NovelToon NovelToon
Susuk Suanggi

Susuk Suanggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Iblis
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

​Setelah diperkosa secara massal oleh 10 warga desa dan diusir secara hina oleh suaminya sendiri akibat fitnah rekaman video, Ratri menempuh jalan kegelapan. Ia memasang susuk emas "Suanggi" dari seorang dukun di hutan Weling , di organ vitalnya.

Kini, ia kembali bukan untuk cinta, tapi untuk membalas pada kejantanan mereka dan nyawa siapa pun yang pernah menyakitinya.

Namun, kehadiran seorang Ustadz muda bernama Fatih membawa pilihan sulit , terus memupuk dendam yang memakan jiwanya, atau melepaskan iblis itu demi sebuah ampunan yang tak terduga dan hidup dengan nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sugeng Datang..

​Desa Sukomaju pagi itu,tampak lebih bergairah dibanding Desa Karang Jati. Desa yang letaknya hanya terpisahkan oleh aliran sungai besar dan hamparan hutan jati ini memang lebih maju, namun tetap saja, kabar tentang "Nyonya Kota" yang baru menetap di sana menjadi magnet pembicaraan di setiap sudut galengan sawah.

​Sugeng berangkat dengan motor bebek tuanya yang berasap tipis. Ia mengenakan kemeja batik yang paling bagus, rambutnya diminyaki klimis, dan dadanya dibusungkan sebuah upaya untuk menutupi rasa was-was yang sebenarnya masih berdenyut di ulu hatinya. Di kepalanya, suara Pak RT Hardo terus bergema: Cari tahu motifnya. Kalau perlu, rayu dia.

​Sesampainya di perbatasan Sukomaju, Sugeng berhenti di sebuah pangkalan ojek. Ia berpura-pura menanyakan alamat sambil memancing informasi.

​"Oh, Nyonyah Ratri? Waduh, Mas, dia itu orang hebat. Baru sebulan di sini tapi sudah beli tanah warga yang di pinggir jalan raya itu. Katanya mau dibangun supermarket modern yang ada pendingin udaranya. Kami warga sini senang sekali, jadi tidak perlu jauh-jauh ke kota kalau mau beli barang bermerek," ujar seorang tukang ojek dengan wajah berseri-seri.

​Sugeng menyesap rokoknya, mencoba bersikap santai. "Hebat ya. Dia sendirian di sini? Suaminya mana?"

​"Kabarnya sih suaminya pengusaha besar di kota, Mas. Masih sibuk urus bisnis di sana, jadi Nyonyah Ratri dulu yang turun tangan mengawasi pembangunan di sini. Katanya nanti kalau sudah jadi, suaminya baru menyusul. Di rumah besarnya itu cuma ada dia, beberapa pembantu dari luar desa, dan penjaga keamanan," lanjut tukang ojek itu.

​Mendengar kata "suami di kota", Sugeng tersenyum miring. Dalam pikirannya yang kotor, ia berasumsi bahwa Ratri hanyalah simpanan atau istri muda yang sedang "dibuang" sementara ke desa dengan fasilitas mewah. Tipikal laki-laki seperti Sugeng, ia merasa kecantikan dan kemewahan wanita adalah sesuatu yang bisa dibeli atau ditaklukkan dengan nyali.

​"Saya ini teman lamanya dari Karang Jati. Berniat mau melamar kerja kalau supermarketnya sudah jadi. Bisa antar saya ke rumahnya?" tanya Sugeng.

​Tukang ojek itu setuju dan memandu jalan. Sugeng membuntuti dari belakang. Semakin masuk ke jantung Desa Sukomaju, matanya mulai menangkap pemandangan yang mencolok. Di antara rumah-rumah penduduk yang rata-rata masih berbentuk joglo kayu atau bata ekspos, berdiri sebuah bangunan minimalis dua lantai yang sangat megah. Pagar besarnya menjulang tinggi, dicat hitam legam dengan aksen emas yang elegan. Halamannya ditanami rumput Jepang yang rapi dan bunga-bunga hias yang tampak mahal.

​Sugeng turun dari motornya dengan perasaan campur aduk. Terpesona sekaligus merasa kerdil. Di depan gerbang, seorang pria berseragam safari gelap dengan tubuh tegap berdiri berjaga. Seorang satpam desa yang tampak sangat profesional.

​"Ada keperluan apa, Mas?" tanya satpam itu dengan suara bariton yang tegas.

​Sugeng berdehem, mencoba menstabilkan suaranya. "Saya Sugeng, dari Desa Karang Jati. Saya... teman lama Nyonyah Ratri. Ingin bersilaturahmi sekaligus tanya-tanya soal lowongan kerja di supermarket nanti."

​Satpam itu menatap Sugeng dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan pandangan menyelidik. "Tunggu sebentar. Saya harus lapor ke majikan dulu."

​Satpam itu masuk ke dalam pos jaga, berbicara melalui alat komunikasi genggam. Sugeng menunggu di depan pagar sambil sesekali membenahi kerah kemejanya. Ia menatap ke arah jendela lantai dua yang tertutup gorden sutra berwarna merah marun. Ia tidak tahu bahwa di balik gorden itu, sesuatu sedang memperhatikannya.

