NovelToon NovelToon
Se Atap Dengan Mantan Suami

Se Atap Dengan Mantan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mantan
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Jasmine, menikah dengan Aksa adalah mimpi buruk yang ingin ia kubur dalam-dalam. Sebagai anak yatim piatu yang miskin, Jasmine hanya dianggap sampah dan pembantu gratisan oleh keluarga Aksa yang terpandang. Puncaknya, sebuah fitnah kejam membuatnya terusir dari rumah megah itu tanpa membawa sepeser pun uang.

Tiga tahun berlalu, Jasmine bertahan hidup sebagai Professional Housekeeper di sebuah agen elit. Tugas terbarunya adalah mengurus sebuah penthouse mewah milik klien misterius yang sangat menuntut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Bara masuk dengan wajah pucat, tangannya menggenggam tablet yang menyala terang. Tanpa basa-basi, ia meletakkan perangkat itu tepat di depan wajah Aksa.

"Sa, lo harus lihat ini sekarang," ucap Bara dengan nada rendah yang penuh peringatan.

Aksa mengernyit, matanya beralih ke layar tablet. Seketika, rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Di sana, pada website resmi perusahaan terpampang sebuah pengumuman besar dengan foto dirinya dan Clarissa.

"Pewaris Tunggal Mahendra Group, Aksa Mahendra, Resmi Bertunangan dengan Clarissa Adiguna. Acara Akan Digelar Pekan Depan."

Darah Aksa seolah mendidih. Kilat amarah yang meledak-ledak terpancar dari matanya, membuat suasana di ruangan itu seketika terasa menyesakkan.

"Siapa..." desis Aksa, suaranya rendah namun mengandung ancaman mematikan. "Siapa yang berani menaikkan sampah ini di portal perusahaan saya, Bar?!"

"Mami, Sa," jawab Bara cepat. "Beliau menggunakan otoritas tertingginya sebagai dewan komisaris untuk memaksa tim humas menaikkan rilis ini sepuluh menit yang lalu. Sekarang berita ini sudah mulai dikutip oleh media-media besar."

Aksa bangkit dari kursinya dengan gerakan kasar, hingga kursi itu terdorong ke belakang dan menabrak dinding kaca. Ia menyambar ponselnya dengan tangan gemetar karena amarah yang memuncak.

"Take down berita itu sekarang juga, Bar!" bentak Aksa, suaranya menggelegar di seluruh ruangan.

"Sa, tapi Mami..."

"Gue nggak peduli itu perintah Mami atau siapa pun! Di gedung ini, kata-kata gue adalah hukum!" potong Aksa tajam, matanya menghunus ke arah Bara.

"Hubungi tim IT pusat. Perintahkan mereka hapus berita itu dari website dalam hitungan detik. Kalau mereka menolak dengan alasan perintah komisaris, katakan pada mereka bahwa mereka semua gue pecat hari ini juga!"

Bara mengangguk cepat, menyadari bahwa sahabatnya ini sudah berada di titik nadir kesabarannya.

"Gue urus sekarang, Sa. Tapi lo tahu kan, ini bakal jadi perang terbuka sama Mami?"

"Gue nggak peduli," desis Aksa sambil menatap tajam ke luar jendela.

"Sebenarnya apa mau wanita ular itu?" desis Aksa, suaranya rendah namun penuh dengan kebencian yang mendalam.

Bara yang masih berdiri di sana hanya diam, tahu betul bahwa 'wanita ular' yang dimaksud Aksa bukan hanya merujuk pada Clarissa, tapi juga sindiran tajam untuk kelakuan Maminya yang semakin melampaui batas.

Aksa mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tertawa sinis, sebuah tawa hambar yang sarat akan ancaman.

"Sudah baik aku tidak membuangnya."

"Harusnya dia sadar posisi. Kalau bukan karena permintaan terakhir Papi untuk menjaga hubungan baik antar keluarga, Clarissa sudah membusuk di jalanan sejak lama."

