Kejutan yang Freya siapkan untuk William berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki pria itu berselingkuh. Tanpa niat melabrak, Freya justru merekam pengkhianatan tersebut dan bersumpah akan membalasnya.
Namun, sebelum rencananya selesai, Freya diculik dan dipaksa menerima perjodohan dengan Steven, pria dingin dan berkuasa.
Menolak tunduk, Freya kabur dan menghancurkan karier William dengan menyebarkan video perselingkuhannya.
Tapi, masalah tidak berhenti di sana. Steven murka karena Freya melarikan diri. Ia mengerahkan anak buah untuk menangkap gadis itu, tanpa menyadari bahwa mereka akan bertemu dengan cara yang tak terduga, yang mana Freya menyamar sebagai laki-laki, dan menjadi bodyguard barunya dengan nama Boy.
Kedekatan mereka memicu konflik yang lebih berbahaya, saat Steven mulai merasakan perasaan terlarang pada sosok yang ia yakini sebagai seorang pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Tepat pukul tiga dini hari, Steven tiba di rumah. Miko membantunya menuju kamar, sementara Freya pergi ke dapur untuk mengambilkan minum.
Miko menuntun Steven duduk lalu, menyandarkannya ke sandaran tempat tidur dengan beberapa bantal menyangga punggungnya. Setelah itu, ia menarik selimut hingga sebatas pinggang.
Sesekali Miko menguap, berusaha menahan kantuk yang sejak tadi menyerangnya. Melihat hal itu, Steven mengembuskan napas pelan.
"Istirahatlah," ucapnya.
"Tapi, Tuan—"
"Kau sudah menjagaku semalaman di rumah sakit. Sekarang giliran kau beristirahat. Besok tidak perlu terburu-buru ke kantor," potong Steven tegas, namun lembut.
Miko membungkuk patuh. "Baik, Tuan. Selamat beristirahat." Ia pun keluar dari kamar.
Begitu pintu tertutup, Steven memejamkan mata sejenak. Namun belum lama, daun pintu kembali terbuka. Freya masuk sambil membawa nampan berisi segelas air putih.
"T-tuan, ini minum Anda," ucapnya gugup.
Steven membuka mata. Pandangan mereka bertemu, begitu dekat, saat Freya meletakkan gelas di atas nakas.
Udara seakan menegang. Tidak ada yang berbicara di antara mereka. Perlahan, mata Steven turun, berhenti tepat di bibir Freya.
Sekilas, bayangan samar saat ia menciumnya melintas begitu saja di benaknya. Steven menelan ludah kasar, lalu buru-buru mengalihkan pandangan.
"Kau juga istirahatlah," ucapnya cepat.
"B-baik. Jika Anda memerlukan sesuatu, panggil saja saya," ucap Freya terbata, sebelum berbalik dan keluar dengan langkah tergesa.
Pintu kembali tertutup rapat.
Steven mengembuskan napas panjang. Tangannya terangkat, menekan dada kirinya yang terasa sesak.
"Ada apa denganku? Kenapa jantungku berdetak sekencang ini?" gumamnya pelan.
Bayangan bibir Freya kembali muncul, semakin jelas, semakin mengusik. Dadanya terasa semakin terhimpit oleh perasaan yang tidak ingin ia akui.
"Tidak, tidak mungkin," bisiknya. "Aku tidak mungkin menyukainya."
...****************...
Keesokan paginya, Steven menuruni anak tangga dengan langkah mantap. Ia berencana pergi ke kantor nanti siang jadi, ia ingin bersantai sejenak pagi ini. Namun, begitu tiba di ruang makan, langkahnya terhenti.
Asisten dan bodyguardnya sudah berdiri siaga di belakang kursinya.
Tatapan Steven otomatis menyapu ruangan, lalu berhenti pada satu sosok, yang berhasil membuat dadanya mendadak berdebar tidak beraturan.
"Sial! Kenapa jadi begini?" batinnya gusar. "Kenapa hanya dengan menatapnya saja jantungku berdegup kencang seperti ini?"
Ia menggeleng cepat, seolah ingin mengusir pikiran konyol itu. "Sadar, Steve. Dia seorang pria."
Miko yang melihat Steven terdiam terlalu lama segera menghampiri dengan wajah khawatir. "Anda baik-baik saja, Tuan? Jika masih pusing, sebaiknya—"
"Aku tidak apa-apa," potong Steven cepat.
Ia duduk di kursinya, lalu tanpa sadar kembali melirik Freya yang berdiri tegap di belakangnya. Sementara Miko segera menyajikan secangkir kopi dan roti untuk sarapan tuannya.
"Hari ini tidak perlu terburu-buru ke kantor," ucap Steven tiba-tiba.
"Tapi, Tuan... " ucapan Miko tertahan, ragu untuk melanjutkan.
"Ada apa?" tanya Steven, mengangkat alisnya.
"Naya baru saja menghubungi saya. Ia melaporkan bahwa Tuan Denis dan Tuan William sedang berada di kantor."
Steven tertegun. Tangannya yang memegang cangkir berhenti di udara, lalu perlahan meletakkannya kembali di atas tatakan.
"Usir mereka."
