NovelToon NovelToon
Mau Bahagia Denganku? Sayang?

Mau Bahagia Denganku? Sayang?

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kontras Takdir / Slice of Life
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: apelcantik

Novel mau bahagia denganku? sayang? Izin masuk ya, hallo kembali ke apel cantik!

Ayahnya berinvestasi hingga berhutang sampai 10 milliar, karena tak sanggup membayar pria itu malah menjual Aluna ke anak buah penagih hutang. Malam harinya pintu tanpa diketok, masuk nyelonong begitu saja, seorang pria melemparkan koper didepan meja yang berisi uang 10 milliar.

Kontrak pernikahan tak boleh dilanggar.


1. Tak ada kontak fisik
2. Dilarang jatuh cinta
3. Dilarang mengintip kehidupan pribadi masing-masing.

Durasi kontrak: 1 Tahun
Setelah masa kontrak selesai akan dibayar 1 Triliun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apelcantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Siapa yang nyari?

Halo semuanya... Welcome... Welcome...

"Eh... Aluna... Aluna, yang kalian maksud anak saya? Kalian tanya anakku itu? "

Dion menghela napas kasar, dia ingin sekali memukul pria di depannya ini—karena setengah mengantuk maklum Keldo memastikan kebenarannya. Dion angguk kepala, "Iya Pak anakmu... Aluna Inatura Kaleo... atau Anda mau bogeman lagi biar bisa tambah paham? "

"Eh iya... iya... "

Dion akhirnya menarik nafas lega, dia memejamkan mata erat. Keldo mulai memberitahu kejadian semalam. "Kemarin malam aku di sini, lalu Aluna tiba-tiba menghampiriku... katanya dia mau kasih aku uang, " bohong pria itu, jelas dia tidak mengatakan yang sebenarnya—tapi Dion tak curiga sama sekali, dalam pikiran pria itu mungkin kedekatan anak dan ayah memang tak bohong. "Jadi Nyonya menemuimu untuk memberimu uang? Berapa? "

"Tapi mengapa kau masih meminta uang tadi hah? " tanya Dion menatap nyalang, Keldo segera garuk kepala cepat. "Aish... yang diberikan Aluna cuma berapa sih... seratus ribu, itu mah cuma bisa buat jajan sehari doang... "

"Ck, terus. Ceritakan itu nanti saja. "

Mendengarnya Keldo angguk kepala, dia mulai melanjutkan kejadian yang menimpanya sampai ia bisa jatuh pingsan karena ulah seorang wanita tomboi. "Saat itu ada suara wanita entah siapa mukul saya dari belakang, "

"Terus? Bagaimana rupa wanita itu? Siapa namanya? Apa dia teman Nyonya Aluna atau apa—"

"Ck, aku mana tahu. Sepertinya dari feeling-ku sih dia rekan kerja Aluna di kafe. "

Dion memegang dagunya, dalam posisi berpikir. Setelah apa yang dia pikirkan muncul, pria itu langsung pergi begitu saja. Keldo tak puas, dia memegang lengan pria itu. "Eh tunggu, kau tak mau memberikan aku uang? " tanya Keldo, Dion menatap temannya dengan isyarat dalam pupil matanya. Sepertinya para bodyguard mengerti apa yang diisyaratkan, mereka langsung menghantam kepala Keldo sampai kembali pingsan.

...****************...

Di kafe tempat lama Aluna bekerja, kini sedang sedikit ramai pengunjung. Dion masuk sendirian, sedangkan kedua orang yang mengawalnya berada di depan. Mereka menitipkan minuman padanya, "Mas Dion kopi ya dua... " kata mereka, sambil matanya dikedip-kedipkan, mencoba menggoda Dion yang sebenarnya sedang bad mood.

Dion berdecak kesal, "Hm... nanti ganti uangku. "

"Yah... ya sudahlah Mas, belikan dulu. " kata mereka, bersantai-santai di bangku kafe. Dion menyerobot antrean, walau pria itu mendahului para wanita yang rela mengantre, dirinya tetap diterima karena tampan. "Aduh ganteng banget... "

"Iya... minta nomor kali ya? " seru ciwi-ciwi, berbeda dengan para laki-laki yang akan protes tapi pacar mereka melarangnya. Dion maju menembus antrean, bertanya pada sang kasir. "Mbak, boleh saya nanya? "

"Duh bentar ya Mas! Nyoba ngantre deh... ini lam—"sebelumnya si wanita kasir itu menatap ke bawah, wajahnya super nyolot. Tapi setelah mendongak, dia bertingkah kemayu dengan menaruh anak rambut ke belakang dahan telinga. "Eh ya Mas... ada yang bisa dibantu... "

"Oh ya begini, ehem... saya pesan dua kopi nescafe terus saya mau tanya ada yang di sini mengenal Nyonya Aluna? "

