NovelToon NovelToon
AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

AKU BUKAN PELAKOR : Amanat Di Atas Kain Kafan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

Bagi Hana Syafina, Ibu Inggit adalah mentor dan kakak yang sangat ia cintai. Namun, takdir berubah menjadi mimpi buruk saat Inggit memberikan wasiat terakhir di ambang kematiannya: "Menikahlah dengan suamiku."

Terjebak dalam amanah di atas kain kafan, Hana terpaksa menerima akad yang justru menghancurkan dunianya. Dalam semalam, mahasiswi berprestasi itu berubah menjadi musuh publik. Label "Pelakor" menyiksa setiap langkahnya di koridor kampus, sementara keluarga almarhumah terus menghujamnya dengan fitnah keji.

Mereka tidak tahu dinginnya pernikahan tanpa cinta yang ia jalani. Mereka tidak tahu rahasia kelam yang disembunyikan Pak Arlan di balik diamnya.

Ini bukan tentang perselingkuhan. Ini tentang seorang wanita yang menjadi tawanan dari janji yang tak sempat ia tolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Perisai yang Berdiri Tegak

​Suasana Masjid Al-Ikhlas yang seharusnya sakral setelah akad nikah, seketika berubah menjadi ruang negosiasi yang dingin. Siska, Roy, dan kedua orang tua Inggit tidak membiarkan Hana menarik napas lega sebagai pengantin baru. Seolah sudah tak sabar, mereka bahkan membawa pengacara yang menangani aset-aset Inggit untuk hadir di sana.

​Hana duduk dengan jemari yang saling bertaut kuat. Di depannya, lembaran-lembaran dokumen hukum terhampar, menuntut tanda tangannya sebagai syarat pencairan harta yang dibekukan. Hana merasa sangat tidak nyaman, namun ia sadar, ini adalah satu-satunya jalan untuk memutus rantai yang menjeratnya. Dengan tangan sedikit gemetar, ia menandatangani berkas tersebut.

​Setelah memastikan semua urusan harta mereka aman, Siska dan orang tuanya beranjak pergi tanpa sepatah kata selamat pun untuk pernikahan Hana dan Arlan. Mereka melangkah pergi seolah-olah baru saja menyelesaikan transaksi jual beli yang melelahkan.

​Namun, Romi tidak ikut pergi. Ia tetap berdiri di sana, menatap Hana dan Arlan dengan pandangan yang seolah ingin menguliti mereka hidup-hidup. Arlan yang menyadari tatapan penuh kebencian itu, segera berdiri dan memasang badan.

​"Ada apa, Rom? Mengapa menatap Hana seperti itu?" tanya Arlan, suaranya rendah namun penuh penekanan.

​Romi terkekeh sinis, sebuah tawa yang meremehkan.

"Saya hanya sedang menatap seorang perusak rumah tangga kakak saya yang baru saja naik kasta, Bapak Arlan yang terhormat," ucapnya dengan nada pedas yang menghujam.

​Hana hanya mampu menghela napas panjang, kepalanya ia tundukkan. Ia terlalu lelah untuk sekadar membela diri dari tuduhan yang sudah ia dengar berulang kali itu.

​"Jaga bicaramu, Romi! Hana itu istri saya sekarang. Hormati dia!" tegas Arlan memperingatkan.

​"Hormat? Bahkan kakak saya baru satu bulan meninggal dan kalian sudah resmi menikah. Wah... sungguh sebuah skenario yang sangat rapi. Kalian pasti sudah merencanakannya sejak lama, kan?" tuduh Romi lagi.

​"Ini memang sudah direncanakan!" sahut Arlan cepat.

​Hana tersentak, ia mendongak menatap pria yang kini menjadi suaminya itu. Tatapan Arlan sangat tajam, sisi ketegasannya sebagai seorang dosen yang paling disegani di kampus kini muncul kembali. Setelah sebulan ini Hana hanya melihat wajah sendu penuh duka, kini ia melihat sosok singa yang siap melindungi kawanannya.

​"Inggit yang merencanakan ini semua. Kakakmu sendiri! Bahkan dia mengunci hartanya sedemikian rupa agar tidak bisa dicairkan kecuali jika Hana menikah denganku," ujar Arlan tanpa ragu.

​"Ya, itu karena pelakor ini sudah mencuci otak Kak Inggit!" Romi menunjuk wajah Hana dengan jarinya yang gemetar karena amarah.

"Bahkan dia menolak cintaku tempo hari hanya karena dia tahu harta Mas Arlan jauh lebih menggiurkan!"

​"CUKUP, ROMI!" bentak Arlan. Suaranya menggelegar di dalam masjid yang kini mulai sepi itu.

​Arlan melangkah maju, memaksa Romi untuk mundur selangkah.

"Kamu dan keluargamu seharusnya sadar dan mulai bertanya pada diri kalian sendiri. Kenapa Inggit bisa lebih percaya pada Hana yang baru dikenalnya, daripada kalian yang sudah bersamanya seumur hidup? Pernahkah kalian ada saat dia kesakitan? Pernahkah kalian peduli pada air matanya?"

​Arlan menjeda, napasnya memburu.

"Bahkan saat dia sudah tiada, yang kalian pedulikan hanya uang dan hartanya. Tapi Hana..."

​Arlan meraih tangan Hana, menariknya dengan lembut untuk berdiri tepat di sampingnya. Arlan menunduk, menatap mata Hana dengan tatapan yang sangat dalam, sebuah perubahan kontras dari tatapan tajamnya pada Romi tadi. Di mata Arlan, ada rasa terima kasih sekaligus perlindungan.

​"Hana bisa menjadi rumah untuk Inggit di saat keluarganya sendiri tidak pernah memedulikannya. Dia memberikan ketulusan yang tidak bisa dibeli dengan semua harta yang kalian incar itu."

​Hana terdiam. Hatinya bergetar hebat mendengar pembelaan Arlan. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak sendirian menghadapi dunia yang kejam ini. Ia terlalu lelah untuk bicara, namun genggaman tangan Arlan yang hangat seolah menjadi kekuatan baru baginya.

​Tanpa menunggu balasan dari Romi yang kini terbungkam, Arlan menuntun Hana berjalan menjauh dari sana.

"Ayo kita pulang, Hana. Tugasmu di sini sudah selesai," bisik Arlan lembut sambil membimbing istrinya keluar dari masjid, meninggalkan Romi yang mematung dengan kepalan tangan yang sia-sia.

1
Noona Rara
Aku mampir juga kak
Ai_Li: Terima kasih kakak🥰
total 1 replies
falea sezi
arlan pengecut amat yak
falea sezi
nyimakkk
Ai_Li: Terima kasih sudah mampir kak
total 1 replies
Ai_Li
🥰🥰
Ai_Li
Terima kasih sudah mampir ya🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!