Bercerita tentang mahasiswa yang melakukan KKN disebuah desa dengan banyak keanehan. Banyak hal yang terjadi sampai membuat kami mendapatkan banyak masalah yang tidak masuk akal. Namun perlahan kami beradaptasi dan nantinya membongkar misteri dari desa tersebut. Kira-kira misteri apa saja itu. Ini adalah cerita fantasy persahabatan yang menakjukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazennn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Upacara Adat
Ketika itu sore hari, aku dibangunkan oleh Fatin yang katanya ingin membuat sebuah konten. Dengan penampilan yang berantakan tanpa pikir panjang aku langsung meng-iyakannya.
“Bagaimana KKN mu disini?Apakah kamu masih ingin melanjutkan KKN?” baca ku pada layar ponsel yang ditunjukan oleh Fatin. Namun karena kesadaran ku belum sepenuhnya sadar sehingga aku belum memikirkan jawabannya. Fatin tersenyum padaku lalu pergi dan aku hanya menatapnya saja.
“Hei Fatin, tunggu” panggil ku
“B-bagaimana, maksudnya?” tanya ku
“Pikirin aja sendiri” balas perempuan itu lalu mengajak Ikon juga untuk ikut kontenya.
“Bagaimana KKN mu disini?Hmm..” gumam ku berpikir lalu mengingat banyak hal yang sudah aku alami selama disini termasuk kejadian-kejadian anehnya.
“Teman-teman, kalian mau ikut juga” ucap Putra yang baru saja datang dengan motornya
“Ikut apaan?” tanya Anwar
“Upacara adat” jawab Putra
“Dimana?Kapan?” tanya Ruka
“Sebentar, kalau mau ikut sekarang juga kalian harus siap-siap” kata Putra
“Aku ikut” celetuk Tian
“Aku juga” bicara juga Fatin dan Dila
“Kamu Zee, ikut?” tanya Putra
“Umm” Zee menganggukan kepalanya
“Oke kalau gitu, sana kalian siap-siap. Nanti aku kabari kembali kalau upacaranya hampir dimulai” ucap Putra lalu dia pergi lagi. Setelah itu kami semua pun bersiap-siap kecuali satu orang yaitu Dani. Namun kami memakluminya karena mungkin keadaanya belum sepenuhnya pulih.
Beberapa saat kemudian Putra pun menghubungi kami dan memberitahukan kalau upacara adatnya akan segera dimula, “Aku tunggu kalian disini yah” ucap Putra lalu kami pun segera pergi ke tempat yang dimaksud. Saat itu sudah banyak orang dengan pakaian yang seragam. Hanya kami lah yang berbeda karena memakai rompi tapi salah satu warga memberhentikan kami.
“Kalian anak KKN yah” ujarnya
“Iyah bu” jawab kami bersamaan
“Hee kalian mau ikut upacaranya juga yah” lanjutnya bicara
“Nggak, kayaknya kami cuman mau liat-liat aja”balas Ruka sembari tersenyum ramah
“Kalau begitu ganti pakaian kalian” ucap ibu tersebut lalu menunjukan banyak pakaian dan menyuruh kami mengenakannya. Awalnya kami menolak tapi beliau memaksa lalu warga lain juga melakukan hal yang sama sehingga kami pun akhirnya mengganti pakaian kami.
“Hee keren juga ternyata” bicara Anwar memperhatikan dirinya
“Iyah cok” balas Ikon
“Bagus banget, aku suka warnanya” seru Tian
“Iyah, aku juga” sambung Ruka lalu kami mengucapkan terima kasih kepada ibu itu dan setelah itu melanjutkan perjalanan memakai pakaian adat khas desa tersebut.
“Btw Putra mana yah” tanya Anwar
“Nggak tau juga, padahal tadi katanya udah nungguin kita” bicara Sulis tapi tak lama kami langsung melihat Putra berjalan kearah kami.
