Jian Yi dan para rekannya gugur setelah menantang kekuatan besar Kekaisaran Pusat. Pertempuran itu seharusnya menjadi akhir dari segalanya bagi mereka.
Namun saat kesadaran Jian Yi memudar, sebuah keajaiban terjadi. Berkat campur tangan Raja Naga, mereka diberi kesempatan kedua—sebuah reinkarnasi yang mengubah takdir mereka.
Terlahir kembali di dunia yang sama namun dengan kehidupan baru, Jian Yi menyimpan satu janji dalam hatinya: membalas kehancuran yang dialaminya dan melampaui semua batas kekuatan.
Kali ini, dia tidak akan jatuh lagi.
Tapi di dunia yang dipenuhi kultivator kuat, sekte kuno, dan kekaisaran yang menguasai segalanya …
Mampukah Jian Yi benar-benar bangkit, menuntut balas, dan mencapai puncak kekuatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Orang tua sampah
Ayam panggang madu yang mengepul harum akhirnya mendarat di atas meja.
Kulitnya yang kecokelatan berkilat tertimpa cahaya lampu minyak, menggoda selera siapa pun yang mencium aromanya.
Lu Feng langsung menyambar satu paha besar dengan beringas, sementara Jian Yi makan dengan gerakan yang jauh lebih elegan, seolah-olah ia sedang menghadiri perjamuan kekaisaran, bukan sedang makan di kedai biasa.
Bocah gelandangan itu hanya duduk mematung.
Matanya menatap ayam itu dengan binar lapar yang menyakitkan, namun tangannya gemetar di bawah meja. Ia merasa tidak pantas duduk di atas kursi beludru ini.
"Makanlah," ujar Jian Yi tanpa menoleh, suaranya tenang namun mengandung perintah yang tak bisa dibantah. "Kalau kau mati kelaparan di hadapanku, itu akan merusak selera makanku."
Bocah itu akhirnya meraih sepotong sayap dengan ragu, lalu mulai makan dengan lahap. Air mata jatuh tanpa suara ke atas piringnya, bercampur dengan bumbu ayam.
Jian Yi meletakkan sumpitnya setelah beberapa saat. Ia memperhatikan cara bocah itu bergerak—selalu waspada, pundaknya sedikit membungkuk seolah siap menerima pukulan kapan saja.
Itu bukan gerak-gerik anak yang hanya sekadar miskin; itu adalah gerak-gerik seseorang yang terbiasa hidup dalam ancaman.
"Siapa namamu?" tanya Jian Yi.
"A-Lang ..." jawab bocah itu pelan.
"A-Lang, di mana orang tuamu? Kenapa kau berkeliaran di jam seperti ini dengan perut kosong?"
Bocah bernama A-Lang itu terhenti. Ia meletakkan potongan ayamnya, lalu perlahan menyingsingkan lengan bajunya yang compang-camping.
Di balik kain kotor itu, terdapat bekas luka memar yang sudah membiru, bahkan ada bekas luka bakar kecil yang tampak baru.
"Mereka ... ada di rumah gubuk di pinggiran kota," suara A-Lang bergetar. "Tapi bagi mereka, aku bukan anak. Aku hanyalah karung pasir untuk melampiaskan amarah saat ayahku kalah berjudi atau saat ibuku kehabisan arak. Jika aku pulang tanpa membawa uang atau makanan, mereka akan ... mereka akan mengikatku di tiang kayu."
Lu Feng terhenti dari aktivitas makannya. Paha ayam yang tadinya ia kunyah dengan nikmat mendadak terasa hambar.
Sebagai pria yang di kehidupan sebelumnya sangat menghargai kesetiakawanan, mendengar hal ini membuat Qi di dalam tubuh kecilnya bergejolak panas.
"Bajingan," desis Lu Feng. "Orang tua macam apa yang memperlakukan darah dagingnya seperti itu?"
Jian Yi terdiam. Ia menatap A-Lang dalam-dalam. "Pantas saja bocah ini memiliki kedewasaan yang melampaui usianya.
Penderitaan adalah guru yang paling kejam; ia memaksa anak-anak untuk tumbuh lebih cepat atau mati dalam kesunyian."
Jian Yi melihat refleksi dirinya yang dulu—seorang yatim piatu yang harus berkelahi dengan anjing jalanan hanya untuk sepotong roti busuk.
