Di tangan yang terbiasa memegang senjata, juga tersimpan keahlian untuk menyembuhkan.
Setelah menerima dua warisan tak ternilai dari leluhurnya – ilmu beladiri yang mengakar dalam darah dan keterampilan pengobatan dengan bahan alami yang hanya dia yang tahu rahasianya – Evan berpikir kehidupannya akan berjalan sesuai dengan rencana: melanjutkan kuliah dan melestarikan warisan leluhur. Namun, setelah lulus SMA, keputusannya untuk mendaftar sebagai tentara mengubah segalanya.
Diterima dengan prestasi tinggi, dia pertama kali ditempatkan di wilayah konflik dalam negeri, sebelum akhirnya dikirim sebagai bagian dari pasukan perdamaian ke negara asing yang sedang dilanda perang. Tugasnya jelas: menjaga perdamaian dan melindungi warga sipil. Tetapi ketika pihak negara lain menolak kehadiran pasukan perdamaian dan serangan tiba-tiba menerjang, Evan terpaksa mengangkat senjata bukan untuk berperang, tetapi untuk bertahan hidup dan melindungi rekannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TES KEBUGARAN FISIK
Hari tes kebugaran fisik dimulai sangat pagi – pukul 05.30 pagi, Evan sudah berada di Lapangan Latihan Militer Cirebon bersama dengan puluhan peserta lainnya. Udara pagi masih sejuk, dan sinar matahari mulai menyinari lapangan yang luas dengan hamparan rumput hijau.
Kapten Supriyadi yang memimpin tes mengumpulkan semua peserta untuk memberikan penjelasan tentang rangkaian tes yang akan dilalui: lari 2.400 meter, push-up, sit-up, pull-up, dan tes kelincahan serta kecepatan dengan lintasan rintangan.
"Setiap tes memiliki standar kelulusan yang harus kamu capai," jelas Kapten Supriyadi dengan suara yang kuat dan jelas. "Ingatlah – ini bukan hanya tentang kecepatan atau jumlah repetisi, namun juga tentang disiplin dan kemampuan kamu untuk tetap fokus di bawah tekanan."
TES PERTAMA: PUSH-UP DAN SIT-UP
Tes dimulai dengan push-up dan sit-up, masing-masing dilakukan dalam waktu satu menit. Evan berdiri di barisan depan bersama dengan peserta lain yang sudah menunjukkan kondisi fisik yang baik.
"Sila mulai!"
Pada perintah Kapten Supriyadi, semua peserta segera mulai melakukan push-up. Evan dengan tenang menjalankan gerakan yang telah ia pelajari dari Kakek Darmo – tubuh tetap lurus, napas terkontrol dengan baik, setiap gerakan dilakukan dengan benar tanpa memaksakan diri.
Saat kebanyakan peserta mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan setelah 30 detik, Evan masih melakukan gerakan dengan lancar dan stabil. Ia ingat pelajaran Kakek Darmo tentang pentingnya menyelaraskan napas dengan gerakan tubuh untuk menghemat energi.
"Berhenti!"
Setelah satu menit selesai, instruktur mencatat jumlah push-up masing-masing peserta. Evan berhasil melakukan 52 push-up – jauh di atas standar kelulusan yang hanya 30 push-up. Beberapa peserta di sekitarnya melihatnya dengan kagum, termasuk instruktur yang memberikan pujian dengan senyum.
Selanjutnya adalah tes sit-up, juga dalam waktu satu menit. Dengan teknik yang tepat yang ia pelajari selama latihan beladiri, Evan berhasil melakukan 60 sit-up – kembali melampaui standar kelulusan sebesar 35 sit-up.
"Ini yang namanya kondisi fisik yang baik!" ujar Sersan Budi, instruktur yang mencatat hasil Evan. "Dari mana kamu latihan seperti ini?"
"Saya belajar ilmu beladiri dari leluhur saya sejak kecil, Pak," jawab Evan dengan sopan. "Dia mengajarkan saya tentang cara menjaga kondisi fisik dan menggunakan energi dengan efisien."
TES KEDUA: PULL-UP
Tes selanjutnya adalah pull-up, yang seringkali menjadi momok bagi banyak peserta karena membutuhkan kekuatan otot lengan dan punggung yang cukup besar. Standar kelulusan adalah 6 pull-up.
Evan berdiri di depan tiang pull-up, mengingat teknik yang diajarkan Kakek Darmo untuk menggunakan kekuatan seluruh tubuh bukan hanya otot lengan. Ia menggenggam pegangan dengan kuat, kemudian dengan lancar menarik tubuhnya ke atas hingga dagunya melewati tingkat pegangan.
Satu, dua, tiga... hingga mencapai sepuluh pull-up, Evan masih melakukan gerakan dengan mudah. Ia terus melanjutkan hingga akhirnya berhenti setelah melakukan 18 pull-up tanpa jeda yang lama. Instruktur dan peserta lain memberikan tepuk tangan yang meriah melihat prestasinya.
"Bagus sekali!" pujian Kapten Supriyadi yang menyaksikannya. "Kekuatan dan teknikmu sangat baik. Ini akan sangat berguna untukmu nantinya."
TES KETIGA: LARI 2.400 METER
Setelah sedikit istirahat dan minum air, semua peserta bersiap untuk tes lari 2.400 meter – yang dianggap sebagai tes paling menantang karena membutuhkan daya tahan fisik yang baik. Standar kelulusan untuk usia Evan adalah 11 menit 30 detik.
