Liana adalah seorang wanita bertubuh gemuk yang menemukan kemerdekaan sejatinya melalui tarian. Baginya, setiap gerak tubuhnya adalah bentuk pelarian, sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat karena ia hanya menari untuk jiwanya sendiri.
Keajaiban—atau mungkin petaka—datang ketika Adrian, seorang produser film ambisius, menemukannya secara tidak sengaja. Adrian sedang mencari sosok penari yang memiliki aura "kebebasan murni" untuk proyek besarnya, dan ia melihat hal itu dalam diri Liana. Namun, saat tawaran diberikan, Liana menggeleng tegas; ia tak ingin tarian sucinya menjadi konsumsi publik.
Tak kehilangan akal, Adrian mulai mendekati Liana dengan pesona dan perhatian palsu. Ia melangkah lebih jauh dengan menyatakan cinta, membuai Liana hingga wanita itu luluh dan setuju untuk tampil di atas panggung dunia. Namun, di puncak popularitasnya, Liana menemukan kebenaran pahit bahwa pernyataan cinta Adrian hanyalah skenario matang untuk memanfaatkannya demi kesuksesan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Suasana di dalam apartemen mewah itu mendadak hening setelah televisi dimatikan.
Adrian berdiri di ambang pintu dengan napas yang masih memburu, menatap Liana dengan tatapan yang seolah ingin menumpahkan seluruh isi hatinya.
Luka lebam di wajahnya tampak kontras dengan kemeja mahalnya yang kini kusut.
Adrian melangkah mendekat, mengabaikan tatapan tajam Erwin yang berdiri seperti pagar berduri di samping Liana.
"Liana, aku sudah melakukannya. Semuanya sudah selesai dengan Arum," ucap Adrian dengan suara serak namun penuh penekanan.
Ia berlutut di depan sofa, mencoba meraih tangan Liana.
"Aku tahu maaf saja tidak cukup. Tapi mulai detik ini, tidak akan ada lagi rahasia. Aku mencintaimu, Liana, dan aku akan membuktikan itu setiap hari sampai kamu bisa percaya lagi padaku."
Erwin mendengus kasar, ia menarik bahu Liana sedikit menjauh dan menatap Adrian dengan sorot mata yang tak kalah membara.
"Jangan pikir pengumuman di TV tadi membuatmu jadi pahlawan, Adrian. Kamu hanya membersihkan kotoran yang kamu buat sendiri."
Erwin kemudian menoleh ke arah Liana, suaranya melembut namun terdengar sangat posesif.
"Aku juga mencintaimu, Liana. Sejak kita masih kecil di desa, sampai kamu menjadi bintang seperti sekarang. Aku tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk si produser ini, menyakitimu lagi. Aku di sini untuk menjagamu seumur hidupku."
Liana tertegun. Ia berada di antara dua pria yang sama-sama menyatakan cinta dengan cara yang berbeda.
Yang satu penuh dengan ambisi dan penebusan dosa, yang lain penuh dengan perlindungan dan kesetiaan masa lalu.
Liana menghela napas panjang, ia memijat pelipisnya yang mulai terasa pening.
Kepalanya seolah ingin pecah menghadapi drama yang tak kunjung usai ini, padahal beban profesionalitas masih menanti di depan mata.
"Cukup. Aku tidak mau dengar apa-apa lagi sekarang," ucap Liana dengan nada lelah namun tegas. Ia berdiri, menatap Adrian dan Erwin bergantian.
"Nanti malam adalah pembukaan premiere film kita. Itu adalah pertaruhan besar bagi karirku dan kerja keras semua kru. Aku butuh ketenangan agar bisa tampil profesional di depan publik."
Liana menunjuk ke arah koridor kamar. "Sekarang, kalian berdua masuk ke kamar. Aku mau tidur dan menenangkan pikiranku."
Adrian dan Erwin saling lirik dengan penuh permusuhan.
Apartemen itu memang luas, namun hanya memiliki dua kamar utama.
Satu kamar yang biasa ditempati Adrian, kini telah disiapkan untuk Liana agar ia bisa beristirahat dengan nyaman.
"Tapi Liana—" Adrian hendak membantah.
"Masuk, Adrian. Kamu juga, Erwin," potong Liana telak.
Tanpa pilihan lain, dua pria yang merupakan rival berat itu terpaksa melangkah berdampingan menuju satu kamar yang tersisa—kamar milik Adrian.
Pintu tertutup dengan dentuman pelan, meninggalkan Liana sendirian di ruang tengah yang luas.
Liana merebahkan tubuhnya di sofa sejenak, menatap langit-langit apartemen.
Ia tahu, tidur mungkin mustahil baginya saat ini, namun setidaknya ia berhasil menjauhkan kedua pria itu sebelum mereka kembali bertikai.
Malam nanti, di bawah lampu sorot red carpet, ia harus bersiap menghadapi dunia yang kini mengenalnya bukan hanya sebagai penari, tapi sebagai pusat dari skandal terbesar tahun ini.
Pintu kamar utama tertutup dengan dentuman pelan, meninggalkan keheningan yang canggung sekaligus panas di dalamnya.
Kamar mewah dengan ranjang king size yang biasanya menjadi tempat istirahat tenang bagi Adrian, kini berubah menjadi medan pertempuran tanpa senjata.
Erwin melemparkan tas punggungnya ke sudut ruangan dengan kasar, lalu duduk di tepi ranjang, sengaja mengambil ruang paling tengah.
Ia menatap Adrian yang sedang membuka kancing kemejanya dengan wajah yang masih pucat karena sisa demam dan lebam.
"Jangan pikir karena kita satu kamar, aku akan melunak padamu, Pak Produser," sindir Erwin sambil melirik tajam.
