Arga hanyalah pemuda biasa di sudut kota yang keras—hidup dari kerja kasar, dipandang rendah, dan selalu kalah oleh keadaan. Ia percaya hidupnya akan berakhir sebagai pecundang, sampai suatu malam hujan berdarah mengantarkannya pada sebuah benda terkutuk sekaligus suci: Mustika Macan Kencana.
Sejak saat itu, dunia Arga berubah.
Mustika itu bukan sekadar sumber kekuatan, tetapi suara di dalam batinnya—memberi pemahaman, strategi, dan jalan keluar dari situasi mustahil. Seolah takdir sendiri membisikkan langkah-langkah menuju kemenangan. Namun setiap kekuatan selalu menuntut harga.
Di kota yang dipenuhi kejahatan, pengkhianatan, dan rahasia gelap, Arga mulai bangkit dari nol—melawan preman, sindikat bayangan, hingga musuh yang memiliki kekuatan serupa. Di tengah pertarungan hidup dan mati, hadir cinta yang rumit: Sari yang tulus namun rapuh, dan Clarissa yang penuh misteri serta luka masa lalu.
Semakin Arga kuat, semakin besar pengorbanan yang harus ia bayar.
Rasa sakit, keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Simfoni Kehancuran di Menara Kaca
Dermaga 4 masih menyisakan hawa panas dari ledakan kecil yang baru saja terjadi. Arga berdiri di sana, dikepung oleh puluhan pria bersenjata yang napasnya memburu, menatap sosok yang bagi mereka hanyalah seorang kuli panggul gila. Namun, bagi Arga, musuh-musuh di depannya ini tidak lebih dari sekadar sekumpulan rintangan yang harus dibersihkan sebelum ia sampai pada sumber dari segala penderitaan ini: Keluarga Wijaya dan menara pusat mereka.
“Inang, jangan habiskan tenagamu untuk pion-pion rendahan ini,” suara Macan Kencana bergema, dingin dan penuh otoritas. “Biarkan mereka merasakan sedikit dari apa yang akan menimpa tuan mereka. Satu gerakan, satu napas, satu kehancuran.”
Arga tidak menjawab. Ia hanya memejamkan mata sejenak, membiarkan aliran energi panas dari Mustika Macan Kencana menjalar ke setiap sarafnya, mengubah struktur ototnya menjadi sesuatu yang jauh melampaui batas anatomis manusia. Saat matanya terbuka kembali, cahaya emas murni berpendar di balik irisnya, membelah kegelapan malam dengan intensitas yang mengerikan.
Tanpa peringatan, Arga menerjang. Gerakannya tidak lagi terlihat sebagai sebuah langkah, melainkan sebuah distorsi ruang. Ia adalah bayangan yang menembus barisan pertahanan. Satu pukulan telapak tangan mendarat di dada pengawal pertama, mengirim tubuh pria itu terbang menghantam kontainer besi hingga penyok. Arga tidak berhenti; ia berputar, menyapu kaki dua penjaga lainnya dengan kecepatan yang menciptakan embusan angin kencang, lalu memutar lengan penjaga keempat dengan teknik yang membuat tulang bahunya berderak keluar dari soketnya.
Dermaga itu segera berubah menjadi arena jagal. Peluru-peluru berhamburan, mendesing di udara, namun tidak satu pun yang berhasil menyentuh kulit Arga. Ia bergerak di antara desing timah panas dengan keanggunan yang brutal, seolah-olah ia sedang menari dalam simfoni kematian. Setiap orang yang ia sentuh akan jatuh tak berdaya, tidak mati, namun tidak mampu lagi berdiri selamanya.
Clarissa, yang berdiri beberapa meter di belakang garis pertahanan, menatap dengan mata terbelalak. Wajahnya yang biasanya tenang kini pucat pasi, menunjukkan campuran antara ketakutan yang mendalam dan kekaguman yang terdistorsi. Ia menyadari bahwa ia baru saja membangunkan sesuatu yang seharusnya tetap terkubur dalam mitos kuno.