"Sila mulai!"
Dengan loncatan awal yang terkontrol, Evan memilih untuk berlari di posisi tengah barisan. Ia tidak ingin terlalu cepat di awal agar tidak kehabisan energi di pertengahan jalan – prinsip yang diajarkan Kakek Darmo dalam setiap latihan jarak jauh.
Setelah berlari sekitar 800 meter, sebagian peserta mulai melambat langkahnya atau bahkan berhenti sejenak untuk menangkap napas. Namun Evan tetap menjaga ritme lari dan napasnya dengan stabil. Ia fokus pada langkah-langkahnya, seperti saat ia berlari menuju rumah Kakek Darmo setiap malam untuk berlatih.
Di sekitar kilometer ke-1,5, Evan mulai meningkatkan kecepatannya secara perlahan. Ia melewati satu per satu peserta yang sebelumnya berada di depannya, tetap menjaga bentuk lari yang benar agar tidak mengalami cedera.
Ketika memasuki tahap akhir sekitar 400 meter terakhir, Evan memberikan semua kekuatannya untuk berlari secepat mungkin. Ia menyadari bahwa ia bisa mencapai waktu yang sangat baik jika tetap fokus. Dengan pandangan yang tegas menuju garis finish, ia berlari dengan kecepatan maksimal.
"9 menit 15 detik!"
Suara instruktur yang menyatakan waktunya membuat Evan merasa lega dan bahagia. Ia berhasil menyelesaikan lari dengan waktu yang jauh lebih cepat dari standar kelulusan. Ia berhenti di dekat garis finish, menyejukkan diri dengan jalan-jalan lambat sambil menunggu teman-teman peserta lainnya menyelesaikan tes mereka.
TES KEEMPAT: LINTASAN RINTANGAN
Tes terakhir adalah lintasan rintangan yang terdiri dari berbagai rintangan seperti pagar tinggi, sumur pasir, tali berpola, dan jalan seimbang. Tes ini menguji kelincahan, kecepatan, dan kemampuan untuk mengatasi rintangan dengan cepat dan benar.
Dengan kemampuan gerakan yang diajarkan dalam ilmu beladiri, Evan mengatasi setiap rintangan dengan keanggunan dan kecepatan yang mengesankan. Ia melompati pagar tinggi dengan mudah, melewati sumur pasir dengan langkah yang stabil, dan mengatasi tali berpola dengan kelincahan yang luar biasa.
Ketika mencapai jalan seimbang yang sempit dan tinggi dari tanah, Evan menunjukkan keseimbangan tubuh yang luar biasa – berjalan dengan lurus tanpa sedikit pun goyah, seperti saat ia berlatih berdiri di tunggul pohon selama berjam-jam di bawah bimbingan Kakek Darmo.
"Incredible!" ujar salah satu instruktur yang menyaksikan. "Kemampuan gerakan dan keseimbangannya luar biasa. Seperti sudah terbiasa menghadapi rintangan seperti ini sepanjang hidupnya."
Setelah semua peserta menyelesaikan tes, Kapten Supriyadi berkumpul dengan mereka untuk memberikan kesimpulan. "Saya sangat terkesan dengan prestasi banyak peserta hari ini, terutama Evan Saputra yang menunjukkan kemampuan fisik yang luar biasa," ujarnya dengan suara yang penuh bangga.
Ia melanjutkan, "Namun ingatlah – kemampuan fisik saja tidak cukup untuk menjadi prajurit yang baik. Kamu juga perlu memiliki integritas, kesetiaan, dan kemauan untuk bekerja sama sebagai satu tim. Tes selanjutnya akan menguji kemampuan akademik dan pengetahuan kalian tentang militer serta negara."
Pada perjalanan pulang, Evan langsung menghubungi keluarga dan Rina untuk memberitahu kabar baiknya. Ayahnya langsung merespons dengan pesan penuh kebanggaan, sementara ibunya mengatakan bahwa sudah menyiapkan makanan lezat untuk merayakannya.
Rina juga sangat senang dan mengatakan bahwa sudah siap membantu Evan mempersiapkan tes akademik yang akan datang. "Kamu luar biasa, Evan!" ujarnya melalui telepon. "Kekuatanmu benar-benar mengesankan. Sekarang kita fokus pada tes akademik saja, pasti kamu juga akan lolos dengan mudah."
Malam itu, Evan menghabiskan waktu dengan keluarga di rumah. Ayahnya membuka botol minuman khusus untuk merayakan keberhasilan Evan, sementara ibunya menyajikan hidangan kesukaan Evan – ikan bakar dengan bumbu khas kampung dan lalapan segar dari kebun Kakek Darmo.
"Kita sangat bangga padamu, anak," ujar ayah Evan dengan mata yang penuh kebanggaan. "Kakek Darmo pasti sedang melihatmu dari sana dan merasa sangat bangga dengan apa yang kamu capai hari ini."
Evan tersenyum mendengar kata-kata ayahnya. Ia menyentuh kalung batu giok di lehernya dan merasakan bahwa Kakek Darmo memang sedang membimbingnya dalam setiap langkah yang ia ambil. Ia tahu bahwa tes akademik masih menanti di depan, namun dengan kemampuan dan tekad yang dimilikinya, ia yakin bahwa ia akan mampu menghadapinya dengan baik.
"Dengan izin Allah dan bantuan dari semua orang yang saya cintai," bisik Evan dengan penuh tekad, "saya akan menjadi prajurit yang bisa membawa nama keluarga dan negara dengan bangga."