NovelToon NovelToon
Mawar Desa Di Tangan Mafia

Mawar Desa Di Tangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers / Roman-Angst Mafia
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

Shasha hanyalah gadis desa biasa yang sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya lewat beasiswa. Namun, hidupnya hancur dalam semalam ketika ia diculik oleh Jake Giordino, seorang pemimpin organisasi hitam yang paling ditakuti.

Shasha tidak melakukan kesalahan apa pun. Dosanya hanyalah satu, yaitu karena ia dicintai oleh pria yang diinginkan Lana, adik perempuan Jake.

Demi memuaskan obsesi sang adik, Jake mengurung Shasha di sebuah mansion tersembunyi. Shasha dipaksa menghilang dari dunia agar pria yang mencintainya bisa berpaling pada adik sang mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kuasa dan Penderitaan

Shasha mengerjap kala cahaya matahari yang terik menembus kelopak matanya. Saat mencoba menggeliat, ia merasakan sensasi aneh. Tubuhnya tidak menapak pada lantai dingin kamar mandi, melainkan terasa ringan seolah sedang mengapung. Perlahan ia membuka mata, dan hal pertama yang ia temukan adalah langit-langit kaca raksasa yang memperlihatkan awan berarak.

Matanya berkedip beberapa kali untuk memastikan ia tidak sedang bermimpi. Ingatan terakhirnya adalah jatuh pingsan di kamar mandi yang gelap, namun kini ia malah berada di sebuah ruangan yang terasa asing.

“Sudah bangun?”

Shasha terkesiap. Ia menoleh ke sumber suara dan mendapati Jake tengah bersantai di kursi panjang tepi kolam, menatapnya dengan raut wajah tanpa dosa.

Shasha mencoba bergerak untuk duduk, namun alas yang ia tempati terasa sangat tidak stabil. Ia baru menyadari bahwa dirinya sedang mengapung di tengah kolam renang di atas float mat. Ketakutan akan jatuh ke dalam air yang dalam membuatnya kesulitan untuk menyeimbangkan diri.

“Hei hei, jangan banyak bergerak,” peringat Jake dengan nada meremehkan, “Semakin kau bergerak, kau akan jatuh ke kolam. Apalagi aku sudah menaruh banyak ular di bawah sana.”

“APA?!” Shasha panik seketika. Bayangan ular-ular kecil yang menerornya semalam kembali muncul, membuat jantungnya berdegup kencan, “Dasar bajingan!” umpat Shasha pada pria yang tampak sangat menikmati penderitaannya itu.

“Jangan bergerak, kau bisa jatuh,” ucap Jake lagi, berpura-pura peduli namun dengan seringaian yang semakin lebar.

Kepanikan yang luar biasa membuat Shasha kehilangan akal sehat. Ia bersikeras ingin duduk sambil melirik ngeri ke dasar kolam. Namun karena gerakannya yang terlalu gelisah, float mat itu terbalik.

“AAAAAAA!”

Tubuh Shasha terhempas ke dalam air, “TOLONG! AKU TIDAK BISA... BERENANG!” teriaknya parau sambil mencoba menggapai permukaan. Tangannya terangkat ke atas, tapi air mulai masuk ke paru-parunya saat ia berusaha menahan napas di tengah kepungan air.

“TOLONG!”

Jake yang mendengar teriakan itu segera berdiri. Bukannya langsung menolong, ia justru berjalan santai ke tepi kolam, berdiri dengan angkuh sembari menyaksikan Shasha yang mulai kehilangan tenaga.

“Segar, kan? Aku berbaik hati memberimu jatah mandi lebih awal.”

Tidak ada sahutan lagi dari tengah kolam. Tangan Shasha yang tadinya menggapai-gapai kini menghilang dari permukaan air.

“Kau benar-benar tidak bisa berenang?” gumam Jake, sedikit terkejut karena ternyata gadis itu tidak sedang berpura-pura, “Mudah sekali ternyata untuk membunuhmu.”

Jake kemudian melirik ke arah pengawalnya yang berjaga di sudut ruangan, memberi kode singkat untuk segera bertindak. Seorang pengawal langsung menceburkan diri dan meraih tubuh Shasha yang sudah lunglai tidak sadarkan diri. Pengawal itu pun mengangkatnya ke tepi kolam, tepat di samping kaki Jake.

