Hari yang seharusnya menjadi hari yang paling bahagia, tapi nyatanya tidak.
Hari yang seharusnya berganti status menjadi seorang istri dari lelaki bernama Danish, kini malah berganti menjadi istri dari lelaki bernama Reynan, tetangga barunya. Yang katanya Duda.
Dia adalah Qistina Zara, bagaimana kisahnya? kemana Danish? kenapa malah menjadi istri dari lelaki yang baru dikenalnya?
yuk, ikuti kisah Zara di sini😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ke Kantor Zara
“Saya mau tanya, siapa saja di sini yang mengirim barang ke pasar?” tanya Reynan.
Seketika orang yang memiliki tugas itu, terkejut. Ia langsung saling tatap dengan Amir.
“Siapa?” tanya Reynan lagi.
“Saya.”
“Saya.”
“Saya.”
Tiga orang itu langsung mengangkat tangan.
“Siapa nama kalian?” tanya Reynan lagi.
“Saya Hari.”
“Saya Gilang.”
“Saya Boby.”
“Hendri juga, Pak.” ucap Hari.
“Ya. Hendri adalah suruhan saya,” jawab Reynan.
Hendri adalah orang suruhan Reynan. Di mana ia menyuruh Hendri untuk melamar kerja di sana.
Karena pada saat itu, Reynan meminta ke Pak Kades untuk menambah orang lagi untuk mengantar barang.
Ya … di sana seolah-olah, Hendri sedang mencari pekerjaan.
Bersamaan dengan itu, di pabrik pun sedang membutuhkan karyawan baru, sesuai keinginan Reynan.
“Oke … saya mau tanya, berapa harga beras satu karung?” tanya Reynan.
Diam.
Ketiganya diam.
“Satu karung itu lima puluh kilo, ya?” tanya Reynan pada Amir.
“Iya. Satu karung lima puluh kilo,” ulang Amir.
“Berapa itu harganya?” tanya Reynan lagi.
“Enam ratus dua puluh lima ribu, Mas.”
“Berarti satu kilonya di harga dua belas ribu lima ratus?”
“Iya. Benar, Mas.”
“Yakin itu?” tanya Reynan lagi.
“Iya, Mas. Saya yakin,” jawab Amir dengan pasti.
“Benar itu Hari, Gilang, Boby?”
“Em- i-iya, Pak.”
Brak!
Reynan menggebrak meja.
Semua pegawai di sana, melonjak kaget. Dengan kepala yang menunduk.
“Saya tidak tau siapa disini yang tidak jujur. Entah itu kamu,” tunjuknya pada Amir. “atau kalian,” lanjutnya pada Hari, Gilang dan Boby.
Namun, mereka diam.
Tidak ada satupun dari keempatnya yang bersuara.
Namun … terlihat wajah Amir yang pucat. Ia pun masih berdiri, tapi begitu gelisah.
“Tidak ada yang mau mengaku?” tanyanya.
Hening.
“Oke … baiklah. Selama satu minggu, kami memantau pergerakan kalian. Kami juga bertanya ke toko-toko yang beli beras dari pabrik kami dan asal kalian tau, kata mereka … harga beras satu karung itu di enam ratus tujuh puluh lima ribu. Berarti itu yang lima puluh ribu, apa? Kalian mengambil untung, buat apa? Apa gaji kalian di sini kurang besar?” Suara Reynan kali ini cukup besar, tegas dan tajam.
“Entah sudah berapa lama kalian melakukan hal seperti ini? Ya Allah …” Reynan mengusap wajahnya dengan kasar.
“Saya tidak habis pikir dengan otak licik kalian. Apa kalian tidak merasa bersalah, memberikan makan anak istri dengan uang haram?”
“Kurang baik apa, kalian kerja di sini. Dedak sekam padi, kami berikan dengan cuma-cuma. Kalian bisa menjualnya sesuka hati, apa kurang?”
Reynan membuang napasnya dengan kasar.
“Kalian bertiga gak mau jujur?” tanya Reynan.
“Silahkan angkat kaki dari sini, sekarang!” lanjut Reynan.
Dengan ragu, Gilang mengangkat tangan.
“Ya mau bicara apa?” tanya Reynan.
“Maaf sebelumnya, Pak.Yang kami tau, beras satu karungnya itu memang enam ratus tujuh puluh lima ribu, Pak. Sesuai dengan nota yang kami bawa dari pabrik,” ucapnya.
Reynan mengambil tumpukan kertas yang sudah di staples.
“Nih kamu lihat,” ujar Reynan seraya memberikan kertas itu pada Gilang.
Gilang pun mengambilnya, dan ia lihat rentetan angka di sana. Dan memang ia lihat, jika beras satu karungnya seharga enam ratus dua puluh lima ribu, bukan enam ratus tujuh puluh lima ribu.
