Farhan bercerai dengan Sinta, wanita yang ia nikahi selama tiga belas tahun. . Farhan jatuh cinta dengan wanita lain,, maka Sinta memilih mundur.
Setelah perceraiannya Farhan menikahi wanita pujaannya itu. Rani seorang janda beranak satu bernama Claudia. Sosok wanita rapuh, yang selalu membutuhkan dirinya. Farhan ingin jadi seseorang yang dibutuhkan di dalam keluarga. Tidak seperti Sinta yang terlalu mandiri.
bagaimana kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEMAKIN BERANI
Hari demi hari berlalu, Farhan makin sibuk. Pria itu jadi jarang di rumah, walau demikian, Farhan tak pernah abai dengan perannya sebagai ayah maupun suami.
"Sayang, kamu sakit?" tanya Farhan pada sang istri. Rani.
"Nggak kok!" jawab Rani sambil menggeleng.
"Tapi wajah kamu agak pucat. Kita periksa ya!" ajak Farhan khawatir.
"Aku nggak apa-apa sayang. Kamu kerja aja," sahut Rani merasa baik-baik saja.
"Tapi ...."
"Udah, nggak usah khawatir. Aku nggak kenapa-kenapa kok!" ujar Rani meyakinkan.
Akhirnya Farhan pasrah, Rani membantu suaminya mengepak baju-bajunya, Farhan akan keluar kota selama dua hari.
"Sayang, aku pergi ya. Jaga rumah dan anak-anak kita!" pamitnya ketika sampai di luar rumah.
"Iya sayang!" angguk Rani melepas suaminya.
Farhan menaiki mobil dan kendaraan itu keluar dari pekarangan. Ketika melewati tikungan perumahan, sebuah motor melintas dan bersisian. Kepala Farhan menatap pemotor itu. Keningnya berkerut.
"Perasaan motor itu sering aku lihat?" gumamnya.
"Ada apa, Pak?" tanya supir.
"Ah ... Tidak apa-apa, Pak!" jawab Farhan lalu menggeleng pelan.
"Semua orang pasti punya motor!" gumamnya lagi dalam hati.
Sementara motor tadi berhenti tepat di depan rumah Rani. Ia turun dari kendaraanya dan langsung memencet bel.
Seorang pria bertubuh kurus keluar. Ia menatap pria yang masih pakai helm di luar pagar.
"Cari siapa Pak?" tanyanya curiga.
Iqbal menatap pria itu, sedikit takut. Tapi ia memberanikan diri.
"Ini benar rumah Bu Rani?" tanyanya.
"Bukan, ini bukan rumah Bu Rani!" jawab pria kurus itu tegas.
Iqbal menelan saliva kasar, ia tentu tak berani untuk ngotot jika itu rumah wanita yang masih jadi istrinya.
"Ah ... Maaf pak, mungkin saya salah alamat. Soalnya dia bilang rumahnya di sini!" sahut Iqbal lalu kembali menaiki motornya dan berlalu dari sana.
Di lantai atas, Rani sedang bersolek. Ia meraih semua dress dari lemari dan melemparnya ke kasur.
"Baju yang bagus yang mana!" gerutunya kesal.
Lalu pilihannya jatuh pada sebuah dress lama. Dress warna putih dengan aksen bunga sakura. Rani memakainya.
Masih pas di tubuhnya yang ramping. Sebuah kalung bermata rubi merah ia kenakan dan jam tangan. Tas merk Gucci ia sandang setelah memasukkan dompet Hermes dan ponsel iPhone terbarunya.
Rani menggerai rambutnya begitu saja. Sebagai pemanis, ia memakai bandana mutiara, memakai wedges warna pink pucat. Ia benar-benar terlihat sempurna dan menunjukkan kelasnya.
Rani menatap pantulan dirinya di cermin besar dengan senyum puas. Dress bunga sakura itu adalah saksi bisu masa lalunya bersama Iqbal—gaun yang dulu dibeli dengan sisa uang judi terakhir pria itu.
Namun kini dipadukan dengan kemewahan hasil keringat Farhan. Rani sedang memainkan api yang sangat panas; ia berdandan layaknya nyonya besar untuk menemui pria yang hampir menghancurkan hidupnya.
Rani turun tangga dengan langkah anggun, suara wedges-nya beradu halus dengan lantai marmer.
Bi Asih yang sedang menggendong Rafna di ruang tengah sampai terpana melihat majikannya.
"Nyonya... mau pergi? Cantik sekali," puji Bi Asih tulus, meski hatinya bertanya-tanya mengapa Rani berdandan seistimewa itu saat suaminya baru saja berangkat ke luar kota.
"Iya, Bi. Ada urusan arisan sama teman-teman lama. Titip Rafna ya, jangan sampai telat kasih susu," jawab Rani tanpa menoleh sedikit pun pada bayinya.
Ia mengambil kunci mobil di atas meja.
“Claudia sudah makan?” tanyanya.
“Sudah, Nyonya. Dia lagi belajar di kamar.”
“Bagus.”
Tanpa berkata apa-apa lagi, Rani keluar dari rumah.
Ia langsung melenggang keluar menuju garasi.
