Di papan catur Leone, Nora hanyalah sebuah bidak yang dipahat untuk menahan badai, sementara Stella adalah permata yang disembunyikan di balik sutra. Selama lima tahun, Nora berdiri sebagai tameng, meredam peluru dengan detak jantungnya sendiri demi pria yang tak pernah benar-benar melihatnya kecuali sebagai pelindung bagi cintanya yang sejati.
Namun, setiap baja memiliki titik retak.
Ketika takdir menyajikan dua cawan beracun di atas meja jati, Nora memilih untuk meminum rahasia yang paling kelam. Dia menukar tahta di pesisir California dengan mahkota berduri di ranjang hantu New York. Di kota yang tak pernah tidur, dia tidak datang untuk menjadi perawat bagi jiwa yang koma, melainkan untuk membangun kekaisaran dari sisa-sisa pengkhianatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mutiara yang Menjerat
Tahun-tahun pertama di mansion Adrian Thorne terasa seperti sebuah dongeng yang dipaksakan. Nora Leone, yang terbiasa dengan dinginnya pengabaian ayahnya, tiba-tiba terbangun di sebuah dunia di mana setiap keinginannya adalah perintah, dan setiap kebutuhannya dipenuhi sebelum sempat ia ucapkan.
Mansion Thorne di perbukitan Los Angeles adalah sebuah kastil modern yang megah, dikelilingi taman labirin dan kolam renang yang airnya tampak mencairkan langit biru. Nora menempati kamar utama yang luas, dengan balkon yang menghadap langsung ke Samudra Pasifik. Tempat tidurnya dilapisi seprai linen terbaik, dan lemari pakaiannya, yang awalnya hanya berisi beberapa potong pakaian darurat, kini penuh sesak dengan gaun-gaun rancangan desainer ternama, setelan kasual yang elegan, dan tumpukan kotak sepatu yang tak terhitung jumlahnya.
Awalnya, Nora merasa canggung. Dia seperti seorang penipu yang mengenakan jubah ratu. Saat Martha, sang kepala asisten rumah tangga, membawakannya sarapan di tempat tidur, atau saat seorang penjahit pribadi datang untuk mengukur tubuhnya, Nora merasa ingin bersembunyi. Dia terbiasa menjadi "yang tidak terlihat," putri sulung yang keberadaannya hanya diakui jika ada masalah.
Namun, lambat laun, kedinginan dalam dirinya mulai mencair di bawah kehangatan kemewahan yang konsisten. Kehidupan di mansion Adrian adalah perisai yang kokoh dari kekejaman ayahnya dan cemoohan Stella. Di sini, dia aman.
Dan pusat dari semua keamanan itu adalah Adrian Thorne.
Pria yang awalnya tampak begitu dingin dan mengancam, perlahan-lahan menunjukkan sisi lain yang tak pernah Nora bayangkan. Adrian tidak pernah menuntut apa-apa dari Nora. Dia tidak memaksanya untuk bicara, tidak memaksanya untuk tersenyum. Dia hanya ada, seperti pilar kekuatan di latar belakang kehidupannya yang baru.
Pertama kali perasaannya mulai goyah adalah saat hari ulang tahunnya yang kesembilan belas. Itu adalah hari ulang tahun pertama setelah ibunya meninggal, dan Nora sudah siap untuk melupakannya, menganggapnya sebagai hari biasa yang penuh duka. Namun, saat dia turun ke ruang makan, suasana tampak berbeda. Martha tersenyum aneh, dan suasana ruang makan terasa lebih formal.
Adrian duduk di kepala meja, mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung, menampakkan lengan bawah yang kokoh. Di depannya, terdapat sebuah kotak beludru biru tua.
"Selamat ulang tahun, Nora," ujar Adrian pelan, suaranya seperti denting piano di malam hari. "Aku tahu ini tahun yang berat bagimu. Aku tidak ingin merayakannya secara berlebihan, tapi aku ingin kau memiliki ini."
