NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Musuh!!

Menikah Dengan Musuh!!

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: NaNa/ji-eun

not allowed to copy , cerita ini 100% hasil dari pikiran ku sendiri, jadi jangan copy cerita ini,

cerita ini berjudul *menikah dengan musuh!! *
pemeran perempuan dalam cerita ini sangat membenci seorang lelaki yang sangat nakal dan sering bolos waktu sma, dan nama nya adalah ALRESCHA dan kerap di panggil al/reska

ayana/ pemeran utama dari cerita ini sangat membenci al,namun al menyukai nya dari zaman sma hingga kuliah, namun al sama sekali tidak pernah mengungkapkan cinta nya kepada ayana, dan sekarang dia di pertemukan lagi, dan di paksa oleh kedua orang tua mereka untuk menikah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaNa/ji-eun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22

Setelah bayangan Rezky menghilang di balik gerbang, suasana teras yang semula tegang perlahan mendingin. Mama Al dan ayana segera membawa Reva dan si kecil Alana masuk ke dalam rumah untuk menenangkan mereka, meninggalkan Al dan Papanya dalam keheningan yang berat di bawah sisa cahaya senja.

Papa Al mengembuskan napas panjang, guratan kelelahan tampak jelas di wajah tuanya. Ia menepuk bahu Al, lalu mengajaknya duduk di kursi rotan teras.

"Dia tidak akan berhenti hanya dengan gertakan tadi, Al," ujar Papa Al dengan nada rendah namun penuh penekanan.

Al mengepalkan tangannya di atas lutut, matanya masih menatap tajam ke arah gerbang yang kosong. "Aku tahu, Pa. Tatapannya tadi... itu bukan tatapan orang yang menyerah. Itu tatapan orang yang kehilangan segalanya dan sekarang tidak punya beban untuk menghancurkan apa pun."

"Itu yang Papa takutkan," sahut Papa Al serius. "Rezky itu seperti luka lama yang dipaksa sembuh tapi akarnya masih tertinggal. Dia baru bebas, emosinya tidak stabil. Kita harus memperketat keamanan di sini. Papa akan bicara dengan pihak keamanan komplek dan mungkin kita perlu memasang CCTV tambahan di setiap sudut."

Al mengangguk setuju. "Aku juga akan meminta orang kepercayaanku untuk memantau pergerakannya dari jauh. Aku tidak mau dia tiba-tiba muncul di sekolah Reva atau saat Ayana sedang keluar rumah sendirian."

Papa Al menatap putranya dengan bangga sekaligus cemas. "Lindungi keluargamu, Al. Tapi ingat, jangan gunakan cara yang sama kotornya dengan dia. Jangan biarkan kemarahanmu membuatmu melakukan kesalahan yang justru bisa dia manfaatkan secara hukum. Dia licik, dia akan menunggu kamu melakukan kesalahan."

"Aku tidak akan membiarkan dia menyentuh seujung rambut pun dari mereka, Pa. Alana dan Reva adalah duniaku sekarang. Kalau dia ingin perang, dia akan menghadapi tembok yang tidak akan pernah bisa dia runtuhkan," balas Al dengan suara yang tenang namun sarat akan ancaman.

Keduanya terdiam sejenak, menatap langit yang mulai menggelap. Di dalam rumah, terdengar suara tawa kecil Alana yang mulai tenang, sebuah pengingat bagi mereka berdua bahwa kedamaian yang mereka miliki saat ini adalah sesuatu yang harus dijaga dengan harga mati.

Al berdiri dari kursi teras, matanya menatap tajam ke arah kegelapan jalan di depan rumahnya. Pikirannya sudah berputar menyusun langkah-langkah taktis. Ia tidak bisa hanya mengandalkan keberuntungan; Rezky adalah bom waktu yang bisa meledak kapan saja.

"Pa, aku tidak akan menunggu dia menyerang lagi," ucap Al pelan namun dingin. Ia mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetik beberapa pesan singkat.

