“Alasan untuk mencintaimu hanyalah soal sosial.”
Kalimat itu menghantam hatiku seperti ribuan duri. Aku terdiam, seakan waktu menarikku kembali ke masa lalu.Andai saja saat itu aku tidak menuruti egonya.
Andai saja aku lebih berani mengikuti kata hatiku… untuk menolak perjodohan itu. Mungkin sekarang, hatiku tidak akan dipenuhi luka.
— Cinta Ribuan Duri —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 – Permintaan yang tidak masuk akal
Suasana ruang makan pagi itu terasa lebih berat dari biasanya.
Meja panjang yang biasanya dipenuhi percakapan ringan sekarang dipenuhi diam yang canggung. Piring-piring sarapan sudah tersaji rapi di atas meja. Ada roti panggang, telur, dan semangkuk buah yang dipotong kecil.
Pembantu rumah sudah selesai menyiapkan semuanya sejak tadi.
Ardila duduk di kursinya dengan tenang, meskipun sebenarnya perasaannya tidak benar-benar tenang.
Di sebelah kanan meja duduk Rafa.
Di ujung meja duduk ayahnya.
Papa Andreo.
Sementara di sisi lain, Mama Rafa sedang menuangkan teh hangat ke dalam cangkir.
Sendok kecil berdenting pelan ketika menyentuh porselen.
Tidak ada yang langsung berbicara.
Hanya suara peralatan makan yang sesekali terdengar.
Beberapa saat kemudian Papa Andreo menurunkan koran yang sejak tadi ia baca.
Ia menatap Ardila.
“Dila.”
Ardila langsung menoleh dengan sopan.
“Iya, Pa?”
Papa Andreo melipat korannya lalu meletakkannya di meja.
“Ada hal yang ingin Papa bicarakan dengan kamu.”
Ardila menegakkan punggungnya sedikit.
“Iya, Pa.”
Papa Andreo menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Kamu masih bekerja di kantor papamu, kan?”
Ardila mengangguk.
“Iya, Pa.”
Ia bekerja di perusahaan milik ayahnya, Pak Arhan.
Tapi bukan sebagai direktur atau orang penting.
Hanya staf administrasi biasa.
Sejak dulu Ardila memang tidak pernah ingin memanfaatkan posisi ayahnya.
Ia ingin bekerja seperti pegawai lain.
Papa Andreo mengangguk kecil.
“Perusahaan papamu cukup besar.”
Ardila hanya diam mendengarkan.
“Perusahaan Papa sedang mencari partner kerja sama.”
Ardila mulai merasa arah pembicaraan ini tidak biasa.
Papa Andreo melanjutkan dengan nada tenang,
“Tapi selama ini papamu belum pernah tertarik bekerja sama dengan perusahaan Papa.”
Ardila menelan ludah pelan.
Ia sudah mulai mengerti.
“Pa… maksud Papa?”
Papa Andreo menatapnya langsung.
“Kamu anaknya.”
Ardila terdiam.
“Kamu pasti bisa membujuk papamu.”
Suasana meja makan langsung terasa lebih sunyi.
Ardila menggenggam sendoknya pelan.
“Pa… urusan bisnis Papa Arhan biasanya tidak pernah dicampur dengan urusan keluarga.”
Ia mencoba menjawab dengan hati-hati.
Papa Andreo tersenyum tipis.
“Justru karena kamu anaknya, papamu pasti mau mendengarkan.”
Ardila menggeleng sedikit.
“Aku tidak punya pengaruh sebesar itu, Pa.”
Mama Rafa yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara.
“Kamu terlalu merendahkan dirimu sendiri, Dila.”
Ardila menoleh.
“Sekarang kamu sudah menjadi bagian dari keluarga ini.”
Nada suara Mama Rafa terdengar lembut, tapi ada tekanan di dalamnya.
“Bukankah wajar kalau kamu membantu keluarga suamimu?”
