Shabiya seharusnya tidak memiliki harapan bisa memenangkan hati suaminya, ketika pernikahan mereka saja terjadi atas keinginan satu pihak. Wanita itu seharusnya mengubur semua impian tentang keluarga cemara yang selalu didambakan olehnya setiap malam.
Apalagi, ketika ia sudah mengetahui bahwa kehadirannya di hidup suaminya hanya untuk menggantikan posisi seseorang. Dan ketika Shabiya ingin menyerah, tidak ada celah untuknya melarikan diri. Dia sudah terperangkap. Pria tersebut tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah.
Akankah semesta membantunya untuk lepas dari pria yang berstatus sebagai suaminya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafa Fitriaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang Operasi
Sirine ambulans dan deru mobil milik Galen membelah gerbang rumah sakit internasional itu layaknya sambaran petir. Begitu ban berhenti berdecit, Galen melompat keluar dengan tubuh Shabiya dalam dekapan lengannya yang gemetar. Jas mahalnya yang seharga ratusan juta kini tak lebih dari kain kotor yang bermandikan darah segar. Darah milik istrinya dan anaknya.
"DOKTER! MANA DOKTER?!" suara Galen menggelegar di lobi unit gawat darurat, meruntuhkan ketenangan steril ruangan itu.
Para perawat berhamburan membawa brankar. Saat tubuh Shabiya dipindahkan dari pelukan Galen ke atas kasur dorong, pria itu sempat terpaku melihat tangannya sendiri yang memerah. Ia merasa sebagian dari dirinya baru saja tercerabut. Ia melihat wajah Shabiya yang terkulai, pucat layaknya porselen yang retak, dengan napas yang terdengar seperti gesekan kertas amplas. Pendek, berat, dan hampir terlihat seperti tidak bernapas.
Brankar itu didorong dengan kecepatan tinggi menuju ruang operasi khusus. Galen berlari di sampingnya, terus menggenggam tangan Shabiya yang sedingin es.
"Jangan berani-berani kau meninggalkan ku, Shabiya! Dengar aku! Kau tidak punya izin untuk pergi!" teriak Galen, suaranya parau oleh amarah yang bercampur dengan ketakutan yang sangat besar.
Namun, di ambang pintu zona merah, seorang perawat senior menahan dadanya. "Tuan, Anda tidak boleh masuk. Mohon tunggu di luar."
"Lepaskan aku! Aku akan memiliki gedung ini jika aku mau! Selamatkan dia atau aku pastikan tempat ini rata dengan tanah!" Galen meronta, matanya berkilat liar layaknya binatang buas yang terpojok.
Pria itu dihantui kejadian beberapa tahun silam yang terjadi pada dirinya. Kejadiannya memang berbeda, namun ... perasaan yang terus menggerogoti nya hampir sama. Dan ia tidak suka akan hal itu.
Arsen tiba beberapa detik kemudian, napasnya memburu. Ia segera memegang bahu Galen, mencoba menahan tuannya yang sudah kehilangan kendali diri. Di depan pintu ruang operasi yang tertutup rapat, Galen berubah menjadi badai. Ia menghantam dinding koridor dengan tinjunya hingga plesteran tembok itu retak.
"Kenapa mereka lama sekali?!" Galen berteriak pada Arsen. "Panggil kepala rumah sakit ini! Panggil semua spesialis terbaik di negeri ini! Jika terjadi sesuatu pada bayi itu... jika terjadi sesuatu pada dia..."
Galen tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Ia berjalan mondar-mandir seperti predator di dalam sangkar. Pikirannya berperang antara dua obsesi, bayangan Thana yang hampir ia bangkitkan kembali melalui anak itu, dan sosok Shabiya yang kini nyata, yang darahnya masih terasa hangat di jemarinya.
Pintu operasi terbuka sesaat. Seorang dokter bedah keluar dengan wajah tegang, masker hijaunya masih menempel namun keningnya dipenuhi keringat.
"Tuan Gemilar, kondisi pasien sangat kritis," ucap dokter itu dengan suara bergetar. "Terjadi pendarahan internal yang hebat di bagian abdomen. Benturannya merusak plasenta. Kami harus melakukan tindakan cepat, tapi ada risiko besar..."
Galen mencengkeram kerah baju dokter itu, mengangkatnya hingga kaki sang dokter nyaris terangkat dari lantai. "Risiko apa? Jangan bicara bahasa medis padaku! Selamatkan keduanya!"
"Tuan, jika pendarahan tidak berhenti, kami mungkin harus memilih," dokter itu menelan ludah, suaranya menciut. "Menyelamatkan ibunya, atau menyelamatkan janinnya. Kami butuh keputusan Anda jika situasi memburuk."
