NovelToon NovelToon
Yang Selalu Ada

Yang Selalu Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Persahabatan / Mantan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Silly Girls

Ada orang yang pergi tanpa benar-benar hilang.
Dan ada yang tetap ada, meski seharusnya sudah selesai.

Lala tidak pernah menyangka bahwa kepindahannya ke kantor cabang justru mempertemukannya kembali dengan Brian, seseorang yang dulu ia kenal terlalu baik, dan terlalu ia sayangi.

Bukan pertemuan yang ia rencanakan.
Bukan juga yang ia harapkan.

Namun di tempat asing itu, di antara rutinitas baru dan wajah-wajah baru, masa lalu justru muncul tanpa permisi. Lengkap dengan perasaan yang belum benar-benar mati.

Di sisi lain, ada Rendra. Teman lama yang selalu ada di setiap fase hidupnya. Hadir tanpa janji, tanpa tuntutan, tapi entah sejak kapan keberadaannya terasa berbeda.

Lala terjebak di antara dua hal.
kenangan yang belum usai,
dan kenyamanan yang perlahan tumbuh.
Karena ternyata, tidak semua yang selalu ada memang ditakdirkan untuk pergi.
Dan tidak semua yang kembali, datang untuk tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silly Girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Merasa berbeda

Rendra baru benar-benar sadar ada yang berubah justru dari hal yang paling sederhana yaitu caranya pulang ke rumah.

Ia datang lebih cepat dari biasanya hari itu. Bukan karena ada janji, bukan karena lelah tetapi karena ia merasa ada dorongan kecil untuk segera kembali. Dorongan yang bahkan tidak ia pertanyakan dari mana dan apa.

Begitu pintu terbuka, rumah tidak lagi menyambutnya dengan sunyi yang kosong. Ada suara air dari kamar mandi, mengalir stabil.

Ada aroma sabun yang asing. bukan sabun maskulin yang biasa ia pakai, tapi wangi lembut yang tertinggal di udara.

Ada tas kecil di kursi dekat meja makan, tersusun rapi, seolah memang pantas berada di situ.

Rendra berhenti sejenak di ambang pintu.

Aneh.

Tidak ada yang berubah secara drastis. Tidak ada barang yang berlebihan. Tidak ada kebisingan. Tapi rumah ini... terasa hidup.

Ia meletakkan kunci, duduk di sofa, membuka ponsel sekadar kebiasaan. Layar menyala, notifikasi ada, tapi perhatiannya buyar. Fokusnya tertarik oleh detail-detail kecil yang sebelumnya tidak pernah ia sadari.

Dulu, rumah ini tempat singgah.

Sekarang entah sejak kapan rumah ini terasa seperti tempat yang menunggu.

Suara pintu kamar mandi terbuka membuatnya menoleh. Lala keluar dengan rambut setengah basah, ujung-ujungnya masih meneteskan air. Kaos yang ia kenakan jelas kebesaran kaos oversize rumahan yang ia miliki jatuh sampai hampir menutup pahanya.

Lala berhenti sebentar saat melihat Rendra sudah ada di rumah.

“Lo kok cepet?” tanyanya, nadanya biasa saja. Tidak kaget, tidak panik. Seolah keberadaan Rendra di sana memang wajar.

“Lagi pengen pulang cepet aja,” jawab Rendra ringan.

Jawaban itu keluar tanpa dipikir.

Dan itu yang membuatnya terdiam sesaat setelah mengucapkannya.

Lala hanya mengangguk, lalu berjalan ke meja sambil mengelap rambut dengan handuk. Ia merapikan majalah yang sedikit bergeser, memindahkan gelas kosong ke dapur, lalu menoleh lagi.

“Lo udah makan?”

“Belum.”

“Gue masakin ya. Bentar.”

Tidak ada nada bertanya yang ragu. Tidak ada kesan memaksakan diri. Hanya kalimat singkat yang diucapkan seperti bagian dari alur.