Tidak hanya Gilang, Hari dan Boby pun turut melihatnya. Mengingat keduanya adalah tanggung jawab untuk mengirim barang.
Seketika ketiganya menoleh pada Reynan, lalu ke Amir.
“Untuk ini, kami tidak tau, Pak. Karena tanggung jawab kami hanya sebatas mengantar dan mengambil uangnya. Setelah uang itu kami serahkan ke Mas Amir, kami tidak tau lagi.”
“Oh … oke … berarti ini permasalahannya ada pada Amir berarti, ya?” Reynan bicara menoleh pada Amir.
Amir hanya menunduk.
Amir tidak bisa mengelak, karena tidak ada orang lain lagi selain dirinya yang memegang uang pabrik itu.
Para mengantar pun tidak bisa Amir jadikan kambing hitam, karena mereka sudah bicara dengan benar. Pun, jika ia mengkambing hitamkan satu orang dari pengantar itu, bisa jadi dua orang diantara ketiganya akan membela.
Sedangkan ia, hanya sendirian.
Tamatlah, riwayatnya saat ini.
“Ikut saya ke kantor,” ucap Reynan pada Amir.
Reynan pun berjalan duluan, diikuti Amir dari belakang.
“Em, kami bagaimana, Pak?” Gilang kembali bersuara.
“Tetap di sini. Tapi jika saya menemukan kecurangan dari kalian, saya persilakan kalian pergi dari pabrik ini dengan tangan kosong.” Setelah bicara seperti itu, Reynan pun kembali melangkahkan kakinya.
Gilang, Hari dan Boby merasa lega. Setidaknya saat ini mereka aman. Ya memang mereka tidak melakukan kecurangan itu.
“Jadi?” tanya Reynan pada Amir setelah berada di kantor.
Amir diam, dengan kepala menunduk. Namun tentu saja, ia tidak bisa menerima perlakuan ini dengan lapang dada.
“Mau saya bawa ke jalur hukum, atau kamu jujur dengan sejujur-jujurnya.”
“E em—”
“Ngomong aja,” kata Reynan.
“Em- sesuai dengan … itu … ya, saya mengambil untung dari beras itu.”
Brak!
“Kamu di sini kerja atau jualan?” tanya Reynan.
“K-kerja,” jawab Amir terbata.
“Kenapa mengambil keuntungan?” tanyanya lagi.
Amir diam.
“Jawab! Sekarang aja, kaya kerupuk kesiram air. Melempem.”
“Kamu saya pecat. Silahkan keluar dari pabrik ini. Saya tidak sudi, punya pegawai seperti kamu. Udahlah mengotori tempat kerja dengan zina di tambah gak jujur. Kalo mau, saya bisa penjarakan kamu dengan kasus penggelapan dana. Tapi saya malas,” ucapnya.
Amir tidak bisa berkata-kata lagi, karena disana Reynan memperlihatkan aksi bejatnya dari laptop. Tentu Hendri yang membuka, Reynan mana sudi.
***
Setelah Amir pergi, Reynan menjatuhkan bokongnya pada kursi.
Rasanya sangat menguras emosi. Terlebih—
“Matikan Hendri,” titah Reynan. Pada dasarnya, video bejat Amir masih berlangsung. Mendengar suara-suara itu sungguh membuat dirinya merasa jijik.
Hendri tertawa. “Siap, bos.”
“Duduk, Hen.” titahnya.
Hendri pun duduk, setelah mematikan video itu dan menutup laptopnya.
“Bersihkan ruangan ini, meja juga ganti. Pokoknya, kantor ini saya mau baru barang-barangnya.”
“Oke bos, siap.”
Seketika, Reynan jadi teringat pada Zara. Apalagi tadi pagi saat mengambil jam tangan dan mencium bau wanginya.
“Zara …” batin Reynan. Bibirnya pun, tersenyum tipis.
“Mikirin apa bos?” celetuk Hendri.
“Oh … enggak. Em- ginni Hen, kemungkinan saya akan ke Jakarta dalam waktu dekat ini. Jadi … saya percayakan pabrik ini ke kamu. Ya?”
“Hah, kenapa jadi saya bos? Istri anak saya gimana di sana?”
“Bawa saja, mereka ikut tinggal di sini. Tempati rumah saya.”
“Yang benar saja, bos.”
“Ya saya serius. Biar gak kosong lagi,” ujarnya.
“Em ya makasih sebelumnya. Nanti saya ngomong dulu ke istri,” kata Hendri.
Reynan beranjak dari duduknya. “Oke … saya pergi dulu, Hen.”
“Mau ke mana, bos?”
“Mau ajak istri makan siang,” jawabnya disertai cengiran.