"A-Lang," panggil Jian Yi, membuat bocah itu mendongak. "Kau ingin tetap menjadi karung pasir selamanya, atau kau ingin menjadi seseorang yang bisa menghancurkan tiang tempatmu diikat?"
A-Lang tertegun. Kalimat itu terlalu berat untuk anak seusia mereka, namun entah mengapa, ia merasakan kekuatan yang luar biasa dari tatapan Jian Yi. "Aku ... aku tidak ingin dipukul lagi. Aku ingin kuat."
Jian Yi tersenyum tipis. "Besok pagi, datanglah ke hutan bambu di belakang kediaman keluarga Jian. Cari paviliun dengan atap giok. Jika penjaga menghentikanmu, katakan kau adalah 'pembawa pesan' untuk Tuan Muda Jian."
Lu Feng ikut menimpali sambil menepuk dadanya yang belepotan bumbu. "Dan jangan lupa bawa tenaga cadangan. Jika kau ikut berlatih bersama kami, kau akan merindukan saat-saat kau hanya dipukul oleh orang tuamu. Latihan kami ... jauh lebih mengerikan dari neraka."
A-Lang menatap kedua bocah di depannya dengan rasa tidak percaya.
Mereka terlihat seperti bocah yang menggemaskan, namun aura yang terpancar dari mereka seperti dua gunung raksasa yang menekan langit.
"Kenapa ... kenapa kalian membantuku?" tanya A-Lang lirih.
Jian Yi bangkit dari kursinya, merapikan baju sutranya yang sedikit berantakan. "Karena aku benci melihat bakat yang terbuang di jalanan. Dan karena di dunia ini, hanya mereka yang memiliki 'taring' yang berhak menentukan nasibnya sendiri. Jangan terlambat, atau aku akan membiarkan si botak ini mengejarmu keliling kota."
"Hei! Berhenti memanggilku botak, rambutku mulai tumbuh, tahu!" seru Lu Feng tak terima.
Setelah menyelesaikan makan malam yang luar biasa itu, mereka meninggalkan kedai.
Pemilik kedai hanya bisa melongo melihat dua bocah kaya raya berjalan keluar dengan gagah, diikuti oleh seorang bocah gelandangan yang memegang bungkusan sisa makanan dengan erat.
Malam itu, di bawah sinar rembulan, sebuah aliansi kecil telah terbentuk.
Jian Yi dan Lu Feng tidak hanya berencana untuk kembali ke puncak kekuasaan, tetapi mereka baru saja meletakkan batu pertama untuk membangun faksi mereka sendiri di dunia baru ini.
Sesampainya di persimpangan jalan, A-Lang membungkuk sangat dalam kepada mereka berdua. "Terima kasih, Tuan Muda. Aku pasti akan datang."
Jian Yi hanya melambaikan tangan tanpa menoleh, sementara Lu Feng sibuk mengorek giginya.
"Ngomong-ngomong, Jian Yi," ucap Lu Feng saat mereka berjalan kembali ke rumah. "Apa kau benar-benar akan melatihnya? Tubuh kita saja masih seperti tahu begini."
Jian Yi menatap langit malam yang luas. "Dia punya mata seorang penyintas, Lu Feng. Orang seperti dia, jika diberi sedikit dorongan, bisa menjadi pedang yang paling tajam. Lagipula, kita butuh kaki tangan untuk urusan 'kotor' yang tidak bisa dilakukan oleh dua orang bangsawan seperti kita."
Lu Feng tertawa terbahak-bahak hingga perut buncitnya berguncang. "Kau memang licik sejak lahir—maksudku, sejak reinkarnasi. Baiklah, besok pagi kita lihat seberapa kuat nyali bocah itu."
Mereka pun berpisah di pagar tembok, kembali ke kamar masing-masing sebelum matahari terbit dan orang tua mereka menyadari bahwa dua "malaikat kecil" mereka baru saja menghabiskan malam dengan merencanakan masa depan dunia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
𝗝𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗨𝗣𝗔 𝗧𝗜𝗡𝗚𝗚𝗔𝗟𝗞𝗔𝗡 𝗝𝗘𝗝𝗔𝗞 𝗗𝗘𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗜𝗞𝗘 ... 𝗛𝗘𝗛𝗘🏁