Rendra memperhatikannya tanpa sadar.

Cara Lala bergerak di rumah itu. tidak tergesa, tidak berisik seolah ia tahu ruang mana yang boleh ia sentuh, mana yang perlu ia jaga. Cara ia bertanya hal-hal kecil, bukan karena kewajiban, tapi karena peduli.

Dan Rendra menyadari sesuatu yang membuat dadanya menghangat sekaligus berat.

Ia merasa... diurus.

Bukan dalam arti dimanja berlebihan.

Tapi dihadirkan dalam kehidupan seseorang.

Makan malam itu sederhana. Tidak istimewa. Tapi mereka duduk berhadapan, berbagi cerita kecil yang entah kenapa terasa penting. Tentang kerjaan yang melelahkan, tentang tetangga yang ribut, tentang printer kantor Lala yang selalu error di saat genting.

Rendra tertawa saat Lala mengomel kecil. Tertawa sungguhan. Seolah itu cerita paling menarik hari itu.

Di situ ia sadar.

Ini bukan pura-pura.

Bukan sandiwara.

Bukan solusi sementara.

Ini hidup yang pelan-pelan berubah jadi kebiasaan.

Malam semakin larut. Mereka rebahan di tempat tidur yang sama, dengan jarak tipis yang masih terjaga. Tidak ada pelukan, tidak ada sentuhan berlebihan. Hanya dua orang yang sama-sama diam, menyesuaikan diri dengan ruang baru bernama “kita”.

Rendra menatap langit-langit.

Pikirannya melayang ke dirinya beberapa bulan lalu. Pulang ke rumah kosong. Makan asal. Tidur sekadar melepas lelah. Tidak ada yang menunggu, tidak ada yang peduli jam berapa ia pulang.

Sekarang, ada suara di sampingnya yang bertanya pelan,

“Besok lo bangun jam berapa?”

“Jam lima,” jawab Rendra.

Lala hanya menggumam kecil, tanda mengerti.

Dalam gelap, Rendra tersenyum tipis. Terlalu nyaman.

Dan yang membuat dadanya terasa penuh bukan karena takut terikat. melainkan karena untuk pertama kalinya, ia ingin kenyamanan itu bertahan.

Bukan karena kewajiban. Bukan karena alasan. Tapi karena ia mulai menyadari satu hal sederhana dan jujur.

kalau suatu hari semua ini hilang,

rumah ini akan kembali sunyi.

Dan sunyi itu ternyata jauh lebih menakutkan daripada yang pernah ia bayangkan.

Di sisi lain, Lala justru mulai menyadari perubahan itu dari hal-hal kecil yang nyaris tidak ia rencanakan.

Ia tidak pernah berniat “menjadi istri” dalam pengertian besar yang sering orang bayangkan. Tidak ada target ingin mengurus, tidak ada tekad ingin mengatur hidup orang lain. Semua yang ia lakukan terasa otomatis seperti refleks yang muncul begitu saja.

Awalnya ia sendiri tidak sadar.

Sampai suatu sore, ketika ia keluar dari kamar mandi dan mendapati Rendra sudah pulang lebih cepat. Ia sempat berhenti, heran, lalu bertanya biasa saja. Tapi setelah itu, tanpa berpikir panjang, ia langsung merapikan meja. Bukan karena disuruh. Bukan karena ingin terlihat baik.

Hanya... karena ia ingin rumah itu nyaman.

Dan di situlah Lala tersadar, ia tidak sedang berusaha menjadi siapa-siapa. Ia hanya memperhatikan.

Ia memperhatikan jam pulang Rendra.

Memperhatikan nada suaranya saat menjawab chat singkat tapi tidak dingin.

Memperhatikan kapan ia lebih banyak diam, kapan ia butuh diajak bicara.

Tidak ada permintaan. Tidak ada tuntutan.

Rendra tidak pernah bilang, “Masakin gue dong.” Tidak pernah bilang, “Tanya gue dong.”Tidak pernah bilang, “Perhatiin gue.”

