"Jangan dekat-dekat cowok lain, Cebol. Kau itu tanggung jawabku!"
Bagi Anvaya Dinakara, Narev Elvaro adalah tetangga raksasa setinggi 192 cm yang paling menyebalkan. Narev selalu mengawasi Vaya, melarangnya berteman dengan pria lain dengan alasan "menjaga titipan orang tua".
Namun, satu insiden di malam kelulusan melempar mereka sepuluh tahun ke masa depan. Vaya terbangun bukan di kamarnya, melainkan di pelukan Narev dewasa yang sangat memujanya. Lebih gila lagi, ada seorang bayi cantik bernama Miciella Aracelli yang memanggil mereka "Mama" dan "Papa".
Terjebak dalam pernikahan masa depan yang manis, mampukah mereka kembali ke masa lalu saat status mereka masih "musuh bebuyutan"? Atau justru Narev akan melakukan segala cara agar masa depan itu menjadi nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Ketakutan dalam Kedinginan
[POV: Narev]
Aku duduk di meja makan, menatap cangkir kopi yang sudah dingin. Kepalaku berdenyut. Bayangan wajah Vaya yang menangis ketakutan di dalam mobil kemarin terus menghantuiku. Bekas gigitanku di lehernya, dasi yang mengikat tangannya... Aku benci diriku sendiri. Aku menyesal, tapi ketakutanku akan kehilangannya jauh lebih besar daripada rasa sesalku.
Aku mendengar langkah kaki mendekat. Vaya berjalan masuk ke ruang makan sambil menggendong Mici. Dia terlihat lelah, matanya masih sedikit sembab, namun ada sesuatu yang berbeda. Dia tidak menatapku dengan kebencian yang biasanya kulihat di masa lalu.
"Narev... sarapan sudah siap," ucapnya pelan, hampir seperti bisikan.
Aku hanya diam. Aku tidak berani menatap matanya karena aku takut akan menemukan rasa jijik di sana. Aku bersikap dingin, bukan karena aku marah padanya hari ini, tapi karena aku tidak tahu bagaimana cara meminta maaf tanpa terlihat lemah. Aku takut jika aku melembut, dia akan menggunakan kesempatan itu untuk lari lagi pada Rian.
"Papa... mamam!" Mici berseru, mencoba meraih tanganku.
Aku menggendong Mici ke pangkuanku, mencium keningnya lama. "Iya, Sayang. Ayo makan."
Suasana meja makan itu begitu sunyi, hanya ada denting sendok yang beradu dengan piring. Vaya mencoba beberapa kali membuka percakapan, tapi aku hanya menjawab dengan deheman singkat. Aku menyiksa diriku sendiri dengan kedinginan ini.
...****************...
[POV: Vaya]
Narev benar-benar berubah menjadi es. Dia bahkan tidak menatapku sama sekali sejak tadi pagi. Aku tahu dia marah, atau mungkin dia menyesal. Tapi melihatnya sedingin ini jauh lebih menyakitkan daripada melihatnya murka.
Tiba-tiba, saat aku sedang menuangkan air untuk Narev, suara jernih itu kembali bergema di kepalaku. Begitu dekat, begitu jelas.
“Papa... Papa jangan sedih... Mama sudah baik...”
Aku tersentak hingga air sedikit tumpah ke meja. Aku menatap Mici yang sedang asyik mengunyah rotinya sambil menatap Narev.
“Mama sudah berjanji padaku kemarin, Papa. Dia nggak akan pergi lagi...”
Jantungku berdegup kencang. Mici... bagaimana dia bisa tahu apa yang kupikirkan? Suara itu berlanjut, kali ini dengan nada yang lebih dalam, seolah Mici sedang berbicara pada dirinya sendiri.
“Semoga Mama beneran baik ya... Mici pengen kita kayak gini terus. Mici nggak mau Mama pergi lagi sama Om Pengacara yang jahat itu. Om itu selalu bikin Mama nangis dulu...”
Aku menjatuhkan serbet yang kupegang. Om Pengacara yang jahat? Jadi, di mata Mici, Rian adalah orang jahat yang membuatku menangis? Informasi ini seperti kepingan puzzle yang mulai menyatu. Jika Rian adalah penyelamatku, kenapa Mici merasa dia jahat?
Narev tiba-tiba berdiri, membuat kursi berderit keras. "Aku berangkat ke kantor sekarang," ucapnya tanpa menoleh padaku.
"Narev, tunggu!" aku mengejarnya hingga ke pintu depan. "Soal kemarin... aku minta maaf. Aku benar-benar tidak akan menemui Rian lagi. Aku berjanji."
Narev berhenti, punggungnya yang lebar terlihat tegang. Dia berbalik perlahan, menatapku dengan mata yang penuh luka. "Janji adalah kata yang paling sering kau langgar selama sepuluh tahun ini, Vaya. Bagaimana aku bisa percaya kalau kali ini berbeda?"
"Karena kali ini... aku melakukannya untuk Mici. Dan untuk kita," balasku dengan sungguh-sungguh.
Narev terdiam. Dia melangkah mendekat, tangannya terangkat seolah ingin menyentuh leherku yang masih tertutup turtle neck untuk menyembunyikan bekas kemarin, tapi dia menarik tangannya kembali.
"Jangan memberiku harapan palsu, Vaya. Karena jika kau menghancurkanku sekali lagi... aku tidak tahu monster apa lagi yang akan keluar dari diriku," bisiknya dingin sebelum akhirnya pergi dan menutup pintu dengan keras.
Aku berdiri mematung di sana. Aku mendengar suara hati Mici lagi, kali ini sangat kecil.
“Papa sayang Mama... tapi Papa takut. Mama harus peluk Papa yang lama nanti...”
Aku memejamkan mata. Mici benar. Narev tidak membenciku. Dia hanya ketakutan. Dan mulai hari ini, aku akan membuktikan padanya bahwa dia tidak perlu takut lagi. Aku akan menunjukkan bahwa Anvaya yang sekarang, bukan lagi Anvaya yang ingin pergi.
...****************...
G konsisten sma omongannya si vaya
ko pendek kali babnya panjangin dikit dong kaaaa