“Periksa apa dia masih bernapas,” perintah Jake.

Pengawal itu mengangguk patuh, meletakkan jarinya di bawah hidung Shasha yang pucat, “Masih, Tuan.”

Jake hanya mengangguk pelan, seolah nyawa Shasha bukanlah hal yang krusial baginya, “Biarkan dia di sini,” ucapnya dingin sebelum berbalik dan melangkah masuk kembali ke dalam mansion.

“Baik, Tuan,” jawab pengawal itu sembari menunduk hormat. Ia pun beranjak mengikuti langkah tuannya, meninggalkan Shasha yang basah kuyup dan pingsan sendirian di tepi kolam.

Saat Jake melangkah keluar dari area kolam renang dengan wajah tanpa ekspresi, ia sudah disambut oleh Kevin yang menunggunya dengan raut wajah panik.

“Ada apa lagi?” tanya Jake tanpa basa-basi, suaranya sedingin es.

“Ada masalah, Tuan,” ucap Kevin pelan, suaranya sedikit bergetar sambil melirik ke arah tepi kolam renang, di mana tubuh Shasha yang basah kuyup masih terbaring tidak sadarkan diri.

“Cepat katakan!” perintah Jake dengan nada tinggi yang mendominasi, membuat Kevin dan beberapa pengawal di sekitarnya tersentak terkejut.

“Tuan Alex menculik mata-mata kita, dan sampai sekarang kita belum tahu bagaimana keadaan mereka. Saya khawatir... saya khawatir kalau mata-mata kita akhirnya bicara dan membocorkan rahasia Tuan kepada pihak lawan.”

Jake menarik ujung bibirnya, membentuk senyum meremehkan yang tampak mengerikan. Ia menatap Kevin dengan tatapan menghina, “Menurutmu, tuanmu ini sebenarnya pria yang selemah itu, atau kau yang mulai meragukanku?”

Kevin seketika memucat dan langsung menunduk hormat, “Tentu saja tidak, Tuan. Maafkan saya.”

Wajah Jake berubah serius dan gelap, “Anak buahku adalah orang-orang terpilih yang telah kusumpah dengan nyawa mereka sendiri. Mereka lebih baik mati daripada membocorkan informasi apa pun. Tidak perlu mengkhawatirkan hal remeh itu,” putus Jake dengan angkuh lalu berjalan melewati Kevin.

“Baik, Tuan,” jawab Kevin, masih dalam posisi menunduk.

Langkah Jake tiba-tiba terhenti. Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap tangan kanannya itu kembali, “Oh ya.”

Kevin mendongak, menunggu instruksi selanjutnya.

“Hanya karena kita berhasil merebut dermaga di pantai barat, makanya si brengsek Alex itu berbuat nekat seperti ini, kan?”

Kevin menunjukkan wajah ragu, ia menelan ludah sebelum menjawab, “Saya rasa... motifnya lebih dari sekadar bisnis, Tuan. Apalagi ini menyangkut soal Nona——“

“Hentikan.” Jake membuang wajahnya, tatapan matanya semakin mendingin dan tajam, memutus kalimat Kevin sebelum nama itu sempat terucap sempurna.

“Maafkan saya, Tuan.” Kevin kembali menunduk dalam, merutuki mulutnya sendiri yang tidak bisa dikontrol hingga berani menyinggung topik sensitif itu.

Jake menghela napas panjang, mencoba meredam emosi yang mulai tersulut, “Siapkan mobil. Kita pergi ke markas sekarang.”

“Baik, Tuan.”

Sebelum benar-benar pergi, Jake menatap tajam ke arah para pengawalnya yang berjaga di sekitar kolam, “Awasi gadis itu. Jangan sampai dia melarikan diri atau melakukan tindakan bodoh lainnya. Jika dia berhasil melangkah keluar dari mansion ini sedikit saja, nyawa kalianlah yang akan menjadi taruhannya,” tegas Jake dengan nada penuh ancaman yang tidak main-main.

“Baik, Tuan!” jawab para pengawal itu dengan serempak dan suara lantang.

Jake mengangguk singkat, lalu melangkah pergi dengan aura kepemimpinan yang mencekam, dan diikuti oleh Kevin yang bergegas di belakangnya.