Tapi Lala tetap melakukannya. Dan itu yang membuatnya sedikit takut.

Saat ia bertanya, “Lo udah makan?”

Itu keluar begitu saja.

Saat ia bilang, “Gue masakin ya,”

itu bukan rencana. Itu refleks.

Sambil menyiapkan makanan, Lala sempat berhenti sejenak di dapur. Sendok di tangannya menggantung. Ia menatap pantulan dirinya di kaca lemari.

Sejak kapan gue kayak gini?

Ia bukan tipe yang mudah peduli. Dulu, ia justru paling pandai menjaga jarak. Bahkan pada orang yang pernah ia cintai, ia sering menahan diri takut terlalu masuk, takut terlalu terikat.

Tapi dengan Rendra...

ia tidak merasa sedang masuk terlalu jauh.

Ia merasa... berada di tempat yang wajar.

Saat mereka makan berhadapan, Lala mendapati dirinya benar-benar mendengarkan. Bukan sekadar mengangguk, tapi menaruh perhatian. Ia ingat detail kecil: kerjaan Rendra yang menumpuk, jadwal meeting yang bikin capek, kebiasaan Rendra yang kalau lelah justru jadi lebih pendiam.

Dan yang paling aneh, ia merasa diperhatikan balik. Bukan dengan kata-kata manis. Bukan dengan gestur berlebihan.

Tapi dengan cara Rendra mendengarkan keluhan dan ceritanya, tanpa memotong. Dengan caranya tertawa di tempat yang tepat. Dengan caranya menatap seolah cerita sepele itu penting.

Lala tidak sedang jatuh cinta.

Setidaknya, itu yang ia yakini.

Ia hanya... merasa nyaman.

Malam itu, saat mereka sama-sama rebahan, jarak di antara mereka terasa canggung tapi tidak asing. Lala menatap Rendra dari samping yang tidur terlentang. lalu memejamkan mata.

Ada rasa hangat yang tidak ia minta. Ada perhatian yang tidak pernah ia tuntut. Dan di situlah ketakutannya muncul pelan-pelan.

Bukan takut disakiti.

Bukan takut terikat.

Tapi takut jika suatu hari ia harus mengakui pada dirinya sendiri, bahwa kenyamanan ini sudah terlalu ia butuhkan.

Bahwa ia bukan lagi sekadar membantu.

Bukan sekadar menjalani.

Melainkan... Memilih.

Dan pilihan itu, diam-diam, mulai ia lakukan setiap hari tanpa pernah diminta.

1
malamlarut
duuh laki-laki tu ya emang demam dikit udah lebay
falea sezi
rumah tangga macam apa ini mereka ini g bs move on dr mantan apa gimana hadeh
kyle
waah tambah seruu😍
La Viola
ceritanya reuni bertemu mantan ? duh, bikin susah move on gak sih? 😍

semangat kak... salam dari Edelweiss...
kyle
baguss sekali
Anggrekbulan: terimakasih kak
total 1 replies
malamlarut
ayo kak up lagii
Anggrekbulan: ditunggu yaaa
total 1 replies
malamlarut
update lagi ka
Anggrekbulan: siyaaap staytune yaa
total 1 replies
malamlarut
teman apa teman nih la🤭🤭🤭🤭
malamlarut
baru awal udah seru
malamlarut
coba dibaca aja langsung
babygurls
sukak banget, buat yang kejebak friendzone cocok deh
Anggrekbulan: yakaan, yuk ajak temen-temennya buat baca karyaku
total 1 replies
babygurls
ayo kak up lagie😄
Anggrekbulan: okaaai ditunggu yah🤭
total 1 replies
Anggrekbulan
👍
Anggrekbulan
terimakasih sudah membaca😄
Anonymous
ditunggu update bab selanjutnya😍
Anggrekbulan: hihihi siyaap🙏
total 1 replies
Anonymous
bagus alur ceritanya, jarang menemukan yang seperti ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!