“Pokoknya kakak harus nikah sama aku. Jangan sama yang lain.” “Iya, iya. Bawel banget jadi anak. Lagian masih sd udah ngerti nikah nikahan dari mana sih? Nonton tuh Doraemon, jangan nonton sinetron.” “Janji dulu,” Ayunda mengulurkan jari kelingking. “Janji.” Ikrar mereka saat masih kecil, menjadi pegangan untuk ayunda sampai dia remaja. Hanya saja, saat ayunda remaja, Zayan sudah bukan lagi anak kecil seperti dulu. Perjalanan hidupnya mengantarkan Zayan pada banyak kisah. Akankah kisah tentang janji pernikahan itu masih dipegang oleh Zayan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CMK#22
“Berhubung kita tinggal di desa, kita makan seafood aja yang jarang ditemui di desa.”
“Wah, kebetulan banget tante emang lagi pengen makan udang. Hihihi.”
“Iya, tante. Silakan. Kalau kurang bisa pesen lagi.”
Elang berhasil menjadi tuan rumah yang menyambut tamu dengan baik. Memberikan pelayanan yang istimewa.
“Mau ini?” Tanya Elang pada Ayunda.
Gadis itu mengangguk.
Elang mengambilkan kepiting, lalu memotong nya untuk ayunda agar gadis itu tidak kesulitan saat memakannya.
“Enak?”
“Hmmm, saos nya gurih pedes. Mantap.”
“Kapan-kapan kita ke sini lagi kalau kamu mau. Mas akan traktir.”
Ayunda memberikan kedua ibu jarinya sebagai apresiasi untuk Elang.
Acara makan siang itu berlangsung dengan hangat layaknya keluarga harmonis. Mereka kadang tertawa membahas hal-hal yang sepele.
“Nyummmm, enak banget ikan kerapu nya,” ujar ayunda. Gadis itu makan dengan lahap bahkan sampai tidak peduli pada bibirnya yang belepotan. Berkali-kali elang membersihkan nya dengan tisu.
Elang memperlakukan Ayunda layaknya adik perempuan. Ayunda menganggap bahwa Elang pun adalah kakak baginya. Namun, tidak untuk kedua orang tua mereka.
Di mata mereka, interaksi ayunda dan Elang terlihat romantis layaknya sepasang kekasih.
Bahkan Nunung dan ibunya Elang saling melempar pandang dengan senyuman penuh arti.
“Mumpung kalian semua ke sini, aku ingin mengajak tante, ibu, Bapak dan Om ke suatu tempat.”
“Wah, deg-degan jadinya tante, Lang. Mau dibawa ke mana kami?”
“Hahaha, tenang aja tante. Aku mau ajak kalian belanja. Mumpung ada kesempatan ke sini.”
“Nah, kalau belanja mah hayu-hayu aja perempuan sih, bener gak, Nung?”
Kedua perempuan itu saling mengangguk samanik cekikikan. Tentu saja kebahagiaan mereka bukan karena akan diajak belanja oleh Elang.
Selesai makan, elang membawa mereka ke sebuah mall ternama di kota. Di mana banyak sekali barang-barang branded di sana.
Pak aceng berjalan bersama Pak Mul, Bu Nunung dengan ibunya elang, sementara elang berjalan berdampingan dengan Ayunda.
Orang akan melihat mereka seperti pasangan suami istri dengan kedua orang tuanya.
“Kamu mau beli apa? Mas beliin.”
“Nggak ah, mau beli apa memangnya? Aku juga bingung.”
“Gimana kalau beli tas aja sama sepatu? Mahasiswa pasti sangat butuh benda dua itu.”
“Gak ah, masih ada.”
“Tapi punya kamu jelek.”
“Mas? Mas ngatain aku?”
“Nggak, bukan begitu maksud mas. Tapi coba kamu lihat orang-orang di sini. Lihat cara mereka berpakaian, nanti kamu juga harus menyesuaikan.”
Ayunda melihat para remaja yang kebetulan berpapasan dengan nya, dan ya mereka nampak modis meski dengan gaya berpakaian yang sederhana.
Elang mengantar para ibu-ibu dulu ke toko sebuah tas. Nunung dan ibu elang terlihat asik memilih. Mereka saling bertukar pendapat tentang tas pilihan masing-masing.
Setelah selesai, kini tinggal membelikan bapak-bapak jam tangan.
“Ayo, kayaknya udah aja deh. Jangan beli apa-apa lagi, Lang. Ini kita semua udah belanja banyak.” Ujar Nunung.
“Aku mau beli tas dan sepatu buat Ayunda dulu. Dia belum beli apa-apa.”
“Mas, kasian mereka udah capek. Kan masih ada hari lain. Mas beliin aku nanti aja. Mereka harus istirahat.”
“Ayunda bener, Lang. Mending kita pulang aja. Habis anter kalian ke rumah, kami mau ke hotel.”
“Hotel?” Tanya ayunda kaget.
“Rumah elang kan kamarnya udah gak ada, udah penuh. Kami udah booking hotel. Besok sore baru pulang ke kampung.” Ibu elang memberikan penjelasan.
“Ya sudah, nanti aku ajak Yunda lain kali.”
“Iya, kalian masih punya banyak waktu untuk berdua pergi jalan dan makan. Sekarang kami ingin istirahat.”
“Iya, Bu. Ayo, kita pulang ke rumah.”
Nunung dan ibu elang memang sudah merencanakan agar mereka segera pergi dan membiarkan anaknya berdua. Merasa berhasil, kedua perempuan itu terkekeh pelan.
“Kamu jaga diri baik-baik di sini. Meski Elang baik, tapi dia tetap seorang laki-laki. Tapi kamu juga harus baik dan melayani dia, ya.”
“Mama gimana sih? Katanya jaga diri, tapi harus melayani.”
“Maksudnya kalau ada waktu luang, jangan pembantu yang masak. Kamu aja yang masak. Pembantu mah suruh bersihin rumah aja. Yang rapihin baju elang sama kamarnya kamu aja.”
“Idih, kayak istrinya aja. Gak mau ah!”
“Belajar.”
“Emang mama belajar dulu sebelum jadi istri Bapak?”
“Tau ah, susah banget dibilangin.”
Ayunda kembali merapikan pakaian nya setelah mendengarkan nasihat aneh dari ibunya.
“Kami pamit ya, Lang. Tante titip ayunda sama kamu.”
“Iya, tante.”
“Lang, jaga ayunda. Anak orang itu.”
“Iya, aku akan jagain, Bu.”
Ada rasa sedih dalam hati ayunda saat mobil kedua orang tuanya pergi dan mulai tidak terlihat. Air matanya menetes.
“Gak usah sedih, kalau kangen nanti mas anterin kamu pulang.”
“Kemarin sih waktu ke sini gak sedih karena tau di sini cuma seminggu, tapi sekarang berbeda.”
“Ya kan kamu bisa pulang kapan aja.”
“Gak bisa.”
“Kenapa?”
“Jalan pulang berkelok, Mas. Lelah aku di jalan.”
Elang tertawa.
“Kenapa tertawa ih? Ya kan nyatanya emang gitu. Jalan ke rumah kita itu kayak angka delapan keseleo. Pusing pala aku.”
“Serba salah ya, gak pulang kangen orang tua. Mau pulang enggan di jalan.”
“Tau ah.”
“Ayo masuk. Udah mau malem.” Elang memegang tangan Ayunda dan membawanya masuk ke rumah. Sementara ayunda masih mengusap air matanya.