“Woahh” Putra terkejut melihat penampilan teman-temanya
“Bagaimana penampilan kami, cantik kan” tanya Ruka
“Um cantik banget, cocok” balas Putra sambil memberikan jempolnya
“Heheh makasih Putra” ucap Ruka
“Ini upacara untuk apa sih” tanya Ikon
“Ini namanya Ngaben, jadi ada orang yang meninggal terus mayatnya nanti akan diarak-arak oleh banyak orang untuk dikremasi” tutur Putra
“Kremasi itu dibakar, terus nanti diambil abunya” jelasnya lalu dia pamitan untuk pergi lagi
“Mau kemana?” tanya Fatin
“Ke sana, aku mau bantu angkat bade” jawab Putra lagi
“Bade?” gumam Anwar lalu melihat banyak warga yang mengangkat sesuatu sambil berjalan, tak lupa juga membunyikan beberapa alat musik. Kami pun berjalan mengikutinya dari belakang. Saat itu kami gak bisa berkata-kata melihat sesuatu yang baru. Saking ramai dan riangnya kami sampai lupa kalau ini sebenarnya adalah upacara pemakaman dan pelepasan dengan keluarga yang masih hidup. Aku gak paham, kenapa semuanya tertawa, kenapa merasa begitu ceria dan kenapa gak ada satupun terlihat atau terdengar suara tangisan. Kami semua terdiam melihat suasana yang aneh itu. Namun yang lebih aneh lagi adalah Zee yang merekam semua momennya dengan santai.
Kemudian setelah beberapa saat, hari pun mulai gelap lalu api pun berkobar membakar mayat. Saat itu seketika suasana jadi hening, semuanya berubah—tak ada lagi suara musik dan pembicaraan orang-orang. Mereka semua diam menatap api yang menyala. Lalu tak lama sebuah cahaya muncul, dalam sepersekian detik kami bisa melihat sebuah bayangan putih terbang melalui cahaya itu. Aku gak tau apakah semua orang bisa melihatnya atau cuman mahasiswa KKN saja. Namun kami tau bahwa itu adalah ruh manusia yang baru saja meninggalkan badanya.
“Apa barusan dia tersenyum” tanya Anwar
“Yah...dia tersenyum—kearah kita” jawab Tian sambil meneteskan air mata. Hari pun makin gelap lalu beberapa dari kami memutuskan untuk pulang kecuali aku, Ruka, dan Sri
“Mana yang lain” tanya Putra yang datang menghampiri kami
“Sudah pulang” jawab Sri
“Kalian kenapa belum pulang” Putra bertanya kembali namun kami tak menjawabnya. Pandangan kami fokus kearah api yang masih berkobar. Saat itu Putra pun sedikit menceritakan masa lalu upacara ini dan alasan kenapa tidak ada satupun yang bersedih—alasan upacara ini begitu ceria padahal menyimpan kesedihan dibaliknya.”Kalian pernah mendengar kalimat begini” ujarnya lalu mengatakan sesuatu yang bijak
“Puncak dari kebahagiaan adalah menangis dan sebaliknya puncak dari kesedihan adalah tertawa” ungkapnya sehingga membuat ku terdiam. Sementara itu Ruka dan Sri saling berpelukan lalu orang-orang pun memperhatikan kami.
Kemudian setelah itu Putra pun mengajak kami untuk pulang kembali keposko, “Ayo pulang” katanya merangkul punggung ku lalu Ruka membalasnya dengan anggukan dan kami pun berjalan dengan perasaan yang aneh—perasaan itu makin berat saat orang-orang menyapa kami sambil tersenyum. Aku sendiri gak mengerti dengan semuanya, hanya saja aku tau kalau ini adalah sesuatu yang merepotkan. Setelah sampai diposko kami pun makan malam bersama lalu melakukan briefing seperti biasa. Entah kenapa aku merasa kalau suasana posko kami sangat sunyi malam itu, teman-teman ku seperti sedang berpikir dan merenungkan sesuatu. Aku juga demikian, tapi apakah mereka juga memikirkan hal yang sama seperti ku. Saat itu aku melihat postingan-postingan sosial media teman-teman ku yang lain—yang juga sedang melakukan KKN ditempat lain.
Aku pun mencoba untuk merenunginya, sudah sepuluh hari kami melakukan KKN disini. Banyak hal yang sudah terjadi, dari masalah biasa sampai hal-hal aneh yang gak ku pahami namun semua itu bisa kami lalui bersama. Jika mengingatnya lagi kami bukanlah orang-orang yang sudah akrab dari awal, kami adalah orang-orang asing yang tak sengaja bertemu dan membentuk suatu kelompok KKN. Terutama diriku, sampai sekarang bagiku semuanya masih asing. Aku masih belum merasakan apapun. Lagian sejak awal aku sudah mati rasa sehingga tak lagi berniat untuk membangun hubungan dengan orang lain.
“Kordes, jadi kah kita pergi kedesa sebelah” tanya Ikon
“Jadi, ini semuanya lagi siap-siap” jawab Anwar
“Kamu juga nak, cepat” suruh Zee
“Oke bu” balas Dani