Udara terasa berbeda hari itu lebih berat, lebih sunyi. Ia mengucapkan sebuah kalimat yang telah lama ia simpan, berharap waktu masih cukup untuk mendengarnya kembali.
Tak ada balasan.
Hanya diam yang terlalu lama untuk diabaikan.
Detik demi detik berlalu tanpa perubahan, seakan sesuatu telah bergeser tanpa bisa dikembalikan. Kata cinta itu menggantung, tidak jatuh, tidak pula sampai, meninggalkan pertanyaan yang tak terjawab.
Apakah kejujuran memang selalu datang terlambat?
Atau ada perasaan yang memang ditakdirkan untuk tak pernah didengar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33 The Invisible Crown
Mansion Caelum tidak dihiasi bunga-bunga putih atau karpet merah. Tidak ada musik orkestra maupun tamu-tamu agung dari kalangan elit. Pernikahan itu berlangsung di ruang kerja besar milik mendiang Eleanor, hanya disaksikan oleh seorang penghulu, Jacob, dan beberapa pengawal yang berjaga di depan pintu.
Liora duduk dengan kebaya putih sederhana yang tampak sedikit longgar di tubuhnya yang kian kurus. Di sampingnya, Leo duduk tegak dengan setelan jas hitam, wajahnya kaku seperti batu nisan. Ia tidak menatap Liora sedikit pun.
Saat kalimat ijab kabul selesai diucapkan dan saksi menyatakan "Sah", Liora memejamkan mata. Air matanya jatuh membasahi punggung tangannya. Ia telah resmi menjadi istri dari pria yang selama ini menjadi sumber luka terdalamnya.
The Secret Letter
Beberapa saat sebelum akad dimulai, Liora sempat menolak keras. Ia hampir melarikan diri lewat pintu belakang sebelum Jacob mencegatnya dan menyerahkan sebuah amplop berwarna krem yang masih harum aroma parfum Eleanor.
"Liora, anakku yang manis..." tulis Eleanor dalam surat itu.
"Jika kau membaca ini, artinya aku sudah tidak ada. Liora, aku tahu betapa berat beban yang kau tanggung karena putraku. Tapi aku memohon padamu, jadilah istrinya. Jadilah cahaya untuk kegelapan di hatinya. Aku tahu dia monster, tapi di tanganmu, aku yakin benci itu bisa berubah menjadi cinta. Tolong, ubahlah putraku. Aku yakin suatu saat Leo akan mencintaimu dengan tulus, lebih dari ia mencintai nyawanya sendiri. Lakukan ini untukku, Nak."
Surat itu adalah belenggu terakhir yang menghancurkan pertahanan Liora. Ia tidak bisa menolak permintaan wanita yang telah memberikan kasih sayang ibu padanya. Dengan hati yang hancur, ia melangkah menuju meja akad.
The Wife Who Serves
Namun, status sebagai "Nyonya Caelum" hanyalah sebuah gelar kosong di atas kertas. Segera setelah acara selesai, Leo berdiri dan merapikan kancing jasnya tanpa memandang Liora.
"Jangan berpikir karena kita sudah menikah, hidupmu akan berubah menjadi ratu di rumah ini," ucap Leo dingin sambil menatap ke jendela. "Kau tetaplah Liora yang kusebut sampah. Tugasmu adalah mengurus rumah ini, memastikan semuanya bersih seperti yang Ibu inginkan. Kau adalah istri di mata hukum, tapi di rumah ini, kau tidak lebih dari pelayan yang memiliki surat nikah."
Liora hanya menunduk, meremas jemarinya yang masih terbalut luka. "Saya mengerti, Tuan Leo."
"Panggil aku 'Suamiku' jika di depan orang luar, tapi di sini, jangan pernah lancang menyentuh barang-bahasku tanpa izin," tambahnya sebelum melangkah pergi meninggalkan ruang kerja itu.
Malam itu, Liora tidak tidur di kamar utama yang mewah. Leo membiarkannya tinggal di kamar lama yang biasa ia tempati, atau menyuruhnya membersihkan ruangan-ruangan besar hingga larut malam. Liora diperlakukan layaknya pembantu; ia yang menyiapkan kopi Leo, ia yang mencuci kemejanya, dan ia yang harus menahan makian setiap kali ada kesalahan kecil.
Jacob yang melihat itu hanya bisa berdiri di lorong dengan hati yang tersayat. Ia berkali-kali ingin berteriak pada Leo: "Gadis yang kau suruh membersihkan lantai itu adalah orang yang hatinya sedang berdetak di dalam tubuh ibumu yang kau tangisi setiap malam!"
Namun, Jacob ingat teka-teki itu. Waktunya belum tiba.
Liora bekerja dalam diam. Setiap kali ia merasa lelah atau lukanya berdenyut perih, ia akan meraba dadanya, mengingat pesan Eleanor dalam surat itu. Ia akan mencoba menjadi istri yang baik, bukan karena ia mencintai Leo, tapi karena ia mencintai Eleanor. Ia akan bertahan dalam neraka ini, mencoba mengubah benci yang berkarat menjadi sesuatu yang Eleanor harapkan, meski ia harus hancur berkali-kali dalam prosesnya.
"Liora mengenakan cincin pernikahan yang terasa lebih berat daripada rantai penjara."
"Leo mengira ia sedang menghukum Liora dengan menjadikannya pembantu, tanpa tahu ia sedang menyia-nyiakan satu-satunya keselamatan bagi jiwanya."
"Cinta yang dipaksakan oleh wasiat adalah benih yang ditanam di atas tanah yang beracun."
"Jacob menjadi saksi bisu bagaimana seorang pahlawan diperbudak oleh orang yang ia selamatkan."