"Tembak dia! Bunuh dia sekarang!" teriak Clarissa, suaranya melengking tinggi, kehilangan ketenangannya yang elegan.
Namun, teriakan itu sia-sia. Arga sudah berada di depan Clarissa dalam hitungan detik. Ia tidak menyentuh wanita itu. Ia hanya berhenti tepat di depannya, menatap dengan tatapan yang mampu membekukan darah siapa pun. Clarissa terjatuh ke tanah, kakinya gemetar hebat hingga ia tidak mampu lagi berdiri.
"Aku tidak akan membunuhmu di sini, Clarissa," suara Arga berat, bergaung di sepanjang dermaga yang kini sunyi karena semua penjaga telah tumbang. "Karena kematianmu terlalu mudah. Aku akan menghancurkan apa yang paling kau cintai: kekuasaan, nama besar, dan menara kacamu yang sombong itu."
Tanpa menoleh lagi, Arga berbalik. Ia tidak berlari, ia berjalan menjauh, meninggalkan Clarissa yang masih terisak dalam trauma yang tak terbayangkan.
Arga tiba di pusat kota Jakarta saat fajar mulai memucat. Di depannya berdiri menara Wijaya Holdings, bangunan megah yang menjadi pusat operasi dari kerajaan bisnis yang dibangun di atas fondasi darah dan penipuan. Gedung itu dijaga oleh sistem keamanan tercanggih di negara ini, namun bagi Arga yang kini telah menyatu dengan energi Mustika, keamanan itu hanyalah sebuah lelucon.
Ia tidak masuk melalui pintu depan. Ia mendaki gedung itu dari luar, memanjat dinding kaca yang licin dengan kecepatan yang membuat mata manusia tak sanggup mengikutinya. Setiap pijakan jarinya meninggalkan retakan pada kaca yang dirancang anti-peluru. Ia bergerak seperti seekor serangga raksasa yang tidak terikat oleh hukum gravitasi.
Di lantai lima puluh—ruang kendali utama—Hendra Wijaya sedang berdiri di depan jendela besar, memandang matahari terbit dengan segelas kopi di tangannya. Ia merasa aman. Ia punya ribuan penjaga, ia punya uang yang tak terbatas, dan ia punya teknologi untuk menekan siapa pun yang berani melawannya. Namun, ketenangannya pecah saat kaca jendela di belakangnya meledak dengan dentuman keras.
Pecahan kaca meluncur seperti peluru tajam ke segala arah. Arga melompat masuk, mendarat dengan mulus di tengah ruangan yang bertahtakan marmer putih itu.
Hendra Wijaya berbalik, matanya membelalak. "Kau? Kuli panggul dari dermaga itu?"
"Nama itu sudah mati di tempat kau membuangnya," jawab Arga, suaranya bergema di ruangan yang luas itu.
Hendra segera menekan tombol darurat di bawah mejanya. Alarm meraung keras, dan pintu-pintu baja di setiap sisi ruangan tertutup rapat. Dari langit-langit, serangkaian senjata otomatis turun, siap menghujani Arga dengan ribuan peluru per detik.
"Kau pikir kau bisa mengalahkan teknologi dengan tangan kosong?" Hendra tertawa, meskipun suaranya bergetar. "Kau hanyalah binatang, Arga. Dan binatang selalu berakhir di dalam kandang atau menjadi karpet di ruang tamuku."
Arga tidak merespons dengan kata-kata. Ia hanya menggerakkan tangannya ke depan. Energi emas yang memancar dari dadanya membentuk perisai transparan yang menahan setiap peluru yang ditembakkan. Logam-logam itu meleleh saat menyentuh energi Arga, jatuh ke lantai dalam bentuk tetesan api yang membakar.
“Inang, hancurkan sirkuit gedung ini! Putuskan aliran listrik yang menghidupi menara ini, dan saksikan kerajaannya runtuh menjadi gelap gulita!”
