NovelToon NovelToon
PASHAM

PASHAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Epik Petualangan
Popularitas:717
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Tio Wirawan, seorang solo climber arogan, tersesat dan terluka parah di Gunung Slamet.

Terisolasi tanpa bantuan, ia berjuang melawan lapar, infeksi, dan dingin yang perlahan merenggut hidupnya.

Namun saat kematian semakin dekat, ia menemukan sesuatu yang mustahil: sebuah desa misterius yang tidak ada di dunia manusia.

Di sana, Tio dihadapkan pada sebuah kebenaran—ia tidak hanya tersesat di gunung, tetapi di antara dua alam.

Ketika ia akhirnya kembali, secara tak masuk akal muncul di kaki Gunung Ciremai, Arya sadar ia telah diberi kesempatan kedua. Tapi sebagian dari dirinya tertinggal di tempat itu—di Pasham, tempat di mana manusia harus tersesat untuk benar-benar menemukan jalan pulang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Air Dalam Tempurung

Malam itu Tio bermimpi.

Bukan mimpi buruk seperti malam-malam sebelumnya. Mimpi ini berbeda—tenang, hangat, seperti pelukan. Dalam tidurnya yang lelap, ia merasa berada di tempat lain. Bukan di hutan, bukan di bawah pohon, tapi di sebuah tempat yang terang.

Cahaya keemasan di mana-mana. Tio berdiri di tengah hamparan sawah yang menguning, padi siap panen bergoyang ditiup angin sore. Di kejauhan, gunung menjulang dengan puncak yang disembunyikan awan. Suara gemericik air dari selokan kecil. Burung-burung terbang rendah.

Dan di depannya, duduk seorang kakek tua.

Kakek itu duduk di batu besar di pinggir sawah. Pakaiannya sederhana—kemeja putih lengan panjang, kain batik di pinggang, caping bambu di sampingnya. Wajahnya keriput, kulitnya coklat tua terbakar matahari, tapi matanya... matanya bersinar tajam, seperti tahu segala sesuatu.

Tio mendekat. Kakinya tidak sakit di sini. Ia bisa berjalan normal.

Kakek itu menatapnya, tersenyum tipis. Gigi-giginya tinggal sedikit, tapi senyumnya ramah.

"Wis tekan kene kowe, Le?" kata kakek itu. Suaranya serak, tapi jelas. (Sudah sampai sini kamu, Nak?)

Tio mengangguk, tidak tahu harus berkata apa.

Kakek itu menepuk batu di sampingnya. "Lungguh kene. Aku ngenteni kowe suwe." (Duduk sini. Aku menunggumu lama.)

Tio duduk di samping kakek itu. Ada rasa aneh—ia merasa tenang, aman, seperti sedang bersama kakeknya sendiri yang sudah lama meninggal.

"Sopo sampeyan, Mbah?" tanya Tio pelan. (Siapa anda, Kakek?)

Kakek itu tertawa kecil. "Aku? Aku mung wong tuwa sing ngrumat gunung iki." (Aku? Aku hanya orang tua yang merawat gunung ini.)

Tio mengerutkan kening. "Ngrumat gunung?"

"Ya. Gunung iki urip, Le. Kabeh sing ono neng kene—wit, watu, kewan, malah memedi-memedi—kabeh butuh sing ngrumat. Butuh sing njaga keseimbangan." (Ya. Gunung ini hidup, Nak. Semua yang ada di sini—pohon, batu, hewan, bahkan hantu-hantu—semua butuh yang merawat. Butuh yang menjaga keseimbangan.)

"Memedi?" Tio bergidik, ingat bayangan-bayangan itu.

Kakek itu mengangguk. "Kowe weruh wong-wong iku, ta? Sing nonton kowe saben wengi." (Kamu lihat orang-orang itu, kan? Yang menontonmu setiap malam.)

Tio mengangguk pelan.

"Ojo wedi. Wong-wong iku mung penasaran. Arang-arang ana manungsa sing mlebu panggonane. Biasane sing mlebu kene ora tau bali. Kowe... kowe beda. Kowe isih keno dijaluki pitulung." (Jangan takut. Orang-orang itu hanya penasaran. Jarang-jarang ada manusia yang masuk ke tempatnya. Biasanya yang masuk sini tidak pernah kembali. Kamu... kamu berbeda. Kamu masih bisa dimintai tolong.)

"Pitulung? Aku? Aku sing arep mati iki?" (Tolong? Aku? Aku yang mau mati ini?)

Kakek itu tertawa lagi. Tawanya renyah, seperti bambu tertiup angin. "Durung jamanmu mati, Le. Kowe isih kudu urip. Isih kudu bali." (Belum waktunya mati, Nak. Kamu masih harus hidup. Masih harus pulang.)

