NovelToon NovelToon
LUKA DIBALIK CINCIN - Ketika Cinta Terbelenggu Hutang

LUKA DIBALIK CINCIN - Ketika Cinta Terbelenggu Hutang

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Pelakor jahat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Lestari Putri hidup dalam keluarga yang hancur oleh hutang dan alkohol. Di usia muda, ia dipaksa menikah demi melunasi hutang ayahnya—sebuah pernikahan yang lebih mirip penjara daripada rumah.

Suaminya, Dyon, bukan pelindung, melainkan sumber luka yang terus bertambah, sementara Lestari belajar bertahan dalam diam.
Ketika kekerasan mulai menyentuh seorang anak kecil yang tak bersalah, Lestari mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya: melarikan diri. Tanpa uang, tanpa arah, hanya membawa sisa keberanian dan harapan yang nyaris padam.

Di tengah kerasnya kota, Lestari bertemu seseorang yang melihatnya bukan sebagai beban atau milik, melainkan manusia. Namun masa lalu tidak mudah dilepaskan.

Pernikahan, hutang, dan trauma terus membayangi, memaksa Lestari memilih—tetap terikat pada luka, atau berjuang meraih kebebasan dan cinta yang sesungguhnya.

Akankah Lestari menemukan kebahagiaan setelah badai? Atau masa lalu kelam akan terus menghantui hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji Seorang Ibu

Sore itu, sekitar jam lima, Dyon pulang.

Tapi hari ini beda. Hari ini Dyon pulang dengan muka... happy. Seneng.

Kok bisa? Biasanya dia pulang dengan muka kusut, kesel, capek. Tapi hari ini dia senyum-senyum sendiri.

Lestari yang lagi masak di dapur—lagi goreng ikan asin—ngeliat Dyon dari belakang. Ada yang aneh.

Dyon duduk di sofa, nyalain TV, terus ngobrol sama Wulandari yang baru keluar dari kamar.

"Mah, gue dapet kabar bagus nih," kata Dyon sambil nyengir lebar.

"Kabar apa?" Wulandari duduk di sebelahnya.

"Gue dapet kerjaan baru. Kerja di toko bangunan. Gaji nya lumayan—dua juta sebulan. Mulai minggu depan."

Wulandari mata nya berbinar. "Beneran?! Alhamdulillah! Akhirnya lo dapet kerjaan tetap!"

"Iya. Terus... gue juga dapet bonus hari ini. Lima ratus ribu. Dari bos lama—dia kasih pesangon kecil-kecilan."

"Wah, rejeki! Uang nya buat apa?"

Dyon nyengir makin lebar. "Gue mau beli HP baru. HP gue kan udah rusak. Gue pengen yang bagus, bisa main game, bisa nonton video. Ada tuh di konter harga nya tiga juta. Tinggal kurang dikit."

HP baru.

Lestari denger itu dari dapur. Jantung nya... nggak tau kenapa berasa aneh. Dia ngeliat ke arah ruang tamu—ngeliat Dyon yang senyum-senyum bahas HP baru.

HP tiga juta.

Sementara dia... dia kerja keras setiap hari cuma dapet lima ribu. Lima ribu yang bahkan nggak cukup buat beli susu ibu hamil.

Sementara bayinya... bayinya butuh nutrisi. Butuh vitamin. Butuh susu.

Tapi Dyon... Dyon malah mau beli HP baru.

"Mas..." Lestari keluar dari dapur. Suara nya pelan, hati-hati banget. "Mas... kalau... kalau Mas dapet bonus... bisa... bisa beliin aku susu ibu hamil nggak? Atau vitamin buat kandungan... aku... aku butuh, Mas... dokter bilang aku harus—"

"HAH?!" Dyon noleh, muka nya langsung berubah. Senyum nya hilang. Diganti sama tatapan jijik. "Lo minta apa? Minta dibeliin susu? Vitamin?"