"Tempat tidur ini terlalu mewah untuk orang yang baru saja mempermalukan wanita di depan seluruh Indonesia."
Adrian mendengus sinis. Ia mengambil bantal dan meletakkannya di ujung sisi yang lain, mencoba menciptakan jarak sejauh mungkin.
"Hina saja sesukamu, Erwin. Tapi setidaknya aku punya keberanian untuk melepaskan segalanya demi Liana. Sesuatu yang mungkin tidak akan pernah kamu lakukan karena kamu terlalu sibuk menjadi 'kakak' yang protektif."
"Keberanian?" Erwin tertawa hambar, suara tawanya terdengar meremehkan.
"Itu bukan keberanian, itu namanya cuci tangan setelah membuat kotor. Kamu pikir dengan pengumuman di TV tadi, Liana langsung lari ke pelukanmu? Lihat matanya tadi, Adrian. Dia lelah. Dia muak dengan dramamu."
Adrian menghentikan gerakannya, ia menatap pantulan dirinya di cermin besar lemari pakaian.
"Dia mencintaiku, Erwin. Kami punya momen yang tidak akan pernah kamu pahami di Puncak. Kamu mungkin mengenalnya sejak kecil, tapi aku mengenal sisi dirinya yang paling dalam sebagai seorang wanita."
Rahang Erwin mengeras. Ia berdiri, melangkah mendekati Adrian hingga jarak mereka hanya terpaut beberapa senti.
"Jangan pernah sebut malam itu lagi. Kalau bukan karena Liana yang memintaku menjaga ketenangan untuk premiere nanti malam, sudah kupastikan wajahmu yang babak belur itu masuk ke Unit Gawat Darurat lagi."
Adrian tidak gentar, ia membalas tatapan Erwin dengan sorot mata yang menantang.
"Kamu cemburu, kan? Kamu takut karena tahu bahwa sedalam apa pun kamu menjaganya, hatinya sudah tertambat padaku."
"Aku tidak takut," desis Erwin tepat di depan wajah Adrian.
"Aku hanya muak melihat serigala berbulu domba sepertimu. Tidurlah di pinggir sana. Jangan sampai tanganmu menyentuhku, atau aku tidak menjamin kamu bisa bangun dengan tenang untuk acara nanti malam."
Erwin akhirnya merebahkan tubuhnya, memunggungi Adrian dengan posisi yang sangat kaku.
Adrian pun naik ke atas ranjang, berbaring di sisi paling tepi dengan tatapan kosong menatap langit-langit kamar.
Di dalam kamar yang dingin oleh AC itu, dua pria yang saling membenci terpaksa berbagi ruang, masing-masing dengan ambisi dan rasa cinta yang sama besarnya terhadap wanita yang sedang mencoba memejamkan mata di ruang sebelah.
Keheningan malam itu terasa seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja
Di sisi lain kota Jakarta, suasana di apartemen mewah milik Arum tampak seperti medan perang.
Pecahan vas bunga kristal berserakan di lantai marmer, bercampur dengan tumpukan pakaian desainer yang ia lempar sembarangan dari dalam lemari.
Napas Arum memburu, wajahnya merah padam karena murka dan malu yang luar biasa setelah pengumuman Adrian di televisi.
"Sialan kamu, Adrian! Kamu mempermalukan aku di depan seluruh dunia demi penari kampung itu!" teriak Arum sambil membanting sebuah bingkai foto perak ke dinding hingga kacanya hancur berkeping-keping.
"Tenanglah, Arum. Kamu bisa merusak kulitmu kalau terus-menerus marah seperti ini," sebuah suara bariton yang santai terdengar dari arah balkon.
Jordan, seorang pria dengan setelan jas rapi dan senyum sinis yang menawan, melangkah masuk ke ruang tengah sambil menyesap segelas wiski.
Ia menatap kekacauan di sekelilingnya dengan tatapan meremehkan, seolah semua barang mewah yang hancur itu tidak ada harganya.
"Diam kamu, Jordan! Kamu tidak tahu rasanya dicampakkan secara publik!" bentak Arum, matanya menyalang ke arah pria itu.
Jordan terkekeh pelan, ia meletakkan gelasnya di atas meja yang masih utuh, lalu melangkah mendekati Arum.
Ia menarik pinggang wanita itu dengan posesif, mengabaikan rontaan lemah dari tangan Arum yang gemetar.
"Sayang, jangan marah seperti itu," bisik Jordan tepat di telinga Arum, suaranya rendah dan penuh godaan.
"Bukankah kamu juga berselingkuh sama aku di belakang Adrian selama berbulan-bulan? Kita berdua sama saja, kan?"
Arum terdiam sejenak, napasnya yang memburu perlahan mulai melambat namun matanya masih menatap tajam.
"Itu beda! Aku melakukannya karena Adrian mengabaikanku. Tapi, dia melakukannya dengan sungguh-sungguh demi perempuan itu!"
"Lalu kenapa?" Jordan mengusap pipi Arum dengan ibu jarinya.
"Biarkan saja dia pergi dengan penarinya. Kamu masih punya aku, dan yang lebih penting, kita masih punya rencana untuk mengambil alih saham produksinya, bukan? Jangan biarkan emosimu merusak investasi kita."
Arum mendengus, namun ia tidak lagi memberontak dalam pelukan Jordan.
"Aku ingin mereka hancur, Jordan. Terutama perempuan itu. Aku ingin dia merasakan apa artinya kehilangan segalanya di malam premiere nanti."
Jordan tersenyum penuh arti, sebuah senyum yang menyimpan rencana gelap.
"Serahkan padaku. Malam ini akan menjadi malam yang tidak akan pernah dilupakan oleh Liana maupun Adrian. Kita akan menonton pertunjukannya dari barisan paling depan.".
ditunggu crazy upnya