Tio ingin bertanya lebih banyak, tapi tiba-tiba perutnya keroncongan keras. Lapar. Ia malu, tapi kakek itu hanya tersenyum.

"Luwé, ta? Wis, madhang ndisik. Aku wis nyawisake." (Lapar, ya? Sudah, makan dulu. Aku sudah menyediakan.)

Kakek itu mengulurkan tangan. Di telapak tangannya yang keriput, tiba-tiba muncul makanan—nasi putih, lauk pindang, sambal terasi, sayur lodeh. Lengkap. Wanginya memenuhi hidung Tio, membuat air liurnya mengalir deras.

"Iki... iki..." Tio tidak percaya.

"Panganen. Iki duweke kowe." (Makanlah. Ini punyamu.)

Tio tidak perlu disuruh dua kali. Ia makan dengan lahap, memasukkan nasi ke mulut, mengunyah, menelan. Rasanya... seperti masakan ibu. Seperti makanan rumah. Hangat, lezat, sempurna.

Ia makan sampai kenyang. Sungguh kenyang. Perut yang selama ini kosong, yang selalu keroncongan, sekarang terasa penuh dan hangat.

Kakek itu memperhatikannya dengan senyum bangga. "Puas, Le?" (Puas, Nak?)

Tio mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Matur nuwun, Mbah. Matur nuwun sanget." (Terima kasih, Kakek. Terima kasih banyak.)

Kakek itu mengangguk. "Saiki kowe kudu lungo. Isih adoh dolananmu. Ning elinga—ojo wedi. Tindakna opo sing wis dadi dalanmu." (Sekarang kamu harus pergi. Masih jauh jalanmu. Tapi ingat—jangan takut. Jalani apa yang sudah menjadi jalanmu.)

Tio bangkit berdiri. Ia menatap kakek itu lama.

"Mbah... sopo jane sampeyan?" (Kakek... siapa sebenarnya anda?)

Kakek itu tersenyum. Senyum yang sama—ramah, bijaksana, penuh teka-teki.

"Aku... aku mung pengasuh. Pengasuh gunung iki. Jenengku ora penting. Sing penting, kowe isih eling mergo kene." (Aku... aku hanya pengasuh. Pengasuh gunung ini. Namaku tidak penting. Yang penting, kamu masih ingat kembali ke sini.)

Tangan kakek itu melambai. Dan dunia di sekitar Tio mulai memudar. Sawah, gunung, cahaya keemasan—semuanya perlahan menghilang, digantikan oleh gelap.

"Eling, Le... ojo wedi... tindakna dolanmu..." (Ingat, Nak... jangan takut... jalani jalanmu...)

Suara kakek itu memudar, dan Tio tenggelam dalam kegelapan.

---

Tio terbangun.

Matahari pagi sudah naik, sinarnya menembus celah-celah dedaunan. Burung-burung bernyanyi riang. Udara segar dan dingin.

Tio duduk, mengerjap-ngerjap. Mimpi itu masih terasa nyata. Ia bisa merasakan rasa nasi di mulutnya, wangi sayur lodeh, hangatnya sambal. Perutnya—ia meraba perutnya—terasa kenyang. Benar-benar kenyang.

Aneh. Aneh sekali.

Ia mencoba mengingat detail mimpi itu. Kakek tua. Sawah. Makanan. Pesan-pesan aneh. Dan kakek itu bilang ia "pengasuh gunung".

Tapi yang lebih aneh, perutnya kenyang. Setelah berhari-hari hanya makan pisang mentah dan telur semut, bagaimana mungkin ia bangun dengan perut kenyang?

Matanya jatuh ke tanah di sampingnya.

Di sana, di atas daun pisang kering, ada sesuatu.

Sebuah tempurung kelapa tua. Usang, hitam, penuh lumut di bagian luarnya. Tapi di dalamnya... ada air. Bening, jernih, seperti air kelapa muda.

Tio tertegun. Ini bukan mimpi. Ini nyata.

Dengan tangan gemetar, ia meraih tempurung itu. Air di dalamnya bergoyang pelan, memantulkan sinar matahari. Ia mendekatkan ke hidung, mencium aromanya. Wangi kelapa muda, segar, alami.

Ia tidak berpikir panjang. Tenggorokannya kering, haus. Ia langsung meneguk air itu.

Rasanya... luar biasa. Segar, manis alami, seperti air kelapa langsung dari buahnya. Air itu mengalir di tenggorokan, membasahi kerongkongan yang kering, masuk ke perut yang kenyang. Sensasi segar menjalar ke seluruh tubuh.

