Butuh waktu mengenal dan butuh perjuangan untuk mempertahankan sebuah perasaan . Jika sudah ada kesepakatan maka ikatan akan membuat sebuah hubungan menjadi sakral .
"Cintaku bukan cinta sesaat dan bukan sekedar kata kiasan ," bisik hati yang memendam perasaan .
Apakah cinta itu akan berlanjut atau hanya sementara waktu ?
ikuti kisahnya hanya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 16. BCS
Semua keluarga sudah hadir begitu pula pak penghulu pun hadir. Albi duduk berhadapan dengan pak penghulu dan para saksi. Hanya Prasasti yang belum menampakkan diri.
“Bagaimana kalau kita mulai acara akadnya?" kata pak penghulu kepada calon mempelai pria dan para saksi dan pihak wali nikah kedua belah pihak.
“Silahkan," jawab Fabio mewakili semuanya.
Albi merasa kurang nyaman dengan situasi saat ini, dimana akan dilaksanakan ijab kabul untuk pertama kalinya. Tangannya menjabat tangan pak penghulu dengan erat, sedangkan pak penghulu merasakan tangan Albi dingin tersenyum.
"Tarik napas dulu, tidak usah tegang. Nanti akan hilang dengan sendirinya, hampir semua calon pasangan pengantin merasakan hal yang sama denganmu," kata pak penghulu menenangkan Albi.
”Saya rasa tidak perlu dibahas," sahut Albi tidak suka dengan perkataan pak penghulu hanya mengulur waktu.
Albi mengikuti arahan pak penghulu dan mendengarkan dengan khusyuk. Tiba-tiba seseorang datang dengan suara lantang.
”Tunggu," katanya menetap ke arah tempat akad.
Matanya tajam hendak marah dadanya berdegup cepat, orang-orang melihatnya heran saling berbisik. Membuat suasana berisik. Seorang perempuan dengan baju seksi berjalan menuju tempat akad dengan percaya diri.
"Jangan menghalangi pernikahan mereka, aku tidak akan membiarkanmu mengacaukan acara pernikahan ini," kata Syahira berdiri menghadang Dania.
”Syahira, apa kamu tahu apa yang sudah Kakakmu lakukan padaku, juga sama yang dilakukan pada perempuan yang akan dia nikahi, kenapa dengan ku tidak," kata Dania berbohong.
Orang yang mendengar sangat terkejut mendengar perkataan Dania. Begitu juga Albi, tidak menyangka jika Dania berani menggagalkan rencana pernikahannya, padahal ia sendiri yang ingin tapi melihat wajah Dania ia merubah rencananya.
”Apa maksudmu berkata seperti itu, apa kamu punya bukti yang kuat sehingga aku punya alasan untuk menikahimu?" tanya Albi tidak beranjak dari tempat duduknya.
Dania memberikan sebuah video kepada Albi lewat ponselnya. Albi memutar video tersebut namun tak sedikitpun terpengaruh, justru tertawa melihat rekaman video tersebut.
"Kamu pikir, aku mudah kamu bohongi. Jangan berharap terlalu tinggi, maaf aku mau menikah dengan orang pilihanku sendiri, lebih baik kamu minta pertanggung jawaban kepada orang yang tidur bersamamu itu," usir Albi kepada Dania.
Dania sempat melongo mendengar Albi mengusirnya, Dania tahu kalau Albi dan Prasasti tidak saling cinta, maka dari itu ia membuat rencana menggagalkan pernikahan mereka.
"Kamu dengar itu, Kakakku sendiri sudah mengusirmu sekarang pergilah dan jangan datang di kehidupan kami selamanya," kata Syahira.
Dania merasa malu menjadi pusat perhatian orang banyak, berbalik dan berjalan dengan cepat meninggalkan tempat acara pernikahan.
Dania tidak langsung pergi melainkan melihat kesakralan acara tersebut dari luar. Hatinya sangat marah, namun tidak berani meluapkannya.
Terdengar suara SAH menggema diseluruh ruangan bahkan sampai luar, membuat Dania semakin marah. Akhirnya ia pergi meninggalkan tempat tersebut dan mengumpat didalam mobil.
Prasasti didalam kamar mendengar suara Albi jantungnya semakin berdegup cepat. Tidak menyangka ia sudah menjadi istri Albi secepat ini.
"Non, disuruh keluar menemui pengantin pria," ucap bibi berdiri diluar kamar Prasasti.
"Sayang, ayo kita kesana," ajak Tante Sofia menggandeng tangan Prasasti.
Prasasti menetralkan degup jantungnya sambil berjalan keluar kamar dengan pelan-pelan. Ia merasa tidak nyaman dengan pakaiannya.