Ardila tidak langsung menjawab.
Ia melirik Rafa sebentar.
Namun lelaki itu hanya fokus pada makanannya.
Seolah pembicaraan ini tidak ada hubungannya dengan dirinya.
“Aku bisa mencoba bicara dengan Papa Arhan,” kata Ardila akhirnya.
“Tapi aku tidak bisa menjanjikan apa pun.”
Papa Andreo mengangguk kecil.
“Itu sudah cukup.”
Beberapa detik suasana kembali hening.
Ardila berpikir pembicaraan sudah selesai.
Namun ternyata belum.
Mama Rafa kembali membuka suara.
“Ngomong-ngomong, Dila.”
Ardila menoleh lagi.
“Iya, Ma?”
Mama Rafa menatapnya sambil tersenyum kecil.
“Kamu kan bekerja di perusahaan papamu.”
Ardila mengangguk.
“Iya.”
“Berarti gajimu cukup besar.”
Ardila sedikit canggung.
“Tidak juga, Ma.”
Ia menjelaskan pelan,
“Aku hanya kerja di bagian administrasi.”
Mama Rafa mengangkat alis.
“Di perusahaan sebesar itu?”
Ardila mengangguk lagi.
“Aku tidak pernah minta posisi khusus dari Papa.”
Ia ingin berdiri dengan kemampuannya sendiri.
Bukan karena statusnya sebagai anak pemilik perusahaan.
Namun Mama Rafa terlihat tidak terlalu peduli dengan penjelasan itu.
“Kamu sudah menikah sekarang.”
Wanita itu meletakkan cangkir tehnya.
“Mulai bulan depan, sebaiknya kamu menyerahkan gajimu ke Rafa.”
Sendok di tangan Ardila berhenti bergerak.
Ia menatap Mama Rafa dengan kaget.
“Maksud Mama?”
“Gajimu.”
Mama Rafa menjawab dengan tenang.
“Serahkan saja ke Rafa setiap bulan.”
Ardila menatap Rafa.
Lelaki itu akhirnya mengangkat kepala.
Namun ia tidak mengatakan apa pun.
Tidak menolak.
Tidak juga membela Ardila.
“Aku biasanya menggunakan gajiku untuk kebutuhan pribadi,” kata Ardila pelan.
Mama Rafa tersenyum tipis.
“Sekarang kamu sudah punya suami.”
“Penghasilanmu juga bagian dari keluarga ini.”
Ardila merasa dadanya semakin berat.
Ia mencoba tetap tenang.
“Tapi di rumah ini semua kebutuhan sudah ada.”
Mama Rafa langsung menjawab,
“Bukan soal kebutuhan.”
Ia menatap Ardila dengan serius.
“Ini soal tanggung jawab sebagai istri.”
Papa Andreo ikut mengangguk kecil.
“Dan jangan lupa soal kerja sama perusahaan tadi.”
Ia menatap Ardila dengan tegas.
“Papa berharap kamu benar-benar mencoba bicara dengan Papa Arhan.”
Ardila menunduk sedikit.
Ia merasa seperti sedang duduk di meja yang penuh tuntutan.
Diminta mempengaruhi ayahnya.
Diminta menyerahkan penghasilannya.
Dan di tengah semua itu…
Rafa tetap diam.
Seolah semua ini adalah sesuatu yang wajar.
Akhirnya Ardila berkata pelan,
“Iya, Pa… aku akan mencoba bicara dengan Papa Arhan.”
Ia berhenti sejenak.
“Dan soal gaji… aku akan memikirkannya dulu.”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Suasana meja makan kembali sunyi.
Namun kali ini, Ardila mulai merasakan sesuatu yang berbeda.
Seolah sejak ia menikah dan masuk ke rumah ini…
Ia bukan hanya menjadi menantu.
Tetapi juga seseorang yang diharapkan bisa memberi sesuatu.