Dunia runtuh bukan karena virus itu sendiri—melainkan karena vaksin yang dijanjikan sebagai penyelamat. Saat wabah menyebar dan ketakutan menguasai setiap sudut kota, pemerintah memerintahkan seluruh rakyat untuk menerima vaksin demi mencegah penularan. Mereka percaya itu adalah harapan terakhir umat manusia. Namun harapan itu berubah menjadi bencana.
Vaksin yang seharusnya melindungi justru memicu mutasi tak terduga. Tubuh manusia berubah, naluri mereka terdistorsi, dan kemanusiaan perlahan terkikis. Dalam hitungan waktu, peradaban yang dibangun selama ratusan tahun runtuh—bukan oleh penyakit, tetapi oleh “obat” yang diciptakan untuk menghentikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Sembilan — Musuh Berubah Menjadi Kawan
Selamat membaca ceritaku semoga kalian suka yaa...
Pintu mulai menutup. Tepat saat celah hampir tertutup suara langkah terdengar di ujung lorong atas, cepat dan terlalu teratur. Lampu di lorong berkedip. Sistem mulai reboot.
Pintu lift tertutup sempurna, Niki menekan tombol manual turun, lift bergerak lambat, terlalu lambat. Suara gesekan kabel terdengar seperti keluhan logam tua. Jay menatap angka kecil di panel.
2…
3…
Turun lebih dalam, udara di dalam lift terasa lebih dingin. Lebih lembab.
Arsya merasakan dadanya semakin berat. “Kalau ini jebakan?” bisik Vano. Jay tidak langsung menjawab. “Kalau ini jebakan,” katanya akhir pelan, “berarti kita sudah terlalu dekat dengan sesuatu yang mereka sembunyikan.”
Lift berhenti mendadak, lampu merah berkedip dua kali, lalu mati. Gelap. Hening. Hanya suara nafas mereka, kemudian lift benar-benar berhenti total.
Dan terdengar suara logam besar bergeser di luar. Seperti sesuatu, sedang berdiri tepat di depan pintu lift mereka. Jay dalam diam, menggerakan tangannya menyuruh mereka semua merunduk merendah, tepat dengan pintu lift terbuka.
Mereka bisa melihat sosok besar dengan kaki yang besar, berdiri di depan lift. Arsya menahan nafas dan ketiga pemuda itu hanya bisa menggertakan rahang mereka agar tidak mengeluarkan suara satu pun.
Sosok raksasa yang pernah mereka lihat di hutan, ternyata menjadi penjaga lift di sublevel 3, sosok itu hanya diam, sampai tidak mendengar suara yang keluar. Ia melangkah meninggalkan lift tersebut dengan dengusan kesal.
Jay langsung mengintip keluar, dengan gerakan cepat mereka langsung keluar dari lift, tepat mereka berpindah tempat lift tersebut di hantam oleh sesuatu dari atas sampai hancur lebur. Dentuman itu masih menggema ketika debu logam berjatuhan dari atas lorong.
Lift yang baru saja mereka tinggalkan—hancur. Penyok, terbelah, kabel-kabelnya terurai seperti usu besi yang tercabik. Arsya menelan ludahnya keras. Jika mereka terlambat satu detik saja.. Jay menarik pergelangan tangannya, memaksanya kembali fokus.
“Jangan lihat ke belakang,” bisik nya tegas.
Sublevel 3 berbeda.
Langit-langitnya lebih rendah. Lampunya jarang dan redup. Dindingnya bukan lagi beton kasar, melainkan panel baja gelap dengan kaca pengamatan di beberapa sisi. Beberapa kaca retak. Beberapa… berembun dari dalam.
Suara nafas berat terdengar jauh di lorong kiri, Niki membuka peta lagi dengan cepat. “Kita di sini,” jarinya menunjuk titik kecil di sudut.”ruang inti ada dua lorong lagi. Tapi—”
Sebuah dengusan berat kembali terdengar. Lebih dekat.
Vano langsung mengangkat senjata yang tadi mereka ambil. “Dia patroli.” Jay mengangguk pelan. “Dan dia tidak sendirian.”
Seolah menjawab ucapan itu, lampu di ujung lorong menyala satu per satu. Menampakan siluet lain, tidak sebesar penjaga raksasa tadi. Tapi lebih banyak, tiga.
Bentuk tubuh mereka tidak proporsional. Bahu melebar tak wajar. Lengan terlalu panjang. Gerakan mereka tersentak-sentak seperti mesin yang belum sempurna.
Produk berhasil.
Tapi tidak sepenuhnya manusia lain, Arsya merasakan darahnya mendidih. Namun kali ini bukan karena takut. Melainkan karena marah. Jay memberi isyarat cepat, formasi menyebar. Lorong ini terlalu sempit untuk pertarungan terbuka. Niki menunjuk ruangan kaca di sisi kanan.
Kosong.
“Masuk,” bisiknya. Mereka menyelinap masuk tepat sebelum makhluk pertama melewati persimpangan. Dari balik kaca satu arah, mereka bisa melihat makhluk itu jelas. Wajahnya, masih menyimpan sisa manusia.