Begitu memasuki tempat acara Prasasti terkejut karena banyak sekali orang dengan tatapan kearahnya. Tante Sofia mengajak Prasasti menemui pengantin pria.
Albi melihat Prasasti tanpa berkedip, paras cantiknya mampu menggoyahkan imannya. Tanpa sengaja Albi mengucapkan kata CANTIK namun tidak terdengar oleh yang lain.
Prasasti melihat Albi tersenyum smirk. “Aku akan buat kamu jatuh cinta padaku, hingga suatu saat nanti kamu akan merasakan kehilangan," batin Prasasti seolah tahu jalan pikiran Albi.
"Silahkan, kepada pasangan pengantin memasangkan cincin dijari pasangannya," perintah pak penghulu.
Albi dan Prasasti memakaikan cincin dijari manisnya bergantian. Kemudian Albi mencium kening Prasasti yang kini menjadi istrinya.
Ada desir yang sangat halus menembus relung hati, ada sinar kehidupan pada tatapan keduanya ketika beradu. Prasasti mencium tangan Albi dengan takzim.
Suasana hening menjadi riuh dengan suara orang-orang yang mulai mencairkan kebekuan suhu ruangan. Sepasang pengantin duduk dipelaminan.
"Apa kamu sudah mempersiapkan untuk malam pertama?“ tanya Albi berbisik ditelinga Prasasti.
Prasasti bergidik mendengar suara Albi, bulu kuduknya berdiri, menoleh menatap wajah Albi heran. Masih siang saja sudah berbicara masalah ranjang.
“Aku tidak tertarik membahasnya," sahut Prasasti cuek, kemudian tersenyum ke arah tamu undangan.
Beberapa tamu undangan berjalan ke atas pelaminan memberi ucapan kepada pasangan pengantin. Tidak ketinggalan teman-teman Albi datang dengan bersamaan bersama pasangannya masing-masing.
Ada sepasang kekasih membuat Albi dan Prasasti menatap dengan curiga. Mereka melihat Bisma bersama Jesika.
Dada Prasasti bergemuruh menahan rasa marah. "Jadi mereka sepasang kekasih, pantas mereka menjebakku," batinnya
Albi pun sama halnya dengan Prasasti tapi ia bersikap biasa karena sudah tahu kalau mereka yang membuat jebakan terhadapnya. Yang membuat Albi curiga adalah perempuan yang bersama Bisma, ia tidak menyangka jika keduanya adalah sepasang kekasih.
"Aku akan buat kalian menerima akibat dari perbuatan kalian padaku," batin Albi.
Teman-teman Albi berjalan menuju ke pelaminan. Mereka tersenyum bahagia melihat sepasang pengantin. Namun pasangan pengantin tersebut tidak menampakkan senyum kepada mereka.
Prasasti merasa kecewa dengan Jesika, ia berpura tidak melihat dengan mengalihkan kearah lain. Jesika paham dengan sikap Prasasti hendak meminta maaf.
“Sasti, aku minta maaf," Jesika meraih tangan Prasasti dan menggenggamnya kemudian memeluknya.
Prasasti diam saja tanpa membalas pelukan Jesika. Terdengar isak tangis Jesika membuat Prasasti meredakan gejolak rasa amarahnya.
Albi dan teman-temanya pergi menjauh dari dua perempuan untuk memberi waktu menyelesaikan masalah mereka.
“Apa kalian juga tidak mau seperti mereka?" sindir Albi kepada teman-temannya.
Mereka melihat ke tempat pelaminan lalu melihat Albi, teman-teman Albi saling menatap satu sama lain kemudian mengangguk paham.
"Albi, maaf kami sudah bertindak terlalu jauh padamu dan maaf kami sudah menjebakmu malam itu,“ kata Bisma.
"Aku tahu kamu tidak menyukai Prasasti, tapi setidaknya belajarlah mencintai perempuan yang sekarang sudah menjadi istrimu. Jangan sampai menyesal kamu memutuskan hubungan dengannya," Abas memberi nasehat kepada Albi.
Satu persatu teman Albi meminta maaf sambil berpelukan ala pria. Albi terkejut mendengar perkataan Abas dan sikap mereka didepan umum. Albi menyambut pelukan teman-temannya dengan ikhlas.
“Terimakasih kalian sudah datang ke acara pernikahan kami" kata Albi sambil melepas pelukannya.
“Aku juga minta maaf," ucap Jesika berdiri dibelakang mereka.
"Sudahlah, tidak perlu membahas masalah itu lagi," sahut Dasa,
"Sekarang, ayo kita makan,“ ajak Bisma.