Al segera menghubungi kepala keamanan perumahan. Ia meminta daftar semua petugas yang berjaga dan instruksi ketat tidak ada tamu tak dikenal yang boleh mendekati pagar rumahnya tanpa konfirmasi langsung darinya.

Selain itu, ia memesan sistem kamera pengawas (CCTV) berbasis AI yang bisa mendeteksi wajah Rezky jika pria itu berada dalam radius 50 meter dari gerbang.

Al menghubungi mantan rekannya yang bergerak di bidang jasa pengamanan privat.

 Ia meminta dua orang "pengawal bayangan" untuk mengikuti Ayana dan Reva ke mana pun mereka pergi.ke sekolah, pasar, atau kantor.tanpa terlihat mencolok agar tidak membuat Reva trauma atau ketakutan

Al memerintahkan orang kepercayaannya untuk mencari tahu di mana Rezky tinggal setelah keluar dari penjara. "Cari tahu siapa yang dia temui, siapa yang memberinya uang, dan di mana dia tidur setiap malam. Aku ingin laporan pergerakannya ada di mejaku setiap jam delapan pagi," tegas Al dalam teleponnya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Besok pagi, Al berencana menemui pengacaranya. Ia ingin mengajukan restraining order atau surat perintah pembatasan jarak agar Rezky secara hukum dilarang mendekati Ayana dan anak-anak. Jika Rezky melanggar satu inci saja, ia akan langsung kembali ke sel tahanan tanpa ampun.

Al menyadari bahwa tembok fisik sehebat apa pun akan runtuh jika mental keluarganya hancur. Ia berencana mengajak Ayana dan Reva berbicara dari hati ke hati, memberikan mereka rasa aman bahwa ia memegang kendali penuh atas situasi ini.

Papa Al mendengarkan rencana itu dengan saksama dan mengangguk setuju. "Bagus, Al. Tapi ingat satu hal: orang yang merasa tidak punya apa-apa untuk dipertaruhkan adalah orang yang paling berbahaya. Jangan pernah meremehkan keputusasaannya."

Al menoleh ke arah jendela ruang tengah, melihat bayangan Ayana yang sedang menimang Alana. "Dia mungkin tidak punya apa-apa untuk dipertaruhkan, Pa. Tapi aku punya segalanya untuk diperjuangkan. Itu perbedaannya."

...****************...

Al tidak menyadari bahwa saat ia sibuk menyusun strategi pengamanan, di sebuah kontrakan sempit di pinggiran kota, Rezky tidak sedang meratapi nasibnya sendirian.

Rezky duduk di hadapan seorang pria yang wajahnya separuh tertutup bayangan topi. Di atas meja kayu yang lapuk, berserakan foto-foto rumah Al,dan jadwal sekolah Reva.

"Kau lihat anak anak kecil itu?" geram Rezky, suaranya parau oleh dendam. "Dia alasan Ayana merasa punya dunia baru. Dia alasan Al merasa sudah menang. Tanpa anak itu, mereka hanya pasangan yang tidak mengenal cinta. "

Pria di hadapan Rezky terkekeh pelan. "Jadi, kau ingin aku melenyapkannya?"

"Tidak," potong Rezky cepat, matanya berkilat liar. "Kematian itu terlalu mudah. Aku ingin mereka merasakan kehilangan yang perlahan. Aku ingin Al tahu bahwa tembok tinggi dan pengawal bayangannya tidak ada artinya di hadapanku."

Rezky kemudian mengeluarkan sebuah kartu nama usang dari saku jaketnya. Nama yang tertera di sana membuat pria bertopi itu tertegun. Itu adalah nama mantan rekan bisnis Papa Al yang dulu hancur karena persaingan usaha dan menyimpan dendam kesumat pada keluarga besar Al.