Tapi matanya kosong, benar-benar kosong. Seperti rakyat yang mereka lihat di kota Sejuk. Arsya mengepalkan tangan. “Itu…” suaranya nyaris tak terdengar. “Mereka…”
Jay mengangguk kepala pelan. “Versi stabil.” langkah makhluk itu berhenti, kepalanya miring, seolah mencium sesuatu di udara.
Hening.
Niki menahan nafas, makhluk itu mendekat ke arah ruangan mereka. Satu langkah…dua langkah…tiga…
Tiba-tiba alarm kecil berbunyi dari lorong belakang. Bukan alarm besar. Hanya notifikasi sistem, makhluk itu langsung menoleh lalu berlari ke arah sumber suara. Ketiga lainnya mengikuti. Jay langsung menatap Niki. “Max.”
Niki mengangguk pelan.
Pengalihan. Waktu tambahan.
Arsya menatap punggung makhluk-makhluk itu yang menjauh. Untuk sesaat, ia membayangkan, bagaimana jika salah satu dari mereka adalah orang yang dulu punya keluarga? Punya nama? Punya mimpi?
Rahangnya kembali mengeras.
“Kita tidak bisa menyelamatkan semuanya,” bisik Vano pelan, seolah-olah membaca pikirannya. Jay menatap ke ujung lorong yang kini kosong. “Tapi kita bisa menghentikan mesin yang menciptakan mereka.”
Ia menatap ke arah pintu baja besar di ujung sublevel.
Tertulis sama:
CORE CONTROL - AUTHORIZED PERSONNEL ONLY.
Di balik pintu itulah, jawaban yang mereka cari. Dan mungkin sumber dari seluruh neraka ini. Jay menghela nafas dalam, “ini titiknya.”
Arsya melangkah lebih dulu kali ini. Matanya tidak lagi gemetar, hanya satu hal yang tersisa di sana—tekad.
Melihat Arsya berjalan lebih dulu, Jay langsung mengikutinya dengan langkah cepat menyusul gadis itu. Dan menahannya, “jangan gegabah, sya.” Arsya menolehnya dengan tatapan yang berbeda dan perlahan sedikit berubah. Jay mengerutkan kening namun tetap tidak berkata apapun.
Seakan jiwa Arsya seperti ada sosok lain dalam diri gadis itu. Vano dan Niki sudah melangkah mendekati mereka. Dan segera mereka berempat masuk ke dalam ruangan tersebut dengan persiapan senjatanya.
Pintu baja itu menghantam dinding saat terbuka penuh.
Ruangan inti tidak sebesar yang mereka bayangkan tapi dipenuhi layar. Monitor-monitor tinggi menampilkan grafik detak jantung, rekaman eksperimen, jalur distribusi vaksin, hingga daftar nama yang terus bergerak seperti antrian kematian.
Tiga penjaga berseragam hitam reflek mengangkat senjata.
Terlambat.
Arsya sudah lebih dulu bergerak, satu langkah cepat. Putaran tubuh. Gagang tongkat baseballnya menghantam pelipis penjaga pertama.
BRAK!
Pria itu tumbang sebelum sempat menekan pelatuk. “Sudah waktunya kita bertarung,” ucapnya dingin.
Penjaga kedua menembak. Jay menarik Arsya ke samping tepat waktu. Peluru langsung menghantam panel layar, percikan listrik menyambar. Vano membalas tembakan terarah, bukan untuk membunuh tapi melumpuhkan. Peluru menembus bahu penjaga itu, senjatanya jatuh.
Niki sudah berada di sisi kanan ruangan, menendang kaki penjaga ketiga hingga terjerembab, lalu menghantam tengkuknya dengan siku.
Sunyi.
Hanya suara monitor yang berdengung akibat layar pecah. Jay menatap Arsya, gadis itu berdiri tegak, nafasnya cepat tapi stabil. Tatapannya tajam, terlalu tajam seperti ada sesuatu yang berbeda. Bukan sekedar marah. Seperti… pelepasan.
“Fokus,” ujar pelan. Arsya berkedip sekali, seolah baru kembali.
Niki sudah duduk di depan konsol utama. “Wah… ini dia jantungnya.” layar terbesar menampilkan peta Kota Abadi dengan titik-titik merah berkedip. Setiap titik, subjek aktif, versi berhasil.
Di sisi lain layar, daftar jadwal distribusi vaksin diperluas ke wilayah perbukitan perbatasan. Jay Menegang, “mereka akan naik ke perbukitan.”
“Besok pagi,” jawab Niki cepat membaca data. “Operasi sapu bersih.” Vano mendecak pelan. “Kita tidak punya banyak waktu.”