"I—iya, Mas... buat bayi kita... buat anak Mas—"

"ANAK GUE?!" Dyon berdiri, jalan ke arah Lestari. Lestari mundur, punggung nya nabrak meja makan. "Lo pikir anak itu prioritas gue?! Gue aja belum cukup makan, lo minta dibeliin susu mahal?!"

"Tapi Mas... bayi kita butuh nutrisi... kalau nggak, nanti bayinya—"

"Gue nggak peduli bayi lo mau gimana! Lo ngurus sendiri! Uang gue buat gue! Bukan buat lo! Bukan buat anak lo!"

Anak lo.

Bukan anak kita.

Anak lo.

Lestari matanya berkaca-kaca. "Tapi... tapi ini anak Mas juga... ini... ini tanggung jawab Mas—"

PLAK!

Tamparan lagi. Keras. Lebih keras dari tadi.

Lestari jatuh. Jatuh ke lantai. Pantat nya nabrak keras—BRUG—perutnya yang gede bikin dia susah jaga keseimbangan.

"TANGGUNG JAWAB?!" Dyon teriak. "LO PIKIR GUE PEDULI?! Lo pikir gue mau anak itu?! Gue nikah sama lo cuma buat lunasi hutang bokap lo! Gue nggak pernah mau punya anak sama lo!"

Kata-kata itu... kata-kata itu kayak pisau yang nusuk jantung Lestari.

Nggak pernah mau punya anak.

Nggak pernah.

"Lo ngurus anak lo sendiri. Lo cari duit sendiri. Gue nggak mau repot. Ngerti?!"

Dyon balik ke sofa, duduk, lanjut nonton TV kayak nggak terjadi apa-apa.

Wulandari cuma geleng-geleng kepala. Nggak nolongin. Nggak bela Lestari. Malah bilang, "Ya udah, Tar. Lo cari cara sendiri. Jangan ngerepotin Dyon. Dia udah capek kerja."

Lestari masih duduk di lantai. Tangan nya nahan perut—takut bayinya kenapa-kenapa gara-gara jatuh tadi.

Air mata nya ngalir deras. Nggak bisa ditahan lagi.

"Ya Allah... Ya Allah kenapa... kenapa mereka nggak peduli sama anak ini... ini anak mereka juga... kenapa... kenapa..."

Dia nangis. Nangis keras. Sesengukan. Tubuh nya getar.

Tapi nggak ada yang datang. Nggak ada yang peluk. Nggak ada yang bilang "kamu nggak sendirian".

Dia sendirian.

Beneran sendirian.

---

Malem itu, Lestari nggak bisa tidur. Perut nya sakit—sakit kayak kram, tapi beda. Kayak ada yang menekan dari dalem.

Dia takut. Takut banget. Jangan-jangan bayinya kenapa-kenapa gara-gara jatuh tadi.

"Kumohon... kumohon jangan kenapa-kenapa... kamu harus kuat, Nak... harus kuat... Ibu mohon..."

Dia mengelus perut terus-terusan. Tangannya nggak berhenti. Terus mengelus dan mengelus.

Tiba-tiba—

Tendangan.

Tendangan kecil dari dalem perut.

Lestari berhenti nangis. Matanya melebar.

"A—anakku...?"

Tendangan lagi. Lebih keras dikit.

Lestari ketawa. Ketawa sambil nangis. "Kamu... kamu masih hidup... kamu masih kuat... syukur... syukur ya Allah... syukur..."

Dia peluk perut nya sendiri. Peluk erat. Nangis lega.

"Ibu janji... Ibu janji bakal jaga kamu... Ibu nggak peduli Bapak kamu nggak peduli... Ibu nggak peduli Nenek kamu nggak peduli... yang penting Ibu peduli... Ibu sayang kamu... Ibu sayang banget sama kamu..."

Tendangan lagi. Kayak jawaban. Kayak bayi nya bilang, "Aku juga sayang Ibu."