Tio minum sampai habis. Setetes pun tidak tersisa.

Ketika tempurung itu kosong, ia duduk bersandar, merasakan efek air itu. Tubuhnya terasa lebih ringan. Lebih segar. Lebih kuat. Seperti ada energi baru yang mengalir di pembuluh darahnya.

Apa ini air ajaib? Atau...

Ia memandangi tempurung itu lama. Tempurung tua, usang, penuh lumut. Tapi di dalamnya, semalam, ada air. Air yang datang entah dari mana.

Kakek dalam mimpi itu. Apakah ia nyata? Apakah ia benar-benar memberinya makan dan minum? Atau ini semua hanya halusinasi orang kelaparan?

Tio tidak tahu. Tapi yang ia tahu, perutnya kenyang. Tenggorokannya basah. Tubuhnya segar. Itu cukup.

---

Tio melihat sekeliling. Macan kumbang itu sudah tidak ada. Hanya rumput yang sedikit tertekan bekas tubuhnya semalam. Mungkin ia pergi saat fajar. Mungkin ia kembali ke hutan.

Tapi Tio ingat sesuatu. Dalam mimpi itu, kakek tua memberi pesan. Pesan yang mungkin penting.

"Tindakna opo sing wis dadi dalanmu." (Jalani apa yang sudah menjadi jalanmu.)

Apa maksudnya? Apa jalannya? Apakah ia harus terus ke bawah mengikuti sungai? Atau ada jalan lain?

Tio mencoba mengingat detail mimpi itu. Sawah. Gunung. Dan di kejauhan, ia melihat sesuatu—sebuah desa. Kecil, dengan rumah-rumah beratap ijuk, asap mengepul dari dapur-dapur.

Desa itu... di arah mana? Tio memejamkan mata, mencoba mengingat posisi gunung dalam mimpi. Gunung itu di belakangnya. Berarti desa itu di depan. Di arah yang sama dengan yang ia tuju selama ini.

Ke bawah. Terus ke bawah.

Tio membuka mata. Ia memandang ke arah bawah lereng, ke arah hutan yang masih rapat di kejauhan. Di sana, mungkin, ada desa itu. Desa dalam mimpinya.

Mungkin ini petunjuk. Mungkin kakek itu mengirimku ke sana.

Ia berdiri, mengambil tongkat bambu. Tubuhnya terasa lebih kuat—efek air ajaib itu, atau mungkin efek psikologis, ia tidak tahu. Tapi ia merasa bisa berjalan lebih jauh hari ini.

Sebelum pergi, ia memungut tempurung kelapa itu. Mungkin berguna. Mungkin bisa untuk menampung air nanti. Ia membersihkannya sedikit, lalu menyimpannya di ransel.

Lalu ia menatap ke arah hutan di bawah.

"Makasih, Mbah," bisiknya. "Aku akan coba ikuti petunjukmu."

Perlahan, Tio mulai berjalan. Kaki kanan masih sakit, tapi hari ini rasanya lebih ringan. Mungkin karena air itu. Mungkin karena harapan baru.

Di belakangnya, di antara pepohonan, bayangan-bayangan mulai muncul lagi. Mereka menonton, seperti biasa. Tapi hari ini, Tio tidak peduli. Ia punya tujuan. Ia punya petunjuk.

Dan di dalam ranselnya, tempurung kelapa tua itu bergoyang pelan, mengingatkan bahwa semalam, sesuatu yang ajaib telah terjadi.

Mimpi itu nyata. Kakek itu nyata. Air itu nyata.

Dan Tio akan terus berjalan, mengikuti jalannya, sampai ia menemukan apa yang dicarinya.

Sampai ia pulang.

1
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
lanjuut/Determined//Determined/
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
By the way, Thor, di deskripsi ceritanya kenapa pas paragraf keempat dan seterusnya nama MC-nya jadi Arya, ya? Atau ada dua MC?/Hey/
Bp. Juenk: 🤭 iya nih Kk typo dr tokoh di novel pf yg lain. thanks koreksi nya kakak
total 1 replies
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
mulai creepy... /Skull/
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
apa yang kamu tabur, itu yang kamu tuai
한스Hans
Thor paragraf nya bisa di buat agak pendek GK 🤦 kepanjangan 🤦 , udah mampir Thor... mampir ya ke Switch-On 😄🤦
Bp. Juenk: siap. thanks supportnya 🙏
total 1 replies
Halwah 4g
mantap kaaaaa...karya baru lagi..sekrg dengan tema horor mengangkat tema pendakian...💪💪💪 semngat ka
Bp. Juenk: terimakasih Kaka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!