Arsya mendekat ke layar lain. Di sana ada folder bertuliskan :
PHASE KANIHU – STABILIZATION
Tangannya gemetar saat membuka file itu, video - video eksperimen muncul. Jeritan, tubuh yang berubah, dan manusia yang memohon dan satu file terbaru dengan label :
SUBJECT 071 – FAMILY LINE OBSERVATION
Arsya membeku, Jay melihat perubahan wajahnya. “Sya?” ia memutar layar sedikit, foto keluarga.
Dua orang tua dengan tertulis, status: Derained – Non Eligible Trial (Genetic Risk)
Lokasi : Holding Sector B
Arsya terdiam. Mereka masih hidup, “Jay…” suaranya nyaris pecah. Niki menoleh cepat. “Apa?”
“Mereka di sini.”
Keheningan jatuh sesaat. Vano melihat ke pintu. “Kita tidak bisa ambil semua orang.” Jay menatap Arsya. Gadis itu menoleh bali, tatapannya kini bukan marah melainkan memohon. Hanya satu detik, Jay menghela nafasnya berat. “Kita ubah rencana.”
Niki langsung berdiri. “Kau serius?”
“Kita hancurkan sistem utama dan buka semua sel penahanan.”
“Itu akan memicu lockdown penuh!”
“Memang.” Jay mengambil drive kecil dari sakunya, alat penyalin data. “Salin semua bukti, viruskan sistem distribusi. Buat mereka kehilangan kendali.” Niki tersenyum lebar. “Nah… ini baru gila yang elegan.”
Alarm kecil tiba-tiba berbunyi di salah satu layar.
Lift logistik: Offline total
Penjaga sublevel: Bergerak ke Core
Vano menatap Jay. “penjaga raksasa itu menuju ke sini.” dentuman berat terdengar dari lorong luar. Sekali, dua kali, dan semakin dekat. Arsya mengangkat senjatanya, untuk pertama kalinya sejak masuk gedung itu, ia tersenyum. “Bagus.”
Jay berdiri di sampingnya. “Kali ini jangan jalan sendirian.”
Dinding ruangan bergetar saat sesuatu menghantam pintu baja dari luar. Retakan pertama muncul di tengah pintu, Niki masih mengetik cepat. “Empat puluh persen… tiga puluh sembilan…”
Vano mengokang senjatanya, Arsya menarik nafas panjang. “Untuk semua yang mereka hancurkan.” dentuman berikutnya membuat engsel pintu terlepas. Dan saat pintu itu akhirnya roboh.
Debu dan serpihan logam berhamburan saat sosok raksasa penjaga Sublevel 3 berdiri di ambang ruangan. Matanya menyala redup–bukan hanya cahaya mesin, tapi sesuatu yang lain. Dan kali ini, ia tidak sendiri.
Tiga raksasa berdiri berjajar di belakangnya. Namun yang Arsya lihat bukan ancaman, melainkan harapan yang tersisa di balik tubuh yang telah direnggut kemanusiaannya. Tatapan itu kosong, tapi tidak sepenuhnya mati.
Seolah masih ada jiwa yang terjebak di dalam sana. “Semua sudah disalin,” ujar Niki cepat tanpa mengalihkan pandangan dari layar. “Dan kunci ruang penahanan sudah terbuka.” Jay masih menahan lengan Arsya ketika gadis itu melangkah maju.
“Sya, jangan—” Arsya melepaskan tangannya perlahan. Ia berjalan mendekat, satu langkah, lalu berhenti dalam jarak aman dari ketiga raksasa itu.
“Kami akan menyelamatkan keluarga kalian yang masih ada,” ucapnya lantang namun lembut. “Jika itu yang kalian tunggu.. Bantu kami menyelamatkan mereka. Jangan biarkan mereka merasakan apa yang kalian rasakan.”
Niki menoleh, ragu. “Sya… kau yakin mereka bisa mendengar?” ketiga raksasa itu memang dikenal sebagai penjaga yang patuh. Terkendali, tidak memiliki kehendak. Tapi kini— mereka tidak menyerang.
Salah satu raksasa yang paling tinggi perlahan menundukkan kepala, gerakan berat namun jelas. Matanya menatap Arsya dengan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan selain… kesedihan. Seolah penyiksaan yang mereka alami bukan hanya rasa sakit fisik, melainkan ancaman terhadap orang-orang yang mereka cintai.
Mereka dikendalikan.
Tapi bukan karena patuh, melainkan karena dipaksa. Arsya menelan nafasnya, lalu berkata dengan suara lebih tegas, “Kami tidak akan menyakiti kalian. Dan kalian juga jangan menyakiti kami.”
Hening sejenak memenuhi ruangan.
Jay, Vano, dan Niki bersiap jika sewaktu-waktu situasi berubah. Namun– ketiga raksasa itu mengangguk, bersamaan pelan tapi berat dan penuh arti. Jay terdiam. Niki bahkan menurunkan senjatanya sedikit. Arsya tersenyum kecil, “terima kasih.” dan untuk pertama kalinya sejak mereka menginjak Sublevel 3—mereka tidak lagi berdiri sebagai musuh.
Terima kasih sudah membaca jangan lupa beri like dan vote untukku yaa.. support system bagiku💖