NovelToon NovelToon
“Senja Yang Kembali Pulang”

“Senja Yang Kembali Pulang”

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: penulis handal wakakkak

Sinopsis

Alya Maheswari percaya satu hal: cinta pertamanya sudah mati.

Lima tahun lalu, ia meninggalkan kota kecilnya dengan hati yang hancur dan mimpi yang hampir padam. Ia memilih kuliah di luar kota, membangun hidup baru, dan berjanji tak akan pernah kembali ke tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.

Namun takdir punya caranya sendiri.

Saat ibunya sakit, Alya terpaksa pulang. Dan di kota yang penuh senja itu, ia kembali bertemu dengan Arka Pratama — pria yang pernah menjadi rumahnya… dan juga luka terbesarnya.

Arka bukan lagi pemuda ceroboh yang dulu ia kenal. Kini ia lebih tenang, lebih dewasa, dan menyimpan sesuatu yang belum pernah sempat ia katakan.

Di antara rahasia masa lalu, kesalahpahaman yang belum selesai, dan perasaan yang ternyata tak pernah benar-benar pergi… apakah cinta mereka benar-benar sudah berakhir?

Atau justru, senja hanya menunggu untuk kembali pulang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulis handal wakakkak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjamuan di Garis Depan

Bau opor itu tidak seharusnya ada di Carlton. Santan kental, lengkuas yang memar, dan kunyit yang meninggalkan bekas kuning di ujung jari Arka menciptakan anomali di unit 3B. Uap gurihnya menabrak dinding Mint Dream, beradu dengan sisa bau cat yang masih tertinggal tipis. Arka sedang mengaduk panci dengan ketekunan seorang alkemis. Dia seolah sedang mencoba menyuling seluruh kenangan masa kecilnya ke dalam kuah santan itu, berharap aroma rumah bisa menjadi benteng yang lebih kuat daripada sekadar beton dan kayu.

Alya duduk di meja lipat, mencoba fokus pada draf mitigasi risiko untuk tim logistiknya. Namun, jemarinya membeku di atas kibor saat ponselnya bergetar di atas meja. Getarannya terasa seperti sengatan listrik.

Satu pesan teks dari adiknya di kota asal.

“Teh, ada paket buat Teteh. Pengirimnya nggak ada nama, tapi isinya foto lama kita di lapangan basket dulu. Foto pas Teteh masih sekolah. Ibu nanya ini dari siapa. Aku bilang mungkin temen lama yang baru nemu klise foto. Tapi orangnya tahu alamat rumah kita yang sekarang, Teh. Hati-hati ya di sana.”

Dunia di sekitar Alya mendadak senyap. Bunyi desis kompor dan uap panci seolah menjauh, digantikan oleh suara degup jantungnya sendiri yang berisik. Foto lapangan basket. Itu tempat di mana semuanya dimulai, dan tempat di mana laki-laki itu menghancurkan segalanya lima tahun lalu. Mengirimkan foto itu ke rumah ibunya bukan sekadar iseng; itu adalah pernyataan kepemilikan. Itu cara dia bilang: Aku tahu di mana akarmu, dan aku bisa mencabutnya kapan saja.

"Al? Santannya pecah kalau nggak kamu jagain." Suara Arka memecah lamunan pahit itu.

Arka berjalan mendekat, membawa piring-piring keramik murah yang mereka beli di toko barang bekas. Begitu melihat wajah Alya yang pucat pasi—pucat yang bahkan lebih putih dari tembok asli apartemen ini—Arka langsung meletakkan piring-piring itu di meja.

Tanpa kata, Alya menyodorkan ponselnya. Arka membacanya sekali, dua kali, lalu dia menarik napas panjang melalui hidung. Rahangnya mengatup begitu keras sampai Alya bisa melihat otot di pipinya menegang.

"Dia mulai menyentuh Ibu," Arka berbisik. Suaranya rendah, jenis suarah yang biasanya Arka gunakan sebelum dia memutuskan untuk meledakkan sesuatu.

"Bang... apa aku harus pulang sebentar?" Alya bertanya dengan suara yang nyaris hilang. "Bukan buat nemuin dia. Sumpah. Cuma buat pastiin Ibu aman. Aku takut dia macam-macam kalau aku nggak respons."

Arka berjalan ke jendela, menatap ke bawah, ke arah Nicholson Street yang basah. Lampu-lampu jalan Melbourne memantul di genangan air seperti silet yang tajam. Dia terdiam cukup lama, membiarkan uap opor memenuhi paru-parunya sebelum berbalik dengan mata yang berkilat.

"Kalau kamu pulang sekarang, dia menang, Al," kata Arka tegas. "Dia mengirim foto itu bukan supaya kamu pulang buat Ibu, tapi supaya kamu pulang buat dia. Dia mau kammu lari ketakutan kembali ke bawah bayang-bayang dia di kota senja itu. Dia mau ngerusak apa yang kita punya di sini lewat rasa takutmu."

"Tapi Ibu—"

"Aku sudah telepon temen lamah di sana tadi siang," potong Arka. "Anak-anak yang dulu sering kita kasih makan di gudang. Mereka bakal jagain rumah Ibu 24 jam. Dan aku jugah sudah minta pengacaraku di Jakarta buat siapin laporan intimidasi. Kita nggak main-masak-masakan lagi sekarang, Al. Ini perang."

Arka menarik kursi, duduk di depan Alya, dan menggenggam tangan istrinya yang dingin. "Dulu aku telat dateng ke stasiun karena aku dipukulin. Sekarang, aku nggak akan telat lagi. Aku nggak peduli seberapa kaya atau berkuasanya dia di kota kecil itu. Di Melbourne, dia nggak punya power. Dan di rumah Ibu, dia bakal berhadapan sama orang-orangku."