"Dia yang akan mendanai kita," bisik Rezky. "Al pikir dia sedang berhadapan dengan mantan narapidana miskin yang putus asa. Dia lupa bahwa musuh dari musuhnya adalah sahabat terbaik."

Ternyata, Rezky tidak pergi dengan penyesalan yang melumpuhkan. Ia pergi untuk mengumpulkan serpihan dendam yang lebih besar. Ia telah membangun aliansi gelap dengan orang-orang dari masa lalu Papa Al yang selama ini bersembunyi di balik layar.

Kejutan sesungguhnya bukan pada serangan fisik, melainkan pada sabotase bisnis keluarga Al yang mulai terjadi

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

keesokan paginya. Saat Al baru saja akan mengantar Reva ke sekolah, ponselnya berdering hebat. Laporan masuk bahwa beberapa aset penting perusahaannya tiba-tiba dibekukan karena tuduhan pencucian uang yang direkayasa dengan sangat rapi.

Al menegang. Ia melihat ke arah gerbang, lalu ke arah Ayana yang tersenyum di balik jendela. Ia menyadari satu hal: Rezky tidak menyerang jantung rumahnya, tapi ia sedang meruntuhkan fondasi hidupnya dari luar.

Al menatap layar ponselnya yang terus bergetar dengan berita kehancuran bisnisnya, namun matanya tidak lepas dari sosok Reva dan Alana yang sedang tertawa kecil di ruang tengah. Baginya, angka-angka di rekening bank bisa dicari lagi, tapi ketenangan di mata anak-anaknya tidak punya cadangan.

Tanpa ragu, Al mematikan ponselnya. Ia melempar benda itu ke atas meja marmer, membiarkannya mati membisu di tengah badai tuntutan hukum yang sedang mengintai perusahaannya.

"Al? Ada apa? Wajahmu tegang sekali," tanya Ayana yang menyadari perubahan aura suaminya.

Al mendekat, menggenggam tangan Ayana erat. "na, aku akan bekerja dari rumah mulai hari ini. Semua urusan kantor kuserahkan pada pengacara dan wakilku. Aku tidak akan membiarkan satu detik pun rumah ini tanpa pengawasanku."

"Tapi Al, perusahaanmu..."

"Persetan dengan perusahaan itu, Ayana," potong Al lembut namun tajam. "Rezky pikir dia bisa memancingku keluar dari rumah ini dengan menghancurkan bisnisku. Dia ingin aku panik, pergi ke kantor, dan meninggalkan celah di sini. Dia salah besar. Jika dia ingin aku bangkrut untuk menjauh anak-anak, biarkan aku bangkrut. Aku lebih memilih kehilangan seluruh hartaku daripada kehilangan kalian."

Keputusan Al ini menjadi kejutan balik bagi Rezky. Rezky yang mengira Al akan panik menyelamatkan asetnya, justru mendapati Al "mengunci diri" di dalam rumahnya seperti benteng yang tak tertembus.

Al mulai mengubah rumah itu menjadi pusat komando. Ia membatalkan semua agenda luar kota. Ia bahkan meminta guru privat untuk Reva agar anak itu tidak perlu keluar rumah sementara waktu. Al menjadi bayangan yang selalu ada di setiap sudut rumah, memantau setiap pergerakan di luar pagar melalui layar monitor di ruang kerjanya.

Namun, pengasingan diri ini mulai menciptakan suasana yang sesak. Reva mulai merasa seperti dipenjara, dan Ayana merasa ketakutan Al sudah mulai melampaui batas kewajaran.

"Al, kita tidak bisa hidup seperti ini selamanya," bisik Ayana suatu malam saat melihat Al masih terjaga di depan monitor CCTV pada jam tiga pagi. "Kamu sedang menjaga kami, atau kamu sedang membuat penjara baru untuk kita?"

Tepat saat Ayana mengucapkan itu, sebuah lemparan batu mendarat di kaca jendela depan, disusul oleh suara tawa parau yang sangat mereka kenal dari kegelapan malam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!