Satu jam berlalu dalam kesunyian yang mencekam di area kolam renang. Shasha mulai menggeliat, kelopak matanya mengerjap perlahan saat kesadarannya kembali pulih. Ia langsung terbatuk hebat, berusaha mengeluarkan sisa-sisa air yang masih menyumbat tenggorokannya, lalu segera duduk dengan napas tersengal. Matanya bergerak liar, menyapu area kolam renang yang luas itu. Jake sudah tidak ada di sana, namun suasana tidak lantas menjadi lebih baik. Karena area itu masih dipenuhi oleh para pengawal yang berdiri siaga.

Shasha memeluk tubuhnya sendiri erat-erat. Pakaiannya masih basah dan udara di dalam ruangan itu kini terasa menusuk hingga ke tulang, membuatnya menggigil kedinginan. Saat ia sedang berusaha mengumpulkan sisa tenaganya, seorang pengawal mendekat dengan membawa sebuah paper bag di tangannya.

Shasha bergerak mundur dengan wajah yang memucat, “Kau mau apa?!” serunya waspada.

Pengawal itu tidak menjawab dengan kekerasan. Ia justru meletakkan paper bag itu dengan perlahan di samping Shasha, “Tuan Jake memerintahkan kami memberikan ini pada Nona,” ucapnya datar.

“Jake?” Shasha menatap pengawal itu dengan bingung, lalu melirik ke dalam tas kertas itu dengan rasa takut yang sangat kentara. Ia khawatir pria itu kembali menaruh hewan berbahaya atau jebakan lain untuk menyiksanya.

“Saya permisi,” ucap pengawal itu singkat, lalu kembali ke posisinya untuk berjaga di luar area kolam renang.

Shasha menatap punggung pengawal itu dengan kening berkerut, “Karyawannya sangat ramah, berbeda sekali dengan majikannya,” gumamnya, dan dengan tangan yang masih gemetar, ia pun membuka tas itu.

“Pakaian?” Shasha mengeluarkan isinya yang ternyata berupa dress putih sederhana dengan hiasan bunga yang tampak sangat indah. Selain pakaian, di dalam sana juga ada sandal rumahan berwarna abu-abu.

“Apa ini muat untukku?” Shasha meneliti ukuran dress itu, namun sesaat kemudian ia tersentak sadar, “Tapi tunggu.” Ia mencoba menenangkan detak jantungnya yang tidak beraturan, “Dia sudah berbuat jahat padaku, aku tidak boleh menerima barang darinya. Jangan sampai dia menaruh racun di kain pakaian ini,” ucapnya dengan nada sengit sambil memasukkan kembali gaun itu dengan asal ke dalam tas.

Kruuk... Kruuk...

Bunyi itu kembali terdengar dari perutnya. Shasha memegangi perutnya yang terasa sangat perih. Kemarin ia hanya makan satu kali, dan malamnya ia justru diberi kejutan mengerikan berupa ular oleh pria bajingan itu. Ia kembali melirik ke sekeliling, pada para pengawal yang berdiri tegak seperti patung.

“Aneh sekali. Kenapa pria bajingan itu tidak mengurungku lagi di kamar?” gumam Shasha. Tatapannya beralih pada permukaan kolam renang yang tenang, “Atau dia memang berniat membunuhku di kolam ini. Bahkan lampu padam semalam, itu juga pasti karena ulahnya.”

Ia menghela napas panjang, menatap paper bag yang tergeletak pasrah di sampingnya. Badannya seketika merinding karena embusan udara dingin yang masuk dari ventilasi.

“Baiklah, sekali ini saja, aku menerima pemberian pria itu. Aku tidak boleh mati karena kedinginan. Tidak akan kubiarkan pria bajingan itu membunuhku dengan mudah,” tekad Shasha. Ia bangkit berdiri dengan gontai, mengambil tas itu, lalu melangkah keluar dari area kolam renang.

Ia mendekati salah satu pengawal dengan perasaan waswas, “Aku ingin berganti pakaian. Apa kamar tempatku itu masih penuh ular?”

“Ular?” ulang pengawal itu dengan ekspresi bingung.

Shasha mengangguk cepat, “Pria bernama Jake itu membawa ular dalam sebuah mangkuk makanan.”

“Kamar Nona sudah dibersihkan pagi tadi,” jawab pengawal itu singkat.

