buruk saat Maya nantinya membalas dengan hinaan.

"Mbak Maya sangat hebat dalam mengatur acara-acara besar, Bu. Saya sangat kagum. Saya harap saya bisa belajar banyak darinya," ucap Gendis sambil menatap Maya dengan senyum "manis".

Ibu Rahayu hanya mendengus. "Dia hanya hebat menghabiskan uang Baskara untuk pesta. Untuk urusan dapur dan kehangatan rumah, dia nol besar."

Maya tidak tahan lagi. Ia berdiri dengan kasar. "Ibu, Maya ada janji dengan teman-teman sosialita di kafe. Maya permisi dulu!"

Tanpa menunggu jawaban, Maya melesat pergi dengan langkah kaki yang menghentak. Begitu suara mobil Maya menjauh, Ibu Rahayu menghela napas panjang.

"Dia selalu seperti itu. Keras kepala dan tidak punya hati," keluh Ibu Rahayu kepada Gendis.

Gendis menyentuh tangan Ibu Rahayu dengan lembut, gerakan yang sangat berani namun dilakukan dengan penuh kasih sayang. "Mungkin Mbak Maya hanya lelah, Bu. Berikan dia waktu. Sementara itu, biarkan saya yang memijat kaki Ibu agar nyerinya hilang."

Ibu Rahayu menatap Gendis dengan pandangan yang jauh berbeda dari saat ia datang tadi. "Kamu anak yang baik, Gendis. Baskara benar-benar beruntung membawamu ke rumah ini."

Gendis mulai memijat kaki mertuanya dengan gerakan yang pas. Di dalam hati, ia tertawa dengan sangat keras. Beruntung? Ya, Baskara sangat beruntung karena telah membawa serigala berbulu domba ke dalam kandangnya sendiri.

Gendis teringat sepuluh tahun lalu, saat ayahnya memohon pada keluarga Ibu Rahayu untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah atas tuduhan korupsi itu. Namun, Ibu Rahayu lah yang saat itu paling keras menyuruh ayahnya pergi dan memutus semua hubungan bisnis. Kini, wanita tua itu berada di bawah jemarinya, menikmati pijatannya, dan memercayainya sepenuhnya.

Satu demi satu, aku akan meruntuhkan bentengmu, Ibu Rahayu, batin Gendis. Setelah kamu memercayaiku, aku akan membuatmu membenci Maya, lalu aku akan membuatmu menyadari bahwa menantu kesayanganmu ini adalah anak dari pria yang dulu kalian hancurkan hidupnya.

Malamnya, saat Baskara pulang, ia terkejut melihat ibunya sedang duduk santai di ruang tengah sambil menonton televisi bersama Gendis. Keduanya tampak sangat akrab, bahkan Ibu Rahayu terlihat tertawa kecil mendengar cerita Gendis.

Baskara merasa beban di pundaknya sedikit terangkat. Ia mendekati mereka dengan senyum lebar. "Ibu masih di sini? Tumben sekali Ibu terlihat sangat segar."

"Ini berkat Gendis, Baskara," sahut Ibu Rahayu tanpa mengalihkan pandangan dari TV. "Teh herbalnya ajaib, pijatannya juga luar biasa. Kamu tidak salah pilih, Nak. Gendis ini permata yang tersembunyi."

Baskara menatap Gendis dengan penuh rasa cinta dan terima kasih. Gendis membalas tatapan itu dengan senyum malu-malu yang sangat cantik.

"Terima kasih, Mas... ini semua berkat kebaikanmu yang membawaku ke sini," ucap Gendis lirih.

Di balik dinding ruang tengah, Maya berdiri membeku. Ia menyaksikan pemandangan itu dengan hati yang hancur sekaligus terbakar cemburu. Ia merasa rumahnya bukan lagi miliknya. Ia merasa suaminya dan mertuanya mulai direbut oleh wanita asing yang masuk ke hidup mereka secara tiba-tiba.

"Aku tidak akan membiarkanmu menang, Gendis," desis Maya dalam kegelapan. "Aku akan mencari tahu siapa kamu sebenarnya, dan aku akan mengusirmu dengan cara yang paling memalukan."

Gendis yang memiliki pendengaran tajam, seolah bisa merasakan kehadiran Maya di balik dinding itu. Ia semakin merapatkan duduknya ke Ibu Rahayu dan menyandarkan kepalanya di bahu wanita tua itu, seolah ia adalah putri yang sangat merindukan kasih sayang seorang ibu.

Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai. Dan Gendis sudah memenangkan pertempuran pertama tanpa mengeluarkan setetes peluru pun, melainkan hanya dengan secangkir teh herbal yang manis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!