​Di dalam rumah, tepatnya di sebuah kamar khusus yang terletak di bagian paling belakang—kamar yang selalu terkunci dan tidak boleh dimasuki oleh pembantu mana pun—suasana terasa sangat berbeda dengan kemewahan ruang tamu.

​Kamar itu remang-remang, hanya diterangi oleh beberapa batang lilin merah yang mengeluarkan aroma kemenyan dan darah ayam. Di tengah ruangan, Ratri duduk bersimpuh di depan sebuah cermin besar berlapis perunggu. Di tangannya terdapat piring kecil berisi jantung ayam hitam yang masih segar.

​"Makanlah... makan yang banyak. Sebentar lagi tamu kita akan memberikan hidangan yang lebih lezat," bisik Ratri dengan suara yang tidak menyerupai suaranya sendiri. Suaranya terdengar ganda, seperti ada geraman binatang yang menyelinap di sela kata-katanya.

​Di cermin itu, pantulan wajah Ratri tampak mengerikan. Wajah cantiknya sesekali berubah menjadi moncong anjing hitam dengan taring-taring panjang yang meneteskan liur. Itulah Suanggi. Jin jahat yang kini menyatu dengan susuk emas di kemaluannya. Iblis itu sedang lapar, dan ia mencium aroma yang sangat kuat dari arah gerbang depan.

​Bip.

​Alat komunikasi di atas meja berbunyi. Suara satpam terdengar, "Nyonyah, ada pria bernama Sugeng dari Karang Jati di depan gerbang. Katanya teman lama."

​Ratri berhenti mengusap cermin. Matanya berkilat merah sesaat sebelum kembali ke warna hitam yang jernih. Sebuah senyuman manis namun mematikan terukir di bibirnya.

​"Sugeng... si mulut besar itu akhirnya datang sendiri ," gumam Ratri.

​Ia meletakkan piring jantung ayam itu ke dalam sebuah kotak kayu jati di bawah tempat tidur. Dengan tenang, ia merapikan rambutnya dan memoles bibirnya dengan lipstik merah tua. Ia menekan tombol komunikasi.

​"Persilahkan dia masuk, Pak Har. Bawa ke ruang tamu. Suruh Mbok Nah buatkan minuman dingin yang paling manis untuknya. Beritahu dia, saya akan segera turun."

​Sugeng melangkah masuk melewati gerbang yang dibuka lebar. Sepatu pantofelnya yang sedikit berdebu menginjak lantai marmer teras yang sangat bersih. Begitu pintu kayu jati besar di depan terbuka, ia disambut oleh hawa sejuk dari pendingin ruangan dan aroma pengharum ruangan yang mahal.

​"Silahkan duduk, Mas Sugeng. Nyonyah akan segera turun," ucap Pak Har, si satpam, sebelum kembali ke posnya.

​Sugeng duduk di atas sofa beludru yang sangat empuk, jenis sofa yang mungkin harganya setara dengan hasil panen jagung seluruh desa selama setahun. Matanya liar memperhatikan sekeliling. Di dinding ruang tamu itu, tidak ada foto suami Ratri. Yang ada hanya lukisan-lukisan abstrak berwarna merah dan hitam yang memberikan kesan misterius.

​"Luar biasa... Ratri benar-benar jadi orang kaya," bisik Sugeng pada diri sendiri.

​Ia menyandarkan punggungnya, mulai merasa percaya diri kembali. Ia membayangkan jika ia bisa kembali "menaklukkan" Ratri, maka harta ini pun bisa ia rasakan. Pikirannya mulai melayang pada rencana-rencana busuk untuk memeras Ratri atau setidaknya menjadi "orang kepercayaan" di sini.

​Tak lama kemudian, seorang pembantu tua datang membawa nampan berisi segelas jus jeruk berwarna merah pekat yang tampak sangat segar, lengkap dengan butiran es yang beradu dengan gelas kristal.

​"Silahkan diminum, Mas. Ini minuman spesial dari Nyonyah," ucap si pembantu dengan suara datar, nyaris tanpa ekspresi, lalu pergi begitu saja.

​Sugeng yang merasa haus setelah perjalanan panas langsung menyambar gelas itu. Tegukan pertama terasa sangat manis, namun ada rasa getir yang samar di ujung lidahnya—seperti rasa zat besi atau logam. Ia mengabaikannya, menganggap itu mungkin rasa dari buah impor yang mahal.

​Saat ia sedang menikmati minumannya, terdengar suara langkah kaki dari tangga melingkar di tengah ruangan. Tak... tak... tak...

​Sugeng menoleh dan jantungnya seolah berhenti berdetak.

​Ratri turun dengan anggun. Ia mengenakan baju tidur satin berwarna merah hati yang dilapisi jubah sutra tipis yang tembus pandang. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan tergerai menutupi sebagian bahunya yang putih mulus. Di bawah lampu kristal ruang tamu, kulit Ratri tampak bersinar seperti porselen mahal.