Shasha mendesah lega. Pandangannya kini menyapu interior mansion yang sangat luas dan megah. Langit-langit yang tinggi dengan lampu kristal raksasa menggantung di tengah ruangan. Namun kekagumannya tertutupi oleh kenyataan bahwa Jake tampaknya tidak ingin ia memiliki celah sedikit pun untuk kabur karena menempatkan pengawal sebanyak ini.

“Kamar tempatku disekap itu ada di mana?” tanya Shasha. Semenjak ia tinggal di tempat ini, ia terus dikunci di kamar, dan inilah pertama kalinya ia melihat area luar.

“Di lantai atas, di ujung koridor,” jawab pengawal itu sambil menunjuk ke arah tangga besar yang melengkung indah.

“Ah, terima kasih,” jawab Shasha singkat, lalu melangkah menuju tangga, “Wah, megah sekali,” gumamnya saat melewati ruang tamu utama yang didominasi jendela-jendela tinggi yang menghadap ke halaman luas, “Pria itu sepertinya bukan orang biasa.”

Langkah Shasha perlahan menaiki tangga, “Lantai atas ternyata juga tidak kalah megah,” gumamnya takjub saat pandangannya menyapu detail arsitektur koridor tempat ia disekap. Ia pun mengikuti arah koridor hingga sampai di pintu tertutup di ujung lorong.

Dengan gerakan hati-hati, Shasha membuka sedikit pintu dan menyembulkan kepalanya untuk memeriksa keadaan. Saat dirasa aman, ia masuk sepenuhnya dan mendapati ruangan telah kembali rapi. Nampan berisi ular-ular yang mengerikan itu telah menghilang tanpa jejak. Ia segera membersihkan diri di kamar mandi dan mengenakan dress pemberian Jake.

“Bagaimana dia bisa tahu ukuranku?” gumamnya heran saat melihat betapa pasnya gaun putih bermotif bunga biru itu di tubuhnya.

Kruk... Kruuk...

Rasa lapar yang hebat kembali menyerang, “Setelah kedinginan, mereka tampaknya ingin membuatku kelaparan,” desahnya pasrah.

Tiba-tiba ia teringat area dapur mewah yang sempat ia lihat di lantai bawah. Tanpa menunggu lama, ia bergegas turun, berniat mencari bahan makanan apa pun yang bisa diolah.

Ia menuruni tangga dengan langkah ringan, seolah sudah beradaptasi dengan tempat baru itu. Tatapannya kembali berkeliling, “Apa pria itu pergi?” gumamnya.

Setibanya di lantai bawah, Shasha menghentikan langkahnya di depan salah seorang pengawal, “Apa majikan kalian tidak ada di sini?”

“Tuan Jake pergi karena pekerjaan,” jawab pengawal itu singkat.

Shasha mengangguk lega. Ketiadaan Jake adalah kesempatan baginya untuk bergerak lebih bebas. Setelah makan, ia harus berusaha mencari celah untuk kabur.

“Apa aku boleh menggunakan dapur?”

“Dapur? Untuk apa Nona menggunakan dapur?”

“Aku lapar dan ingin memasak sesuatu.”

Pengawal itu diam, tapi wajahnya jelas menunjukkan sedang menimbang sesuatu.

“Aku hanya dilarang keluar dari tempat ini, kan?”

Pengawal itu mengangguk, “Baiklah, Nona. Tapi jangan berbuat macam-macam.”

“Apa yang bisa kuperbuat di dapur? Maksudmu membakar rumah ini?”

Pengawal itu tidak menjawab.

Shasha mendesah panjang, lalu memilih langsung meluncur ke area dapur mewah yang memiliki jendela melengkung raksasa dan lampu gantung yang estetik.

Namun saat membuka lemari pendingin, harapannya langsung pudar, “Hanya telur dan air?” Shasha menepuk dahinya sendiri, “Pria itu benar-benar pelit. Rumah semewah ini tapi tidak memiliki bahan makanan.”

Beruntung, matanya menangkap sebungkus roti tawar di atas meja dapur berbahan marmer putih itu.

“Telur orak-arik dan roti panggang sepertinya bukan hal yang buruk,” ucapnya optimis saat melihat ada pemanggang roti di sana.

Ia segera bergerak untuk mengambil apron, menyiapkan teflon, dan mulai memasak. Aroma masakan sederhana itu pun perlahan mulai memenuhi area mansion. Dan dapur yang biasanya sunyi, kini terlihat lebih hidup dengan kehadiran Shasha.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!