Malam itu, mereka makan opor dalam suasana yang ganjil. Rasanya luar biasa enak—gurih, pedas, dan hangat—tapi setiap suapan terasa seperti perjamuan terakhir sebelum maju ke medan lagah. Alya menatap Arka yang makan dengan tenang, tapi matanya terus memantau layar laptop yang menampilkan log keamanan server perusahaannya. Arka sedang bertransformasi; dia bukan lagi pemuda ceroboh yang lari dari kenyataan, dia adalah seorang pria yang sedang membangun parit pertahanan di sekeliling hidupnya.

Selesai makan, Arka mengambil gitarnya. Dia memetik senar dengan hati-hati. Melodi yang keluar tidak lagi sumbang, tapi penuh dengan nada-nada minor yang melankolis.

"Tahu nggak, Al?" gumam Arka. "Dulu aku benci banget sama senja di kota kita. Warnanya cantik tapi rasanya kayak pengakhiran yang nggak adil. Tapi sekarang aku sadar, kita nggak butuh senjah itu lagi. Kita punya malam Melbourne yang gelap, yang dingin, tapi di dalam unit 3B ini, kita punya cahaya kita sendiri."

Alya menyandarkan kepalanya di bahu Arka, mendengarkan getaran kayu gitar di punggung suaminya. "Aku cuma takut kita nggak cukup kuat buat lawan dia, Bang. Dia punya segalanya di sana."

"Dia nggak punya satu hal yang kita punya," balas Arka sambil terus memetik gitar. "Dia nggak punya masa depan. Dia cuma punya masa lalu yang dia awetkan pake kebencian. Kita punya tembok hijau ini, kita punya proyek karbon kamu, kita punya visi bisnisku. Kita punya hari esok. Dia nggak."

Tiba-tiba, sebuah ketukan terdengar di pintu depan. Bukan ketukan kasar Mr. Henderson yang biasanyah menuntut ketenangan. Ini ketukan yang ritmis, hampir seperti sebuah sapaan sopan.

Arka berdiri, memberi isyarat agar Alya tetap di belakang. Dia membuka pintu sedikit. Di sana berdiri seorang wanita tua dengan rambut perak yang disanggul rapi, mengenakan kardigan wol tebal dan membawa piring berisi kue lamington yang masih segar.

"Maaf mengganggu, saya Mrs. Higgins dari 3C," wanita itu tersenyum, aksen Australianya sangat kental dan hangat. "Saya mencium aromah yang luar biasa dari lorong. Saya pikir, tetangga baru saya pasti sedang memasak sesuatu yang spesial dari rumah mereka. Saya datang untuk menawarkan makanan penutup sebelum kalian diracuni oleh gerutuan Mr. Henderson."

Alya muncul dari balik bahu Arka, rasa takutnya mendadak menguap digantikan rasa haru. "Oh, terima kasih, Mrs. Higgins. Silakan masuk."

Malam itu berakhir dengan cara yang tidak terduga. Mrs. Higgins duduk di karpet bersama mereka, mencicipi opor dengan wajah kagum dan bercerita tentang bagaimana Melbourne tahun 70-an menyambut orang-orang dari seluruh dunia. Dia bercerita tentang kesepian yang lazim dirasakan pendatang, dan bagaimana cara terbaik melawannya adalah dengan memasak makanan yang bau bumbunya bisa menembus dinding tetangga.

"Jangan biarkan kota ini atau siapa pun membuatmu merasa kecil, Sayang," kata Mrs. Higgins sambil menepuk tangan Alya. "Kalian punya api di ruangan ini. Jaga itu tetap menyala."

Saat Mrs. Higgins pulang, unit 3B terasa lebih luas. Tembok hijau mint itu tidak lagi hanya sekadar warna cat, tapi menjadi saksi bahwa di tengah teror masa lalu, ada kebaikan yang memilih untuk singgah.

Arka mengunci pintu, memutar kunci dua kali, lalu menatap Alya. "Lihat? Dunia ini jauh lebih besar daripada laki-laki brengsek di kota senja itu. Kita punya sekutu sekarang. Bahkan di Carlton yang asing ini."

Alya mengangguk, dia berjalan menuju jendela, menatap tanaman lidah mertua yang kini punya teman baru—sepotong kue lamington di samping potnya. Dia menyadari satu hal: pelarian mereka sudah selesai. Sekarang, yang ada hanyalah pertahanan.

"Bang," panggil Alya saat mereka bersiap masuk kamar.

"Ya?"

"Makasih sudah nggak jadi pemuda ceroboh lagi. Makasih sudah jadi rumah."

Arka tersenyum, mematikan lampu ruang tamu, menyisakan kegelapan yang terasa aman. "Sama-sama, Chief. Selamat tidur."

Di Jakarta, ribuan kilometer jauhnya, laki-lakih itu mungkin sedang memandangi foto lama di lapangan basket. Tapi di Melbourne, Alya akhirnya menutup matanya tanpa rasa takut. Karena dia tahu, saat fajar muncul nanti, matahari tidak akan muncul di atas kota senja, tapi di atas atap-atap Carlton yang kini ia sebut rumah.

1
putra Damian
k
putra Damian
lanjut ka
pembaca sejati
baguss
penulis handal wakakkak
👍
penulis handal wakakkak
besok saya pastikan saya akan kembali ke solo sebagai rakyat bisa.
ahh pria solo itu lagii🤣🤣
penulis handal wakakkak
yang suka romace mampir yok
penulis handal wakakkak
haraheta
pembaca sejati
??
pembaca sejati
komitmen apaan?
pembaca sejati
👍
penulis handal wakakkak
lanjut ga sih tapi nulis dulu wkwkwk🤣
pembaca sejati: patah jari
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!