"Aluna... siapa ya Mas? Di sini tak ada yang namanya seperti itu, "

"Namanya Aluna Inatura Kaleo... barangkali ada yang masih ingat. "

Pria sedikit gondrong menyentak rekan kasirnya, dia mengaku mengenal karena sudah menjadi rekan lama Aluna. "Oh Mas cari dia? Dia sudah resign Mas, kalau cari sampai ujung dunia pun ga bisa... "

"Apa ada ya yang ngerasa datang membawa Nyonya Aluna ke sini? "

Mereka sedikit bingung kenapa Aluna terus dipanggil awalannya dengan sebutan Nyonya. Tapi mereka tetap konsisten menjawab, tanpa membuat raut wajah penasaran. "Tidak Mas, setahu saya... "

"Hei! Mbak! Pharita absen sakit katanya! "

"Lho bangsat! Mana cuma dia yang bisa buat kopi enak! " seru si gondrong, wajahnya pucat pasi. Dion menaikkan sebelah alisnya, terpancing dengan yang namanya Pharita tersebut.

"Siapa yang tak masuk di antara kalian? "

Mereka menoleh, "Em... privasi ini Mas maaf... "

"Tapi kalian menyebut namanya tadi. " si kasir langsung menoleh ke belakang, merutuki rekan kerjanya yang ceplas-ceplos tadi berteriak seenaknya. Si gondrong mencoba menjauhkan baju Dion agar tak semakin mengganggu pekerjaan mereka. "Maaf Mas, kami tidak ingin ribut. Kalau Mas pengen pesan kopi tolong antre ya... "

Para laki-laki di belakang juga setuju. "IYA MAS! ANTRE! NYEROBOT BAE! "

Pintu dibuka Dion, ia membawakan dua gelas kopi nescafe kepada dua temannya. Mereka menerima dengan senang hati, "Makasih bro, pakai uangmu dulu ya Mas... " Dion langsung menatap mereka satu persatu, "Anjing ya kalian. "

"Kita bukan anjing Mas, kita manusia. Nanti anjingnya kesinggung lho... "

Dion menghela napas pasrah, dia memegang tablet di tangannya mulai penasaran dengan yang namanya Pharita ini.

...****************...

Setelah keluar dari kamar mandi, Aluna memegang perutnya yang terasa kram. "Duduk dulu Lun, duduk... "

"Tenangin dirimu. "

Aluna angguk kepala, dia menidurkan kepalanya di atas bantal yang sarungnya sudah diganti bersamaan dengan seprai yang juga diganti bermotif Hello Kitty. Pharita duduk di sampingnya, "Izin ya Lun... "

Ia membuka setengah pakaian wanita itu, dia berikan kompres hangat di atas perutnya. Sedikit geli-geli perih, tapi kini Aluna bisa tenang. "Maaf Kak, aku bantu cucikan ya? "

"Aih kau ini, apaan sih. Mending kau istirahat dulu, jangan banyak tingkah. Oke? "

"Oh ya sudah mau malam, aku masakkan sesuatu oke? " tanya Pharita meminta izin pergi ke dapur, untuk memasakkan makan malam. Tapi di dalam kulkas terasa sangat kosong untuknya—minggu ini juga dia belum nyetok bahan makanan.

"Duh... begini banget dah... masa harus habis di waktu yang ga tepat kayak gini? " pikirnya, dia kembali ke depan memberikan remot pada wanita itu dengan cara dilempar. Dahi Aluna terpantuk remot TV, matanya mendongak. "Sana nonton apa kek, aku mau keluar dulu buat beli bahan makanan di Indomaret... "

"Ehmm iya Kak... "

"Kak Pharita apa mau dibantuin? "

Pharita berdecak, dia geleng kepala. "Kalau kau bantu, malah tambah repot jadinya. Aku gak akan tanggung jawab kalau kau pingsan di tengah jalan. " Aluna jadi lesu mendengarnya, dia kembali tidur nyenyak.

Akhirnya tenang juga, Pharita memakai jaket dan juga membawa dompetnya. Ia tersenyum saat akan menutup pintu. Padahal ia direpotkan, tapi ia malah senang karena ada kegiatan santai yang bisa ia lakukan di rumah. Di tengah jalan ia mendapat pesan dari rekan kerjanya, ia namakan si gondrong.

Grup Kafe Terjeeeh.

@si gondrong

Kau ini kenapa ga masuk sih Rita... kita nyariin kamu...

@pharita

Eh sorry ya... uhuk! uhuk! sakit berat

@ninajh

Eh, bisa sakit ya?

@pharita

Excuse me?

5 jam yang lalu...

Sekarang...

@ninajh

Gila tadi ada pria ganteng banget, kau percaya gak! Pokoknya gak mau tahu, dia harus datang ke kafe kita buat bisa aku tanya nomor ponselnya...