"Sudah, Tuan. Tapi, mereka menggunakan identitas sebagai keluarga Anda jadi, tidak ada yang berani bertindak," terang Miko pelan.
Freya yang sejak tadi diam mendengarkan ikut mengepalkan tangan. "Sepertinya pelajaran yang aku berikan, tidak cukup membuat mereka jera," batinnya geram.
"Ck, merepotkan," gerutu Steven. "Tapi, tidak masalah. Kebetulan ada yang harus aku selesaikan dengan mereka." Ia bangkit dari kursi, meninggalkan sarapannya begitu saja, lalu melangkah keluar dari ruang makan.
Namun, setelah beberapa langkah, Steven berhenti. Ia berbalik, menatap lurus ke arah Freya.
"Bantu aku bersiap, Boy." Tanpa menunggu jawaban, Steven kembali berjalan.
"A-aku?" Freya terkejut, refleks menunjuk dirinya sendiri.
"Cepat! Jangan membuat Tuan menunggu," tegur Miko.
"B-baik!" Freya buru-buru menyusul Steven, meski kepalanya dipenuhi kebingungan tentang apa yang sebenarnya harus ia lakukan.
Freya melihat Steven yang berdiri di depan kamar. Ia perlahan mendekat, mengikuti pria itu masuk dengan langkah ragu.
Pintu di belakangnya tertutup, membuat suasana langsung berubah terasa sempit dan menekan.
Steven berdiri di dekat tempat tidur, punggungnya sedikit kaku.
"Siapkan baju untukku," ucapnya singkat tanpa menoleh.
Freya menelan ludah. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. "B-baik, Tuan." Ia berjalan ke lemari, membuka pintu perlahan, lalu mengambil kemeja dan pakaian jas yang biasa dikenakan Steven.
Saat ia berbalik, Steven sudah bertelanjang dada. Freya terkejut, refleks memalingkan wajah.
"Kenapa kau menghindar?" tanya Steven.
"S-saya hanya... menjaga sopan santun, Tuan," jawab Freya.
Jawaban itu justru membuat Steven semakin kikuk. Ia berdeham pelan, lalu mengulurkan tangan.
"Ambilkan handuk di sebelahmu!"
Freya mengambil handuk dan menyerahkannya pada Steven. Tanpa sengaja, jari mereka sempat bersentuhan, membuat keduanya tersentak, saling pandang
Steven langsung menarik tangannya, salah tingkah. Sedangkan Freya membeku di tempat.
Ruangan kembali sunyi, hanya terdengar suara napas mereka yang sama-sama tidak stabil.
"Ka-kau bisa menunggu di luar—" Steven menggantung kalimatnya, lalu menggeleng cepat. "Tidak. Tunggu saja di sini." Ia menatap Freya ragu. Namun dalam hati terus meyakinkan diri.
"Tidak apa-apa, Steve. Dia itu pria. Bukankah kau sudah biasa saat bersama Miko. Kenapa sekarang kau gugup?" batin Steven meyakinkan diri. Ia lalu mulai melepas pengait celananya, meski gerakannya terlihat ragu.
Freya melebarkan kedua matanya, buru-buru berbalik, menatap lurus ke depan seperti patung, berusaha keras menekan rasa gugupnya.
"Kenapa dia melepas celana di depanku?" gerutu Freya dalam hati.
Steven melepas celana panjangnya, menyisakan celana boxer lalu, melilitkan handuk di pinggangnya. Pandangannya, sesekali tertuju pada Freya yang berdiri membelakanginya, tapi setiap gerakan kecil Freya, bahkan hanya tarikan napas saja, membuat bahu Steven menegang.
"A-apa kau selalu setegang ini saat bekerja?" tanya Steven tiba-tiba, tanpa menyadari jika dirinya tidak kalah tegang
"Saya hanya menjalankan tugas, Tuan." Jawaban itu terdengar datar, tapi di dalam hati, Freya merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang.
"O-oh, begitu," sahut Steven. "Aku akan mandi. Kau letakkan saja bajuku di tempat tidur."
Freya mengangguk cepat. "Baik."
Begitu pintu kamar mandi tertutup, Freya baru berani menghembuskan napas panjang, seolah baru lolos dari bahaya besar.
Dia buru-buru menata kemeja, Jas, celana, dan dasi di tempat tidur. Lalu, ia meletakkan sepatu di lantai. Setelahnya, dia langsung keluar dari kamar dengan langkah tergesa.
Sementara di kamar mandi, Steven berendam dengan mata terpejam, tubuhnya perlahan tenggelam hingga sebatas dada. Otot-ototnya yang tegang sejak pagi mulai mengendur perlahan.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Bayangan samar kembali menyusup ke benaknya.
Wajah Boy yang gugup. Tatapannya yang menunduk dan, bibirnya yang—
Steven langsung membuka mata. Napasnya tersengal, dadanya naik turun lebih cepat dari seharusnya.
"Apa yang aku pikirkan?" gumamnya pelan. "Jelas-jelas aku pingsan di kamar mandi. Setidaknya... Itu yang mereka katakan."
Steven menarik nafas dalam. Ia menyentuh dadanya, yang berdegup kencang. "Sepertinya, aku harus menemui dokter spesialis jantung setelah ini," gumamnya.