Mobil Mercedes Benz warna merah milik Rani meluncur keluar gerbang.
Ia tidak tahu bahwa di seberang jalan, di bawah pohon rindang, Iqbal masih mengintai. Mata Iqbal membelalak melihat Rani yang keluar dengan penampilan sesempurna itu.
"Gila... dia beneran jadi ratu di sini," gumam Iqbal sambil menyalakan mesin motornya, mengikuti mobil Rani dari jarak aman.
Rani memasuki sebuah kafe ternama di kota itu. Kafe masa lalunya dengan Iqbal. Dengan anggun ia memasuki bangunan dengan nuansa klasik modern.
"Selamat siang, Bu. Apa sudah reservasi?" tanya pelayan yang menyambutnya.
"Atas nama Iqbal Prayoga!" jawab Rani tenang.
Pelayan langsung memeriksa pesanan. Ia mengangguk setelah memastikan lalu membawa Rani ke sebuah tempat yang berhadapan langsung dengan taman.
Iqbal menatap bagaimana Rani turun dan berjalan. Wanita itu benar-benar sudah berubah banyak.
Ia turun dan langsung masuk. Pelayan menghentikannya.
"Pak?"
"Saya Iqbal dan telah memesan bersama Rani!" jawab pria itu.
"Oh, baiklah!' sahut pelayan lalu membawanya ke tempat Rani berada.
"Rani!" panggilnya, wanita itu menoleh.
Iqbal tertegun, Rani begitu cantik dengan dandanan seperti itu. Ia memakai baju hasil judi yang Iqbal menangkan dulu. Tapi semua aksesori yang dikenakan Rani ....
"Kamu makin cantik," pujinya lalu duduk di depan Rani.
Setelah memesan makanan, keduanya diam. Iqbal menatap Rani begitu intens, lekat dan memuja.
"Pesanannya Pak, Bu!" ujar pelayan datang membawa pesanan keduanya.
"Terimakasih!" sahut Iqbal sopan.
Setelah pelayan pergi, barulah mereka berbicara sambil menikmati makanannya.
"Kamu masih punya rasa kan sama aku?" tanya Iqbal langsung.
"Jujur Mas?" tanya Rani menatap Iqbal.
"Iya!" angguknya mantap.
"Aku takut ... masih ingat bagaimana kamu mau jual aku ke atasanmu ...."
"Aku khilaf sayang! Waktu itu aku nggak pikir panjang!"
Suasana di meja itu mendadak dingin. Kata "khilaf" yang diucapkan Iqbal terasa begitu ringan, padahal bagi Rani, itu adalah luka yang hampir menghancurkan hidupnya. Namun, melihat sorot mata Iqbal yang seolah memohon ampun, benteng pertahanan Rani yang dibangun di atas kemewahan Farhan mulai goyah.
Rani meletakkan garpu peraknya dengan denting halus. Ia menatap gaun bunga sakura yang ia kenakan—gaun yang dibeli dari uang haram hasil judi Iqbal, tapi tetap ia simpan di pojok lemari paling dalam.
"Khilaf, Mas?" suara Rani bergetar. "Hampir menjual istri sendiri untuk bayar hutang judi bukan sekadar khilaf. Itu pengkhianatan!"
Iqbal meraih tangan Rani di atas meja. Rani sempat menariknya, tetapi genggaman Iqbal lebih cepat.
"Aku tahu, Ran. Makanya aku datang lagi. Aku ingin menebus semua itu. Lihat aku sekarang, aku sudah berusaha berubah. Tapi melihatmu sebahagia ini dengan pria lain... hatiku sakit!"
Rani terdiam. Kebohongan yang ia simpan dari Farhan—bahwa ia belum resmi bercerai secara hukum negara dengan Iqbal—terasa seperti bom waktu yang detaknya makin kencang.
"Kenapa kamu harus muncul sekarang? Saat aku sudah punya segalanya? Suami yang baik, rumah mewah, bahkan anak..."
"Anak?" potong Iqbal dengan senyum miring yang sulit diartikan.
"Anak yang mana, Rani? Anak yang lahir dari pernikahan yang secara hukum sebenarnya tidak sah karena kita belum ketuk palu di pengadilan?"
Wajah Rani seketika pucat pasi. Inilah kartu as Iqbal.
"Jangan keras-keras!" desis Rani sambil melirik ke arah pelayan. "Apa maumu sebenarnya?"
"Aku tidak butuh hartamu, Rani. Aku butuh kamu dan Claudia kembali. Tapi kalau kamu menolak... yah, mungkin suamimu yang terhormat itu butuh tahu siapa 'istri salihah'-nya ini sebenarnya," ancam Iqbal, suaranya merendah namun tajam seperti sembilu.
"Aku bisa laporkan kamu atas penipuan ...."
"Kamu nggak mikirin Claudia?" tanya Rani menatap Iqbal tajam.
"Aku bisa bilang kalau Papanya dulu suka pukulin Mamanya dan suka selingkuh sama LC!" Iqbal membola.
"Aku masih simpan semua buktinya Mas ...."
Bersambung.
Sama-sama punya kartu as
next?