@si gondrong

Idih najis... kau suka ya sama tipe yang ga sopan kayak gitu? Mana udah nyerobot antrean seenaknya lagi.

@duniahanyabelaka

Eh, maaf ya Pharita...

@pharita

Maaf kenapa dulu nih? Kalau soal belum bayar utang kuhantam kau ya.

@duniahanyabelaka

Ga begitu... maksudnya tadi aku teriak nama kamu keras-keras gitu... terus pria yang nanyain soal siapa? Mas gondrong?

@sigondrong

Nyari Aluna, aku heran kenapa Aluna disebut nyonya... aneh ga sih Rita...

Pharita langsung menganga lebar, jemarinya cepat mengetik di atas keyboard.

@pharita

Jelasin lagi, kenapa orang itu nyari Aluna? Drong, ngomong apa dia? Terus napa nyebar namaku juga?!

Tak ada jawaban, setelah Pharita keluar dari Indomaret membawa banyak sekali buah-buahan, sayuran, telur, bahkan beras dia kembali ke dalam grup hanya melihat mereka menjawab pertanyaannya dengan candaan.

@sigondrong

pinisirin bingit yiii

@duniahanyabelaka

Mikir kidzz

@ninajh

au ah males jawab....

...****************...

Pharita mengomel di sana, "Ck, sialan anak-anak kafe ini ya... aku harus cepet pulang—"

BRUK! —

Pharita kaget, Dion juga kaget. Mata mereka saling bertemu, saling menjatuhkan dompet yang sama persis warnanya. Dion yang lebih pendek dari wanita yang ia tabrak segera mengambil kedua dompet tersebut. "Ini silakan. " kata Dion menyerahkan dompet, yang dia kira milik Pharita, wanita itu angguk kepala. Setelah mengambil dompetnya, ia segera meluncur pergi waswas dengan orang sekitar.

Dari kejauhan, Dion membuka dompetnya. Alangkah terkejutnya kala dompet yang dia pegang saat ini bukanlah miliknya. Ia melihat Kartu Tanda Pengenal wanita barusan, yang memiliki perawakan menakutkan.

"Pharita Adostia Karisa?! "

"Pharita—" Dion segera menoleh, dia mencari keberadaan wanita itu di setiap jalan untuk mencegahnya tapi dia sudah terlambat. Tak ada lagi wanita itu di jalan yang dia rasa tadi dilewati.

"Ck, cepat sekali langkahnya. "

...****************...

Pharita ngos-ngosan sendiri saat sampai di rumahnya, kakinya gemetar ia menaruh sepatu sandalnya sembarangan. Tak peduli dia dikira tak rapi, kalau ia ingin segera beristirahat di atas ranjang.

Pharita berhenti di depan Aluna yang asyik menonton TV sambil tertawa, kini sudut bibir wanita itu ikut terangkat. 'Akhirnya kau senyum juga... '

"Eh Kak Pharita... selamat datang, mau dibantuin masaknya? "

Wanita itu geleng kepala, dia bisa mengurusnya sendiri.

...****************...

Dion masih menatap kartu nama yang dia pegang, ia menggigit jempolnya sampai kukunya sobek. "Apa ini yang akan aku laporkan pada Tuan Arkan... "

"Ck, seperti mau meminta ACC ke dosen saja. " katanya memutar setir yang dia kemudikan, ia masuk ke dalam halaman mansion rumah Seo.

Di sana rupanya Arkan sudah menunggu sambil menyilangkan tangan, Dion paham akan tatapan tuannya yang setajam belati. "Apa yang kau dapatkan Dion? "

"Ah itu... —"

Dia menyerahkan Kartu Tanda Pengenal Pharita ke Arkan yang dibalas dengan kerutan alis. "APA MAKSUDMU INI TOLOL! BECUS TIDAK! "

"Tu—tunggu dulu Tuan Arkan... saya masih belum menjelaskan secara detail... mungkin saja Nyonya Aluna berada di rumah wanita itu. " kata Dion mencoba meredakan amarah tuannya yang sudah meledak-ledak bagai Angry Bird.

"Ck, jelaskan, ringkas, padat, dan harus sesuai fakta. "

Gluk—Dion rasanya benar-benar menghadapi sidang skripsi di sini.

...****************...

Pharita berdiri, dia membereskan alat makan Aluna dan dirinya. Di belakang ia mencuci piring dengan mata kosong, "Siapa yang mencari Aluna? Apa orang itu juga mengincar hadiah 500 juta tersebut? " pikirnya pelan, dia menggosok piring dengan busa.

Setelah menyelesaikan tugasnya, ia menyuruh Aluna untuk beristirahat. Seusai memastikan wanita itu lelap dalam tidurnya, awalnya Pharita juga ikut mengantuk—tapi dia harus hitung dulu uang sisa di dompetnya yang belum dia pegang sama sekali sampai sekarang. Pharita mengedip mata, dia baru sadar setelah isinya begitu banyak uang di dalamnya.