Waktu seolah berhenti berputar. Galen melepaskan cengkeramannya. Ia mundur selangkah, menatap pintu baja di depannya. Pilihan itu adalah belati yang menghujam langsung ke pusat kegilaannya.
Pilih bayi itu, dan ia akan memiliki pewaris yang ia anggap sebagai reinkarnasi dari Thana, sebuah keberlanjutan dari obsesinya. Namun, ia akan kehilangan seorang pengganti yang selama ini ia puja secara fisik. Pilih Shabiya, dan ia akan menyelamatkan wanita yang baru saja membencinya setengah mati, namun ia kehilangan kesempatan terakhir untuk "memperbaiki" masa lalu melalui anak itu.
"Tuan?" Arsen berbisik, mencoba menyadarkan Galen.
Galen menatap tangannya yang masih berlumuran darah. Ia teringat tatapan mata Shabiya sesaat sebelum truk itu menghantamnya, sebuah tatapan yang penuh dengan kehendak untuk bebas, bukan untuk menjadi pengganti siapapun lagi. Di titik ini, kegelapan di dalam hati Galen mulai bergejolak. Rasa posesifnya yang sakit bertabrakan dengan sebuah perasaan asing yang selama ini ia tekan. Rasa takut kehilangan keberadaan Shabiya yang asli.
"Selamatkan dia," suara Galen terdengar rendah, hampir seperti bisikan iblis. "Selamatkan Shabiya. Berapapun harganya. Jika kau kehilangan dia demi bayi itu, aku sendiri yang akan mencabut nyawamu."
Dokter itu mengangguk cepat dan kembali masuk ke dalam. Galen jatuh terduduk di kursi tunggu, menangkup wajahnya dengan tangan yang merah. Ia menangis tanpa suara, sebuah pemandangan yang membuat Arsen memalingkan wajah karena tak kuasa melihat kehancuran pria paling berkuasa yang ia kenal.
Pria yang ditakuti oleh kalangan manapun kini terlihat sangat rapuh. Lebih rapuh daripada saat dia kehilangan masa lalu nya.
Jam demi jam berlalu seperti siksaan yang abadi. Aroma antiseptik dan suara dengung AC rumah sakit seolah mengejek Galen. Pria itu menolak untuk membersihkan darah di tangannya. Ia ingin membiarkan darah itu kering di kulitnya, sebagai pengingat akan kejahatan yang ia lakukan hingga mendorong Shabiya menuju maut.
Mungkin, seharusnya ia tadi tidak berdiam diri di dalam mobil menonton pertunjukan itu. Jika saja dia bergerak lebih cepat, mereka tidak akan berada di tempat ini dengan bersimbah darah.
Setiap kali lampu ruang operasi berkedip atau perawat keluar membawa kantong darah baru, Galen akan berdiri dengan sigap, siap untuk meledak. Ia mengusir semua staf administrasi yang mencoba menanyakan dokumen. Ia mengancam akan memecat siapa saja yang berani mengeluarkan suara lebih keras dari bisikan.
"Kau mendengar aku, Shabiya?" bisik Galen pada pintu yang tertutup. "Kau belum selesai denganku. Kau belum boleh pergi sebelum aku memberikan neraka yang sebenarnya, atau surga yang kau inginkan. Jangan mati dalam pelarian yang sia-sia ini."
Namun di balik pintu itu, Shabiya sedang bertarung di perbatasan antara cahaya dan kegelapan. Jiwanya yang lelah seolah melihat bayangan Thana yang melambai dari kejauhan, mengajaknya untuk menyerah. Di sisi lain, sebuah suara kecil ... suara denyut jantung yang lemah namun gigih dari rahimnya menahan Shabiya agar tidak melangkah lebih jauh.
Suara kecil itu terus mencoba untuk memanggilnya, tapi langkah kaki Shabiya terus menuju kepada seorang wanita yang tersenyum sambil melambaikan tangan. Senyum yang sangat mirip dengannya. Dari kejauhan, postur tubuh mereka pun sangat mirip.
Meski pernah melihat wajahnya melalui foto, Shabiya selalu penasaran dengan wajah asli wanita yang mengisi kehidupan masa lalu suaminya, siapa tahu ... dia bisa mengobrol dengan wanita itu. Makanya, langkah kakinya terus bergerak maju meski sangat lambat.
Di luar ruangan, sang penguasa kini hanyalah seorang pria yang hancur, menunggu vonis dari takdir yang tidak bisa ia suap dengan uang atau kekuasaan.
👊nggo galen🤭
baru mulai... ky'a seru