​Kecantikannya saat itu berkali-kali lipat lebih kuat dibanding saat di toko material kemarin. Ada daya pikat magis yang keluar dari setiap gerak-geriknya, sebuah energi yang memaksa syaraf-syaraf nafsu Sugeng untuk bekerja di luar kendali.

​"Lama tidak bertemu denganmu secara resmi, Mas Sugeng," ucap Ratri sambil duduk di sofa tunggal di depan Sugeng. Ia menyilangkan kakinya, memperlihatkan betisnya yang jenjang.

​Sugeng sampai lupa cara bernapas. "Ra... Ratri... ah, maksud saya Nyonyah Ratri. Rumahmu... sangat hebat. Kamu benar-benar sudah berubah."

​Ratri tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat seksi namun membuat telinga Sugeng sedikit berdenging. "Panggil Ratri saja seperti dulu, Mas. Kita kan punya banyak 'kenangan' bersama di ladang jagung, bukan?"

​Mendengar kata "ladang jagung", Sugeng sedikit tersentak, namun pesona Ratri segera menghapus rasa takutnya. "Ah, soal itu... kami semua sebenarnya menyesal, Ratri. Terutama saya. Saya ke sini sebenarnya ingin minta maaf, sekaligus dengar-dengar kamu mau bangun supermarket?"

​"Minta maaf?" Ratri mencondongkan tubuhnya ke arah Sugeng. Aroma melati yang sangat kuat mulai menyerang penciuman Sugeng. "Laki-laki seperti kalian tidak butuh kata maaf, Mas. Kalian butuh... hadiah. Dan aku sudah menyiapkan hadiah yang sangat istimewa untukmu karena sudah jauh-jauh datang menemuiku."

​Ratri menatap mata Sugeng dengan sangat dalam. Sugeng merasa dunianya mulai berputar. Jus yang ia minum tadi mulai bereaksi, memberikan sensasi panas yang menjalar dari tenggorokan menuju ke arah perut bagian bawah. Gairahnya bangkit dengan sangat cepat, jauh lebih kuat dari biasanya. Ia merasa sangat kuat, sangat perkasa, namun di saat yang sama, ia merasa kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri.

​"Kamu mau melihat-lihat rumahku, Mas? Di atas... pemandangannya lebih bagus. Terutama di kamarku," bisik Ratri dengan nada menggoda yang mematikan.

​Sugeng berdiri dengan mata yang sedikit berkabut karena pengaruh "minuman spesial" dan sihir susuk Ratri. "Tentu... tentu, Ratri. Aku ingin melihat semuanya."

​Ia mengikuti langkah Ratri menaiki tangga. Sugeng tidak menyadari, bahwa setiap langkah yang ia ambil adalah langkah menuju sebuah jebakan tak kasat mata. Ia tidak menyadari bahwa di balik jubah sutra Ratri, ada bayangan seekor anjing hitam yang sedang menjulurkan lidahnya, siap menyambut "hadiah" yang sebentar lagi akan dipersembahkan oleh majikannya.

1
Lis Lis
yaaaaa blm Up 😭😭😭😭
Lis Lis
sukurlah .....
kirain istrinya yg di bacok
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨
ceritanya udah bagus, Thor. tapi alangkah lebih baiknya, kalau cerita ini di cari tau asal usul Suanggi itu darimana, lalu dibuat lokasinya ditempat asal Suanggi, dari wilayah Timur Indonesia, sesuai adat budayanya pasti lebih ngena.

dan jangan lupa, perdalam literasi, hantu Suanggi itu apa, dan untuk apa.
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya. satu lagi. Suanggi itu hanya ada di seputaran Sulawesi. asalnya asli dari Pulau Suanggi. gak ada di Pulau manapun.

dia bukan susuk, tapi ilmu hitam yang diturunkan melalui warisan keluarga.

suanggi gak pernah muncul memangsa korbannya dalam wujud manusia, tetapi sudah berubah bentuk menjadi makhluk yang diinginkannya saat memakan mangsanya.

ibarat Kuyang, adanya cuma di Kalimantan, begitu juga Suanggi, adanya ahanya di Wilayah Timur Indonesia, di Pulau Suanggi, Pulau Sulawesi, Pulau Papua, dan sekitarnya.

jadi kalau di buat versi Jawa gak ngena dianya.
total 2 replies
Mersy Loni
lanjut thor
Bp. Juenk
mampir di karya saya Thor "Siapa Aku"
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Hmm ..... sepertinya Pakk RT salah satu pelaku yang menganiaya Ratri 🤔

kalau benar demikian, siap siap aja Pakk RT jadi korban Ratri seperti Pakk Karno
Skay Skayzz
ngeri bngtt
Rembulan menangis
blm juga up ya best uda nunggu dri kmarin
Bp. Juenk
Hutan weling itu dimana ka
Halwah 4g: ada d ujung hutan ,Bwah bukit, di lembah 🤭
total 1 replies
Bp. Juenk
Ampun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!