......................

Di sebuah kafe mewah yang tertutup untuk umum, Clarissa membanting ponselnya ke atas meja marmer dengan wajah yang merah padam. Napasnya memburu, matanya berkilat penuh amarah saat melihat layar portal resmi Mahendra Group.

"Tante! Lihat ini!" pekik Clarissa saat Sonia baru saja melangkah anggun menghampirinya.

"Aksa benar-benar melakukannya! Dia men-take down berita pertunangan kita hanya dalam waktu tiga puluh menit! Dia mempermalukanku di depan semua orang."

"Sialan anak itu..." desis Sonia.

Sonia tertawa sinis, tawa yang terdengar sangat dingin dan menusuk. Ia tidak menyangka putra tunggalnya akan bertindak sejauh ini.

"Tante, kita tidak bisa diam saja! Semua orang sudah mulai bertanya-tanya kenapa beritanya hilang. Aku mau Aksa segera memberi klarifikasi!" Clarissa mulai terisak paksa, mencoba memancing reaksi yang lebih keras dari Sonia.

"Tenanglah, Clarissa. Kalau dia mau bermain kucing-kucingan, maka kita akan datangi sarangnya," ucap Sonia dengan nada dingin.

Clarissa mendongak, matanya berbinar penuh harap. "Maksud Tante?"

"Nanti malam, kita akan ke apartemen Aksa," jawab Sonia tegas.

"Aku tahu kartu akses cadangan unit itu. Kita akan lihat sendiri sepintar apa Aksa."

Sonia menatap pantulan dirinya di cermin besar kafe itu, merapikan tatanan rambutnya yang sempurna.

"Bersiaplah, Clarissa. Pakai gaun terbaikmu. Kita akan tunjukkan pada mereka siapa yang sebenarnya memegang kendali di sini."

......................

Malam semakin larut saat mobil Aksa akhirnya memasuki area parkir bawah tanah penthouse-nya. Ia sengaja menunda kepulangan hingga malam untuk menghindari kepungan wartawan yang mulai mengendus berita pertunangan palsu di kantornya tadi siang. Wajahnya lelah, namun matanya memancarkan kelembutan saat melirik sebuah buket besar mawar merah segar di kursi penumpang bunga yang tadi sore ia suruh Bara beli secara khusus.

Aksa melangkah masuk ke dalam unitnya dengan gerakan sepelan mungkin. Suasana hening, hanya terdengar gemericik air dari arah dapur. Ia meletakkan buket mawar itu di atas meja makan marmer, lalu berjalan mendekat ke arah Jasmine yang sedang membelakanginya, sibuk mencuci piring sisa memasak.

Tanpa suara, Aksa menyusupkan kedua lengannya di pinggang ramping Jasmine, memeluknya erat dari belakang. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Jasmine, menghirup aroma menenangkan yang selalu ia rindukan seharian ini.

"Masih lama?" bisik Aksa rendah, suaranya serak karena kelelahan.

Jasmine tersentak hebat. Bahunya menegang dan piring di tangannya hampir saja tergelincir kembali ke bak cuci. Jantungnya berpacu liar.

"T...Tuan... lepas,"

"Maafkan saya. Saya benar-benar minta maaf. Saya kira Anda akan pulang jauh lebih malam, jadi saya... saya terlambat menyelesaikan pekerjaan saya. Maafkan saya tidak mematuhi peraturan untuk segera masuk kamar sebelum Anda pulang."

Jasmine menunduk dalam, tangannya yang masih basah gemetar hebat.

"Lupakanlah soal peraturan itu," gumam Aksa dalam. Ia meraih tangan Jasmine yang basah, menggenggamnya erat seolah ingin menyalurkan kekuatan.

"Mulai detik ini, tidak ada peraturan kaku di rumah ini. Kamu bebas berada di mana pun kamu mau, kapan pun itu."