Arga menghentakkan kakinya ke lantai. Energi yang ia simpan selama ini ia lepaskan dalam satu gelombang kejut (shockwave) yang tak terlihat. Seluruh sistem kelistrikan gedung itu meledak secara serentak. Lampu-lampu padam, lift berhenti total, dan layar-layar monitor yang mengendalikan keuangan global Keluarga Wijaya mati seketika. Gedung yang seharusnya menjadi pusat ekonomi itu kini berubah menjadi kuburan beton yang gelap dan sunyi.
Arga berjalan mendekati Hendra yang kini terpojok di sudut ruangan, wajahnya pucat pasi dalam kegelapan.
"Kau tidak bisa melakukan ini!" teriak Hendra. "Aku punya koneksi di pemerintahan! Aku punya kekuatan untuk menghapuskan keberadaanmu!"
Arga mencengkeram kerah baju pria tua itu dan mengangkatnya dengan satu tangan. "Kekuasaanmu ada di tangan mereka yang bisa kau beli. Tapi aku tidak bisa dibeli dengan uang. Aku adalah konsekuensi dari dosa-dosamu."
Arga kemudian menekan panel komputer yang tersisa di meja. Dengan satu sentuhan, ia mengunggah semua file rahasia yang ia dapatkan dari warnet tadi ke situs web publik dan media massa internasional. Transaksi ilegal, identitas para koruptor, bukti pembunuhan, dan daftar sindikat kriminal—semuanya kini terbuka untuk publik.
Hendra Wijaya melihat layar ponselnya yang menyala di kegelapan; pemberitahuan masuk bertubi-tubi. Saham Wijaya Holdings terjun bebas, investigasi kepolisian pusat telah dimulai, dan namanya kini menjadi target utama pencarian internasional.
"Kau... kau menghancurkanku," bisik Hendra, suaranya nyaris tak terdengar.
"Aku hanya membiarkan dunia melihat siapa kau yang sebenarnya," jawab Arga, lalu ia melemparkan pria itu ke lantai.
Arga tidak membunuhnya. Membunuh Hendra saat ini akan menjadikan pria itu martir. Membiarkannya hidup dan melihat kehancurannya sendiri, kehancuran nama keluarganya, dan hilangnya semua kekayaan yang ia banggakan—itulah hukuman yang sebenarnya.
Saat fajar mulai benar-benar menyingsing, Arga berjalan keluar melalui lubang kaca yang ia buat. Ia berdiri di balkon lantai lima puluh, menatap kota Jakarta yang mulai terjaga di bawahnya. Menara kaca itu masih berdiri, namun kerajaannya telah runtuh.
Arga merasa ada sesuatu yang lepas dari batinnya. Mustika Macan Kencana di dadanya kini berdenyut pelan, seolah-olah ia telah mencapai tujuannya untuk menghancurkan musuh yang kuat. Namun, ia menyadari bahwa meski ia telah menang dalam pertempuran ini, ia telah kehilangan terlalu banyak hal. Ingatan-ingatannya tentang masa lalu masih kabur, dan identitasnya sebagai Arga yang lama mungkin tidak akan pernah benar-benar kembali.
Ia memandang tangannya sendiri yang kini bersih dari darah, namun terasa sangat berat. Apakah ia sekarang bebas? Atau apakah ia hanyalah monster baru yang mengambil alih tahta dari monster lama?
Satu hal yang pasti, ia akan pergi. Ia akan mencari Sari, dan jika ia tidak bisa menjadi Arga yang dulu, ia akan belajar menjadi sesuatu yang lebih baik—sebuah entitas yang tidak lagi digerakkan oleh kebencian atau kutukan, melainkan oleh kehendaknya sendiri.
Di bawah, sirene polisi mulai terdengar mendekat. Arga melompat dari balkon, menggunakan jubah jasnya untuk mengurangi tekanan udara saat ia melayang turun menuju bayang-bayang kota yang luas. Ia menghilang ke dalam kegelapan, meninggalkan gedung yang kini menjadi saksi bisu dari kehancuran sebuah dinasti.