Dengan tangan gemetar, Nora membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah kalung mutiara yang sangat indah. Mutiara-mutiara itu sempurna, berwarna putih krem dengan kilauan lembut yang tampak memancar dari dalam.
"Mutiara," bisik Adrian, matanya menatap mata Nora dengan intensitas yang aneh. "Mereka terbentuk dari rasa sakit yang lama, dari pasir yang menggores daging tiram. Tapi pada akhirnya, mereka menjadi sesuatu yang sangat indah dan berharga. Seperti kau."
Kata-kata itu menghantam Nora lebih keras daripada tamparan. Adrian tidak hanya memberinya perhiasan mahal; dia memberinya metafora tentang hidupnya. Dia melihat rasa sakitnya, dan dia melihat keindahannya. Saat Adrian melangkah maju dan mengalungkan mutiara itu di lehernya, jari-jarinya yang dingin menyentuh kulitnya, Nora merasa seluruh pertahanannya runtuh. Air mata yang selama ini dia tahan akhirnya jatuh, bukan karena sedih, tapi karena dia merasa... dimengerti.
Sejak hari itu, dinamika di antara mereka berubah. Nora mulai membalas kebaikan Adrian dengan senyuman tulus. Dia mulai menunggunya pulang setiap malam. Dan Adrian, seolah menangkap sinyal itu, menjadi lebih perhatian.
Setiap kali Adrian pulang dari perjalanan bisnis ke luar kota—ke New York, Chicago, atau Las Vegas—dia tidak pernah pulang dengan tangan kosong. Seolah menjadi ritual baru, dia akan membawakannya sebuah gelang emas. Mulai dari rantai emas tipis yang elegan, gelang bangle yang solid, hingga gelang dengan hiasan batu permata kecil.
"Untuk tamengku," bisik Adrian setiap kali dia melingkarkan gelang itu di pergelangan tangan Nora. "Agar kau selalu ingat bahwa kau terlindungi di sini."
Nora, yang saat itu masih begitu naif dan haus akan kasih sayang, menginterpretasikan kata "tameng" dan "terlindungi" sebagai tanda kepemilikan dan cinta. Dia mengira Adrian melihatnya sebagai wanita yang ingin dia miliki dan lindungi karena dia mencintainya. Dia tidak bisa melihat bahwa "tameng" itu memiliki makna yang jauh lebih literal dan kejam.
Setiap sentuhan lembut di pipinya, setiap tatapan hangat yang Adrian berikan saat mereka makan malam bersama, dan setiap hadiah mewah yang diberikan, mempertebal ilusi yang Nora bangun di dalam kepalanya. Dia jatuh cinta. Dia jatuh cinta begitu dalam, begitu putus asa, sehingga dia mulai mengabaikan peringatan-peringatan kecil yang muncul di hatinya.
Dia mulai mengira bahwa mungkin, hanya mungkin, takdir telah memberinya kebahagiaan setelah semua penderitaan. Bahwa Adrian adalah pria yang dikirim untuk menyembuhkan luka-lukanya.
"Kau terlihat sangat bahagia, Nona Nora," ujar Martha suatu sore, saat dia melihat Nora sedang mengagumi koleksi gelang emasnya yang kini sudah memenuhi kotak perhiasannya.
"Apakah itu salah, Martha?" tanya Nora, pipinya merona merah. "Untuk pertama kali dalam hidupku, aku merasa dicintai."
Martha menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kesedihan dan kehati-hatian di mata wanita tua itu. "Kebahagiaan adalah hak setiap orang, Nona. Tapi terkadang, kita harus berhati-hati dengan sumber kebahagiaan itu sendiri. Tidak semua yang berkilau itu emas."
Nora mengabaikan peringatan Martha. Dia terlalu buta oleh cinta barunya. Dia tidak tahu bahwa mutiara di lehernya dan gelang emas di tangannya bukanlah perhiasan, melainkan sutra yang mengikatnya ke dalam peran yang sudah ditentukan oleh Adrian Thorne—sebagai tameng hidup untuk melindungi wanita lain.