Aksa tidak menghiraukan penolakan Jasmine. Dengan satu gerakan dominan, ia mematikan kran air hingga suara gemericik itu hilang.

Tanpa peringatan, Aksa menyusupkan lengannya di bawah paha Jasmine dan mengangkat tubuh mungil itu untuk duduk di atas meja makan marmer yang dingin.

"Tuan... turunkan saya. Ini tidak sopan," ucap Jasmine dengan napas tersengal, mencoba mendorong bahu kokoh Aksa.

Aksa justru mencondongkan tubuhnya ke depan, mengurung Jasmine dalam kukungan tubuhnya. Kedua tangannya bertumpu di sisi kanan dan kiri tubuh Jasmine, mengunci wanita itu agar tidak bisa melarikan diri ke mana pun.

"Kamu tidak merindukanku, Jasmine?" bisik Aksa dengan suara berat yang menggetarkan udara.

"Aku saja memikirkanmu seharian ini. Setiap menit di kantor, hanya wajahmu yang ada di kepalaku."

Jasmine memalingkan wajahnya ke samping, menghindari tatapan intens Aksa.

"Untuk apa aku merindukanmu... Kita sudah selesai sejak lama, Tuan."

"Hei, lihat aku..." perintah Aksa lembut namun tak terbantahkan. Ia menyentuh dagu Jasmine, memaksa wanita itu kembali menatap matanya.

Tanpa memberikan kesempatan bagi Jasmine untuk memprotes lagi, Aksa membungkam bibir Jasmine dengan ciuman yang dalam dan menuntut.

Jasmine tertegun, tangannya mencoba mendorong dada bidang Aksa, agar segera menjauh darinya.

Namun, terdengar bunyi klik yang sangat pelan dari arah pintu masuk. Pintu penthouse terbuka pelan, menunjukkan bahwa ada seseorang yang menggunakan kode akses cadangan.

Langkah kaki terdengar mendekat ke arah area dapur yang terbuka. Begitu Sonia dan Clarissa melangkah masuk, langkah mereka terhenti seketika. Tubuh mereka mematung, wajah mereka memucat lalu berubah merah padam saat terpaku melihat pemandangan di depannya.

Di atas meja makan mewah itu, putra kebanggaan keluarga Mahendra sedang mencumbu seorang pelayan dengan begitu mesra, seolah dunia milik mereka berdua.

"AKSA?!" pekik Sonia, suaranya melengking tajam hingga memecah keheningan malam dan memaksa kedua orang itu tersentak melepaskan diri.

1
Redmi Nam
Jasmine jangan membangunkan singa tidur..
tuh singanya muaraaah😄😄😄
vita
knp cerita ini jarang update sih kak
Redmi Nam
jangan lama" punya thor🙏
Kaknia
suka jl ceritanya 👍👍😘
sunaryati jarum
Nah gitu jika cinta perjuangkan
sunaryati jarum
Kamu benar Yasmine ,Nak Aksa dengarkan Bara kau jangan mempersulit Yasmine, kasihan
sunaryati jarum
Kau jatuh cinta sama mantanmu
Aidil Kenzie Zie
ngapa nggak ambil kamar yang ada pintu penghubungnya
mini
hah,,, ikut plong aku😍
Kaknia
suka alur ceritanya
Kaknia
bucin Aksa 😂🤭
Kaknia
seruuuuuuu
partini
dihhh felakor
Kaknia
semakin seruuuu ceritax tapi nanggung banget masih penasaran😭
partini
tamat sudah kamu Jasmine
Kaknia
astagaaa semoga Jasmine TDK knp knp 😭
Kaknia
mantap ceritax
Kaknia
semoga Jasmine TDK knp knp dan semoga Aksa pembela terdepanx
Kaknia
Semoga Bisa Bersatu Kembali.......
Suka Ceritax Seruuuuu....
Risa Virgo Always Beau
Jasmine mending kamu bertahan saja kerja sama Aksa di banding kamu di denda seratus juta
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!