Bagi Hana Syafina, Ibu Inggit adalah mentor dan kakak yang sangat ia cintai. Namun, takdir berubah menjadi mimpi buruk saat Inggit memberikan wasiat terakhir di ambang kematiannya: "Menikahlah dengan suamiku."
Terjebak dalam amanah di atas kain kafan, Hana terpaksa menerima akad yang justru menghancurkan dunianya. Dalam semalam, mahasiswi berprestasi itu berubah menjadi musuh publik. Label "Pelakor" menyiksa setiap langkahnya di koridor kampus, sementara keluarga almarhumah terus menghujamnya dengan fitnah keji.
Mereka tidak tahu dinginnya pernikahan tanpa cinta yang ia jalani. Mereka tidak tahu rahasia kelam yang disembunyikan Pak Arlan di balik diamnya.
Ini bukan tentang perselingkuhan. Ini tentang seorang wanita yang menjadi tawanan dari janji yang tak sempat ia tolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Ketegangan di Balik Aroma Restoran
Mobil SUV hitam Arlan sudah terparkir manis di depan minimarket saat Dila dan Hana sampai. Arlan menurunkan kaca mobilnya sedikit, menampilkan wajah tegasnya yang seketika melunak saat melihat Hana.
"Titip sahabat saya ya, Pak," ujar Dila sembari membantu Hana turun dari motor.
"Tolong dijaga baik-baik, jangan diapa-apain ya, Pak!" lanjutnya dengan nada memperingatkan yang dibuat-buat serius.
Arlan menaikkan sebelah alisnya, menatap mahasiswinya yang satu itu dengan tatapan menyindir.
"Maksud kamu 'diapa-apain' itu apa, Dila?"
Dila seketika nyengir lebar sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia baru sadar kalau peringatannya barusan terdengar konyol.
Lagipula mau diapa-apain juga sudah sah jadi istri, Dila! Bodoh sekali kamu, batin Dila menertawakan diri sendiri.
"Hehe, iya Pak, maaf. Refleks protektif," ucap Dila sambil memberikan hormat dua jari yang kocak namun tetap sopan.
"Ya sudah kalau begitu, saya pamit duluan ya, Pak. Jagain istrinya baik-baik!" Dila memberikan kedipan jahil pada Hana yang sukses membuat wajah Hana memanas.
Hana segera masuk ke dalam mobil untuk menghindari keusilan Dila lebih jauh. Saat ia hendak meraih sabuk pengaman, gerakannya sedikit terhambat karena tasnya yang mengganjal. Arlan yang menyadari hal itu, langsung bergerak peka. Tanpa aba-aba, ia mencondongkan tubuhnya ke arah Hana untuk menarik sabuk pengaman tersebut.
Aksi itu membuat jarak keduanya mendadak terkikis habis. Arlan yang sedang menunduk fokus pada pengait sabuk, tidak menyadari betapa dekatnya wajah mereka. Saat Arlan mengangkat kepalanya kembali setelah bunyi klik terdengar, mata mereka langsung bertemu.
Jarak hidung mereka hanya terpaut beberapa senti. Hana bisa merasakan deru napas Arlan yang hangat, dan Arlan bisa melihat pantulan dirinya di manik mata Hana yang bening. Keduanya membeku selama beberapa detik yang terasa sangat panjang. Jantung Hana berdebur kencang, seolah ingin melompat keluar.
Sampai akhirnya Hana sedikit memundurkan tubuhnya ke sandaran kursi, memutus kontak mata yang terlalu intens itu. Arlan berdehem keras, berusaha menetralkan rasa canggung yang mendadak memenuhi kabin mobil.
"Ke butik sekarang?" tanya Arlan, suaranya sedikit lebih berat dari biasanya.
"Iya, Mas."
"Kamu sudah makan?"
Hana menggeleng pelan.
"Belum, Mas. Tadi keluar kelas langsung ke sini." Apalagi tadi ia harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk menghindari Tomi, urusan perut benar-benar terlupakan.
"Kita makan dulu ya, saya juga belum makan siang," ajak Arlan.
"Kita bungkus saja ya, Mas? Sekalian beli untuk Mama. Makan di butik saja supaya lebih tenang," ujar Hana.
Hana masih sedikit trauma jika harus makan di tempat umum apalagi kalau sampai bertemu orang kampus.
Arlan mengangguk setuju. Mereka berhenti di sebuah restoran keluarga yang cukup populer. Setelah memesan beberapa porsi makanan untuk dibawa pulang, mereka berjalan berdampingan kembali menuju mobil di area parkir. Namun, langkah mereka terhenti seketika saat sosok wanita paruh baya dengan pakaian glamor berdiri tepat di depan mereka.
Mama Inggit.
"Arlan," panggilnya dengan suara dingin.
"Mama... Assalamualaikum," Arlan segera menyalami tangan mantan ibu mertuanya itu dengan sopan.
Hana yang berada di samping Arlan pun ikut membungkuk dan hendak menyalami, namun Mama Inggit dengan kasar menarik tangannya kembali, menolak sentuhan Hana.
Hana hanya bisa menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa kesabarannya yang mulai menipis.
"Ngapain kamu berdua sama dia di sini?" tanya Mama Inggit dengan nada sinis.
Matanya menatap Hana dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan pandangan menghina.
"Ma, Hana ini istri saya sekarang. Dan tentu saja boleh kalau saya pergi bersama istri saya," jawab Arlan tenang namun tegas.
"Oh iya, saya lupa. Kamu kan pela—"
"Hana istri Arlan, Ma," potong Arlan dengan suara rendah yang penuh penekanan sebelum kata menyakitkan itu keluar dari bibir wanita itu.
Arlan tidak ingin Hana terluka lagi oleh label yang sama.
Tanpa menunggu balasan lebih lanjut, Arlan meraih jemari Hana, menggenggamnya erat di depan mata Mama Inggit.
"Kami buru-buru, Ma. Masih banyak urusan. Assalamualaikum."
Arlan menuntun Hana dengan lembut menuju mobil, seolah-olah Hana adalah porselen berharga yang tidak boleh tersentuh debu kebencian sedikit pun. Di dalam mobil, Arlan masih belum melepaskan genggaman tangannya hingga mereka benar-benar duduk di dalam.
Hana menatap tangannya yang masih digenggam Arlan. Ada rasa hangat yang menjalar, sebuah rasa aman yang selama ini ia rindukan. Di tengah dunia yang memandangnya buruk, setidaknya ada satu orang yang berdiri paling depan untuk membelanya.