Lestari senyum—senyum pertama kalinya setelah berminggu-minggu nggak senyum.

"Kamu... kamu jadi alasan Ibu bertahan... kamu tau nggak? Kalau nggak ada kamu, Ibu mungkin udah nyerah dari dulu... tapi karena ada kamu... Ibu harus kuat... harus..."

Dia merem. Kecapean. Badannya sakit semua. Tapi hatinya... sedikit lebih tenang.

Karena bayinya masih hidup.

Masih kuat.

Dan selama bayinya kuat—

Dia juga harus kuat.

---

Pagi harinya, Lestari bangun dengan badan lebih sakit. Tapi dia bangun juga. Shalat. Masak. Kerja.

Seperti biasa.

Tapi hari itu, ada yang beda.

Sekitar jam sepuluh pagi, Bu Ratih datang. Ketok pagar belakang.

"Lestari? Lestari ada?"

Lestari yang lagi nyuci baju langsung berdiri—susah banget berdiri nya, harus pegangan tembok. "Ada, Bu. Sebentar ya."

Dia jalan ke pagar. Buka.

Bu Ratih berdiri di sana, bawa kantong plastik. Muka nya... prihatin banget. Mata nya berkaca-kaca.

"Nak... Ibu denger semalam... Ibu denger kamu jatuh... kamu... kamu nggak apa-apa?"

Lestari ngangguk pelan. "Aku baik, Bu... bayiku juga baik... tadi pagi dia tendang... masih kuat..."

Bu Ratih ngeluarin napas lega. "Syukur... syukur..." Dia ngasih kantong plastik itu ke Lestari. "Ini. Ibu beliin susu ibu hamil sama vitamin. Kamu minum ya. Jangan kasih ke Dyon."

Lestari nerima kantong itu. Dalemnya ada empat kotak susu ibu hamil, sama satu botol vitamin.

Air mata Lestari keluar. Nggak ditahan. Keluar begitu aja.

"Bu... kenapa... kenapa Bu baik banget sama aku... aku... aku bukan siapa-siapa Bu—"

"Karena kamu manusia, Nak. Kamu sama bayi kamu berhak diperlakukan dengan baik. Kamu berhak hidup layak. Ibu nggak bisa diam aja liat kamu menderita kayak gini."

Lestari nangis. Nangis sambil peluk Bu Ratih. Peluk erat.

"Makasih, Bu... makasih... aku... aku nggak tau harus balas gimana... makasih..."

Bu Ratih mengelus punggung Lestari. "Udah... udah nggak usah nangis... kamu harus kuat. Demi anak kamu. Ngerti?"

Lestari ngangguk di bahu Bu Ratih.

"Suatu hari nanti... suatu hari kamu pasti bisa keluar dari sini. Ibu percaya. Ibu doain. Tapi sekarang... sekarang kamu harus bertahan. Jaga kesehatan kamu. Jaga bayi kamu. Oke?"

"Oke, Bu... aku janji..."

Bu Ratih pergi setelah itu. Lestari berdiri sendirian, pegang kantong plastik itu erat.

Dia liat ke dalam—susu nya masih lengkap. Vitamin nya masih penuh.

Kali ini... kali ini dia bakal jaga. Nggak bakal sampai diambil Dyon atau Wulandari.

Dia simpen di kamar gudang—simpen di kardus paling bawah, ditutup kain lusuh. Tempat yang aman.

"Anak ku... sekarang Ibu punya susu buat kamu... vitamin buat kamu... kamu harus tumbuh sehat ya... harus kuat... karena nanti... nanti kita bakal keluar dari sini... entah gimana caranya... tapi Ibu janji... kita bakal keluar..."

Lestari mengelus perut sambil bisik-bisik.

Dan di dalem perut—

Bayinya tendang lagi.

Kayak bilang, "Iya, Ibu. Aku percaya."