"1 juta?! Ini bukan uangku... aku ingat sisa uangku tinggal 50 ribu... ah—tidak! Tidak mungkin! " ia membuka sisi poket di dalam dompet tersebut, matanya seketika penuh kekhawatiran. "KTP-ku mana?! Sialan! Fuck! Anjing lah! Bangke! Masa ketuker sama pria tadi?! " seru Pharita, benar-benar sial sekali. Dia membanting dompet tersebut ke tembok, meremas kepalanya yang mulai cenat-cenut.

Kalau kehilangan 50 ribu tidak apa-apa, kalau Kartu Tanda Pengenal? Siapa yang rugi?

Semalaman Pharita tak bisa tidur, dia terus mengganti posisinya berkali-kali agar tak kepikiran, tapi kalau tidak segera menemukan apa yang dia inginkan rasanya ada yang mengganjal. Dirinya terbangun sendirian di tengah malam, tepatnya hampir jam 12 malam ia mengecek handphonenya.

Ia berniat akan melaporkan kehilangan barang pentingnya kepada kepolisian semalam ini, tapi ia ragu pada dua hal yang tak bisa dia putuskan. Kalau dia melapor apakah dia tak akan dijadikan tersangka karena menyembunyikan Aluna di rumahnya? Atau polisi tidak curiga sama sekali dan mau bekerja sama untuk membantunya mencari KTP-nya itu?

Pharita mendengus, dia memilih mencari angin di luar saja daripada harus repot-repot mikir. Ia membuka sebungkus rokok dari sakunya. Tak perlu diherankan karena ia adalah wanita tomboi jelas rokok bukan masalah besar untuknya.

Saat kepulan asap ia keluarkan ke atas, ia melihat ke samping—matanya semakin menyipit kala mobil itu semakin mendekat, dengan cahaya terang benderang. "Tumben ada mobil lewat di gang ini... biasanya lewat depan. " pikir Pharita, dia masih belum curiga sebelum seorang pria berjas hitam kasual keluar melangkahkan kaki, sedang akan membukakan pintu untuk seorang pria tinggi, besar, dengan kacamata hitamnya.

"Kau yakin di sini Dion? Kalau kau salah, saya lempar kamu ke rel kereta api. " mendengar ancaman majikannya, jelas siapa yang tak ketakutan. Dion tetap menyamarkannya dengan hati-hati.

Pharita kaget saat kedua pria itu mendatanginya, ia menjauhkan rokoknya cepat. "Pak ada keperluan apa Anda kemari? Kalau mencari orang, besok saja semua tetangga saya sudah tidur. " ucap Pharita santai, sebelum kacamata milik Arkan dilepas olehnya. Wanita itu menganga lebar, "A—ARKANA SEO DIRGANTARA!!! "

Dion melotot, dia langsung menampar pipi wanita itu kencang. Mungkin karena ia kuat, Pharita tak tertoleh sama sekali—justru tamparan yang dibuat Dion seperti pukulan anak kecil. "Berani sekali kau! Panggil dengan Tuan! "

"Hah?! " saat Pharita menoleh ke bawah, karena Dion lebih pendek darinya. Pharita kini tambah mendelik, "Kau! Kau pencuri dompetku?! "

"Hah? " Dion langsung menaikkan sebelah alis mata.

"Oh jadi KTP itu punyamu... "

"Kukira punyanya si jamet. " lanjut Dion begitu sadisnya, sampai membuat hati wanita itu mencelos sempurna.

Bersambung...

1
Fanchom
ih kok ngeri gitu ver? 🤣🤣
Fanchom
asik ada gambarnya🤭🤭
Fanchom
lengkap banget ver, biodata karakternya? 🤭
Fanchom
aduh mengerikannya...
Fanchom
wih ada gambarnya😌, langka nih
Fanchom
kak aku sebenarnya suka sama karakter Aluna ini, cuma menurut ku dia ini kek kebanyakan pasrah gitu
Gumobibi Gumob
kok bisa lupa ente😶
Gumobibi Gumob
wah mahal nih mas arkan...
Gumobibi Gumob
yng sbr ya mb Vera 🤭 sllu
verachipuuu
siapa yang berdebar disini gara-gara Arkan 🤣🤣🤣
verachipuuu
oh ya 🤣🤣
Gumobibi Gumob
knp sllu gambrny g muncul? kn jadi penasaran aQ 🤣
Gumobibi Gumob
😄
verachipuuu
guys apakah ada gambar yang tidak muncul di device kalian 🧐
verachipuuu: ya makasih 🙏
total 2 replies
verachipuuu
hallo guys dukung Vera agar cemangat🤭🤭🤭😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!