---

Tapi pertanyaan nya tetap ada—

Gimana caranya keluar?

Lestari nggak tau.

Tapi dia tau satu hal—

Selama dia masih napas.

Selama bayinya masih hidup.

Dia nggak boleh menyerah.

Nggak boleh.

1
checangel_
Tak ada lagi kata terucap, teruntuk Lestari wanita kuat dan tentunya Author hebat di balik setiap lembarannya 👍🙏
Mentari_Senja: mkasih udh slalu stay di ceritaku, Kak☺
total 1 replies
checangel_
Dan tentunya penuh kejutan 🤭
checangel_
/Good/
Dri Andri
yon urang gelud lah... ajg parah lord dyon... anak balita aja di tampar... anak setan... bapaknya apa ? aaaaaakakakkakaakakak
checangel_
Karena Dyon adalah suamimu, firasatmu sebagai istri selalu tepat dan akurat Lestarai 😇
Mentari_Senja: ikatan batin seorang istri😌
total 1 replies
checangel_
Wah, Antoni hebat bisa juggling bola/Applaud/, Aunty bangga padamu /Smile/
Mentari_Senja: mkasih Aunty🤭
total 1 replies
checangel_
Kok berasa komedi ya, saat Ibu Wulandari muncul, komedinya ngeri² gimana gitu/Facepalm/🤭, Astaghfirullah maafkan Reader ini ya Ibu Wulandari 🤧
checangel_: Entahlah/Silent/
total 4 replies
checangel_
Anak lelaki memang harus dekat dengan Ibunya, baru deh yang kedua Ayahnya 😇
checangel_
Mau aku kasih tahu rahasia nggak, anak sekecil itu jika sudah mendapat tekanan keras (berupa tamparan, teriakan, bahkan Ibunya tersakiti) dari Ayahnya, saat dewasa anak itu akan benci dengan apa yang pernah dialaminya sedari kecil, TAPI .... kebencian itu bukanlah solusinya, karena pada akhirnya kebenaran yang berpihak 👍
checangel_: /Good/
total 2 replies
checangel_
Kenapa ditampar anak sekecil itu?/Sob/ Dyon kamu itu ya /Drowsy/
checangel_: /Facepalm/
total 4 replies
checangel_
Lestari, kamu Ibu hebat🤧
checangel_
Andriano hadir disaat yang tepat, bukan begitu Lestari, Dyon hempaskan. Astaghfirullah/Facepalm/
Mentari_Senja: main hempaskan aja, Dyon jga manusia, hanya saja dia salah jalur🤣🤣
total 1 replies
checangel_
Dyon kamu itu ya!!!/Grimace/, banyak² istighfar yuk sebelum terlambat 🤧
checangel_
Tenang, ada Allah yang selalu bersamamu😇
Mentari_Senja: dan ada author yg slalu ada di cerita ini🤭
total 1 replies
checangel_
Tapi kita juga tak tahu, apakah mereka yang tersenyum di luar sana beneran tersenyum atau hanyalah pura², karena dibalik senyum tak semua orang tersenyum 🤭/Facepalm/
Mentari_Senja: karena manusia terlalu pandai berpura2
total 1 replies
checangel_
Lestari, you are strong woman🤧
checangel_
Apalagi ni? Ibu Wulandari berulah lagi🤧
Mentari_Senja: emang suka bikin ulah kak😩
total 1 replies
checangel_
Ibu Wulandari terjuket /Facepalm/
Mentari_Senja: untung aja bukan terjungkit😩
total 1 replies
Dri Andri
anjay ududna Sampurna mill.. beliin aja petasan biar mulut nya hancur😁
Dri Andri: sampurna kretek murah
total 3 replies
Dri Andri
agak laen nih dyon

lo yang kerja bukan cewek yang kerja kalo gitu lo pake daster aja biar cocok
istri kerja
Lo pake baju daster daleman bikini 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!